“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
•••
Hari itu tiba, hari ulang tahun Ibu Giselle.
Jio sudah dalam perjalanan menuju apartemen gadis itu. Namun, ada berbagai pertanyaan yang kembali muncul dalam benak Jio.
‘Kenapa gadis itu tidak tinggal bersama orang tuanya?’
‘Kenapa memilih tinggal di apartemen besar seorang diri? Ya, meski mandiri itu bagus.’
‘Tapi, apa arti dari tatapan sendunya kala itu? Apakah karena dia masih sedih dan kesal mengingat perlakuanku pada gadis itu atau ada hal lain?’
Berbagai pemikiran itu rasanya berkecamuk di kepala Jio hingga akhirnya pria itu menyadari dirinya mulai penasaran akan bagaimana kehidupan Giselle berlangsung.
Sampai di basement apartemen Giselle, Jio langsung menuju unit gadis itu untuk menjemputnya.
Saat hendak menekan bel, pintu itu telah lebih dulu terbuka memperlihatkan wujud gadis cantik dengan gaun hitam selutut polos tanpa lengan yang memberi kesan elegant— sedang berdiri memegang sekotak kue serta sebuket bunga Lily di tangannya.
Jio mengambil alih barang yang dibawa gadis itu, membawakan menuju mobil.
"Aku tak tahu kau setampan ini menggunakan setelan jas, warna yang kau kenakan juga serasi dengan gaunku."
"Apa terlalu formal?"
Giselle menggelengkan kepala, sembari tersenyum, "Tidak, kau terlihat keren."
•••
Mereka sudah dalam mobil yang Jio kemudikan menuju tempat yang Giselle arahkan untuknya.
"Kenapa tidak pergi bersama temanmu dan kenapa malah mengajakku?"
"Aku tidak pernah mengajak siapapun, Karina dan Yesha saja tidak pernah aku ajak ke tempat Ibuku. Jadi, kau satu-satunya.”
“Kenapa?”
“Dan untuk alasan kenapa aku mengajakmu…?”
Giselle mengetuk dagunya pelan, nampak berpikir, “Ya… karena itu yang aku inginkan."
"Itu saja?"
"Eumm... kau kan kekasihku, jadi aku mau mengenalkanmu pada Ibuku."
"Tck, jangan mulai."
Giselle terkekeh, "Kau duluan yang memancing."
Jio menggelengkan kepala, tak habis pikir. Giselle kembali memandangi jalanan, mereka masih sama-sama diam tak bersuara.
Selang beberapa menit, akhirnya Jio bertanya.
"Kenapa tidak tinggal dengan orang tuamu, tidak dekat?"
"Dekat. Aku dekat dengan Ibuku."
"Kalau, Ayahmu?"
Giselle menoleh cepat dengan wajah sedikit terkejut juga bingung, membuat Jio ikut terkejut dan merasa tak enak karena bertanya.
‘Mungkinkah Giselle anak broken home, dan orang tuanya memiliki perpisahan yang buruk?’
Pertanyaan itu tertahan di kepalanya.
"Maaf, harusnya aku tidak bertanya."
"Aku tidak tahu siapa Ayahku…”
Pernyataan Giselle membuat Jiomakin terkejut.
“Ya, lebih baik begitu. Dari pada ada… hanya untuk mengisi absen, tapi tidak memberi afeksi apapun." Sambungnya.
Setidaknya lanjutan pernyataan Giselle sedikit memberi reaksi pada Jio, bukankah Ayahnya juga begitu.
"Jangan bicara seperti itu… semua masih bisa kau perbaiki, jika kau mau."
Giselle menanggapi dengan gelengan.
“Apa benar masih bisa diperbaiki, saat aku sendiri tidak tahu siapa dan di mana Ayahku berada?”
”Kita bisa mencarinya.”
Giselle menghela napas, “Tidak perlu.”
“Oh, di depan sana! Di rumah itu!” Tunjuk Giselle.
Mobil yang dikendarai Jihoon memasuki sebuah rumah dengan halaman luas sesuai arahan Giselle.
Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan keduanya, dengan ramah wanita itu menyapa juga memeluk Giselle erat.
"Nona Giselle... sudah lama Nona tidak berkunjung."
"Bibi apa kabar? Bibi sehat-sehat saja, kan?"
Wanita itu mengangguk kemudian melepas pelukannya. Sedikit melirik seorang pria di belakang tubuh gadis yang baru saja didekapnya itu.
"Astaga... siapa pria tampan ini?"
Giselle mengikuti arah pandang Bibi tersebut dan menemukan Jio yang membungkukkan badan dengan sopan.
"Dia Jio, Jio Pratama... kekasih baruku..." Ujar Giselle seraya terkekeh.
Bibi itu ikut terkekeh, Giselle dewasa dan Giselle remaja tidak ada bedanya sama-sama suka menggoda seseorang hingga kerap membuat orang tersebut kesal.
"Aku mau mengenalkannya pada Ibu."
Bibi menatap sendu dan tersenyum, "Kalau begitu cepat masuk jangan buat Nyonya menunggu."
Giselle juga Jio masuk ke dalam rumah bernuansa Jepang tersebut, mengikuti langkah Bibi menuju taman di halaman belakang yang ternyata lebih luas dari yang di depan tadi.
Bibi mengangguk pada Giselle kemudian berlalu meninggalkan gadis itu bersama Jio.
"Ayo..."
Giselle menuntun Jio ke sebuah rumah kaca yang berada di tengah halaman.
Hal itu membuat Jio bingung, tidak ada seorangpun di sana tapi gadis itu mengatakan padanya bahwa dia mengajaknya kemari untuk merayakan ulang tahun sang Ibu.
Berada selangkah di depan pintu rumah kaca itu Giselle menarik nafas sebelum benar-benar membukanya, menegarkan hati.
"Ibu... Giselle datang..."
Jio kembali dikejutkan sebuah fakta yang tak pernah diduga olehnya.
Giselle menuntunnya pada sisi rumah kaca tersebut lalu berhenti di depan rak kayu besar, di mana di dalamnya terdapat guci tempat menyimpan abu jenazah bertuliskan–
'Krystal Uchiyama'
Jio memperhatikan gadis yang tengah meletakkan buket bunga yang dibawanya tadi serta membuka kotak berisi kue tersebut tepat di depan bingkai foto seorang wanita, yang Jio yakini adalah pemilik nama dari abu jenazah tersebut.
Giselle mengusap bingkai foto itu.
"Ibu, selamat ulang tahun... kali ini aku tak sendiri," Giselle menoleh pada Jio yang masih diam di tempatnya berdiri.
Jio membungkuk hormat lalu memilih mengusap guci abu itu dibanding bingkai foto, takutkan Giselle keberatan.
"Selamat ulang tahun, Tante..."
Giselle mengulas senyum melihat ke arah Jio tapi pria itu tak melihatnya, kemudian kembali mengusap bingkai sang Ibu.
"Ibu, dia Jio…”
“Dia adalah orang yang akan menjagaku setelah ini, aku harap Ibu menyukainya. Dia pria yang baik, jadi Ibu tidak perlu khawatir."
Jio dapat melihat bagaimana gadis cerewet yang suka mengganggunya itu tersenyum seraya bicara dengan nada bergetar menahan sesuatu di kerongkongannya yang terasa perit.
Gadis pembuat masalah ini tak sekuat yang dia kira.
Jio tak habis pikir, berapa banyak hal lagi yang Giselle punya untuk kembali mengejutkannya.
"Ayo pulang."
"Kau tak berdoa untuk Ibumu?"
Giselle menggeleng pelan, "Aku tidak tahu caranya."
"Kemari."
Jio meraih tangan Giselle, menuntunnya berdoa.
Giselle memperhatikan wajah Jio yang tengah serius melafalkan doa untuk Ibunya, mata pria itu terpejam dengan tangannya menggenggam tangan milik Giselle.
Sudah tak terhitung berapa kali Jio membuatnya berdebar, jika Jio benar-benar tidak ingin membuatnya salah paham seharusnya dia tidak boleh bersikap seperti ini.
Setelah selesai berdoa, Giselle mengajak Jio untuk duduk di bangku taman.
“Apa kau selalu kesini setiap tahun?” Tanya Jio.
Giselle mengangguk, kemudian mendekat pada Jio dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Tangannya meraih lengan Jio, mendekapnya erat.
Jio melirik dengan ujung matanya.
Giselle mendongak untuk menatap wajah Jio lalu kembali menunduk, meraih jemari Jio dan menggenggamnya.
“Suatu hari nanti, meski hubungan kita tidak berakhir baik… apa kau mau datang mengunjungi Ibuku, bersamaku?”
”Kau tahu itu permintaan yang mustahil, setelah semua yang kulakukan padamu.”
Giselle terkekeh, “Padahal aku yang lakukan, tapi kenapa kau bicara seolah itu salahmu?”
“Baiklah… tapi tak janji.”
•••Vienbluu (annavienbluu)