NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Kendalikan Dirimu Sedikit

Malam setelah memilih cincin, Keira mengeluarkan kartu hitam dari dompet dan meletakkannya di meja.

"Aku belum akan memakainya."

Nathan mengangguk. "Simpan saja."

"Kau tidak kecewa?"

"Aku memberimu akses, bukan target belanja."

Keira duduk di sofa. Cara Nathan menerima penolakan kecil membuat percakapan yang lebih besar terasa mungkin.

"Laporan NARA tadi siang tidak sepenuhnya salah," katanya. "Aku tidak suka ketidakpastian karena masa kecilku penuh dengan itu."

Nathan menutup laptop dan duduk di lantai menghadapnya.

Keira berusia tiga tahun ketika Fenny pergi. Ia tidak memiliki wajah jelas dalam ingatan, hanya aroma bedak dan suara pintu. Herman membesarkannya sendiri sambil berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Ada hari ketika uang sekolah dibayar terlambat dan makan malam hanya nasi dengan telur.

Keira masih ingat suara motor Papa berhenti di depan kontrakan lewat tengah malam. Ia akan pura-pura tidur agar Herman tidak tahu anaknya menunggu. Pagi hari, kotak bekal selalu terisi meski dompet Papa tinggal beberapa lembar uang. Ketika hujan bocor dari atap, mereka memindahkan kasur dan tertawa karena ember-ember di lantai terdengar seperti alat musik.

Namun ada malam yang tidak lucu. Penagih cicilan mengetuk pintu terlalu keras. Pemilik kontrakan memberi batas waktu. Keira belajar menyusun dokumen dalam satu tas karena mereka mungkin harus pindah sebelum akhir bulan.

"Itu sebabnya kamar kecilmu berisi tas darurat," kata Nathan.

"Mungkin. Aku tidak pernah memikirkannya."

"Dan kau tetap mengirim uang kepada Papa meski beliau tidak meminta."

"Warungnya membesarkanku. Aku tidak sedang membayar utang. Aku hanya ingin atapnya tidak bocor lagi."

Nathan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, menunggu kalau Keira ingin menarik diri. "Aku ingin bertemu Papa dengan benar."

"Kau akan bertemu Jumat ini. Jangan membawa hadiah terlalu mahal sampai beliau takut menyentuhnya."

"Aku sudah menukar jam dengan teh."

"Teh Ko Marcus juga pasti mahal."

"Aku akan menghapus label harganya."

Keira tertawa, lalu matanya memanas tanpa izin. Nathan tidak mengatakan jangan menangis. Ia hanya mengambil tisu dan meletakkannya dekat, tidak langsung menyentuh wajah Keira.

"Papa tidak pernah membuatku lapar," katanya. "Dia yang sering tidak makan."

Pada usia enam belas, Herman menikahi Mariana. Rumah Sutanto memiliki staf, kamar luas, dan lemari yang tak pernah kosong. Keira tetap menyimpan biskuit di laci selama berbulan-bulan.

"Aku memanggil Mama untuk pertama kalinya setelah setengah tahun," lanjutnya. "Bukan karena beliau memaksa. Justru karena beliau tidak pernah memaksa."

Nathan menunduk pada jemarinya. "Kau masih mengingat ibu kandungmu?"

"Tidak. Aku hanya tahu dia pergi. Dibanding laki-laki mana pun, Mama Mariana jauh lebih penting. Ini pertama kalinya beliau memberkati hubunganku." Keira menarik napas. "Kalau kau benar-benar menyukaiku, aku bisa mencoba menyukaimu kembali."

Nathan menatapnya cepat. "Ulangi."

"Tidak."

"Ci."

"Kau mendengar dengan baik."

Nathan berdiri dan memeluknya setelah menunggu anggukan. Pelukannya erat, tetapi tidak menyesakkan. Keira merasakan napas hangat di rambutnya.

"Aku tidak butuh kau mencoba sendirian," katanya. "Aku yang akan bekerja lebih banyak."

"Bukan begitu caranya." Keira melepaskan pelukan sedikit agar bisa melihatnya. "Kalau kau terus bekerja dan aku hanya menerima, itu bukan hubungan."

"Lalu apa yang kau tawarkan?"

"Kejujuran. Waktu. Dan aku akan bilang kalau aku mulai takut, bukan langsung pergi."

Nathan mengangguk perlahan. "Aku menawarkan hal yang sama. Ditambah sarapan."

"Sarapanmu masih perlu pengawasan."

"Berarti kau harus tetap tinggal."

Keira mencubit pinggangnya. Nathan menangkap tangannya, mencium buku jarinya, lalu melepaskan sebelum ia protes.

Malam itu Keira membuka tablet dan membuat sketsa Nathan yang duduk di lantai. Kemejanya kusut, rambutnya jatuh di dahi, dan tatapannya terlalu lembut untuk tipe karakter dingin yang biasa ia gambar.

"Kau menjadikanku referensi?"

"Latihan cahaya."

"Boleh aku lihat?"

"Belum selesai."

Nathan tidak mendekat. Ia kembali ke laptop, tetapi senyumnya terlihat dari samping. Keira menyimpan sketsa itu ke folder baru, bukan HT. Nama foldernya hanya satu kata: rumah.

"Cinta bukan proyek NARA."

"Sayang sekali. Aku sudah menyiapkan indikator keberhasilan."

Keira tertawa di bahunya.

Di kamar, ia mengirim tiga tautan audio yang dijanjikan. Nathan memasang headphone. Tautan pertama berisi hujan. Kedua suara halaman buku. Ketiga suara kipas.

"Semuanya aman," kata Keira.

"Berarti ada yang tidak aman."

"Tidur."

Saat Keira masuk kamar mandi, layar ponselnya masih terbuka pada aplikasi audio. Nathan tidak menyentuh perangkat itu, tetapi ia melihat sampul bergambar telinga di riwayat pencarian. Ia memakai ponselnya sendiri untuk mencari kata kunci.

Hasilnya menampilkan ASMR untuk pendengar perempuan: bisikan dekat mikrofon, suara bulu, ketukan lembut, dan simulasi membersihkan telinga. Nathan mendengarkan satu demi satu dengan alis terangkat.

Ia membaca komentar pengguna yang mengaku tertidur dalam sepuluh menit, lalu mencari alat yang biasa dipakai: kapas halus, sikat kecil, bulu sintetis, serta garpu tala. Daftar belanja mulai terbentuk di kepalanya.

"Jangan membeli apa pun," suara Keira muncul dari belakang.

Nathan menutup halaman. "Aku belum membeli."

"Wajahmu sedang menyusun keranjang."

"Aku hanya ingin memahami mekanismenya."

"Mekanismenya suara dekat telinga membuat orang rileks. Tidak berarti telingaku menjadi laboratorium."

"Kalau aku belajar dan meminta izin?"

"Jawabanku malam ini tetap tidak."

"Berarti besok boleh bertanya lagi."

Keira menunjuk ranjang. "Tidur sebelum otakmu menciptakan proyek baru."

Nathan patuh, setidaknya sampai lampu padam. Keira tidak melihatnya mengirim pesan kepada Ivan untuk mencari toko peralatan perawatan telinga dengan standar higienis terbaik.

Keira keluar dan melihatnya memasang headphone. "Apa yang kau dengarkan?"

"Riset."

"Riset apa?"

"Cara membantu istri tidur."

Keira merebut satu sisi headphone. Bisikan dari audio langsung terdengar. Wajahnya memanas.

"Ini bukan yang kukirim."

"Aku mencarinya sendiri."

"Kenapa?"

"Karena gambar telinganya menarik."

"Matikan."

Nathan menurut, tetapi sorot matanya menunjukkan ia telah mendapat ide.

Pagi berikutnya, Keira bangun karena lengan Nathan melingkari pinggangnya dan tubuh laki-laki itu terlalu dekat. Ia mendorong bahunya.

"Bangun."

Nathan membuka mata, lalu tersenyum tanpa malu. "Pagi, Sayang."

"Hanya pagi hari libur."

"Apa?"

"Kalau kau ingin manja seperti ini, hanya pagi hari libur. Kita harus bekerja. Kendalikan dirimu sedikit."

"Aku sedang tidur. Tubuhku tidak menerima memo jadwal."

"Sekarang sudah bangun."

Nathan melonggarkan pelukan. "Baik. Tapi malam ini Tim, Lucas, dan Emma boleh makan di sini? Mereka baru selesai pindahan."

"Boleh. Tidak ada yang menginap."

"Setuju."

Keira bangun menuju kamar mandi. Ketika pintu tertutup, Nathan mengambil kembali headphone dan memutar audio dengan suara bulu lembut.

Ia mendengarkan sambil menatap meja samping ranjang, lalu tersenyum perlahan.

Ia baru menemukan cara baru untuk membuat Keira menyerahkan seluruh kewaspadaannya sebelum tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!