Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
PIETRA PETROVSKY
Aku keluar dari kantor, berusaha mempertahankan langkah tegas seperti biasa. Tapi di dalam, semuanya terasa... berbeda.
Udara terasa lebih pekat. Seolah ada sesuatu yang bergeser dari tempatnya dan masih berusaha kembali menemukan posisinya.
Aku berhenti di trotoar menunggu taksi. Tak lama, sebuah taksi muncul, melaju pelan. Aku memberi isyarat dan taksi itu berhenti tepat di depan gedung.
Aku masuk hampir tanpa sadar, menyebutkan alamat, lalu menyandarkan kepala ke kaca jendela dan membiarkan kota berlalu di depan mataku. Lampu-lampu, orang-orang, mobil, hiruk-pikuk.
Semuanya berjalan seperti biasa, sementara aku merasa ada bagian dari diriku yang tertinggal di kantor itu.
Dalam keheningan mobil, bayangannya kembali tanpa permisi.
Tatapan itu.
Aromanya.
Sentuhannya.
Kedekatan itu.
Ciuman yang seharusnya tak pernah terjadi, tapi tetap terjadi.
Aku memejamkan mata sesaat dan menarik napas dalam-dalam. Aku harus berhenti memikirkannya. Harus.
Taksi akhirnya berhenti di kompleks apartemen. Aku membayar, mengucapkan terima kasih, lalu turun sambil membetulkan letak tas di bahu.
Penjaga pintu mengangkat pandangannya begitu melihatku.
"Selamat malam, Nona Pietra," sapanya.
"Selamat malam," jawabku, memaksakan senyum sopan.
Ia membukakan jalan dan aku menuju lift.
Begitu pintu lift tertutup, untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, bahuku terasa mengendur. Bayanganku di cermin lift balas menatapku: riasan masih utuh, postur tegak, rambut tertata rapi... tapi mataku membocorkan semua kekacauan di dalam.
Sesampainya di lantaiku, aku berjalan menuju apartemen, membuka kunci pintu, dan masuk. Keheningan menyambutku bagai pelukan.
Kuletakkan tas, kulepas sepatu bot dan blazer, lalu langsung menuju kamar mandi.
Mandiku berlangsung lama.
Air panas.
Kubiarkan air mengalir di bahu, di punggung, mencoba meluruhkan ketegangan yang menumpuk.
Kusandarkan dahi ke dinding dingin bilik shower dan memejamkan mata.
Kenapa hal itu bisa begitu memengaruhiku?
Bukan cuma ciuman itu.
Tapi cara ia menatapku sebelumnya. Seolah aku adalah sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Seolah, untuk sedetik, seluruh kendalinya goyah.
Aku keluar dari kamar mandi masih terbungkus pikiran-pikiran itu, mengenakan jubah mandi, lalu pergi ke ruang tamu.
Kuambil segelas anggur, menuangkannya perlahan, dan duduk di sofa dengan kaki terlipat di bawah tubuh.
Cairan merah itu berayun pelan saat kudekatkan gelasnya ke bibir.
Dengan Marco, semuanya terasa terlalu intens.
Terlalu nyata.
Terlalu berbahaya.
Dan itu membuatku takut.
Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tak pernah lagi mengacaukan hasrat dengan perasaan.
Tak pernah lagi menurunkan pertahananku demi seorang pria. Tak pernah lagi.
Tapi meski begitu, di sinilah aku... memikirkannya. Dalam keheningan. Aromanya. Cara namaku terdengar berbeda saat keluar dari mulutnya.
Kusandarkan kepala ke sandaran sofa dan mengembuskan napas perlahan.
"Ini tidak boleh berlanjut lebih jauh."
Aku bergumam pada apartemen yang kosong.
Kuraih ponselku dan memutuskan untuk memesan pizza.
Aku menekan nomor dan memesan pizza sambil berjalan ke kamar mencari pakaian.
Mereka bilang pizza akan diantar sekitar 40 sampai 50 menit lagi.
Kuletakkan ponsel di atas ranjang dan pergi mengenakan pakaian.