Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Kehilangan Kendali
Nara
Tanganku menggenggam pergelangan Sekar, dan untuk beberapa detik aku lupa alasan kami berada di koridor.
Demam membuat lampu di atas kepalanya berpendar. Obat flu menarik kesadaranku seperti arus berat. Namun aku masih tahu satu hal dengan jelas: perempuan di depanku bukan sesuatu yang boleh kuambil hanya karena pertahananku melemah.
Aku melonggarkan tangan.
"Maaf."
Sekar seharusnya mundur. Dia justru menyentuh dahiku.
"Panas sekali. Petugas medis segera datang."
Telapak tangannya sejuk. Aroma manis yang selama ini kukenal muncul tipis karena dia sudah makan di resepsi dan kini mulai tenang. Bukan ramuan yang mengendalikan pikiranku. Aku sudah menginginkannya bahkan ketika aroma itu tidak ada.
"Kar," kataku.
"Ya?"
"Aku capek menahan diri."
Matanya melebar. Tangannya berhenti di pelipis.
"Den sedang demam."
"Saya tahu."
"Besok mungkin Den tidak ingat."
"Saya ingat kau menangis di gang. Saya ingat lelaki di warung. Saya ingat semua sapu tangan di laci. Demam tidak membuat semua itu."
Wajahnya berubah ketika kusebut sapu tangan. "Jadi benar Den menyimpannya?"
"Tiga-tiganya."
"Bahkan yang terkena darah?"
"Sudah dicuci."
"Itu milik saya."
"Saya tahu."
"Kenapa tidak dikembalikan?"
Aku mencoba mencari jawaban yang masuk akal. Obat membuat semua lapisan sopan yang biasa kupakai terasa terlalu berat.
"Karena benda itu pernah kau pegang saat mengkhawatirkan saya," jawabku. "Saya ingin punya bukti bahwa perhatian itu bukan sesuatu yang saya bayangkan sendiri."
Sekar terdiam. Koridor seolah menyempit di sekeliling kami.
"Perhatian saya nyata," katanya akhirnya. "Den tidak perlu mencuri sapu tangan untuk membuktikannya."
"Kalau saya kembalikan, apa kau akan memberi benda lain?"
"Den sedang menawar?"
"Mungkin."
Dia menggeleng, tetapi bibirnya bergerak menahan senyum. Kehangatan kecil itu membuat pertahananku lebih rapuh daripada demam.
Pipinya memerah. "Kita harus kembali ke tempat ramai."
"Ya."
Aku mengatakannya, tetapi tidak bergerak. Dia juga tidak.
Jarak kami hanya satu napas. Aku mengangkat tangan ke sisi wajahnya, lalu berhenti sebelum menyentuh.
"Kalau kau mau saya menjauh, katakan sekarang."
Sekar menatapku. Napasnya gemetar. Beberapa detik terasa sepanjang tahun.
"Den akan menyesal," bisiknya.
"Mungkin karena waktunya salah. Bukan karena orangnya."
"Ini tidak pantas."
"Saya tahu."
Aku menurunkan tangan, memaksa diri mundur. Saat itulah jarinya menangkap ujung lengan kemejaku.
Gerakan kecil itu menghentikanku.
"Sekar?"
Dia menutup mata sebentar, lalu berbisik, "Jangan pergi dulu."
Aku menyentuh pipinya. Dia tidak menghindar. Ketika aku mendekat, aku berhenti sekali lagi, memberi ruang terakhir untuk menolak.
Sekar mengangkat wajah dan menutup jarak itu sendiri.
Bibir kami bertemu.
Seluruh suara hotel seolah hilang. Yang tersisa hanya panas demam, jari Sekar pada lenganku, dan detak jantung yang begitu keras sampai dadaku sakit. Aku menciumnya perlahan pada awalnya, masih memberi kesempatan untuk menarik diri.
Lalu dia membalas.
Kendali yang kutahan berbulan-bulan retak. Tanganku berpindah ke belakang kepalanya, menahan tanpa memaksa. Ciuman itu menjadi lebih dalam, penuh semua kalimat yang tak pernah kami ucapkan: ketakutanku terlambat, kecemburuanku pada Fajar, rasa sakit setiap kali dia menyebut dirinya hanya pekerja.
Aku merasakan ujung jarinya beralih dari lengan ke bahuku. Sentuhan itu ragu, seolah dia sendiri terkejut pada keberaniannya. Aku memperlambat ciuman, menunggu. Ketika tangannya tetap di sana dan bibirnya kembali mencari, rasa yang selama ini kutahan meledak lebih kuat.
Punggungku masih menyentuh dinding. Aku sengaja tidak membalik posisi atau menekannya ke permukaan apa pun. Sekar harus tetap punya ruang terbuka di belakangnya, jalan untuk pergi bila berubah pikiran. Dalam kesadaran yang kabur, batas itu justru menjadi satu-satunya hal yang kupegang erat.
Aroma manisnya mengelilingi napasku. Dulu aroma itu membuatku curiga. Kini aku tahu ia hanya muncul saat tubuhnya kenyang dan aman, hasil luka lama yang tidak pernah dia pilih. Menyadari dia cukup aman untuk membalas ciumanku terasa lebih memabukkan daripada apa pun, sekaligus menakutkan karena aku bisa menghancurkan rasa aman itu dengan satu gerakan salah.
Aku menarik diri sepersekian detik. "Masih mau?"
Sekar membuka mata. Malu dan keinginan bercampur jelas di sana. Dia mengangguk, lalu berkata agar tidak ada keraguan, "Ya."
Barulah aku menciumnya lagi.
Sekar berdiri berjinjit sedikit karena perbedaan tinggi kami. Gerakan itu sangat kecil, tetapi membuatku sadar dia tidak sekadar membiarkan. Dia memilih mendekat. Aku menahan pinggangnya dari sisi luar kain hanya ketika langkahnya goyah, lalu segera melepaskan saat keseimbangannya kembali.
"Pusing?" tanyaku.
"Den yang demam malah tanya saya?"
"Wajahmu merah."
"Itu bukan sakit."
Jawabannya membuat panas menjalar jauh lebih dalam daripada suhu tubuhku. Aku menunduk lagi, kali ini menyentuhkan kening sebentar sebelum bibir. Sekar menghela napas dan menyebut namaku tanpa gelar, sangat pelan.
"Nara."
Itulah pertama kalinya namaku terdengar seperti sesuatu yang hanya dimiliki suara seorang perempuan. Aku berhenti, menatapnya, memastikan tidak salah dengar.
Dia tampak ingin menarik kembali panggilan itu. Aku tidak memberinya kesempatan untuk malu sendirian.
"Sekali lagi," pintaku.
"Jangan banyak minta."
"Saya sedang sakit."
"Den memakai sakit untuk mencari keuntungan."
"Hanya satu."
Dia menggeleng, tetapi saat aku mencium sudut bibirnya dengan lembut, namaku keluar lagi bersama napasnya.
Ciuman kedua tidak terburu-buru. Panas yang menumpuk berubah menjadi kelembutan menyakitkan. Ibu jariku menyentuh kain jilbab dekat pelipis, bukan kulit tersembunyi. Dia menarik napas melalui hidung, dan suara kecil itu membuat jantungku menghantam rusuk.
Aku ingin mengatakan namanya, tetapi bibir kami belum rela berpisah. Aku ingin berjanji banyak hal, namun tahu janji yang diucapkan dalam demam tidak pantas diminta untuk dipercaya. Jadi aku hanya menjaga sentuhan, menahan diri pada garis yang sudah hampir kami lewati.
Sekar mencengkeram kemejaku. Tubuhnya bergetar, tetapi bukan mendorong. Ketika napasnya terputus, aku langsung melepaskan.
Kami berdiri dengan dahi hampir bersentuhan.
"Maaf," kataku serak.
"Jangan minta maaf seolah saya tidak..."
Dia berhenti, wajahnya merah sampai telinga.
"Tidak apa?"
"Tidak apa-apa."
Aku hampir tersenyum. "Itu juga bukan kalimat selesai."
"Den sedang sakit dan masih suka mengganggu."
"Saya perlu tahu kau tidak merasa dipaksa."
"Den bertanya dua kali."
"Seharusnya saya bertanya sebelum mendekat pertama kali."
"Den berhenti. Saya yang menahan lengan Den."
"Tetap saja saya sedang sakit. Besok kau mungkin berpikir saya tidak sadar."
"Den tahu nama saya, tahu tempat ini, dan tahu harus berhenti kalau saya bilang tidak. Den tidak kehilangan kesadaran. Den hanya kehilangan kesombongan."
Aku menatapnya. "Kesombongan?"
"Yang membuat Den selalu berpura-pura semua perhatian itu cuma tanggung jawab."
Dalam keadaan sehat, aku mungkin menghindari serangan itu dengan pertanyaan lain. Malam ini aku tidak punya tenaga.
"Baik," kataku. "Saya mengaku. Bukan cuma tanggung jawab."
"Bukan cuma kasihan?"
"Saya sudah bilang tidak pernah kasihan."
"Bukan karena aroma?"
"Saya memikirkanmu saat kau tidak ada, saat kau lapar, marah, dan bahkan ketika aroma itu tidak muncul. Jadi bukan."
Sekar menutup mata. Satu air mata keluar tanpa suara. Aku menyekanya.
"Kenapa menangis?"
"Karena saya ingin percaya."
"Percayalah setelah saya mengatakannya lagi dalam keadaan sehat."
Dia menatap lantai. "Saya bisa mundur tadi. Saya tidak mundur."
Jawaban itu memberi kelegaan sekaligus rasa bersalah. Persetujuan tidak menghapus kenyataan bahwa tempat dan waktunya salah. Kami belum punya ikatan, koridor bisa dilewati siapa pun, dan akibat sosial akan lebih berat jatuh kepadanya.
"Kita tidak boleh mengulang ini sebelum bicara dengan benar," kataku.
Sekar tersentak kecil. "Den menyesal."
"Saya menyesal membahayakan namamu. Saya tidak menyesal menciummu."
Matanya kembali menatapku. Ada sesuatu yang lembut dan ketakutan di sana.
"Kalau begitu, bicara dengan benar saat Den sehat."
"Saya akan."
Aku menyentuh ujung jilbabnya yang bergeser dan membantu merapikannya tanpa menyentuh lebih jauh. Sekar mengusap bibir, gerakan yang hampir membuat kendaliku runtuh lagi.
Aku mengambil satu langkah mundur, lalu kepala berputar hebat. Sekar cepat memegang siku.
"Nah, ini akibat sok kuat," katanya.
"Saya tidak sok kuat. Lantainya bergerak."
"Lantainya tidak bergerak."
"Kalau begitu hotel ini harus diperiksa."
Dia tertawa pelan, kemudian langsung menutup mulut karena menyadari kami masih berada di lorong. Tawa itu menyelamatkan kami dari tenggelam terlalu jauh dalam rasa malu.
"Setelah petugas datang, Den langsung pulang," katanya.
"Ya."
"Tidak kembali ke aula."
"Ya, Bu Dokter."
"Dan besok jangan pura-pura lupa."
Aku menatapnya. "Bagian mana yang kau takut saya lupakan?"
Dia memukul ringan lenganku. "Semua."
"Tidak mungkin."
"Jangan begitu," kataku.
"Kenapa?"
"Karena obatnya belum berhenti bekerja dan saya baru saja berjanji menahan diri."
Dia memalingkan wajah, menyembunyikan senyum malu.
Dari ujung koridor terdengar bunyi roda troli dan langkah kaki.
Kami langsung menjauh. Sekar merapikan gamis, aku berdiri dari dinding meski kepala berputar. Seorang staf hotel muncul mendorong tumpukan handuk. Dia melirik kami sekilas, lalu terus berjalan tanpa minat.
Namun di detik sebelum dia lewat, kami tidak tahu siapa yang datang.
Kami merapikan pakaian dan menjaga jarak yang baru saja dilupakan, tetapi panas di bibir serta detak di dada tetap menjadi bukti bahwa batas di antara kami telah berubah selamanya malam itu juga tanpa bisa ditarik kembali.
Kami berdiri kaku, tidak berani bernapas keras, dengan satu pikiran yang sama: bila seseorang melihat apa yang baru terjadi, nama Sekar yang akan lebih dulu dihancurkan.