Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Bukan Lagi Sekadar Kontrak
Pertanyaan itu membuat Alisha terdiam sesaat. “Kok Tuan tau?”
“Kamu belum menjawab," tegas Ares.
Alisha terkekeh kecil. “Iya. Dulu pernah.”
“Masih?” Perlahan Ares duduk di sisi ranjang yang lain.
Alisha kembali terdiam. “Enggak tau.”
“Nggak tau?” ulang Ares.
“Saya juga gak pernah nanya.”
Ares tidak langsung menanggapi. Jemarinya yang sejak tadi bertumpu di paha perlahan mengetuk permukaan kain celananya.
Tuk. Tuk. Lalu berhenti.
“Selama kontrak ini berjalan,” katanya akhirnya, “jangan terlalu deket sama pria lain.”
Alisha langsung mengernyit di balik penutup matanya. “Bukannya itu emang udah tertulis di kontrak?”
“Aku cuma ngingetin.” Nada Ares terdengar datar, tetapi terlalu cepat menjawab.
Alisha hampir tersenyum. “Kak Yudhis tadi cuma ngasih kue putu doang, kok. Gak lebih.”
“Kue putu?” Nada Ares berubah sedikit.
“Iya," jawab Alisha ringan.
“Kamu suka?” selidik Ares.
“Iya," sahut Alisha. "Dari kecil.”
Tangan Ares berhenti mengetuk. “Dari kecil?”
“Iya.”
Ares mengangkat alisnya. “Dia tau?”
Alisha mengangguk. “Mungkin. Kan dulu kami pernah kenal.”
Ares menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. “Seberapa lama kalian kenal?”
Alisha mengerutkan kening. “Lumayan lama. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Jawaban Ares terdengar terlalu singkat.
Alisha tersenyum kecil. “Kenapa tiba-tiba banyak nanya soal Kak Yudhis?”
Ares tidak menjawab. Pikirannya justru tertahan pada satu hal. Yudhis tahu makanan kesukaan Alisha sejak kecil.
Sedangkan dirinya? Ia bahkan baru tahu malam ini.
“Kamu sering ketemu dia?” Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Alisha menoleh. “Sejak dia jadi dokternya Raka, mungkin bakal sering.”
Ares langsung mengerutkan kening. “Sering?”
“Iya. Dia yang nanganin Raka.”
Ares menarik napas pelan. “Berarti kalian bakal sering ketemu.”
“Ya... mungkin," jawab Alisha tanpa beban.
“Dan dia masih belum menikah?”
Alisha terdiam. Kali ini ia benar-benar heran. “Tuan Ares?”
“Apa?”
“Kenapa sampai nanya itu?”
Ares tidak menjawab.
Alisha tertawa kecil. “Saya gak tau Kak Yudhis udah nikah atau belum.”
“Hm.” Satu suara pendek keluar dari Ares. Namun setelah itu Ares justru bertanya lagi. “Kalo dia nembak kamu lagi, kamu mau?”
Alisha membeku. Ares juga diam. Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.
Jari Ares yang tadi mengepal perlahan mengendur. Baru sekarang ia sadar bahwa ia sudah terlalu jauh.
Pertanyaan itu tidak ada dalam kontrak, dan seharusnya bukan urusannya. Namun ia sudah terlanjur mengatakannya.
Alisha perlahan menoleh ke arah sumber suara, meski penutup mata masih menutupi pandangannya. “Tuan Ares...”
“Hm?”
“Kenapa Anda nanya kayak gitu?”
Ares membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. Pria yang biasanya selalu punya alasan untuk setiap keputusannya itu, kali ini justru tidak menemukan satu alasan pun yang terdengar masuk akal.
“Cuma pengen tau aja.”
Alisha tersenyum samar. “Benarkah?”
Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu justru membuat dada Ares terasa semakin tidak nyaman.
Alisha akhirnya kembali bersuara. “Kalo dia nembak saya lagi, gak bakal saya terima."
Ares yang semula bersandar langsung menoleh. “Kenapa?”
“Saya gak punya perasaan kayak gitu sama Kak Yudhis.”
Jemari Ares yang tadi menggenggam ujung selimut perlahan mengendur. “Begitu.”
Alisha mengangguk kecil. “Lagipula saya udah nikah.”
Ares menatap Alisha lebih lama. Beberapa detik kemudian, ia bertanya, “Kamu nganggep pernikahan ini benar-benar pernikahan?”
Alisha mengernyit di balik penutup matanya. “Memangnya bukan?”
“Ini kontrak," kata Ares.
“Saya tau," sahut Alisha pelan.
“Dan setelah kontraknya selesai?” tanya Ares.
“Kalo Tuan gak mau memperpanjang, ya selesai," jawab Alisha ringan.
“Lalu?” tanya Ares mencoba terdengar biasa saja.
“Saya tetep pernah jadi istri Tuan.”
Jawaban itu membuat Ares tidak langsung menyahut.
Alisha menarik napas pelan. “Buat saya, kontrak itu memang kesepakatan. Tapi akad kemaren tetep saya jalani dengan sungguh-sungguh.”
Ares menatap wajahnya. “Kamu gak nyesel?”
“Belum tahu," jujur Alisha.
Dahi Ares berkerut samar. “Kenapa?”
“Karena baru beberapa hari.” Nada suara Alisha terdengar santai. “Kalo nanti saya nyesel, ya taunya nanti.”
Ares hampir tersenyum. Perempuan ini bisa saja menjawab dengan banyak cara. Namun entah kenapa, jawabannya justru membuat dadanya terasa lebih ringan.
“Tidurlah,” katanya.
Alisha mengangguk. Ia berbaring dan menarik selimut sampai ke dada.
Ares mematikan lampu. Beberapa saat kemudian, ia ikut berbaring di samping Alisha. Seperti malam-malam sebelumnya, lengannya perlahan merangkul pinggang perempuan itu.
Alisha tidak menolak. Tubuhnya bahkan bergerak sedikit mendekat untuk mencari posisi nyaman.
Namun malam itu Ares tidak langsung tidur. Matanya terbuka menatap langit-langit.
Kalimat Alisha terus berputar di kepalanya.
Saya tetep pernah jadi istri Tuan.
Entah kenapa, ia menyukai cara perempuan itu mengatakannya. Dan yang lebih mengganggu, ia juga menyukai bagian ketika Alisha mengatakan tidak memiliki perasaan kepada Yudhis.
Ares mengembuskan napas pelan. "Sejak kapan aku peduli?"
Ia menoleh sedikit. Alisha sudah tertidur. Wajahnya terlihat tenang di balik penutup mata.
Ares kembali menatap langit-langit. Tidurnya malam itu tidak sesulit yang ia bayangkan.
Keesokan paginya, Alisha sedang duduk di tepi ranjang ketika berkata,
“Kayaknya nanti saya perlu nanya ke Kak Yudhis soal hasil pemeriksaan Raka.”
Ares yang sedang memasang jam tangan berhenti. “Jangan terlalu sering nyebut nama pria lain di depanku.”
Alisha menoleh ke arahnya. “Tuan Ares?”
Ares sendiri baru menyadari kalimatnya. Ia berdeham. “Maksudku, kalo urusannya tentang Raka, ya tanyain aja.”
Alisha mengangguk pelan. “Oh.”
Ares mengambil jasnya. Namun ketika berbalik menuju pintu, ia mendengar suara Alisha menahan tawa.
Ares berhenti. “Kamu ketawa?”
“Enggak," kilah Alisha.
“Jelas-jelas kamu ketawa.” Ares terlihat kesal.
“Maaf.”
Ares menatapnya beberapa detik. Alisha masih berusaha menahan senyum. Entah kenapa, kali ini Ares tidak merasa terganggu.
Justru sudut bibirnya ikut terangkat tipis sebelum ia segera menyembunyikannya.
“Jangan terlambat kalo aku manggil kamu.”
“Iya.”
Pintu tertutup.
Dan baru setelah Ares pergi, Alisha berbisik pada dirinya sendiri, “Kenapa sih dia cemburu sama Kak Yudhis?”
Alisha menggeleng kecil. “Ah, mungkin aku salah paham.”
Ia menghela napas sambil merapikan penutup mata di atas nakas. “Mungkin harga dirinya sebagai seorang suami terusik.”
Ia menghela napas sambil merapikan penutup mata di atas nakas. “Mungkin harga dirinya sebagai seorang suami terusik.”
Sementara itu, mobil Ares sudah melaju beberapa menit meninggalkan rumah ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Reki.
> Tuan, saya ke mobil sekarang.
Ares membalas singkat, lalu menyuruh sopir berhenti sebentar di tepi jalan.
Tidak lama kemudian, pintu mobil terbuka dan Reki masuk dari sisi depan.
“Info dokter Yudhis?” tanya Ares begitu pintu tertutup.
"Sudah saya dapat, Tuan," jawab Reki.
Ares mengangkat pandangan. “Gimana?”
“Namanya Yudhis Pratama. Dua puluh sembilan tahun. Dokter spesialis anak. Kariernya cukup cepat karena prestasi akademiknya bagus. Sekarang dia menangani kasus hematologi-onkologi anak di rumah sakit ini.”
“Dua puluh Sembilan?”ulang Ares.
“Iya.”
Entah kenapa, informasi sederhana itu justru membuat Ares semakin tidak nyaman.
“Hubungannya dengan Alisha?” tanyanya kemudian.
“Mereka sudah saling kenal sejak lama. Yudhis pernah menyukai Nyonya Alisha.”
Jari Ares berhenti mengetuk sandaran tangan.
“Seberapa serius?”
...✨“Sebuah hubungan bisa dimulai karena kesepakatan, tetapi hati tidak pernah mengenal batas yang tertulis di atas kertas.”...
...“Perasaan tidak selalu datang dengan izin. Kadang ia tumbuh dari perhatian kecil, rasa nyaman, dan ketakutan kehilangan sesuatu yang sejak awal kita anggap hanya sementara.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔