NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Gadis yang Selalu Mengikuti

Sejak hari pertama di kelas 1-F, sejak insiden lingkaran sihir yang diperbaiki dalam tiga goresan kapur itu, ada satu hal aneh yang mulai terjadi di kehidupan akademi Yamada yang seharusnya tenang dan ideal untuk bermalas-malasan.

Aria Luvellia sering berada di dekat Yamada. Terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Di perpustakaan besar Akademi Asteria yang memiliki tiga lantai dan ribuan buku, yang seharusnya menjadi tempat paling tenang untuk tidur siang, Yamada selalu menemukan Aria duduk dua meja di sebelahnya, dengan buku tebal yang sama, Teori Sirkuit Mana Tingkat Lanjut, tapi kini sudah penuh dengan catatan kecil di pinggirnya, catatan yang sebagian besar adalah diagram baru yang diajarkan Yamada di kereta.

Di kelas teori dasar yang membosankan, yang seharusnya hanya untuk kelas 1-F, Aria yang seharusnya berada di kelas S, kelas elit dengan fasilitas terbaik dan guru Archmage, sering terlihat duduk di barisan belakang kelas 1-F, di sudut yang paling gelap, dengan alasan "ingin mengulang materi dasar" kepada Guru Maren, padahal semua orang tahu dia sudah menguasai materi itu bahkan sebelum masuk akademi.

Saat makan siang di kantin akademi yang besar dan ramai, di mana ratusan siswa berebut meja, Yamada yang selalu memilih meja paling pojok, paling dekat dengan tempat pembuangan sampah agar tidak ada yang mau duduk di dekatnya, selalu menemukan nampan makanan Aria diletakkan tepat di seberangnya, tanpa permisi, tanpa bertanya.

Bahkan ketika Yamada sedang tidur di bawah pohon ek besar di taman belakang akademi, tempat favorit barunya yang mirip dengan pohon maple di belakang rumahnya, tempat di mana dia bisa tidur tanpa diganggu Elena karena Elena tidak tahu tempat itu, dia tetap tidak bisa benar-benar sendirian.

Hari itu, hari keempat di akademi, angin musim gugur berhembus pelan, daun-daun ek berguguran satu per satu.

"Apa?" Yamada membuka satu mata dari balik jaketnya yang menutupi wajah, karena bayangan matahari yang tadinya hangat tiba-tiba tertutup oleh seseorang yang berdiri di depannya.

Aria duduk di sampingnya, di atas akar pohon ek yang besar, dengan jarak hanya sekitar 30 sentimeter. Rambut biru keperakannya yang biasanya rapi, kini sedikit berantakan karena angin, dan ada satu daun ek kecil yang nyangkut di rambutnya. Dia membawa dua buku hari ini, satu buku tebal dan satu buku catatan tipis. Dia tidak memakai seragam akademi yang rapi seperti siswa lain, tapi jubah biru muda sederhana.

"Aku penasaran." Jawabnya, dengan suara tenang yang sama seperti di kereta, tanpa merasa bersalah karena sudah mengikuti Yamada selama empat hari berturut-turut.

"Kenapa penasaran? Aku kan cuma anak desa mana 0 yang kebetulan bisa betulin lingkaran sihir." Yamada bertanya balik, masih dengan satu mata terbuka, dengan nada malas yang sudah menjadi ciri khasnya.

"Kau selalu terlihat malas." Kata Aria, menatap wajah Yamada yang setengah tertutup jaket, menatap mata mengantuknya yang terlihat seperti baru bangun tidur padahal sudah jam dua siang. "Dari pagi sampai sore, kau selalu terlihat seperti ingin tidur. Di kelas kau tidur, di perpustakaan kau tidur, di kantin kau makan sambil setengah tidur. Bahkan saat berjalan pun kau terlihat seperti menghemat energi."

"Memang. Aku memang malas. Itu bukan rahasia. Aku sudah bilang dari awal, aku pemalas. Gelar resmi." Jawab Yamada jujur, tidak tersinggung sama sekali. Malah ada sedikit rasa bangga dalam suaranya saat mengakui kemalasannya.

"Tapi saat melakukan sesuatu..." Aria melanjutkan, suaranya sedikit lebih pelan, lebih serius, matanya yang ungu menatap lurus ke arah Yamada, tidak berkedip. "Saat kau memperbaiki lingkaran sihir di papan tulis kemarin, saat kau mengoreksi bukuku di kereta, saat kau membaca buku di perpustakaan dengan kecepatan yang bahkan pustakawan tidak bisa ikuti... kau seperti orang yang berbeda. Matamu berubah, gerakanmu berubah, suaramu berubah. Seperti... seperti ada saklar yang menyala di dalam dirimu."

Yamada terdiam sejenak, menarik jaket dari wajahnya, duduk sedikit tegak, bersandar pada batang pohon ek yang kasar. Daun yang menutupi wajahnya jatuh.

"Menurutmu begitu?" Tanyanya, dengan nada yang sedikit lebih serius, karena deskripsi Aria itu terlalu tepat, terlalu akurat untuk seseorang yang baru mengenalnya empat hari.

"Ya." Aria mengangguk, tanpa ragu. "Seperti dua orang yang berbeda tinggal di dalam satu tubuh. Satu orang yang sangat malas dan ingin tidur sepanjang hari, dan satu orang lagi yang sangat jenius dan bisa melihat kesalahan yang bahkan Archmage tidak bisa lihat. Dan yang jenius itu hanya muncul saat yang malas itu terpaksa harus melakukan sesuatu."

Kalimat itu membuat Yamada membeku sepersekian detik. Dua orang yang berbeda tinggal di dalam satu tubuh. Deskripsi yang sangat... akurat. Terlalu akurat untuk sebuah tebakan.

Dia hampir menebak dengan benar. Suara Yamada yang asli berbisik di dalam kepala, dengan nada waspada.

Yamada menatap langit biru di atas daun-daun ek yang berguguran, menghindari tatapan mata ungu Aria yang terlalu tajam, terlalu bisa melihat.

"Kenapa kau menyembunyikan kemampuanmu?" Aria mendekat sedikit, jaraknya kini hanya sekitar 20 sentimeter, cukup dekat hingga Yamada bisa mencium aroma lili lembut dari rambutnya. "Dengan kemampuan seperti itu, kau bisa dengan mudah masuk kelas S, dapat beasiswa penuh, dapat perhatian dari para Archmage, bahkan bisa jadi murid pribadi kepala akademi. Kenapa kau memilih untuk tetap di kelas F dengan label mana 0?"

Yamada melihat langit, langit biru musim gugur yang bersih tanpa awan, dengan satu dua burung yang terbang melingkar.

"Karena menonjol itu merepotkan." Jawabnya akhirnya, dengan jawaban yang paling jujur dan paling malas yang pernah dia berikan. "Kalau aku menonjol, semua orang akan memperhatikanku. Guru akan memberiku tugas tambahan, siswa lain akan menantangku berduel, bangsawan akan mencoba merekrutku, putri kerajaan akan mencoba menjodohkanku, dan aku tidak akan bisa tidur siang dengan tenang di bawah pohon seperti ini. Menonjol itu sama dengan menambah pekerjaan. Dan aku benci menambah pekerjaan."

Aria tertawa kecil. Tawa yang pelan, yang renyah, yang tidak seperti tawa dingin yang biasa dia tunjukkan di kelas. Tawa yang tulus, karena jawaban itu adalah jawaban yang paling tidak terduga tapi paling masuk akal yang pernah dia dengar.

"Kau aneh. Sangat aneh." Katanya, sambil menggelengkan kepala, tapi senyumnya masih ada.

"Sudah banyak yang bilang begitu. Elena bilang, ibuku bilang, ayahku bilang, bahkan teman sekamarku juga bilang aku aneh." Jawab Yamada, dengan nada pasrah.

"Kalau begitu..." Aria menyandarkan kepalanya pada batang pohon ek yang sama, tepat di sebelah kepala Yamada, dengan jarak yang sangat dekat, bahu mereka hampir bersentuhan. Rambut biru keperakannya menyentuh sedikit bahu Yamada. Dia menatap langit yang sama, langit biru yang dilihat Yamada.

"...aku akan terus mengawasimu. Mulai sekarang."

"Kenapa?" Yamada menoleh sedikit, terkejut dengan kedekatan itu, dengan pernyataan itu. Jantung tubuhnya yang berusia 15 tahun berdebar sedikit lebih cepat, reaksi alami tubuh remaja.

"Karena menarik. Karena kau adalah orang paling menarik yang pernah kutemui di akademi ini. Semua orang di akademi ini mencoba untuk terlihat pintar, terlihat kuat, terlihat menonjol. Hanya kau satu-satunya yang mencoba terlihat bodoh dan malas, padahal sebenarnya jenius. Itu menarik. Sangat menarik." Jawab Aria, dengan mata masih menatap langit, dengan suara yang tenang tapi tegas.

Yamada menghela napas panjang, napas yang mengandung campuran antara pasrah, sedikit terganggu, dan sedikit... tidak keberatan.

"Repot. Sangat repot. Satu Elena saja sudah cukup merepotkan, sekarang tambah satu lagi."

Namun anehnya, meskipun dia bilang repot, meskipun dia bilang merepotkan, dia tidak menyuruh Aria pergi. Dia tidak menggeser duduknya menjauh, tidak berdiri dan pindah ke pohon lain, tidak mengusirnya dengan kata-kata kasar.

Dia hanya kembali menarik jaketnya untuk menutupi wajah, kembali ke posisi tidur idealnya, dengan bahu yang masih hampir bersentuhan dengan bahu Aria.

Dan Aria pun tidak pergi. Dia tetap duduk di sana, menyandarkan kepala di pohon yang sama, membuka buku catatannya, dan mulai menyalin diagram sirkuit baru yang dia lihat dari Yamada kemarin, dengan sesekali melirik Yamada yang sudah mulai mendengkur pelan di sebelahnya.

Dua orang di bawah satu pohon ek besar di taman belakang akademi, satu tidur dengan jaket menutupi wajah, satu menulis dengan rambut biru keperakan yang berkilauan terkena sinar matahari sore, dengan jarak yang dekat tapi tidak ada yang merasa canggung.

Dari kejauhan, Elena yang baru saja selesai latihan pedang dan mencari Yamada untuk makan malam, melihat pemandangan itu dan berhenti, dengan mulut terbuka.

"YAMADA! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?!"

Teriakan Elena itu membuat burung-burung di pohon ek terbang kaget, membuat Yamada terbangun kaget dengan jaket yang jatuh, dan membuat Aria hanya tertawa kecil, tawa yang membuat pipinya sedikit memerah untuk pertama kalinya.

[New Character Bond: Aria Luvellia - Curiosity Level 35%]

[Effect: Will follow host to interesting places.]

Yamada melihat notifikasi itu dengan wajah datar, lalu menutupnya dengan cepat, sebelum Elena sampai dan mulai ceramah panjang tentang "jangan dekat-dekat dengan bangsawan".

"Repot." Gumamnya sekali lagi, tapi kali ini dengan senyum tipis yang tidak disadarinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!