Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekte Alam Surgawi
Hari berganti. Pagi buta, Chandra kini sudah berada di halaman belakang rumahnya.
Garuda yang menyaru menjadi elang pun kini sudah diikat rantai tipis pada kakinya, bertengger di atas kayu kuat yang sengaja dibuat khusus untuk tempat bertengger. Sambil dielus-elus kepalanya, Garuda disuapi potongan daging dan ikan oleh Chandra secara telaten.
"Hahaha, aku kasih nama kamu Badot, ya!" celetuk Chandra sambil tertawa pelan. "Nanti kalau kamu sudah benar-benar jinak, bakal aku lepasin kok. Tiap aku bersiul, kamu harus langsung datang. Oke?"
Garuda hanya menundukkan kepalanya, pasrah mendengarkan ucapan Chandra. Dalam batinnya yang dahsyat, sang Penguasa Langit itu hanya bisa menangis merutuki nasibnya yang dipanggil "Badot".
"Wihh, paham juga kau rupanya! Hahaha!" seru Chandra senang melihat respon sang elang.
Sementara itu, Yueji yang baru bangun tidur berdiri memperhatikan dari ambang pintu teras belakang. Matanya menatap tajam ke arah suaminya yang terlihat begitu peduli dan perhatian kepada Garuda.
"Sialan, ayam itu! Berani-beraninya merebut perhatian suamiku!" desis Yueji dalam hati dengan penuh cemburu.
Tiba-tiba, Sisi menepuk pelan bahu Yueji dari belakang.
"Biarkan saja, Nyonya... Tuan memang begitu," ucap Sisi menenangkan. "Mengingat lelaki itu harus punya hobi biar tidak terlalu stres."
Yueji membalikkan badan lalu mengembungkan kedua pipinya kesal. "Tapi, Si... apa tidak cukup aku saja yang jadi peliharaannya?"
Sisi tersenyum geli mendengar ucapan polos majikannya. "Nyonya ini ngomong apa sih... Nyonya itu kan orang paling penting, istri Tuan. Masa disamakan dengan hewan?"
Setelah mengucapkan itu, Sisi berbalik dan pergi kembali ke dapur.
Yueji seketika tersadar. "Iya juga ya... aku kan istrinya. Sialan, jiwa hewanku malah berontak!"
Yueji lalu merapikan pakaiannya dan berjalan keluar menghampiri Chandra di taman.
"Sayang, sarapan dulu yuk?" ajak Yueji lembut.
Chandra menoleh seraya tersenyum lebar. "Baik, Sayang."
Yueji lalu duduk manis di dipan kayu milik Chandra. Tak lama kemudian, Sisi datang membawa baki berisi makanan sarapan pagi—sayur, nasi hangat, dan ikan goreng segar.
Chandra ikut duduk bersebelahan dengan Yueji di dipan kayu tersebut. Dengan telaten, Yueji mengambil sendok lalu menyuapi Chandra perlahan-lahan.
"Sayang, nanti siang kita jalan-jalan, ya," celetuk Chandra di sela-sela mengunyahnya.
Yueji yang sedang menyuapi suaminya mendongak dan bertanya, "Ke mana, Sayang?"
"Ke Sekte Alam Surgawi. Katanya rumah Dandi di sana. Siapa tahu kita bisa tambah cuan di sana, Sayang," jawab Chandra bersemangat.
Yueji mengernyitkan dahi heran. "Emang kekayaan kita masih kurang, kah?"
"Cukup sih, malah lebih dari cukup," sahut Chandra santai. "Tapi kan kalau lebih besar, lebih bagus. Aku bisa bahagiain kamu, dan apa pun yang kamu mau nanti bisa aku kabulin."
Ucapan tulus dari mulut Chandra itu seketika membuat Yueji tertegun. Gerakan tangannya menyuapi terhenti sejenak. Kedua matanya mendadak berkaca-kaca menatap wajah suaminya yang tersenyum polos tanpa beban.
"Makasih, Sayang..." bisik Yueji pelan.
Chandra terkejut melihat perubahan raut wajah istrinya. "Kok nangis sih?"
Yueji mengusap sudut matanya lalu tersenyum manis. "Aku cuma terharu saja... Ya sudah, nanti aku ikut ke sana."
"Hehehe, baiklah!" Chandra tersenyum puas melihat istrinya kembali ceria.
Waktu terus bergulir, hingga kini terlihat Chandra sedang merapikan pakaiannya di hadapan cermin. Yueji berdiri di sampingnya dengan telaten membantu membetulkan kerah kemeja sang suami. Kali ini, Yueji mengenakan dress mahal berkelas yang membuatnya terlihat begitu anggun layaknya seorang nyonya besar dari keluarga terpandang.
"Sayang, kamu cantik banget pakai itu," puji Chandra tulus sambil menatap pantulan istrinya di cermin.
Yueji mengibaskan rambutnya sedikit dengan gaya elegan. "Tentu dong! Istri kamu itu harus selalu cantik di mana pun berada."
Chandra hanya terkekeh pelan mendengar jawaban percaya diri dari istrinya.
Setelah selesai bersiap, mereka berdua berjalan keluar kamar menyusuri lorong menuju pintu depan. Sebelum melangkah keluar, Chandra menoleh ke arah asisten rumah tangganya.
"Sisi, kalau nanti Paman Lubis datang, bilang aku sedang ke Sekte Alam Surgawi, ya," pesan Chandra.
"Baik, Tuan!" sahut Sisi dari balik pintu.
Chandra dan Yueji pun menghampiri mobil Audi hitam milik mereka yang terparkir mulus di halaman. Tak butuh waktu lama, derum mesin bertenaga itu meraung halus dan mobil langsung melesat membelah jalanan menuju markas Sekte Alam Surgawi.
Sementara itu di lokasi tujuan, tepatnya di dalam sebuah mansion megah nan mewah milik Sekte Alam Surgawi, suasana terasa cukup tegang namun tenang. Dila, Dandi, dan Romo—seorang sesepuh berpenampilan anggun dengan jenggot putih panjang sedang duduk bersama di sofa ruang tamu utama.
"Dila, bagaimana? Apa sudah ada kabar dari Tuan Chandra?" tanya Dandi membuka pembicaraan.
"Dia sih janji hari ini bakal datang, Ketua," jawab Dila patuh.
Dandi manggut-manggut mengerti. Sementara itu, Romo yang duduk di kursi utama tampak memejamkan mata sejenak seraya membelai jenggot putih panjangnya dengan perlahan.
"Aku merasakan aura siluman yang sangat kuat sedang bergerak ke arah sini..." gumam Romo pelan.
Mendengar hal itu, Dila merengut dan berseru ketus, "Pasti si rubah itu ikut! Sial sekali, dia menempel terus seperti perangko pada Tuan Chandra!"
Dandi melirik ke arah Dila, lalu terkekeh tipis melihat reaksi emosional anggotanya. "Sepertinya kamu memang benar-benar suka ya sama Tuan Chandra?"
Seketika wajah Dila memerah. Dia langsung tertunduk malu tanpa berani membantah.
Dandi dan Romo yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis.
Romo menghela napas panjang lalu berujar santai, "Tuan Chandra itu sangat layak punya istri banyak, asalkan dia sendiri yang mau. Sekelas manusia dewa seperti dia, apa sih yang tidak berhak untuknya di dunia ini?"
"Tapi Romo, Tuan Chandra itu sama sekali tidak menyadari kalau dirinya adalah seorang dewa. Makanya dia terkesan disetir penuh oleh istrinya," potong Dila sedikit gemas.
Romo terdiam sejenak, mengelus jenggotnya lagi. "Ini memang fenomena yang sangat langka... ketika di dunia ini, siluman dan dewa malah bersatu menjadi pasangan suami istri."
"Lalu, apa yang harus kita perbuat, Romo?" tanya Dandi meminta arahan.
Romo membuka matanya perlahan. "Kita tunggu saja kedatangan mereka. Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa sebelum melihatnya secara langsung."
Chandra pun kini tiba di gerbang Sekte Alam Surgawi yang begitu besar dan kokoh. Di balik gerbang megah itu, berjejer mansion mewah serta tempat perguruan dengan arsitektur khas seni bela diri Tiongkok. Di area paling belakang, menjulang sebuah gedung tinggi dengan tulisan besar: ALS Corp.
Chandra menatap pemandangan itu dengan takjub. "Zaman merubah perguruan jadi kota bisnis," gumam Chandra polos.
Mereka berdua berjalan santai mendekati gerbang utama. Namun, baru beberapa langkah, dua orang penjaga berseragam rapi bertitel Master langsung melangkah maju menjegal jalan mereka.
"Stop! Kalian mau ke mana?" tanya salah satu penjaga dengan nada dingin.
"Saya mau menemui Dandi," jawab Chandra santai.
Kedua penjaga itu seketika tertawa meremehkan. "Hahaha! Menemui Ketua Sekte? Tamu dari mana ini? Berani sekali langsung menyebut nama Ketua."
"Tapi saya kan diundang," balas Chandra heran.
Penjaga satunya mendengkus. "Ada ribuan orang gila yang datang ke sini dan berkata hal yang sama!"
Melihat respon tidak bersahabat itu, Chandra hanya menghela napas. Dia merogoh ponsel dari saku kemejanya dan langsung menelpon Dandi.
Hanya dalam dua kali dering, panggilan terhubung.
"Tuan Chandra! Apa kabar? Apa sudah sampai?" sapa suara Dandi dari seberang telepon.
"Sudah, tapi sepertinya kami tidak diterima di gerbang," jawab Chandra jujur.
"Apa?! Siapa yang berani menjegal Tuan?!" Suara Dandi mendadak panik.
"Ada dua orang penjaga di depan," ucap Chandra santai.
Di dalam mansion, Dandi seketika berdiri dan meminta izin keluar kepada Romo. Romo hanya mengangguk pelan memberikan persetujuan.
Begitu melangkah keluar dari pintu mansion, Dandi langsung mengerahkan kekuatan auranya. Suara gertakannya melesat dan menggaung keras ke seluruh penjuru Sekte Alam Surgawi.
"Bodoh! Siapa yang berani menjegal tamu agungku?!"
BUM!
Dandi melompat dan terbang melintasi udara dengan kecepatan tinggi, lalu mendarat mulus tepat di hadapan gerbang utama.
"Ketua!" Kedua penjaga itu kaget setengah mati dan seketika berlutut bersujud di tanah.
Dengan wajah merah padam karena amarah, Dandi langsung melayangkan tamparan keras ke wajah kedua penjaga tersebut.
PLAK! PLAK!
"Pergi kalian! Aku sendiri yang mengundang Tuan Chandra ke sini!" bentak Dandi murka.
Salah satu penjaga yang pipinya memar memohon dengan suara gemetar, "M-Maafkan kami, Ketua... Mengingat orang-orang yang mengaku diundang Ketua ada sangat banyak setiap harinya..."
Dandi tidak mau mendengar alasan. Tanpa banyak bicara, dia memegang kepala kedua penjaga tersebut lalu memaksa mata batin mereka melihat ke arah wanita yang berdiri di samping Chandra.
Seketika itu juga, penglihatan kedua penjaga menembus wujud manusia Yueji. Di mata batin mereka, yang berdiri di sana bukanlah wanita cantik, melainkan sosok monster rubah raksasa berukuran mengunung dengan sembilan ekor putih tebal yang memancarkan aura kematian luar biasa pekat!
Brak!
Kedua penjaga itu seketika terbujur lemas di tanah dengan tubuh gemetar hebat dan napas terengah-engah karena shock berat.
Chandra yang memperhatikan hal itu menggeleng-geleng heran. "Sayang... sepertinya mereka gila ya?" bisik Chandra heran pada istrinya.
Yueji terkekeh puas dalam batinnya melirik dua penjaga yang nyaris pingsan itu. Dia menoleh ke Chandra dengan wajah polos buatan. "Iyah, Sayang... kasihan ya."
Keduanya pun saling terkekeh geli melihat tingkah aneh dua penjaga gerbang tersebut.
Dandi segera membalikkan badan dengan sangat sopan, membungkuk tipis, lalu membuka jalan untuk Chandra dan Yueji. "Mari Tuan Chandra, Nyonya... silakan lewat."
Dandi pun mengantar mereka berdua menyusuri area perguruan menuju mansion mewah di belakang, tempat Romo dan Dila sudah menunggu.