[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Jenderal Luo Tian
Suasana di dalam kamar Luo Huanran mendadak senyap setelah pelayan Yu berlari terbirit-birit sambil memegangi pipinya yang bengkak dan berlumuran darah. Ancaman dingin yang dilontarkan oleh gadis asing berwajah mirip itu tadi benar-benar sukses membuat pelayan sombong tersebut ketakutan setengah mati.
Fang Hua menutup pintu kayu dengan rapat lalu menguncinya kembali. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di balik pintu sambil memijat pelipisnya yang terasa sedikit pening. Rasanya kepalanya mau pecah memikirkan situasi absurd yang baru saja menimpanya, terjebak di dinasti kuno dan bertemu dengan gadis yang memiliki wajah persis seperti dirinya.
"Keluar lah, pelayannya sudah pergi," ucap Fang Hua datar, melirik ke arah kolong tempat tidur.
Perlahan-lahan, sosok kecil Luo Huanran merangkak keluar dari bawah ranjang. Wajah pucatnya menyiratkan rasa takut yang luar biasa. Tubuhnya bahkan masih sedikit bergetar hebat. Gadis malang itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata Fang Hua yang memancarkan aura dominan dan ketegasan khas dunia modern.
"Ma-maafkan aku..." cicit Luo Huanran dengan suara bergetar nyaris tak terdengar. "Karena aku... kau jadi mencari masalah dengan pelayan Selir Qin. Mereka pasti tidak akan tinggal diam."
Fang Hua berjalan mendekat, lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia menatap gadis di hadapannya dengan saksama. Sungguh, rasanya seperti sedang bercermin, tetapi dengan versi yang seratus kali lipat lebih lemah dan penakut.
"Hei, dengar ya," kata Fang Hua dengan nada tenang namun tegas. "Kalau kau terus bersikap lemah dan membiarkan mereka menginjak-injak harga dirimu, sampai kapan pun hidupmu tidak akan pernah tenang di tempat ini. Hukum rimba berlaku di mana saja, bahkan di dunia antah berantah seperti ini."
Luo Huanran mendongak perlahan, menatap manik mata Fang Hua yang memancarkan ketegasan luar biasa. Selama belasan tahun hidup di Kediaman Jenderal, tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan hal semacam itu padanya. Semua orang hanya bisa menindas, mencaci, dan memperlakukannya bagaikan sampah.
"Tapi... mereka memiliki kekuasaan. Ayah tidak pernah peduli padaku, dan Selir Qin menguasai halaman belakang," balas Luo Huanran dengan bulir air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Kekuasaan bisa dilawan dengan kecerdasan dan kekuatan fisik," sangkal Fang Hua tanpa ragu. Sebagai mantan anak dari agen kepolisian yang sejak kecil digembleng berbagai ilmu bela diri dan strategi taktis, menyerah bukanlah kamus hidupnya.
Sebelum Luo Huanran sempat membalas ucapan itu, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki yang cukup banyak dari luar halaman kamar. Suara itu terdengar berat, tergesa-gesa, dan diiringi oleh suara bentakan nyaring yang memecah keheningan sore hari.
"Buka pintunya! Berani sekali pelayan rendahan membuat keributan di Kediaman Jenderal!" teriak sebuah suara pria paruh baya yang penuh dengan gelora kemarahan.
Wajah Luo Huanran langsung berubah pias. Warna darah di wajahnya seolah menguap seketika. Tubuhnya melorot lemas ke lantai.
"Itu... itu suara Ayah..." bisik Luo Huanran dengan napas tersengal-sengal karena panik luar biasa. "Jenderal Luo... Ayah kandungku datang bersama para pengawal."
Fang Hua mengerutkan keningnya. Alis indahnya bertaut. Jadi, pria di luar sana adalah kepala keluarga dari kediaman ini, sekaligus ayah kandung dari gadis yang wajahnya sangat mirip dengannya.
Brak!
Pintu kayu tua itu sama sekali tidak diketuk secara baik-baik, melainkan langsung didobrak paksa dari luar hingga terbuka lebar menimbulkan suara dentuman keras.
Beberapa orang pengawal berbadan kekar berseragam militer langsung menerobos masuk, mengambil posisi mengepung ruangan. Di belakang mereka, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan balutan jubah brokat mewah berwarna abu-abu gelap. Wajahnya keras, dipenuhi garis ketegasan seorang jenderal perang, dengan mata tajam yang memancarkan aura intimidasi tinggi.
Pria itu adalah Jenderal Luo Tian, penguasa militer yang cukup disegani di ibu kota Dinasti Tang.
Di sebelah Jenderal Luo, berdiri seorang wanita paruh baya berbusana mewah dengan hiasan rambut emas berkilauan—Selir Qin, wanita yang tadi sempat disebut-sebut oleh pelayan Yu sebagai sosok yang ditakuti di kediaman ini. Selir Qin memasang senyum licik di balik wajah yang dipoles tebal, sengaja memasang ekspresi seolah-olah dizalimi.
"Jenderal, lihatlah! Putrimu yang tidak berguna ini benar-benar sudah kehilangan akal!" suara Selir Qin langsung melengking nyaring, sengaja memancing emosi sang jenderal. "Dia bukan hanya membuat onar di halaman belakang, tapi bahkan melukai pelayan kepercayaan hingga babak belur! Sungguh memalukan nama baik keluarga besar Luo!"
Jenderal Luo Tian melangkah masuk dengan langkah berat. Tatapan matanya langsung menghujam tajam ke arah sosok gadis yang berdiri tegak di dekat ranjang. Namun, karena kemiripan wajah yang luar biasa, Jenderal Luo tidak menyadari bahwa gadis yang berdiri di hadapannya bukanlah putrinya yang lemah, melainkan Fang Hua dari dunia modern.
Fang Hua tidak menunjukkan secuil pun rasa takut. Ia berdiri dengan dagu terangkat, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap balik sang jenderal dengan mata datarnya yang dingin.
"Luo Huanran!" bentak Jenderal Luo Tian dengan suara menggelegar yang mengguncang ruangan sempit itu. "Berani sekali kau membuat keributan dan memukul pelayan kediaman! Di mana letak sopan santun yang sudah diajarkan selama ini?!"
Mendengar bentakan keras itu, Luo Huanran yang bersembunyi di dekat ranjang semakin menciut ketakutan. Ia hendak membuka mulut untuk menjelaskan yang sebenarnya, namun tenggorokannya terasa tercekat.
Sebelum Luo Huanran sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Fang Hua melangkah maju satu langkah, berdiri tepat di depan Luo Huanran untuk melindungi gadis malang tersebut. Fang Hua menatap Jenderal Luo Tian tepat di kedua matanya tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Jenderal yang terhormat," ucap Fang Hua dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan penuh sindiran halus. "Sebelum Anda datang ke sini dan berteriak memarahi orang lain tanpa dasar, tidakkah lebih baik jika Anda mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu? Atau memang seperti inilah cara seorang jenderal besar memimpin keluarganya, menelan mentah-mentah aduan dari seekor anjing peliharaan?"
Suasana di dalam kamar seketika menjadi sangat hening. Seluruh pengawal yang hadir terbelalak kaget. Tidak pernah dalam sejarah Kediaman Jenderal ada seorang pun yang berani berbicara sekasar itu, apalagi menantang secara langsung wibawa seorang Jenderal Luo Tian yang dikenal kejam dan disiplin.
Wajah Jenderal Luo Tian langsung menggelap seketika. Urat-urat di pelipisnya menonjol menahan amarah yang meledak-ledak.
"Anak kurang ajar!" murka Jenderal Luo Tian sambil mengayunkan tangan kanannya dengan kuat, bersiap melayangkan tamparan keras ke arah wajah Fang Hua untuk memberikan pelajaran mutlak.
Namun, Fang Hua sama sekali tidak bergeming. Senyuman tipis dan dingin terukir di sudut bibirnya. Di dalam benaknya, insting bertarungnya sudah membaca setiap pergerakan tangan sang jenderal, bersiap memberikan kejutan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️