NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Markas Sekte Widow

Simon segera mengemas gulungan Teknik Pernafasan Titan Jormungar.

Matanya yang merah kemudian tertuju pada zirah perak yang masih membalut tengkorak di depannya, zirah buatan penyihir Gullveig yang kemungkinan di buat dengan bahan ajaib.

Simon mencoba meraih dan mengenakan pelindung dada zirah tersebut, namun sebuah penolakan dingin terasa di ujung jarinya.

Zirah itu tetap kaku dan tidak menyesuaikan diri dengan bentuk tubuhnya, seolah-olah menolak keberadaan Simon.

"Jadi zirah ini benar-benar hanya dapat dipakai oleh orang yang mempunyai garis keturunan Titan jormungar?" Pikir Simon.

Ia menyadari bahwa tanpa mempraktikkan teknik pernapasan yang sesuai, ia hanyalah orang asing bagi peralatan sihir ini.

"Aku belum mempraktikkan teknik pernafasan ini. Sebaiknya aku tinggalkan armornya di sini terlebih dahulu sampai aku memenuhi syaratnya."

Sebelum berbalik pergi, Simon berdiri tegak dan membungkuk dalam dengan etiket ksatria yang khidmat di depan tengkorak Leodo.

"Senior, terima kasih atas warisan berharga ini. Pengetahuan dan zirahmu tidak akan sia-sia di tanganku," ucap Simon dengan suara yang berat dan tulus.

"Dunia di luar sana sangat kejam, dan peninggalanmu akan menjadi senjataku untuk mencapai puncak."

Simon melangkah keluar dari celah gua tersebut.

Ia mengumpulkan salju di sekitar pintu masuk dan menutupinya hingga celah itu tidak terlihat lagi oleh mata telanjang, menjadikannya makam rahasia yang aman.

Ia menatap gundukan salju itu sekali lagi.

"Yakinlah Senior, saya pasti akan kembali untuk mengkremasimu dengan layak setelah aku menguasai teknik pernapasanmu," janji Simon sembari membungkuk sekali lagi"

"Jadi, tunggulah sebentar lagi."

Simon kembali ke tepi kolam air es, mengenakan kembali baju zirah kulitnya dan merapikan jubah hitamnya.

Namun, saat ia bersiap untuk kembali ke penginapan desa, sebuah jeritan melengking memecah kesunyian malam.

"Kyaaaa!"

Simon segera melesat menuju sumber suara, membuatnya berpindah tempat seperti hantu di antara pepohonan.

Dari balik bayangan pohon pinus, matanya menangkap pemandangan yang membuat pupil matanya menyempit.

Seorang gadis muda berambut pirang sedang diseret paksa oleh dua pria. Simon segera mengenali jubah hitam dengan sulaman jaring laba-laba merah di bagian dadanya mereka adalah anggota Sekte Widow.

"Diam! Cepat bergerak atau kau akan mati di sini sebelum ritual dimulai!" bentak salah satu pria berjubah hitam sembari menyentak lengan gadis itu dengan kasar.

"T-tolong... lepaskan aku... hiks..." gadis itu meratap, tubuhnya gemetaran hebat dan air mata mengalir deras di pipinya.

Simon tertegun sejenak.

"Bukannya ini gadis yang memberiku sapu tangan tadi siang? Lana atau sapalah itu?" Pikirnya.

Ia teringat wajah memerah gadis itu saat memberikan sapu tangan.

"Kenapa dia yang menjadi target penculikan?"

Simon secara naluriah menyentuh gagang Pedang Hitam-nya, siap untuk menebas kedua pria itu dalam sekejap. Namun, sebuah pemikiran muncul di benaknya.

"Tunggu. Jika aku membunuh mereka di sini, aku hanya menyelamatkan satu orang," pikir Simon dengan dingin.

"Lebih baik aku melihat ke mana orang-orang ini membawa gadis itu. Ini adalah kesempatan untuk menemukan markas besar Sekte Widow yang kita cari."

Simon menyimpan kembali pedangnya ke dalam sarung tanpa suara. Ia mengunci posisi mereka dalam radius dua puluh meter.

Di depan sana, pria berjubah hitam itu kembali mengancam Lana dengan suara yang lebih rendah dan mengerikan.

"Berhenti menangis, tikus kecil! Jika kau terus meronta, aku akan memotong lidahmu sekarang juga. Tuan kami membutuhkan darah perawan segar yang murni, dan kau adalah 'bahan' yang sempurna malam ini!"

Lana hanya bisa pasrah, kakinya yang lemas dipaksa melangkah menembus salju tipis menuju kegelapan hutan.

Simon mulai membuntuti mereka dari balik bayangan.

Setelah membuntuti kedua pria berjubah hitam itu menembus hutan pinus yang beku, Simon akhirnya tiba di kaki sebuah bukit terpencil yang diselimuti salju tebal.

Di puncak bukit, cahaya api unggun yang samar-samar menembus kabut malam, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas salju.

Pria berjubah hitam itu menarik paksa tangan Lana yang terikat, membuatnya tersungkur di atas salju dingin sebelum menyeretnya masuk ke area perkemahan.

"Masuklah, tikus kecil! Jaring Dewi Laba-laba sudah menunggumu untuk pesta malam ini!" bentak pria berjubah hitam itu dengan suara yang kejam.

"T-tolong... hiks... lepaskan aku..." Lana meratap dengan suara yang nyaris hilang akibat rasa takut dan hawa dingin.

Simon bersembunyi di balik sebuah pohon ek besar, sambil memperhatikan tempat itu.

"Apakah ini markas Sekte Widow?" gumam Simon pelan.

Ia melirik sekilas ke arah puncak bukit dan seketika otot-otot di wajahnya menegang.

Di sana, puluhan, mungkin ratusan pria berjubah hitam dengan sulaman jaring laba-laba merah berkumpul di sekeliling api unggun raksasa.

"Sial, aku tidak menyangka pengikut sekte sesat ini bisa sebanyak ini," pikir Simon.

"Bagaimana cara aku menyelamatkan Lana tanpa memancing seluruh pasukan ini?"

Tiba-tiba, matanya menyipit saat melihat seorang anggota sekte yang berjalan sendirian menuju pos penjaga terluar

"Ini dia!" desis Simon.

Dengan gerakan secepat kilat, Simon menyelinap ke belakang pria tersebut.

Tanpa mengeluarkan suara, ia melayangkan pukulan telak ke bagian belakang leher pria itu, membuatnya pingsan seketika.

Simon segera menyeret tubuh tak berdaya itu ke balik pepohonan gelap.

Sesampainya, Simon menusukkan belatinya tepat ke jantung pria itu guna memastikan kematiannya.

Simon dengan cepat menanggalkan jubah hitam milik anggota sekte tersebut dan memakainya untuk menutupi zirah kulitnya.

Ia membetulkan posisi topeng gagaknya yang menyeramkan.

"Seharusnya dengan penampilan seperti ini, tidak akan ada yang menyadarinya,kan?" gumam Simon

"Ehem," Simon berdehem untuk meyakinkan suaranya, lalu dengan langkah tenang ia berjalan masuk ke tengah perkumpulan sekte tersebut.

..........

Tiba di dalam.

Pemandangan di dalam markas Sekte Widow itu benar-benar mengerikan.

Udara dipenuhi bau amis darah dan aroma dupa yang menyesakkan paru-paru.

Ratusan pengikut berdiri membentuk lingkaran, bergumam melantunkan mantra-mantra dalam bahasa yang asing dan menyeramkan.

Tiba-tiba, seorang pria mengenakan jubah hitam yang lebih indah dengan hiasan benang emas dan sutra merah melangkah ke depan sebuah altar batu.

"Diam semuanya! Malam ini adalah malam indah lainnya bagi kita semua!" teriak Uskup itu, suaranya menggelegar penuh fanatisme.

"Darah segar telah dikumpulkan! Mari kita persembahkan jiwa-jiwa ini agar Sang Dewi Laba-laba Merah memberkati jaring-jaring kita dengan kekuatan abadi! Pengorbanan adalah pondasi dari kejayaan kita!"

Di belakang sang Uskup, 15 gadis muda dari desa sekitar, termasuk Lana, diikat erat pada tiang-tiang kayu besar di tengah api unggun yang siap dinyalakan.

"Kumohon... jangan bunuh saya... saya masih ingin pulang ke ibu saya..." isak salah satu gadis di samping Lana.

"Hiks... seseorang... tolong kami..." Lana meronta dengan putus asa, matanya yang lembab menatap liar ke arah kerumunan, mencari sosok yang mungkin bisa menolongnya.

Melihat pemandangan itu, Simon mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik jubah hitamnya.

Meskipun ia selalu bersikap dingin, nuraninya sebagai mantan manusia modern tetap merasa muak dengan hal biadab dan primitif ini.

"Bakar! Bakar! Korbankan mereka kepada Dewi Laba-laba Agung!" teriak anggota sekte lainnya dengan histeris, menciptakan suasana hiruk-pikuk yang mencekam.

Melihat Uskup mulai menurunkan obornya menuju tumpukan kayu kering di bawah kaki para gadis, Simon menyadari ia tidak punya banyak waktu lagi.

Ia segera menarik diri ke bagian kerumunan yang lebih gelap dan berteriak dengan sekuat tenaga:

"ADA PENYUSUP! ADA PENYUSUP!!"

Tangan sang Uskup yang memegang obor seketika membeku di udara, hanya beberapa sentimeter dari kayu bakar.

"Apa?! Ada penyusup?!" raungnya dengan wajah yang memerah karena marah.

"Cari mereka segera! Jangan sampai mereka mengganggu ritual suci kita malam ini! Tangkap hidup-hidup atau penggal di tempat!"

Seketika, kerumunan yang tadinya fanatik berubah menjadi kacau dan penuh kebingungan.

Para anggota sekte saling pandang dengan curiga, menghunus senjata mereka, dan mulai berlarian ke arah pinggiran perkemahan sesuai instruksi Simon yang menyesatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!