NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. 10 Tahun Kemudian

Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk membuat seorang anak yang dulu menangis karena takut monster menjadi jenderal muda, untuk membuat sebuah desa yang dulu bernama Desa Ling yang penuh tulang menjadi desa yang penuh sekolah dan klinik, dan untuk membuat seorang Wakil Kepala Klan Tang yang dulunya hanya dikenal sebagai "Anak Racun" menjadi orang yang sekarang disebut oleh rakyat biasa sebagai "Tangan yang Menyembuhkan", karena dalam sepuluh tahun itu Tang Hyun dan Putri Mahkota Li Xinyue, yang sekarang secara resmi menjadi Permaisuri Xinyue, telah mengubah banyak hal di kekaisaran ini, bukan dengan perang, bukan dengan racun, melainkan dengan keputusan-keputusan kecil yang dibuat setiap hari di meja kayu di Paviliun Bunga Plum, tempat mereka masih minum teh bersama setiap senja meskipun sekarang mereka punya tiga anak dan tanggung jawab yang bisa membuat kepala orang biasa pecah jika dipikirkan.

Pagi itu di musim semi tahun kesepuluh setelah pernikahan mereka, istana tidak riuh seperti biasanya, karena hari ini bukan hari perayaan, bukan hari sidang, melainkan hari biasa, hari di mana Permaisuri Xinyue bangun lebih awal dari biasanya untuk menyiram pohon bunga plum yang sekarang sudah setinggi tiga orang dan yang setiap tahun mekar lebih indah, pohon yang ditanam dari biji yang Tang Hyun berikan di hari mereka berjanji, pohon yang menjadi saksi bisu dari semua surat, air mata, dan tawa yang mereka bagi selama ini.

"Yang Mulia, tehnya sudah siap," kata pelayan tua yang sudah mengabdi sejak Xinyue masih Putri Mahkota.

"Letakkan di paviliun," jawab Xinyue sambil tersenyum, "suamiku akan segera datang."

Dan benar saja, tidak lama kemudian, Tang Hyun muncul dari balik gerbang, bukan dengan jubah resmi Penasihat Keamanan Perbatasan, bukan dengan pedang di pinggang, melainkan dengan jubah sederhana berwarna abu-abu dan dengan nampan berisi kue beras ketan di tangan, kue yang dia buat sendiri di dapur kecil di belakang kediaman mereka, sebuah kebiasaan yang dia mulai sejak tahun pertama pernikahan karena dia ingat bahwa Xinyue pernah bilang kue buatannya adalah satu-satunya makanan yang membuatnya merasa seperti orang biasa.

"Kau bangun pagi," kata Tang Hyun sambil duduk di samping Xinyue.

"Aku tidak bisa tidur," jawab Xinyue, "hari ini anak kita yang sulung akan berangkat ke Sichuan untuk magang di klinik Klan Tang."

Tang Hyun mengangguk, "Tang Ming sudah dewasa. Dia siap."

"Dia bilang ingin menjadi seperti ayahnya," kata Xinyue sambil menuang teh, "bukan menjadi seperti Kaisar."

Tang Hyun tertawa kecil, "Maka kita gagal mendidiknya menjadi politikus."

"Tidak," kata Xinyue serius, "kita berhasil mendidiknya menjadi manusia."

Mereka minum teh dalam diam, dan angin membawa kelopak bunga plum jatuh ke atas meja, sama seperti sepuluh tahun lalu, hanya saja sekarang di atas meja ada tiga cangkir, bukan dua, karena anak kedua mereka, Tang Yue, seorang gadis berusia tujuh tahun yang paling mirip Xinyue, sering datang diam-diam untuk mencuri kue, dan anak bungsu mereka, Tang Lei, yang baru berusia empat tahun, selalu menangis jika tidak diajak.

"Bagaimana keadaan Klan?" tanya Xinyue.

"Baik," jawab Tang Hyun, "Tang So-yeon sekarang yang memimpin sehari-hari. Aku hanya datang sebulan sekali untuk mengajar murid baru tentang cara membuat racun yang menyembuhkan."

"Dan mereka masih memanggilmu 'Tangan yang Menyembuhkan'?" tanya Xinyue sambil tersenyum.

"Mereka juga memanggilku 'Suami Permaisuri yang Takut Istri'," jawab Tang Hyun, membuat Xinyue tertawa sampai kelopak tehnya tumpah.

Sepuluh tahun terakhir tidak mudah, karena setelah pernikahan mereka, ada banyak pejabat yang mengundurkan diri, ada tiga percobaan kudeta kecil, dan ada satu kali wabah besar di selatan yang hampir membuat seluruh kekaisaran lumpuh, tetapi setiap kali, Tang Hyun dan Xinyue menghadapinya bersama, Xinyue dari dalam istana dengan kebijakan dan belas kasih, Tang Hyun dari luar dengan Klan Tang dan klinik-klinik yang mereka dirikan di setiap provinsi.

Mereka juga mengubah hukum, membuat aturan bahwa setiap sekte harus membuka klinik gratis, bahwa setiap anak dari keluarga miskin boleh belajar di akademi kekaisaran, dan bahwa racun tidak lagi hanya digunakan untuk membunuh, melainkan juga untuk membuat obat, sebuah perubahan yang awalnya ditentang keras oleh para ortodoks tetapi sekarang diterima karena hasilnya nyata, karena angka kematian karena penyakit turun setengahnya dalam lima tahun.

"Kau ingat malam di utara?" tanya Xinyue tiba-tiba.

"Yang mana?" jawab Tang Hyun, "kita punya banyak malam di utara."

"Malam ketika kau bilang kau tidak ingin melihatku terluka," jawab Xinyue, "dan malam ketika aku bilang aku lelah berpura-pura."

Tang Hyun menggenggam tangan Xinyue, "Aku ingat. Dan aku bersyukur kita tidak menyerah."

"Kita hampir menyerah," kata Xinyue jujur, "ketika rahasia Desa Ling keluar. Ketika Kaisar hampir menarik kembali keputusannya."

"Tapi kita tidak," jawab Tang Hyun, "karena kita punya janji."

Janji itu masih ada, ditulis di atas kertas kuning yang sekarang dibingkai dan digantung di paviliun, kertas yang sudah menguning tetapi tintanya tidak pudar, janji yang isinya hanya satu kalimat, "Kita akan minum teh di bawah pohon bunga plum, hanya kita berdua, sampai akhir."

Siang itu, utusan dari perbatasan datang, bukan membawa berita perang, melainkan membawa hadiah dari desa-desa di utara, karung gandum, kain, dan surat-surat dari anak-anak yang sekarang belajar membaca di sekolah yang didirikan Klan Tang, surat yang isinya "Terima kasih Paman Tang dan Bibi Permaisuri", sebuah gelar yang membuat Xinyue menangis dan Tang Hyun hanya bisa menggaruk kepala karena malu.

"Kita melakukan sesuatu yang benar," kata Xinyue malam itu ketika mereka berbaring di kamar, tidak di kamar kekaisaran yang besar, melainkan di kamar kecil di belakang paviliun yang mereka gunakan sejak masih muda.

"Kita melakukan yang terbaik yang kita bisa," jawab Tang Hyun, "dan besok kita akan melakukan lagi."

Di luar, bulan purnama bersinar, sama seperti malam di Puncak Es Abadi, sama seperti malam mereka bertarung, sama seperti malam mereka berjanji.

Tiga hari kemudian, Tang Ming berangkat ke Sichuan, dan di gerbang istana, ratusan orang datang untuk mengantar, bukan karena dia putra Permaisuri, melainkan karena dia dikenal sebagai anak yang sering ikut ayahnya membagikan obat ke desa, anak yang tidak pernah sombong meskipun darahnya biru.

"Jaga dirimu," kata Xinyue sambil memeluk anaknya erat.

"Aku akan baik-baik saja, Ibu," jawab Tang Ming, "dan aku akan membuat Ayah bangga."

Tang Hyun hanya mengangguk dan menepuk bahu anaknya, "Jangan buat masalah. Dan jangan lupa menulis surat."

Kereta pergi, dan Xinyue bersandar di bahu Tang Hyun, "Dia sudah besar."

"Mereka semua akan besar," jawab Tang Hyun, "dan kita akan semakin tua."

"Tua bersama," kata Xinyue.

"Tua bersama," ulang Tang Hyun.

Setahun berlalu lagi, dan musim semi datang lagi, dan pohon bunga plum mekar lebih lebat dari sebelumnya, sehingga para penyair di ibu kota menulis bahwa "bunga itu mekar karena cinta yang tidak pernah padam".

Di ulang tahun pernikahan mereka yang kesepuluh, tidak ada jamuan besar, tidak ada tamu, hanya keluarga kecil mereka dan Tang So-yeon yang datang dari Sichuan membawa hadiah, sebuah gulungan yang berisi daftar seratus klinik yang sekarang beroperasi di seluruh negeri, semua dengan nama "Klinik Bunga Plum".

"Kalian gila," kata Tang So-yeon sambil melempar gulungan itu ke meja, "menghabiskan uang Klan untuk ini."

"Kami tidak menghabiskan," jawab Tang Hyun, "kami menanam."

Tang So-yeon menggeleng tapi tersenyum, "Baiklah. Aku kalah. Kalian menang."

Malamnya, setelah anak-anak tidur, Tang Hyun dan Xinyue kembali ke paviliun, tempat yang sama, meja yang sama, dua cangkir teh yang sama.

"Kau bahagia?" tanya Xinyue.

Tang Hyun menatap istrinya, wanita yang dulu dia lihat sebagai bulan yang jauh, sekarang duduk di sampingnya dengan rambut yang sudah ada ubannya di pelipis dan dengan tangan yang masih menggenggam tangannya, "Aku bahagia," jawabnya, "bahagia karena dulu aku memilih untuk tidak lari. Bahagia karena dulu aku memilih untuk percaya."

"Aku juga," kata Xinyue, "bahagia karena dulu aku memilih untuk menunggu."

Mereka bersulang dengan teh, dan di kejauhan, bel istana berbunyi menandakan pergantian hari.

"Kau tahu," kata Tang Hyun, "ketika aku masih muda, aku pikir hidup adalah tentang bertahan. Sekarang aku tahu, hidup adalah tentang siapa yang kau pilih untuk bertahan bersamanya."

Xinyue menyandarkan kepalanya di bahu Tang Hyun, "Maka aku beruntung kau memilihku."

"Aku yang beruntung," jawab Tang Hyun, "karena kau memilihku kembali."

Mereka duduk sampai fajar, tidak berbicara banyak, karena tidak perlu, karena sepuluh tahun sudah cukup untuk membuat mereka mengerti satu sama lain tanpa kata.

Keesokan paginya, Kaisar yang sudah tua memanggil mereka ke aula, dan di depan seluruh pejabat, Kaisar mengumumkan bahwa dia akan turun takhta dalam dua tahun, dan bahwa yang akan menggantikannya bukan anak dari selir, melainkan Tang Ming, cucu dari putrinya, anak yang dibesarkan dengan nilai Klan Tang dan nilai istana, anak yang diajarkan bahwa kekuasaan adalah untuk melayani, bukan untuk ditakuti.

Keputusan itu membuat banyak orang terkejut, tetapi tidak ada yang protes, karena semua orang sudah melihat bagaimana Tang Hyun dan Xinyue memerintah, dengan adil, dengan kerja keras, dan dengan hati.

Setelah pengumuman, Tang Hyun dan Xinyue berjalan kembali ke paviliun, dan Xinyue tiba-tiba berhenti dan menatap pohon bunga plum.

"Apa?" tanya Tang Hyun.

"Aku memikirkan," kata Xinyue, "tentang gadis kecil yang dulu takut di istana, dan tentang anak laki-laki yang dulu hanya tahu cara membunuh."

"Lalu?" tanya Tang Hyun.

"Lalu aku memikirkan tentang betapa beruntungnya kita," jawab Xinyue, "karena kita menemukan jalan pulang di dalam diri satu sama lain."

Tang Hyun memeluk istrinya dari belakang, "Kita pulang."

Mereka berdiri di sana sampai matahari terbenam, dan kelopak bunga plum terus jatuh, menutupi tanah, menutupi bangku, menutupi dua orang yang pernah dipisahkan oleh dunia, tetapi sekarang tidak bisa dipisahkan oleh apa pun.

Di malam hari, sebelum tidur, Tang Hyun menulis surat terakhir untuk hari itu, bukan untuk pejabat, bukan untuk jenderal, melainkan untuk dirinya sendiri di masa depan, "Jika suatu hari aku lupa, ingatkan aku bahwa aku pernah berjanji. Dan bahwa aku menepatinya."

Dia meletakkan surat itu di bawah bantal, dan Xinyue yang melihat hanya tersenyum dan mematikan lentera.

Di luar, angin bertiup pelan, dan pohon bunga plum bergoyang, seolah mengangguk setuju.

Sepuluh tahun telah berlalu, dan Tang Hyun yang dulu adalah "Anak Racun" sekarang adalah suami, ayah, dan pelindung.

Sepuluh tahun telah berlalu, dan Li Xinyue yang dulu adalah Putri Mahkota yang kesepian sekarang adalah Permaisuri, ibu, dan sahabat.

Dan di antara mereka, ada cinta yang tidak lahir dari keindahan atau kekuasaan, melainkan dari janji yang ditepati, dari luka yang disembuhkan bersama, dan dari teh yang diminum berdua di bawah pohon bunga plum.

Cerita mereka tidak akan berakhir di sini, karena masih ada musim semi yang akan datang, masih ada anak yang akan tumbuh, masih ada rakyat yang harus dijaga, tetapi untuk sekarang, di malam ini, mereka sudah memiliki segalanya yang mereka butuhkan.

Dan di bawah langit Chang'an, bintang-bintang bersinar, menyaksikan dua orang yang akhirnya menemukan kedamaian.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!