NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Carlo yang Konsisten

Bagi seseorang yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang penolakan, perhatian yang tulus sering kali terasa asing, bahkan menakutkan. Valerie menghabiskan seluruh masa remajanya dengan kesadaran bahwa dia berada di urutan kedua setelah Victoria di rumah orang tuanya. Lalu, dia menghabiskan dua tahun masa kuliahnya dengan kesimpulan bahwa dia hanyalah sebuah variabel emosional yang merepotkan dalam hidup Dean.

Namun, Carlo datang membawa definisi baru tentang bagaimana seorang wanita seharusnya dihargai. Pria itu tidak datang seperti badai yang menuntut perubahan instan, tidak pula mendesak Valerie untuk segera mengisi kekosongan hatinya. Carlo hadir seperti gerimis lembut di musim kemarau—konsisten, menenangkan, dan perlahan-lahan membasahi tanah gersang di hati Valerie tanpa menuntut komitmen apa pun sebagai imbalan.

Dua bulan sejak badai perpisahan itu berlalu, kehadiran Carlo di hidup Valerie bertransformasi menjadi sebuah zona nyaman yang baru. Senior tingkat akhir itu selalu punya cara untuk ada di sekitar Valerie tanpa membuat gadis itu merasa tertekan atau terikat oleh status.

Sore itu, hujan deras mengguyur kawasan kampus, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Valerie berdiri di selasar lobi gedung fakultas, menatap rintik air yang menghantam aspal dengan dahi berkerut. Dia lupa membawa payung, dan Tiara sudah lebih dulu pulang karena ada urusan keluarga mendadak bersama ibunya.

"Sudah kuduga kamu pasti akan berdiri melamun di sini sambil memandangi hujan," sebuah suara bariton yang akrab terdengar dari arah belakang.

Valerie menoleh dan mendapati Carlo sedang berjalan mendekat dengan payung besar berwarna biru dongker di tangan kirinya. Pria itu tersenyum hangat, jaket rajut abu-abunya tampak sedikit basah di bagian bahu, menandakan dia baru saja menerobos hujan dari gedung senat mahasiswa hanya untuk menuju ke fakultas biologi.

"Kak Carlo? Kakak belum pulang?" tanya Valerie, matanya berbinar ekspresif—sebuah binar ceria yang kini telah kembali secara perlahan berkat kehadiran konsisten pria di depannya.

"Bagaimana aku bisa pulang dengan tenang kalau tahu ada gadis ceroboh yang hobi meninggalkan payungnya di atas meja laboratorium?" goda Carlo, seraya menyodorkan sebuah tumbler mini berisi cokelat panas ke tangan Valerie. "Ini, minum dulu biar badanmu hangat. Setelah itu, ayo kuantar pulang ke apartemenmu."

Valerie menerima tumbler itu, membiarkan rasa hangatnya menjalar ke telapak tangan. "Kak... Kakak tidak perlu repot-repot menjemputku setiap kali hujan begini. Aku bisa naik taksi online."

Carlo membuka payung besarnya, lalu menatap Valerie lurus-lurus dengan sepasang mata cokelatnya yang selalu memancarkan validasi teduh. "Valerie, mendengarkan cerita dosenmu yang menyebalkan, menemanimu belajar di perpustakaan, atau memastikan kamu tidak kehujanan saat pulang... itu semua bukan repot-repot bagiku. Aku melakukannya karena aku ingin, bukan karena terpaksa atau sekadar memenuhi kewajiban formalitas. Paham?"

Kata-kata Carlo telak menyentuh sudut terdalam hati Valerie. Kalimat itu adalah antitesis sempurna dari semua perlakuan Dean di masa lalu. Dean selalu melakukan sesuatu karena alasan kewajiban logis sebagai seorang pacar. Tapi Carlo? Pria ini bergerak murni karena dia peduli pada eksistensi Valerie sebagai seorang manusia.

Mereka berjalan beriringan di bawah satu payung besar menuju area parkir mobil. Carlo sengaja memiringkan payungnya ke arah kanan, memastikan tubuh Valerie terlindungi sepenuhnya dari cipratan air hujan, meskipun akibatnya bahu kirinya sendiri harus basah kuyup tersiram air. Gestur-gestur kecil penuh inisiatif seperti inilah yang perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanan Valerie yang sempat beku akibat trauma masa lalu.

Satu minggu kemudian, ujian tengah semester akhirnya selesai. Di hari Jumat malam yang santai, Carlo mengajak Valerie untuk makan malam di sebuah kedai ramen kecil yang tersembunyi di sudut jalan dekat kampus—tempat yang ramah di kantong mahasiswa namun memiliki cita rasa yang sangat autentik dan atmosfer yang hangat.

Di duniakah ini, jika bersama Dean dulu, Valerie harus selalu menyesuaikan diri dengan restoran fine dining pilihan kekasihnya yang serbapekat, kaku, dan sunyi. Namun bersama Carlo, dia bisa duduk dengan santai mengenakan kaus oblong dan celana jins, tertawa lepas sampai matanya menyipit tanpa perlu takut dianggap memalukan atau mengganggu ketenangan orang lain.

"Kak Carlo, terima kasih ya untuk bantuan belajarnya selama dua minggu ini. Kalau tidak ada Kakak, nilai ujian biokimiaku pasti sudah hancur berantakan," ucap Valerie dengan tulus setelah menghabiskan mangkuk ramennya.

Carlo meletakkan sumpitnya, menopang jika dengan kedua tangannya sambil menatap lekat-lekat wajah Valerie yang tampak merona segar di bawah temaram lampu lampion kedai. "Aku tidak melakukan banyak hal, Val. Kamu memang pada dasarnya pintar dan punya kemauan keras. Kamu hanya selama ini kurang mendapatkan apresiasi yang layak dari orang-orang di sekitarmu."

Valerie tertegun sejenak. Kata 'apresiasi' mendadak memicu memori samar tentang rumah orang tuanya. "Kakak tahu? Di rumah... Papa dan Mama tidak pernah memujiku seperti itu. Apa pun yang kulakukan, hasilnya selalu salah jika dibandingkan dengan Kak Victoria. Di mata mereka, aku hanyalah anak bungsu yang impulsif dan tidak bisa dibanggakan."

Carlo mengulurkan tangan kanannya di atas meja, lalu dengan sangat sopan dan penuh kehati-hatian, dia menyentuh punggung tangan Valerie tanpa berniat menggenggamnya terlalu agresif—dia tahu Valerie masih trauma dan butuh ruang.

"Mulai hari ini, tatap mataku, Valerie," ucap Carlo dengan nada suara yang sangat rendah, pekat, dan sarat akan kesungguhan mutlak. "Orang tuamu mungkin punya standar mereka sendiri yang tidak adil, dan... pria di masa lalumu mungkin terlalu buta untuk melihat keindahan warnamu. Tapi bagiku, kamu adalah wanita yang paling berharga. Aku menyukaimu, Val. Bukan sejak kamu putus, tapi sejak pertama kali aku melihatmu tertawa lepas di koridor kampus satu tahun yang lalu. Aku mengubur perasaan ini dulu karena menghormati hubunganmu."

Carlo menarik kembali tangannya, memberikan senyuman terbaiknya. "Aku menceritakan ini bukan untuk memaksamu menjadi pacarku malam ini. Aku tahu hatimu masih terluka dan butuh waktu untuk menyembuhkan retakan itu. Aku tidak keberatan untuk terus berdiri di sampingmu, menemanimu berjalan, dan membantumu tersenyum kembali. Aku bersedia menunggu, satu tahun, atau selama apa pun itu, sampai kamu benar-benar siap membuka pintu hatimu kembali untukku."

Air mata Valerie menetes perlahan, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata keharuan yang luar biasa besar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seorang pria yang menatapnya sebagai prioritas utama tanpa memberikan tenggat waktu yang kaku. Ada seorang pria yang bersedia mengantre di belakang kesembuhan hatinya tanpa memaksakan kehendak logika yang rumit.

Valerie tersenyum di balik sisa air matanya, menatap Carlo dengan rasa syukur yang mendalam. Meskipun mereka belum resmi berpacaran dan Valerie masih membutuhkan waktu panjang untuk mengobati trauma batinnya, konsistensi tanpa cela dari seorang Carlo perlahan-lahan telah berhasil mencairkan sisa-sisa es dingin yang ditinggalkan Dean di dalam jiwanya.

Sementara di belahan kota yang lain, di dalam unit apartemen mewahnya, Dean duduk sendirian di sofa ruang tengah yang gelap. Di tangannya, terdapat sebuah gelas kaca berisi cairan amber yang sudah mencair seluruhnya. Pria itu menatap kosong ke arah ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja kopi.

Malam ini adalah malam minggu, waktu di mana biasanya Valerie akan mengirimkan belasan pesan teks berisikan antusiasme kekanak-kanakan untuk mengajaknya pergi ke pasar malam atau sekadar makan martabak di pinggir jalan. Namun sekarang, keheningan di apartemennya terasa begitu pekat, kaku, dan asing bagi logikanya.

Dean memejamkan matanya, menyugar rambutnya dengan frustrasi yang kian hari kian tidak bisa dia kendalikan menggunakan rumus rasional mana pun. Rasa rindu dan rasa bersalah yang samar mulai merayap di dadanya, mengacaukan seluruh presisi hidup yang selama ini dia agungkan. Dia mulai menyadari satu hal yang menampar egonya dengan sangat keras: menendang Valerie dari hidupnya ternyata tidak membuat dunianya menjadi lebih teratur, melainkan justru membuatnya kehilangan arah dalam labirin kesepian yang dia bangun sendiri.

Benih penyesalan telah mulai tumbuh di hati Dean, tepat di saat Carlo masih terus setia menjaga dan menemani hari-hari Valerie di kampus dengan penuh kehangatan, menandakan bahwa masa depan hubungan mereka akan menjadi jauh lebih kompleks dari apa yang diprediksi oleh logika kaku sang CEO.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!