Gara-gara keserakahan manusia merobek batas dimensi, bumi kiamat dan peradaban malah mundur ke abad pertengahan yang kejam. Dua ratus tahun kemudian, ras manusia dianggap sebagai makhluk paling lemah di dunia baru ini.
Tapi aturan itu tidak berlaku bagi Leo, Cheeta, dan Rheno tiga pemuda yatim piatu super nekat dari Lembah Karat. Ambisi mereka awalnya sederhana: bertahan hidup, menjarah, dan jadi kaya raya! Sialnya, gara-gara tergiur harga jual buah magis yang selangit, aksi nekat Leo malah menyeret mereka ke dalam takdir misterius.
Tanpa disadari, kekuatan purba Equilibrium yang terkunci di dalam darah mereka mulai terbangun. Bersiaplah mengikuti perjalanan epik yang seru, kocak, dan penuh kejutan dari trio penjarah amatir ini dalam mengocok isi dunia atas dan bawah!
Gaya Cerita: Santai & Humoris. Pas buat kamu yang suka petualangan fantasi seru tapi bikin ngakak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi yang gagal, kemunculan Lucifer
Di luar kuil megah yang berdiri kokoh di tengah jantung Kota Castra Metropolis, atmosfer malam terasa kian menekan. Di bawah bayangan pilar batu hitam berpendar merah, Grim, Snap, Rocky, dan Mona masih menahan posisi mereka. Mata mereka tak lepas dari celah pintu samping, menunggu detik-detik jari Leo menyentuh dan melepaskan Red Diamond dari altarnya.
Rencana mereka tidak boleh meleset sedikit pun. Grim tahu betul, melarikan diri ke luar kota setelah pelindung mati adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Kuil ini berdiri tepat di pusat Castra Metropolis. Dengan jarak sejauh itu, menuju gerbang terluar kota membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Sementara itu, begitu benteng magis tak terlihat itu padam, waktu mereka sangat terbatas. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi sang pelindung kota, Lucifer, untuk menyadari anomali tersebut, tiba di lokasi secara instan, dan mengembalikan posisi batu untuk menghidupkan kembali pelindungnya.
Jika pelindung aktif lagi sebelum mereka keluar, ingatan mereka soal kota ini akan terhapus otomatis, dan misi mereka gagal total.
Maka, menghancurkan Red Diamond langsung di dalam kuil saat batu itu berada di tangan Leo adalah harga mati.
Jika batu itu hancur, benteng magis kota akan mati permanen. Dan membutuhkan waktu yang lama untuk memperbaikinya, itu akan menjadi kesempatan sempurna bagi Grim, Snap, Rocky, dan Mona keluar dari kota tanpa kehilangan ingatan.
Sementara itu, beberapa puluh meter di balik rimbunnya semak-semak, kegelisahan luar biasa mulai menyelimuti Cheeta, Rheno, dan Ely. Jarak yang terlalu jauh serta tebalnya atmosfer magis di sekitar kuil membuat mereka sama sekali tidak bisa mendekat, apalagi mendengar isi percakapan tersembunyi kelompok Grim.
"Sial, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bisikkan!" gerutu Cheeta dengan wajah tegang, tangannya meremas tali tas kecilnya dengan sangat erat.
Sebagai orang yang paling rasional, ketidaktahuan ini membuatnya frustrasi. Didorong oleh insting lamanya sebagai penjarah jalanan, otak Cheeta mulai mengira-ngira sendiri situasi di depan mereka.
"Batu itu... pasti memiliki nilai yang sangat mahal atau teramat berharga," bisik Cheeta membagi analisanya pada Rheno dan Ely. "Itu satu-satunya alasan yang masuk akal, ada suatu alasan kenapa Grim dan kelompoknya tidak bisa mengambilnya sendiri, lalu memanfaatkan kebodohan Leo agar mengambilnya."
Ely mengangguk setuju, matanya menatap cemas ke arah kuil. "Manusia ugal-ugalan itu... dia pasti mengira sedang memenangkan taruhan besar." Ucap nya
"Jadi, rencana kita sekarang?" tanya Rheno flat, wajah lempengnya sama sekali tidak bergeser meski tangannya sudah bersiap di gagang senjata.
Cheeta menarik napas dalam-dalam, memantapkan keputusan sepihaknya. "Begitu Leo keluar membawa batu berharga itu, kita langsung bergerak cepat. Kita lindungi batu itu dari tangannya sebelum kelompok Grim sempat merebutnya!"
Mereka bertiga mengunci pandangan, bersiap melakukan penyergapan kilat tanpa menyadari sama sekali bahwa di dalam kuil, jemari cepat Leo kini tinggal beberapa milimeter lagi sebelum kerahasiaan seluruh Kota Castra Metropolis dalam bahaya.
Di dalam kuil, jemari cepat Leo akhirnya menggapai Red Diamond dan mengangkatnya dari altar batu hitam. Seketika itu juga, pendar merah menyala yang menghangatkan ruangan langsung mati total, merembet cepat dari dalam aula hingga ke enam pilar raksasa di bagian luar.
Secara perlahan, benteng magis tak terlihat yang selama bertahun-tahun menyelimuti dan menyembunyikan Kota Castra Metropolis menipis lalu hilang tak berbekas.
Di saat yang sama, jauh di dalam istana gersang dunia bawah, Lucifer mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia mengerutkan dahinya dalam-dalam saat merasakan hilangnya pelindung kota pelarian tersebut.
Tanpa membuang waktu, sosok sang panglima tertinggi langsung melesat keluar dari dunia bawah, terbang secepat kilat menuju kuil pusat kota.
Sementara itu di dalam aula, Leo sedang berdiri kebingungan menatap batu mati di tangannya. Namun, rasa bingungnya sontak berganti keterkejutan luar biasa saat kelompok Grim tiba-tiba muncul dari balik kegelapan pilar.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan bahkan sebelum Leo sempat membuka mulut untuk menyombongkan diri, Grim langsung melesat kencang ke arah Leo dengan belati terhunus!
*BUG! BUG!*
Dua proyektil belati merah milik Cheeta menancap telak di lantai batu, tepat di sela-sela langkah kaki Grim, berhasil menghentikan pergerakan mematikan ketua mata-mata itu beserta rekan setimnya.
Detik berikutnya, Cheeta, Rheno, dan Ely sudah melompat masuk ke area altar, membuat kedua kelompok kini saling berhadapan dalam jarak dekat.
"Apa yang kalian lakukan di sini?!" tanya Leo dengan wajah tanpa dosa, benar-benar heran melihat teman-temannya mendadak muncul di kuil.
"Akulah yang seharusnya bertanya seperti itu, dasar bodoh!" ucap Cheeta gusar, napasnya naik-turun menahan dongkol. "Lindungi batu itu!" lanjutnya tegas sembari langsung memasang pose bertahan di depan Leo.
Tanpa membuang waktu untuk berdebat, kelompok Grim langsung melancarkan serangan. Diawali dengan tembakan bola api besar yang membara dari arah Mona. Namun, serangan kejutan itu seketika ditahan oleh dinding air tebal yang dipanggil oleh Ely menggunakan batu magis dari busurnya.
Benturan keras antara bola api panas dan dinding air dingin itu seketika memicu ledakan uap, menciptakan kabut putih yang sangat tebal di seluruh area altar.
Pertarungan pun langsung berubah menjadi taktik tak terlihat di dalam kabut. Suara dentingan logam yang berbenturan keras mulai terdengar bersahut-sahutan di berbagai sudut.
Cheeta bergerak lincah maju menghadang Grim, memicu adu mekanik sengit sesama pengguna belati. Di sudut lain, Rheno yang bertubuh besar langsung terlibat adu fisik brutal melawan Rocky, sementara Mona tetap mengawasi dari kejauhan di balik kabut, mencari celah sempit untuk menembakkan sihirnya kembali.
Leo yang masih dilanda kebingungan mendalam hanya bisa melongo di tengah kabut. Langkah kaki-nya mendadak tersentak mundur saat sebuah proyektil belati milik Cheeta tiba-tiba menancap kuat tepat di samping kakinya, akibat Cheeta yang sempat terpisah jarak saat menahan gempuran Grim.
Grim memanfaatkan momen tersebut. Ia melompat mundur, melepaskan diri dari incaran belati Cheeta setelah melihat sebuah kesempatan emas terbuka.
Dengan satu hentakan bertenaga, ia mengayunkan belatinya kuat-kuat, melepaskan tebasan gelombang hitam pekat yang meluncur lurus ke arah dada Leo!
Leo terbelalak kaget. Serangan itu terlalu cepat dan ia sama sekali tidak sempat menghindar.
Namun tepat sebelum gelombang hitam itu mencabik tubuhnya, sebuah dinding es yang sangat tebal seketika tercipta di hadapan Leo, menangkis telak tebasan melayang dari Grim hingga hancur berkeping-keping.
"Fokus, bodoh! Kamu mau mati, ya?!" teriak Ely lantang dari balik kabut. Ucapan ketus itu seketika menyadarkan Leo dari lamunannya, membuatnya langsung mencabut pedangnya dengan sigap.
Namun, tepat saat kekacauan di dalam kabut itu kian memanas, sebuah tekanan energi magis yang teramat berat dan luar biasa besar mendadak menekan atmosfer kuil.
*BLAAAM!!!*
Tepat di tengah-tengah kedua kelompok yang sedang bertarung, sosok Lucifer mendarat dengan daya hantam yang luar biasa. Hempasan energi magis murni yang keluar dari tubuh kekarnya seketika menciptakan gelombang kejut yang mementalkan Grim, Cheeta, Rheno, Ely, dan Leo ke segala arah hingga terjatuh ke lantai kuil.
"Sial...!" umpat Grim kasar sambil berusaha bangkit berdiri dan menyeka sudut bibirnya.
Kedatangan Lucifer yang teramat instan ini menandakan satu hal bagi kelompok Grim: rencana kabur mereka sudah gagal total, dan cepat atau lambat mereka semua akan dihabisi di tempat ini.
Menyadari nasib buruk yang mengintai mereka, Grim, Snap, Rocky, dan Mona langsung merapatkan barisan, memasang kuda-kuda bertarung penuh untuk menantang sang iblis pelindung kota.
Di sisi lain, kehebohan berbeda terjadi pada kelompok Leo. Cheeta, Rheno, dan Leo sama sekali tidak tahu siapa sosok iblis berwibawa di depan mereka itu. Satu-satunya hal yang mereka ingat adalah wajah sangar makhluk tersebut yang kemarin sempat mengejar-ngejar Ely di dalam hutan.
Tanpa banyak bicara, Leo, Cheeta, dan Rheno langsung menyambar tangan Ely yang masih syok, lalu bergegas mengambil langkah seribu untuk kabur dari situasi mencekam tersebut.
Meskipun Red Diamond saat ini berada di tangan Leo yang sedang berlari menjauh, Lucifer yang sempat melirik kepergian mereka hanya diam.
Menyaksikan seorang gadis ras Elf berada di dalam kelompok manusia kumal membuat sang panglima tertinggi menyimpulkan bahwa anak-anak muda itu tidak berbahaya bagi kerahasiaan kota.
Namun, pandangan mata Lucifer langsung berubah menjadi sangat dingin dan kejam saat berbalik menatap ke arah Grim, Snap, Rocky, dan Mona.
Ia bisa merasakan dengan jelas pancaran aura jahat dunia bawah dari tubuh keempat mata-mata tersebut, dan Lucifer tidak akan pernah membiarkan mereka keluar dari kuil ini hidup-hidup.
BERSAMBUNG