NovelToon NovelToon
Kebangkitan Di Zaman Modern

Kebangkitan Di Zaman Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.

Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.

Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.

Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

Waktu menunjukkan tepat pukul 18.00 ketika Jia Li berdiri mematung di depan cermin besar kamarnya.

Kamar bernuansa modern itu mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan pantulan visual dirinya yang tampak begitu memukau malam itu. Tanpa polesan makeup tebal, wajah cantiknya memancarkan pesona alami yang matang.

Gaun elegan yang melekat pas di tubuhnya berpadu sempurna dengan seuntai kalung sederhana yang melingkar manis di leher, sementara rambut hitamnya dibiarkan tergerai indah membingkai bahu.

Penampilannya malam ini jelas jauh berbeda dari biasanya—terlihat jauh lebih anggun, dan mungkin--- jauh lebih istimewa.

Sembari merapikan ujung gaunnya, ingatan Jia Li mendadak terlempar beberapa jam yang lalu. Suara bariton yang dingin dan penuh penekanan itu kembali menggema dengan begitu jelas di kepalanya.

"Makan malam bersamaku malam ini... dan aku akan mempertimbangkan untuk memberikan hak atas tanah itu kepadamu," ucap Liu Han kala itu, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Sebuah syarat yang terdengar begitu mudah, hampir terlalu sederhana untuk sebuah transaksi yang melibatkan aset berharga.

Namun, entah kenapa, memikirkan detak jarum jam yang terus berjalan menuju waktu pertemuan membuat jantung Jia Li berdebar kencang tanpa sebab yang pasti.

Ada rasa cemas yang samar sekaligus debaran aneh yang terus mengusik ketenangannya. Jia Li menghela napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya, sementara matanya berkilat penuh tekad.

"Hanya makan malam biasa. Tidak lebih. Setelah ini selesai, tanah itu akan ada dibawah kendali ku," bisiknya lirih, meyakinkan diri sendiri di hadapan cermin.

Ia kemudian meraih tas selempang kecilnya yang tergeletak di atas ranjang, memantapkan langkah, lalu berjalan keluar dari kamar. Sepanjang langkahnya menyusuri koridor rumah mewah yang megah itu, keheningan total seolah menyelimuti atmosfer di sekitarnya.

Namun, keheningan itu pecah secara tersirat saat ia tiba di dekat ujung tangga dan berpapasan dengan Xiao Xi.

Tidak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka. Langkah Jia Li sempat melambat, dan untuk beberapa detik yang terasa lambat, mata mereka saling mengunci.

Ada getaran aneh yang tak kasat mata, seolah jiwa mereka berdua saling mengenali satu sama lain dalam dimensi yang berbeda.

Jia Li hanya memberikan anggukan kecil yang dingin sebelum akhirnya melanjutkan langkah menuruni anak tangga.

Xiao Xi berbalik perlahan demi menatap punggung Jia Li yang kian menjauh. Satu sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk senyuman tipis yang misterius.

"Tatapan matanya yang tajam dan dingin itu... benar-benar sangat mirip dengannya," gumam Xiao Xi dengan suara yang nyaris habis.

Tak lama setelah kalimat itu terucap, binar di mata Xiao Xi meredup, berubah menjadi tatapan sendu yang sarat akan kepedihan.

Ingatannya mendadak terbang jauh ke masa lalu, menyeret kembali kepingan rahasia yang selama ini ia kubur dalam-dalam—sebuah kesalahan fatal yang tak bisa diperbaiki, penyesalan mendalam yang terus menghantui setiap malamnya, dan sebuah kematian tragis yang teramat menyakitkan untuk diingat kembali.

Sementara itu, Jia Li telah tiba di lantai bawah. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara tawa yang renyah berbaur dengan audio dari televisi yang sedang menyala di ruang keluarga.

Jia Li memilih untuk mengabaikan kebisingan itu dan terus melangkah lurus menuju pintu utama. Namun, pergerakannya tertangkap oleh mata Jia Meng yang sedang bersantai di sofa.

Tawa Jia Meng langsung terhenti seketika saat pandangannya jatuh pada sosok yang baru saja turun.

Matanya membelalak, terpaku pada penampilan Jia Li yang malam itu terlihat begitu cantik dan bersinar.

Tanpa sadar, jakun Jia Meng naik turun saat ia meneguk ludahnya sendiri, terpesona sekaligus takjub oleh aura yang dipancarkan saudaranya itu.

Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan tatapan seperti itu, Jia Li sempat menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh perlahan, melirik sekilas dengan pandangan mata yang sedingin es, namun tetap bungkam tanpa niat untuk menyapa. Ia lalu memalingkan wajah dan melanjutkan langkah kakinya yang anggun menuju pintu keluar.

Perlakuan dingin itu seketika menyulut amarah di dada Jia Meng. Merasa diabaikan dan direndahkan di rumahnya sendiri, wajahnya memerah padam menahan kekesalan yang memuncak.

"Kau! Mau pergi ke mana kau dengan pakaian seperti itu?!" teriak Jia Meng dengan nada tinggi, napasnya memburu cepat karena emosi yang meluap-luap akibat dicueki. "Jangan sombong ya, Jia Li! Aku akan melaporkan kelakuan liar mu ini pada Ayah malam ini juga! Lihat saja apa yang akan Ayah lakukan padamu nanti!"

Jia Li tidak berbalik ataupun memperlambat langkahnya. Teriakan penuh ancaman itu hanya dianggapnya sebagai angin lalu saat jemarinya membuka pintu depan, bersiap menghadapi malam yang panjang bersama Liu Han.

Beberapa menit kemudian--- atmosfer ketegangan rumah itu berganti dengan kesunyian yang lain. Jia Li sudah duduk manis di dalam sebuah mobil hitam yang menjemputnya tepat di depan rumah.

Asisten Yu, yang malam itu bertugas menjemput Jia Li atas perintah langsung dari Liu Han, hanya melirik gadis itu sekilas lewat spion tengah.

Ia menelan kembali kata-kata sapaan yang sudah disiapkannya begitu melihat aura dingin yang memancar dari kursi belakang. Akhirnya, hanya ada keheningan di dalam mobil mewah yang membelah jalanan kota malam itu.

Setelah 35 menit perjalanan yang melelahkan ego masing-masing, mobil berbelok menuju sebuah Restoran yang cukup mewah namun tampak sepi, seolah-olah seluruh tempat itu telah dikosongkan sengaja untuk menyambut tamu agung.

Mobil terhenti dengan mulus. Tanpa membuang waktu, asisten Yu keluar dan membukakan pintu untuk Jia Li dengan gerakan yang sangat formal.

Jia Li keluar dari mobil. Angin malam menyapu gaunnya, dan ia hanya melirik Restoran itu dengan tatapan menilai yang datar.

"Tuan Liu sudah menunggu Anda di dalam," kata asisten Yu seraya membungkuk sedikit dan memberikan jalan dengan isyarat tangannya yang sopan.

Jia Li tidak menjawab. Wajahnya dingin bak pahatan es, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Ia melangkah mantap menuju pintu restoran yang menjulang tinggi.

Namun, langkah kakinya langsung berhenti begitu ia masuk ke dalam lobi. Sepi. Tidak ada siapapun di sana, mempertegas kesan bahwa tempat ini memang telah dipesan secara privat.

Kesunyian itu bertahan beberapa detik, sampai seorang pelayan dengan seragam rapi muncul dan menyambut kedatangannya dengan senyum profesional yang tulus.

"Selamat malam, Nona Jia," katanya sambil menunduk hormat, menyadari betul siapa wanita yang berdiri di hadapannya saat ini. "Tuan Liu sudah menunggu Anda di lantai atas. Mari saya antar," katanya menawarkan petunjuk.

Jia Li hanya mengangguk samar, dan mulai mengikuti langkah pelayan itu hingga sampai ke lantai paling atas. Namun, langkahnya kembali terhenti.

Di sana---di tengah ruangan yang luas---hanya ada satu set kursi dan meja yang telah disulap menjadi meja romantis, lengkap dengan detail lilin dan bunga segar.

Lampu yang sengaja dibuat temaram menciptakan suasana hangat yang kontras dengan udara malam di luar, memantulkan bayangan yang dramatis ke seluruh penjuru ruangan.

Di ujung ruangan, dekat dengan pembatas, Liu Han berdiri menghadap kaca jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu-lampu jalan raya yang sibuk di bawah sana. Sosoknya tampak gagah dalam balutan setelan formal, seolah-olah sedang menguasai malam itu sendirian.

Jia Li melanjutkan langkahnya mendekat. Liu Han menoleh secara perlahan. Begitu matanya menangkap sosok Jia Li secara utuh di bawah temaramnya cahaya, detak jantungnya seolah berhenti.

Seketika Liu Han terpana melihat kecantikan gadis itu yang begitu menawan namun sarat akan misteri. Kesunyian di antara mereka pecah saat Liu Han melangkah maju dan berbisik dengan nada suara yang bergetar rendah.

"Kau terlihat... sangat luar biasa malam ini, Nona Jia," katanya jujur, membiarkan kekaguman itu lolos begitu saja.

1
Thewie
pindah kemari kami bah.. kejaman modern🤭
Lee Yaa
tak kira kaisar yun shang yg dteng🤭
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
next ...
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
ada hubungan masa lalu kah....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Aeriah Kayla
tidak apa Thor better than nothing. get well soon ya thor
Sri Wulan
semoga cepat sembuh ya Thor..
Ayra Hijab
lekas sehattt thoorr 💪
Inay
semoga lekas sehat, dan semangat 💪!
Sekar
akhirnya ketemu
Anonim
Sedikit sekali updatenya
Dewiendahsetiowati
akhirnya ketemu juga
Aeriah Kayla
bagus Thor jangan di buat belibet ya kasian kkk kembarnya terlunta" . kumpulkan mereka jadi satu.
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Ayra Hijab
asliii, karyanyaa keren skaalii thorrr
Anonim
Ditunggu bab yg banyak thor
Ayra Hijab
serruuuuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!