Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng sandiwara
"Ingat Senja, jangan sampai kamu membuat Alfa tidak puas. Kamu harus menjadi istri yang baik untuknya. Layani dia selayaknya istri yang berbakti. Oh ya, besok kalian sudah mulai bekerja, jangan perlihatkan keterpaksaan di wajahmu. Kamu harus terlihat saling mencintai dengan Alfa. Setiap gerak-gerikmu diperhatikan banyak orang, jadi jaga sikapmu!"
Suara Prasetya terdengar begitu menekan dan penuh intimidasi dari balik sambungan telepon. Pria paruh baya itu sama sekali tidak peduli bahwa saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Bagi Papanya, kontrol adalah segalanya, dan Senja tak boleh meleset sedikit pun dari skenario yang telah disusun.
"Aku mengerti Pa!" Jawab Senja tenang. Suaranya datar tanpa emosi, sebuah respons otomatis yang selalu ia berikan kepada Papanya selama puluhan tahun.
"Baiklah, Papa lihat besok. Jangan sampai buat Papa malu!" Ancam Prasetya sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.
Tuut... tuut... tuut...
Senja menurunkan ponsel dari telinganya. Ia berdiri sendirian di atas balkon kamar utama yang dingin dan sunyi. Angin malam menampar lembut gaun tidurnya, membawa kesegaran yang hampa. Senja menghembuskan napas kasar, membiarkan beban yang melingkupi dadanya meluap perlahan bersama udara malam.
Ia berbalik, menatap ke dalam kamar melalui pintu kaca transparan. Di atas sofa panjang, Alfa terlelap dengan tenang. Pria itu kembali memilih untuk tidur terpisah darinya malam ini. Senja mengulas senyum tipis, senyuman getir yang mengasihani nasib mereka berdua.
Senja kembali ke dalam kamar, mematikan lampu balkon, lalu berbaring di atas ranjang raksasa yang terasa terlalu lapang bagi dirinya sendiri.
Keesokan harinya, alarm alami di kepala Senja kembali membangunkannya pada pukul lima pagi. Udara pagi di rumah baru itu terasa segar namun asing.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Senja melangkah ke ruang ganti yang terhubung dengan kamar mandi utama. Suara gemericik air menandakan Alfa masih berada di dalam shower.
Dengan cekatan dan penuh ketelitian, Senja memilihkan pakaian untuk Alfa, sebuah kemeja putih katun premium yang disetrika licin, setelan jas tiga potong berwarna biru navy berserat halus, serta dasi sutra berwarna senada.
Senja meletakkannya secara rapi di atas meja bundar yang ada di dalam ruang ganti. Setelah memastikan semuanya sempurna, ia keluar dari ruang ganti demi memberi privacy dan waktu bagi Alfa untuk berpakaian.
Senja melangkah turun menelusuri tangga melingkar menuju ruang makan di lantai dasar. Di sana, suasana sudah tertata rapi. Senja duduk dengan tenang dan anggun di kursi utama, menunggu kedatangan Alfa. Dua orang pelayan wanita berdiri tak jauh dari mejanya dengan sikap sempurna, siap melayani.
Tak berapa lama, derap langkah Alfa terdengar mendekat.
Senja menoleh. Matanya berkedip tipis saat menatap pria yang kini melangkah menghampirinya.
Alfa tampak begitu gagah dan berwibawa dalam balutan setelan jas biru navy, jas yang baru saja ia siapkan di ruang ganti tadi. Senja sejujurnya tak menyangka kalau Alfa akan mau mengenakan pakaian pilihan tangannya. Ia sempat mengira Alfa akan menolak apa pun yang ia siapkan demi menjaga perasaan atau kesetiaannya pada Dila.
"Selamat pagi, Senja" Sapa Alfa hangat. Pria itu menarik kursi dan segera duduk di sisi kiri Senja.
"Pagi Mas" Balas Senja lembut.
Salah satu pelayan wanita dengan sigap mendekat, hendak menuangkan kopi dan menyiapkan sarapan untuk Alfa. Namun, Senja dengan halus mengangkat tangannya, mencegah pergerakan pelayan tersebut.
"Biar saya saja" Ujar Senja santun.
"Baik, Bu" Jawab pelayan itu patuh, lalu undur diri beberapa langkah ke belakang.
Sementara itu, Alfa hanya diam terpaku. Tatapannya menempel pada jemari lentik Senja yang bergerak telaten mengambilkan omelet dan sayur, serta mengoleskan mentega pada roti panggang di piringnya.
Gerakan Senja begitu luwes dan alami, seolah-olah wanita itu sudah terbiasa melayaninya bertahun-tahun.
"Silakan, Mas" Tutur Senja seraya menggeser piring sarapan dan cangkir kopi panas ke hadapan Alfa.
Alfa menatap piringnya sejenak sebelum mendongak melihat Senja.
"Terima kasih, Senja. Tapi kamu tidak perlu repot-repot. Aku bisa mengambilnya sendiri atau minta bantuan pelayan."
Senja menatap Alfa lurus-lurus, mempertahankan raut wajahnya yang santun.
"Sekarang aku istrimu, Mas. Melakukan hal seperti ini wajar, kan? Meski kamu tahu sendiri keadaan kita yang sebenarnya seperti apa."
Kalimat datar namun tajam itu seolah berhasil membungkam Alfa seketika. Pria itu membeku, tenggorokannya mengering. Alfa tidak membalas lagi. Ia menyantap sarapannya dalam keheningan yang cukup pekat. Begitu pula dengan Senja, ia menikmati sarapannya tanpa suara sampai akhirnya makanan di piring mereka habis dan mereka berdua bertolak menuju kantor.
Perjalanan ke Arthanagara Group diwarnai oleh aksi saling membisu di dalam mobil Rolls-Royce milik Alfa. Keheningan itu baru pecah ketika mobil mulai memasuki kawasan mega-bisnis pusat kota dan berbelok menuju pelataran gedung pencakar langit berlantai lima puluh tersebut.
"Mas" Panggil Senja pelan, menoleh pada Alfa yang duduk di sampingnya.
Alfa yang sedang merapikan jam tangannya turut menoleh.
"Aku tahu, Senja. Kita tidak mungkin terlihat seperti orang asing di depan banyak orang."
Senja menatap mata Alfa, ada kilat keraguan yang terlintas di matanya.
"Tapi... apa ini tidak akan menyakiti kekasihmu? Dia pasti akan melihat kita di media online atau televisi nanti."
Alfa menghela napas pendek, lalu mengulas senyum tipis untuk menenangkan Senja.
"Dia mengerti posisi kita sekarang, Senja. Tidak usah khawatir!"
Senja hanya mengangguk pelan, menerima jawaban itu.
Sopir pribadi membukakan pintu mobil dari luar. Alfa keluar lebih dulu, lalu berputar sedikit untuk menyambut Senja. Begitu kaki Senja menyentuh lantai marmer pelataran kantor, jemari Alfa langsung terulur, meraih tangan Senja dan menggenggamnya erat dengan kehangatan yang mantap.
Meskipun hari ini mereka tidak dikerumuni oleh ratusan wartawan seperti saat menghadiri acara malam penghargaan terkemuka, mereka berdua sangat paham bahwa lensa kamera tersembunyi ada di mana-mana. Paparazzi, infotainment, dan tatapan para karyawan kantor sudah mengintai dari setiap sudut sejak pertama kali mobil suaminya itu berhenti.
Senja tampil begitu memukau dan berkelas pagi ini. Ia mengenakan rok A-line berwarna krem lembut sebatas betis yang dipadukan dengan blus sutra berwarna gading beraksen pita di leher, ditutup dengan blazer terstruktur yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang jenjang. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dan sesekali bergoyang indah ketika Senja bergerak.
Senja mengumbar senyum paling manis dan menawan di samping Alfa. Ketika mereka melangkah masuk melewati pintu kaca raksasa gedung Arthanagara Group, siap pun yang melihat akan bersumpah bahwa mereka adalah pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.
Para staf dan eksekutif yang berbaris menyambut menunduk hormat, menyapa sang COO dan Vice President baru mereka. Alfa dan Senja membalas sapaan itu dengan ramah, jemari mereka tak lepas saling bertautan erat.
Di tengah langkah kaki mereka menyusuri lorong menuju lift khusus eksekutif, Alfa sedikit memiringkan kepalanya ke arah Senja.
"Senja" Bisik Alfa tanpa melepas senyum formalnya pada jajaran staf.
"Iya, Mas?" Sahut Senja pelan, tetap mengumbar senyum anggun pada deretan kamera ponsel karyawan yang mencuri gambar dari kejauhan.
"Apa kita tidak lelah kalau harus terus berpura-pura seperti ini?" Tanya Alfa, nadanya terdengar sarat akan keletihan batin yang tersembunyi di balik ketampanannya.
Senja menoleh tipis, menatap samping wajah Alfa yang sempurna. Bibirnya melengkungkan senyuman yang begitu indah, senyuman yang terlihat sangat mesra di mata publik, namun menyimpan kegetiran yang teramat dalam bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Maka lakukan semuanya dengan ketulusan hati, Mas. Lakukan dengan sepenuh jiwa... sampai kamu lupa kalau kamu sedang berpura-pura."
Alfa tertegun. Genggaman tangannya di jemari Senja sempat mengendur sejenak karena rasa terkejut atas jawaban wanita itu.
Sementara Senja, kembali melangkah lurus menatap pintu lift eksekutif yang terbuka di hadapan mereka, sembari melisankan bisikan pahit di dalam sanubarinya sendiri.
"Karena aku sudah sangat kenyang dengan kepura-puraan ini... sampai aku terkadang lupa, mana diriku yang sesungguhnya"
Kalo sudah tak ada baru terasa
Kehadiranmu sungguh berharga
Sungguh berat hidupku tanpa dia
🎶 🎶 💃 💃