NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: SEMINAR KEDUA DINDA

Dua minggu setelah insiden pertama, Dinda kembali menjalani forum seminar, kali ini seminar hasil, tahap yang seharusnya lebih ringan karena tinggal memaparkan temuan penelitian yang sudah dia kerjakan susah payah, bukan lagi sekadar proposal yang masih bisa diperdebatkan arahnya. Bang Tua, yang kebetulan diundang sebagai salah satu dosen penguji tamu untuk forum itu, menyanggupi undangan itu tanpa ragu, meski dalam hati dia tahu betul ini bukan sekadar kebetulan biasa, dia sengaja mengiyakan begitu tahu Prof. Bonar juga akan hadir sebagai penguji utama.

Forum seminar berlangsung di ruangan yang sama seperti sebelumnya, dan Bang Tua duduk di kursi penguji, posisi yang jarang sekali dia tempati karena biasanya dia lebih memilih peran peran yang tidak terlalu menonjol. Dinda memulai presentasinya dengan percaya diri, hasil penelitiannya memang terlihat solid, data yang rapi, analisis yang tajam, jauh melebihi standar rata rata mahasiswa seangkatannya.

Prof. Bonar, seperti biasa, mulai melontarkan pertanyaan pertanyaan dengan nada yang sama merendahkannya, mencoba mencari celah kelemahan yang sebenarnya tidak terlalu signifikan, lebih ke gaya menginterogasi daripada mengevaluasi secara objektif. "Kenapa kau pakai metode ini, bukan metode yang lebih umum dipakai peneliti senior selama ini?"

Dinda mencoba menjawab dengan tenang, menjelaskan alasan metodologis di balik pilihannya, tapi Prof. Bonar segera memotong sebelum penjelasan itu selesai, "sudah, sudah, nggak usah panjang panjang, intinya kau ini nekat pakai metode yang belum teruji, berani kali kau ambil risiko begitu, apa kau nggak mikir kalau hasilnya nanti diragukan validitasnya?" Nada suaranya semakin meninggi, jelas mencoba membangun tekanan psikologis yang sama seperti forum sebelumnya, dan beberapa mahasiswa di ruangan mulai saling berbisik, mengantisipasi drama serupa akan terulang.

Sebelum Dinda sempat menjawab lagi, Bang Tua, yang sejak tadi menunggu momen yang tepat, angkat bicara dengan nada yang sengaja dibuat santai, seolah sekadar menambahkan komentar biasa. "Menurut saya justru bagus, Prof, ini nunjukkan Dinda berani eksplorasi metode baru, bukan cuma ikut ikutan yang biasa dipakai. Kalau semua mahasiswa disuruh pakai metode yang itu itu aja, kapan majunya ilmu pengetahuan kita, Prof?"

Ruangan sempat hening sejenak, beberapa mahasiswa yang hadir sebagai audiens saling melirik, jelas terkejut ada dosen lain yang berani menyela gaya interogasi Prof. Bonar yang biasanya tidak pernah dibantah siapa pun. Prof. Bonar sendiri terlihat sedikit terkejut, matanya menyipit menatap Bang Tua, seolah baru menyadari kehadiran kolega yang selama ini dianggapnya dosen kalem yang tidak banyak bicara di forum forum resmi.

"Pak Sahat, ini forum evaluasi ilmiah, bukan forum saling puji," balas Prof. Bonar, mencoba mempertahankan otoritasnya, meski nadanya terdengar sedikit defensif.

"Betul, Prof, makanya saya coba evaluasi juga secara objektif, dan menurut saya metodenya Dinda ini justru salah satu yang paling solid yang pernah saya lihat semester ini," jawab Bang Tua, tetap dengan nada santai, tidak terpancing emosi meski dalam hati jantungnya berdebar kencang, ini pertama kalinya dia berani menantang otoritas Prof. Bonar secara terbuka, meski dengan cara yang halus tanpa terkesan menyerang secara langsung.

Prof. Bonar akhirnya melanjutkan sesi tanya jawabnya dengan nada yang sedikit lebih terkendali, meski tetap sesekali melontarkan pertanyaan pertanyaan tajam, tapi tidak lagi seintimidatif sebelumnya, mungkin karena sadar kali ini ada dosen lain yang siap membalas argumennya, bukan cuma mahasiswa yang bisa ditekan tanpa perlawanan.

Selesai forum, Dinda menghampiri Bang Tua dengan wajah yang terlihat lega dan berterima kasih. "Makasih ya, Pak Sahat, tadi bapak nolong saya banget."

"Sama sama, tapi jangan salah, itu bukan cuma nolong, itu emang penilaian jujur bapak kok, penelitianmu emang bagus," jawab Bang Tua sambil tersenyum, lalu menambahkan candaan ringan untuk mencairkan suasana, "lagian bapak juga penasaran aja, kira kira kalau Prof. Bonar dibantah beneran, mukanya bisa berubah warna apa nggak, ternyata cuma jadi agak merah dikit doang, kirain bisa sampai keluar asap segala".

Dinda tertawa mendengar candaan itu, untuk pertama kalinya sejak Bang Tua mengenalnya dari jauh, dia melihat mahasiswi itu tertawa lepas tanpa beban, sebuah pemandangan yang membuat Bang Tua diam diam merasa puas, meski dia tahu betul, satu kemenangan kecil ini belum tentu menyelesaikan masalah yang lebih besar yang masih mengintai di balik semuanya.

Di sudut ruangan, saat mereka masih mengobrol, Bang Tua sempat melihat Prof. Bonar merapikan berkasnya dengan gerakan yang terkesan kasar, jelas masih menyimpan kekesalan atas insiden tadi, sebelum akhirnya berlalu tanpa menyapa siapa pun, langkahnya terdengar berat menghentak lantai koridor. Bang Tua memperhatikan kepergiannya dengan tatapan datar, dalam hati bergumam, "tenang aja Prof, ini baru babak pertama, kalau masih lanjut nekan mahasiswa semena mena, bapak nggak segan segan ikut campur lagi", sebuah tekad yang mulai tumbuh mantap meski dia sendiri masih belum sepenuhnya yakin sejauh mana dia berani melangkah.

Beberapa mahasiswa lain yang tadi jadi audiens seminar sempat mendekat, berbisik bisik penuh semangat membicarakan kejadian barusan, ada yang bahkan sudah mulai merekam ulang kejadian itu dari ingatan mereka untuk diceritakan ke teman teman lain yang tidak sempat hadir, membuat cerita itu berpotensi menyebar cepat di kalangan mahasiswa jurusan, sesuatu yang di satu sisi membuat Bang Tua sedikit khawatir, tapi di sisi lain juga diam diam merasa lega karena setidaknya ada mahasiswa lain yang mulai berani melihat bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan itu mungkin dilakukan, tidak harus selalu diam dan mengalah.

Ketika hendak keluar ruangan, salah satu dosen penguji lain yang turut hadir di forum itu, seorang dosen muda yang selama ini dikenal pendiam, sempat menghampiri Bang Tua dan berbisik pelan, "Pak Sahat, hati hati loh, Prof. Bonar itu bukan orang yang gampang lupa kalau merasa dipermalukan". Bang Tua mengangguk, menerima peringatan itu dengan serius meski tetap berusaha terlihat santai, dalam hati membalas, "makasih peringatannya, tapi kalau tiap kali takut sama orang yang gampang dendam, kapan lagi ada yang berani bela yang benar".

Dia berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya, meski dalam hati dia juga menyadari bahwa satu langkah berani yang baru saja dia ambil ini kemungkinan besar akan membawa konsekuensi yang belum sepenuhnya bisa dia perkirakan, terutama mengingat kabar soal kedekatan Prof. Bonar dengan pihak yang sedang berambisi merebut kursi Ketua Prodi.

Sepulang dari forum itu, dia sempat berpapasan dengan salah satu mahasiswa lain yang turut hadir sebagai audiens, yang berbisik pelan sambil tersenyum lebar, "Pak, tadi keren kali bapak lawan Prof. Bonar, baru kali ini ada dosen yang berani gitu". Bang Tua hanya tersenyum tipis, tidak ingin situasinya jadi terlalu heboh, meski dalam hati dia merasa sedikit bangga juga, campuran perasaan yang jarang sekali dia rasakan setelah bertahun tahun memilih diam.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!