NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: tamat
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Rahasia Koin Naga

WUSSS!

Sebelum Vane sempat menyelesaikan kalimatnya, Caden sudah berpindah tempat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa. Ia kini berdiri tepat di depan Aura, menghadap Vane. Tangannya mencengkeram leher Marquis tua itu dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan.

"Hrk! Ugh!" Vane meronta-ronta, kakinya menendang-nendang udara. Wajahnya langsung membiru.

"B-Bos! Tunggu, Bos!" Aura menarik-narik ujung seragam Caden dari belakang.

"Jangan hentikan aku, Elara," desis Caden, tatapannya terfokus pada Vane yang sedang sekarat. "Aku sudah memperingatkan hama tua ini untuk tidak menyentuh asetku."

"Bukan masalah nyawanya, Bos!" teriak Aura frustrasi. "Ini soal koin naga! Kenapa Bos nggak bilang kalau koin yang gue gadai itu kunci master pertahanan istana?! Bos sengaja nutupin informasi asimetris biar dapet harga murah kan?! Itu pelanggaran etika trading! Balikin koin gue! Gue mau re-evaluasi (nilai ulang) harga gadainya jadi lima ratus juta emas!"

Caden yang sedang dalam mode pembunuh berdarah dingin, nyaris saja melepaskan cengkeramannya karena terkejut mendengar ocehan asistennya. Ia menoleh ke arah Aura dengan pandangan tidak percaya.

Di tengah situasi penyergapan dan ancaman eksekusi mati, gadis ini malah mempermasalahkan harga gadai barang?

"Kau... protes soal harga gadai di saat pasukan inkuisitor mengepungmu?" tanya Caden dengan nada takjub bercampur geli.

"Ya iyalah! Prinsip akuntansi itu kejujuran, Bos! Kalau Bos nipu valuasi awal, laporan laba rugi divisi kita jadi cacat hukum!" omel Aura sambil berkacak pinggang. "Pokoknya kontrak gadai kemarin batal! Kita rematch (ulang) negosiasi ulang malam ini di kasur!"

Kalimat 'negosiasi di kasur' itu sukses membuat rahang para pasukan Inkuisitor yang mendengarnya nyaris jatuh ke lantai. Gosip bahwa Pangeran Caden memelihara asisten sebagai simpanan ternyata seratus persen benar, dan parahnya lagi, asisten itu benar-benar tidak punya urat malu.

Caden tertawa pelan. Ia melemparkan tubuh Vane ke lantai seperti membuang sekarung sampah. Vane terbatuk-batuk hebat, memegangi lehernya yang memerah.

"Baiklah, Gadis Serakah. Kita negosiasi ulang malam ini. Aku akan membayar sisa kekurangan harga koinmu dengan seluruh isi brankas bawah tanahku," ucap Caden lembut pada Aura, mengusap puncak kepala gadis itu.

Kemudian, Caden berbalik menatap para Inkuisitor yang mulai gemetar ketakutan. Senyum lembutnya sirna tak berbekas, digantikan oleh kekejaman sang Antagonis.

"Kalian membawa titah penangkapan palsu yang dibuat sendiri oleh Marquis Vane dari Fraksi Selatan," kata Caden dingin. "Raja tidak pernah mengeluarkan titah untuk menangkap asistenku. Vane memalsukan stempel kerajaan demi merebut koin Inti Naga itu."

Vane mendongak dengan panik. "I-itu fitnah! K-kalian tidak punya bukti!"

Caden memberi isyarat pada Lucas. Asisten berkacamata itu melangkah maju dan melemparkan sebuah tablet hologram ke depan Vane. Rekaman suara Vane yang sedang merencanakan pemalsuan stempel di sebuah kedai rahasia terputar dengan sangat jelas.

"Data tidak pernah bohong, Marquis Vane," ucap Lucas dingin. "Kami telah meretas sistem komunikasi Anda sejak Anda mencoba memblokir jalan logistik kami minggu lalu."

Aura langsung bersorak kegirangan. "MAMPUS! Makanya Pak Tua, kalau mau korupsi dan main licik, pastiin cyber security Bapak aman! Ini era digital magis, bukan era batu! Teknologi penyadapan divisi kita dibiayai miliaran emas lho!"

Vane pucat pasi. Ia tahu permainannya telah berakhir. Jika pemalsuan titah raja ini terbukti, bukan hanya ia yang akan dieksekusi, tapi seluruh keluarga Fraksi Selatannya akan dimiskinkan.

"Tangkap pengkhianat ini," perintah Caden mutlak. Pasukan Inkuisitor yang menyadari bahwa mereka telah diperalat, langsung berbalik dan menodongkan senjata mereka ke arah Vane.

"Tunggu! Jangan bawa dia dulu!" Aura tiba-tiba menyela. Ia berjalan mendekati Vane yang sedang berlutut lemas.

"Elara, apa lagi?" tanya Caden sabar.

"Bos, kalau dia dieksekusi sekarang, hartanya bakal disita sama pengadilan negara, kan? Masuknya ke kas raja, bukan kas kita!" Aura memicingkan mata, insting lintah daratnya bergejolak.

Aura mengeluarkan selembar kertas kosong dan pena dari mejanya, lalu menyodorkannya ke wajah Vane.

"Pak Tua. Tanda tangan di sini. Surat Hibah Mutlak atas rumah pantai mewah Bapak di pesisir selatan, diserahkan kepada saya. Sebagai ganti rugi atas pencemaran nama baik, trauma mental, dan kerusakan engsel pintu ruang VIP saya."

Vane melotot tidak percaya. "K-kau merampokku di saat seperti ini?!"

"Namanya juga Opportunist, Pak! Kalau Bapak mau tanda tangan, saya bakal bujuk Bos Caden buat nggak masukin anak-anak Bapak ke daftar pengasingan. Mereka cuma bakal jatuh miskin, tapi tetap hidup," tawar Aura dengan suara iblis yang manis.

Caden bersandar di pinggiran meja, menatap asistennya dengan kekaguman luar biasa. "Kau dengar tawarannya, Vane. Setuju, atau aku pastikan keturunanmu tidak ada yang bernapas besok pagi."

Dengan tangan gemetar dan air mata penyesalan, Vane menandatangani surat hibah itu.

Aura meniup tinta yang basah itu dan mencium kertasnya. "Terima kasih banyak, Bapak Donatur! Lucas, besok tolong listing rumah pantainya di agen properti ya, buka harga di angka tiga juta emas! Cuan lagi kita hari ini!"

"Tiga juta emas dari satu rumah pantai. Vane benar-benar pencuri yang sukses sebelum kau merampoknya balik, Elara."

Caden menuangkan teh hitam ke dalam cangkir porselen di penthouse malam itu. Keributan penggerebekan tadi pagi telah berlalu, dan Marquis Vane kini mendekam di penjara isolasi tinggi menanti persidangan.

Aura duduk bersila di sofa, sibuk mengetik di laptopnya. "Bos, maling teriak maling itu udah biasa. Yang luar biasa itu, kita yang dapat asetnya secara legal tanpa bayar pajak beli. Ini namanya efisiensi akuisisi aset bodong!"

Aura menutup laptopnya dan menatap Caden dengan mata menyipit tajam. "Sekarang, kita kembali ke masalah utama. Mana koin naga gue? Sini, gue mau lihat barang yang harganya priceless itu."

Caden tersenyum tipis. Ia merogoh saku dalam kemejanya dan mengeluarkan koin emas tebal berlambang naga bermata dua itu. Ia melemparkannya santai ke pangkuan Aura.

Aura menangkapnya seperti menangkap granat aktif. "Pelan-pelan dong, Bos! Ini Master Key keamanan istana lho! Kalau lecet harganya turun nggak?!"

"Itu terbuat dari emas murni yang ditempa dengan sihir darah, Elara. Kau bisa melemparnya ke dalam gunung berapi dan koin itu tidak akan meleleh," Caden duduk di sebelah Aura, melingkarkan lengannya di bahu gadis itu. "Dan aku tidak berniat menipumu soal harganya. Bagi orang lain, koin ini tidak ada harganya. Tapi bagiku, ini sangat merepotkan."

"Merepotkan gimana?"

1
Fajar Fathur rizky
Julian baik banget kasih banyak uang sampai mau nangis
Anastasya
author yg manis ijin masukan boleh ya
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!