Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Gempa Berita dari Selatan
Sinar matahari pagi menyapu Kota Jiangzhou, mengusir sisa-sisa awan kelabu dari badai semalam. Di Menara Su, aktivitas berjalan normal seolah hujan lebat kemarin hanyalah fenomena alam biasa. Kaca lobi mengkilap tanpa noda, lantai marmer berbau karbol pinus yang segar, dan para satpam berseragam biru menyapa setiap karyawan dengan senyum profesional.
Di lantai dua puluh delapan, Su Yuhan berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menyesap kopi hitam panas. Semalam, ketika badai sedang mengamuk, Lin Fan menjemputnya tepat di lobi. Anehnya, Yuhan tidak melihat satu pun staf keamanan lembur, dan aroma pembersih kimia terasa sangat menyengat di udara. Namun, kehangatan mantel yang disematkan Lin Fan ke bahunya membuat Yuhan menepis semua kecurigaan itu.
Kini, dengan dana 500 Miliar Yuan yang siap dikucurkan, Yuhan bersiap menghadapi pertempuran bisnis sesungguhnya. Ia baru saja menyalakan layar televisi di dinding ruangannya untuk memantau pergerakan indeks saham nasional, ketika sebuah siaran berita sela (Breaking News) tiba-tiba mengambil alih seluruh saluran utama.
Berita Kehancuran Sang Raksasa
Layar televisi menampilkan seorang pembaca berita senior yang wajahnya tampak pucat dan suaranya sedikit bergetar saat membacakan baris-baris teks di teleprompter. Tulisan merah besar berkedip di bagian bawah layar: DARURAT NASIONAL: RUNTUHNYA DINASTI SELATAN.
"Pemirsa, kami baru saja menerima laporan mengejutkan dari Provinsi Selatan," suara pembaca berita itu menggema di ruang kerja Yuhan yang sunyi. "Hanya dalam semalam, Keluarga Long—salah satu pilar militer dan ekonomi terbesar di wilayah selatan—dilaporkan telah runtuh secara misterius."
Yuhan menahan napasnya, cangkir kopi di tangannya nyaris terlepas. Keluarga Long? Itu adalah eksistensi raksasa yang bahkan Keluarga Chen dari Jiangzhou pun harus tunduk padanya!
Pembaca berita itu melanjutkan paparannya dengan rincian yang membuat akal sehat Yuhan seakan dipukul palu godam:
Penyegelan Markas Militer: Komando Militer Selatan telah diambil alih oleh unit intelijen khusus dari pusat tanpa peringatan. Jenderal Besar Long dilaporkan telah dicopot dari jabatannya, dilucuti pangkatnya, dan kini ditahan atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi.
Aset Dibekukan: Seluruh rekening bank, saham, dan perusahaan cangkang milik Keluarga Long senilai ratusan triliun Yuan telah dibekukan secara sepihak oleh otoritas moneter tertinggi pada pukul dua dini hari tadi.
Hilangnya Sang Pewaris: Tuan Muda Long Ao, pewaris tunggal Keluarga Long, dilaporkan menghilang tanpa jejak semalam. Jet pribadinya ditemukan kosong, dan seluruh pasukan pengawal elitnya raib seolah ditelan bumi.
"Hingga saat ini, belum ada satu pun lembaga resmi yang memberikan klarifikasi mengenai siapa pihak yang memiliki kekuatan untuk melumpuhkan Keluarga Long hanya dalam waktu enam jam," pungkas pembaca berita tersebut dengan raut ketakutan yang gagal disembunyikan.
Menyatukan Kepingan Teka-Teki Berdarah
Yuhan merosot jatuh ke kursi kulitnya. Kakinya tiba-tiba terasa lemas. Otaknya yang analitis bekerja dengan kecepatan penuh, merangkai setiap kepingan kejadian ganjil dalam dua puluh empat jam terakhir.
Ia ingat cerita pamannya tentang betapa berbahayanya dana 500 Miliar ini, dan bagaimana predator dari luar provinsi pasti akan datang mencabiknya.
Ia ingat aroma pembersih kimia yang sangat menyengat di lobi Menara Su semalam.
Ia ingat senyum tenang Lin Fan saat memayunginya di tengah badai, dan jas suaminya yang entah mengapa sedikit berbau karat besi dan darah samar.
Apakah Keluarga Long mencoba menyerang Menara Su semalam? batin Yuhan histeris. Dan Lin Fan... apakah dia yang menghancurkan seluruh dinasti militer itu sambil menungguiku pulang lembur?!
Yuhan tahu bahwa Lin Fan adalah pewaris Keluarga Lin dari ibu kota. Namun, dalam benak Yuhan, Keluarga Lin hanyalah sekumpulan pebisnis konglomerat super kaya. Menjatuhkan sebuah keluarga militer bintang empat dalam semalam tanpa memicu perang nasional, memusnahkan pasukan mereka tanpa suara, dan melenyapkan Tuan Mudanya... itu bukanlah kekuatan uang. Itu adalah kekuatan dewa kematian absolut.
Sang Tiran yang Membawa Bekal
Terdengar suara pintu ruang kerja diketuk pelan, menyela lamunan horor Yuhan. Pintu terbuka, dan Lin Fan melangkah masuk dengan senyum sayunya yang khas. Ia mengenakan kemeja kasual yang rapi, menenteng rantang makanan susun berwarna biru muda.
"Yuhan, kau belum sarapan, kan? Ibu tadi pagi memasak bubur ayam, jadi aku membawakannya untukmu sebelum mulai bekerja," ucap Lin Fan lembut, meletakkan rantang itu di atas meja kaca.
Yuhan menatap pria di depannya dengan mata terbelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang antara rasa takut yang murni dan kekaguman yang tak bisa dijelaskan. Pria yang berdiri menyodorkan bubur ayam ini adalah monster yang sama yang baru saja meruntuhkan langit di Provinsi Selatan.
"L-Lin Fan..." Yuhan menunjuk layar televisi yang masih menayangkan puing-puing kekuasaan Keluarga Long dengan jari gemetar. "Keluarga Long... Jenderal Besar... Tuan Muda Long Ao... Apakah... apakah kau yang melakukan semua ini semalam?"
Lin Fan melirik sekilas ke arah layar televisi. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Tidak ada keterkejutan, tidak ada penyangkalan, tidak ada kebanggaan yang arogan. Ia hanya mengambil mangkuk porselen dan mulai menuangkan bubur ayam yang masih mengepul ke dalamnya.
"Mereka mengirim seratus tentara bayaran ke gedung ini semalam saat kau sedang lembur, Yuhan," jawab Lin Fan santai, seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Tuan Muda mereka memiliki niat yang sangat buruk padamu."
Yuhan menahan napas. "L-lalu... apa yang terjadi pada seratus tentara itu? Dan di mana Long Ao?"
Lin Fan meletakkan sendok di dalam mangkuk dan menyodorkannya tepat ke hadapan Yuhan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata istrinya dengan senyum tipis yang menyimpan ribuan pedang tak kasat mata.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Yuhan. Satpam gedung kita bekerja dengan sangat baik semalam," bisik Lin Fan lembut. "Dan untuk Long Ao... katakanlah dia sedang dalam perjalanan panjang menuju ibu kota, dikemas dalam kotak yang sangat sempit."