Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Sepi di Tengah Keramaian
Menjadi asing adalah mekanisme pertahanan diri yang paling aman. Di pabrik tempatku bekerja, aku dikenal sebagai sosok yang irit bicara. Aku datang tepat waktu, menyelesaikan target harian, lalu pulang. Tidak ada nongkrong setelah shift malam, tidak ada gosip riuh di kantin. Semakin sedikit orang tahu tentang hidupku, semakin sedikit celah bagi mereka untuk menyakitiku.
Namun, kota ini selalu punya cara untuk melucuti pertahanan orang-orang yang berjuang dari nol.
Malam itu, hujan gerimis membungkus parkiran pabrik. Saat aku berjalan menuju sudut area parkir, langkahku mendadak terhenti. Tempat yang biasa ku isi kini kosong melompong.
Motor matic hitam yang baru empat bulan lalu ku turunkan dari dealer resmi itu hilang.
Motor itu bukan sekadar kendaraan. Itu adalah simbol pencapaian pertamaku di tanah rantau—hasil dari kerja lembur tak berkesudahan, memotong jatah makan harian, dan menahan rasa lapar berbulan-bulan demi bisa membeli kendaraan baru atas namaku sendiri. Saat pertama kali membawanya pulang ke kontrakan, ada rasa bangga luar biasa karena akhirnya aku bisa membuktikan bahwa aku sanggup berdikari.
Namun kini, yang tersisa hanyalah potongan rantai yang tergeletak di atas semen basah.
Aku berdiri membeku di bawah guyuran gerimis. Rasanya sama persis seperti hari di mana Ayah berjalan keluar rumah meninggalkan kami: sesuatu yang ku perjuangkan mati-matian dan kubanggakan, lenyap begitu saja dalam sekejap tanpa sempat ku dekap.
"Reno! Kenapa belum pulang?" tegur seorang kawan sekantor yang melintas dengan jas hujan.
Aku menggeleng pelan, suaraku tertahan di tenggorokan. "Motor saya hilang, Mas. Padahal baru beli..."
Malam itu, aku pulang berjalan kaki sejauh empat kilometer di bawah gerimis. Sepanjang jalan, dadaku tidak sesak oleh amarah pada si pencuri, melainkan pada diriku sendiri. Kenapa saat kamu merasa sedikit saja berhasil, dunia langsung merampasnya kembali? Suara kecemasan masa kecil itu kembali menggema, keras dan terus menghakimi.
Tiga bulan berlalu sejak kejadian malam kelam itu. Hidup bergerak dengan cara yang sangat aneh.
Kerja keras yang ku bangun dari rasa takut akan kegagalan rupanya dilirik oleh pihak manajemen. Saat perusahaan membuka cabang baru di kawasan industri lain, aku dipindahtugaskan dan resmi diangkat menjadi penyelia operasional. Gaji naik, fasilitas membaik, dan aku bahkan sanggup menyewa kontrakan dua kamar yang lebih layak untuk Rayan Secara finansial, aku berhasil melompati keterpurukan itu.
Namun, sore ini, di dalam ruang kerja ber-AC dengan pintu kaca yang bersih, aku menatap pantulan diriku sendiri.
Rapat baru saja selesai. Rekan-rekan kerja baru memberi selamat, beberapa menepuk bahuku ramah, mengajak makan malam untuk merayakan jabatanku. Aku menolaknya dengan senyum tipis yang terlatih.
Saat pintu ruangan tertutup rapat dan suasana mendadak hening, rasa dingin itu datang kembali.
Rasa sepi yang teramat sangat. Sepi yang tidak bisa diusir oleh kenaikan gaji, jabatan baru, atau barang-barang baru yang sanggup ku beli kembali. Aku menyandarkan punggung ke kursi kerja, menatap langit-langit.
Aku menyadari satu hal yang mengerikan: aku telah membangun tembok yang begitu tinggi untuk melindungi diriku dan Rayan dari rasa kehilangan, hingga akhirnya aku terkunci di dalamnya—sendirian. Aku tidak tahu cara membuka diri pada orang lain, tidak tahu cara mempercayai siapa pun, dan yang paling parah, aku tak pernah merasa benar-benar tenang.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Rayan masuk: Mas, nanti malam pulang jam berapa? Aku sudah masak.
Aku menatap layar itu lama. Di luar sana, orang-orang melihatku sebagai pria sukses yang mandiri. Tapi di dalam ruang kerja yang dingin ini, aku tahu aku hanyalah anak laki-laki sepuluh tahun yang masih gemetaran, takut semua yang kumiliki akan hilang lagi besok pagi.