NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Dua Belah Hati

Dokter militer yang ikut bersama kami menyentuh leher Nala, memeriksa napas, mata, mulut, dan popoknya.

"Suhu tiga puluh sembilan koma empat. Tanda dehidrasi sedang. Kita bawa ke puskesmas sekarang."

Mbah Wagiyem panik. "Apa harus dirawat?"

"Kita nilai setelah cairan masuk dan pemeriksaan dokter anak tersedia. Kalau kesadaran turun atau tidak bisa minum, langsung rujuk RSUD."

Aku membungkus Nala dengan kain tipis. Saat kuangkat, tubuhnya menegang dan ia menangis mencari Mbah.

"Nala, ini Mama."

Ia justru memalingkan wajah.

Rasa sakit itu lebih tajam daripada semua hinaan di kompleks. Putriku mengenali tangan yang merawatnya setiap hari, bukan suara ibu yang pergi berbulan-bulan.

"Jangan dipaksa mengingat sekarang," kata dokter. "Dia sakit dan takut. Pegang dengan tenang."

Di puskesmas, Nala ditimbang dan diberi obat penurun panas sesuai berat badan. Cairan rehidrasi diteteskan sedikit demi sedikit ke mulutnya. Ia memuntahkan suapan pertama, menelan yang kedua, lalu menangis lemah.

Perawat memasang lembar pemantauan di ujung ranjang. Waktu minum, jumlah muntah, suhu, dan popok ditulis setiap tiga puluh menit. Dokter memeriksa perut dan memastikan tidak ada darah pada tinja yang dibawa Mbah dalam wadah kecil.

"Kenapa bisa sampai begini?" tanyaku.

"Bisa dari makanan, air, atau infeksi virus. Jangan buru-buru menyalahkan siapa pun. Yang penting cairan masuk dan tanda bahaya dipantau."

Mbah Wagiyem menunduk. "Aku kasih bubur. Airnya direbus, tapi kemarin mati listrik, pompa sumur berhenti."

Aku menggenggam tangannya. "Bukan salah Mbah. Saya yang jauh."

Dokter menatap kami bergantian. "Rasa bersalah tidak menurunkan demam. Ikuti langkahnya satu per satu."

Kalimat tegas itu menolong. Aku berhenti mencari orang untuk disalahkan dan mulai mencatat.

Dokter meminta aku menyusuinya jika masih menghasilkan ASI.

Aku duduk di balik tirai, mendekap tubuh kecil itu. Nala menolak pada awalnya. Ia menoleh mencari Mbah, menangis, lalu terlalu lelah untuk melawan. Setelah mencium bau tubuhku beberapa lama, mulutnya akhirnya melekat.

Air mata jatuh tanpa suara.

"Mama di sini, Nduk. Maaf Mama lama pulang."

Tangannya menyentuh kulitku, bukan memeluk, hanya memastikan ada sesuatu yang nyata. Ia minum sebentar, berhenti, lalu minum lagi.

Saat kecil, Nala selalu menyelipkan jari kelingking di bawah tali bajuku ketika menyusu. Gerakan itu muncul lagi. Ujung jarinya mencari, menemukan kain, lalu mencengkeram.

Tubuhnya mungkin masih mengingat meski matanya belum.

Aku membungkuk sampai kening kami bersentuhan. Bau rambutnya bercampur keringat demam dan minyak telon. Bau yang dulu memenuhi setiap malamku sebelum kesatrian mengambil tempatnya.

"Mama nggak pergi karena nggak sayang," bisikku. "Mama pergi supaya kamu bisa makan. Tapi Mama tahu itu nggak membuat malam-malammu lebih mudah."

Nala tidak memahami kata-kata itu. Ia hanya menelan perlahan dan mempertahankan pegangan pada kainku.

Dokter memantau. Popok pertama masih kering. Setelah dua jam cairan sedikit-sedikit dan menyusu, Nala akhirnya buang air kecil.

"Itu tanda baik," katanya. "Tapi dia belum sepenuhnya pulih. Pantau minum, suhu, kesadaran, dan diare. Kalau tanda bahaya muncul, jangan tunggu."

Penyebab paling mungkin adalah gastroenteritis akut. Tidak ada antibiotik sembarangan. Kami membawa oralit, zinc sesuai resep, penurun panas, serta jadwal kontrol.

Menjelang siang, suhu Nala turun. Matanya lebih fokus. Ketika Mbah memanggil, ia mengulurkan tangan.

Bukan kepadaku.

Aku membantu menyerahkannya dan tersenyum agar Mbah tidak melihat hatiku runtuh.

"Kamu jangan salahkan bocah," kata Mbah. "Dia hafal orang yang tiap hari ada. Nanti hafal lagi sama kamu."

"Saya tahu."

Namun mengetahui tidak membuatnya kurang sakit.

Di rumah, aku memeriksa persediaan. Susu tinggal setengah kaleng. Beras menipis. Obat Mbah cukup lima hari. Aku mengeluarkan seluruh uang dari dompet, termasuk bagian honor yang seharusnya kusimpan untuk kebutuhan sendiri.

Dokter memeriksa cara formula disiapkan. Sendok takar sudah benar, tetapi air matang disimpan terlalu lama dalam wadah terbuka. Ia meminta Bu RT membantu merebus air baru dua kali sehari dan menjaga botol tertutup.

Aku menulis jadwal di dinding: suhu pagi-siang-malam, oralit sedikit setelah diare, susu sesuai takaran, tanda bahaya, nomor bidan, puskesmas, RSUD, klinik kesatrian, dan warung.

Mbah menyentuh tulisan itu dengan jari. "Mataku kadang kabur."

Aku membacakan setiap baris. Bu RT yang baru datang menyalinnya dengan huruf lebih besar. Kami sepakat ia akan memeriksa pagi dan sore sampai kontrol berikutnya.

Keputusan meninggalkan Nala hanya mungkin dibuat karena ada jaringan nyata, bukan sekadar harapan.

"Ini untuk susu, makan, dan ongkos kontrol."

Mbah menolak. "Kamu pegang sedikit."

"Di kompleks saya dapat makan. Mbah butuh."

Aku menyelipkannya di bawah bantal sebelum ia bisa mengembalikan.

Telepon dokter berdering. Sari mengabarkan Sena menolak formula sejak pagi. Ia masih mau sedikit bubur, tetapi terus menangis mencari aku. Catatan popoknya mulai berkurang.

Dua belah hatiku menarik ke arah berlawanan.

Sari mengirim rekaman pendek. Sena menangis di dadanya, menolak botol dengan memalingkan kepala. Suara serak itu membuat air susuku langsung merembes lebih deras.

Mbah mendengar dari telepon. "Itu anak yang kamu susui?"

"Iya."

"Dia juga nggak punya ibu?"

Aku mengangguk.

Mbah mengusap kepala Nala. "Kalau begitu jangan buat dia menunggu sampai lemas seperti Nala. Aku masih ada di sini hari ini."

"Mbah sendiri sakit."

"Makanya lain kali bawa Nala. Jangan terus sobek badanmu jadi dua."

Itulah pertama kalinya Mbah memberi izin tanpa ragu agar cucunya pindah. Namun hari ini bukan waktu aman untuk perjalanan kedua. Kami perlu surat, tempat tidur, pemeriksaan, dan seseorang yang membantu menjaga dua bayi.

"Saya akan urus," janjiku.

Nala baru turun panas. Sena mulai menolak minum. Aku ingin membawa Nala saat itu juga, tetapi perjalanan dan lingkungan baru tidak baik bagi bayi yang masih dipantau. Izin tinggalnya pun belum diproses, sementara Mbah belum siap kehilangan satu-satunya teman di rumah.

Dokter membantu membuat keputusan. "Nala stabil untuk dirawat di rumah dengan pengawasan Mbah, Bu RT, bidan, dan kontrol besok. Sena bergantung pada ASI Ibu. Kita kembali sebelum sore. Saya beri nomor klinik dan RSUD."

Aku berlutut di depan Mbah. "Kalau suhu naik lagi, langsung telepon. Jangan tunggu orang lewat. Warung sudah punya nomor saya."

Mbah mengangguk. "Pulanglah. Anakmu yang sana juga memanggil."

Aku mencium Nala. Ia membuka mata, menatapku beberapa detik, lalu menggenggam ujung jilbabku.

Pegangan itu membuatku hampir membatalkan semuanya.

"Mama pulang sebentar," bisikku. "Mama akan jemput kamu."

Kami berangkat setelah memastikan Bu RT datang dan bidan desa menerima jadwal pemantauan. Sepatu merah kutaruh di dekat Nala. Masih terlalu besar, tetapi Mbah tersenyum melihatnya.

Di dalam mobil, susu mulai merembes karena tubuhku mengingat jadwal Sena. Dada terasa penuh dan sakit. Aku menekan kain bersih sambil menangis menghadap jendela.

Sawah bergerak mundur di balik kaca. Di satu arah ada Nala dengan kain kompres dan sepatu merah yang masih kebesaran. Di arah lain ada Sena, bayi tanpa ibu yang hanya menerima susu dariku.

Aku pernah mengira kasih sayang akan bertambah mudah jika dibagi. Kenyataannya, cinta memang bertambah, tetapi waktu, tubuh, dan jarak tetap memiliki batas. Setiap pilihan menyelamatkan satu kebutuhan sambil meninggalkan luka pada kebutuhan lain.

Aku tidak membutuhkan orang yang menyuruhku memilih anak kandung atau anak susuan. Aku membutuhkan rumah yang cukup untuk keduanya.

Dokter tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyodorkan air minum.

Setengah perjalanan, Bram menelepon.

"Bagaimana Nala?"

"Gastroenteritis, dehidrasi sedang. Sudah minum, buang air kecil, suhu turun. Besok kontrol."

"Kenapa kamu pulang?"

"Sena mulai menolak minum. Dokter bilang Nala stabil dan ada pengawasan."

Ia diam sesaat. "Kamu sudah makan?"

Pertanyaan sederhana itu memecahkan sisa pertahananku.

"Belum."

"Makan roti di tas. Sari menunggu di klinik dengan Sena."

"Bram, saya meninggalkan Nala lagi."

"Kamu memastikan dia ditangani, lalu kembali ke anak lain yang membutuhkanmu. Itu bukan meninggalkan."

Aku menutup mulut agar tangis tidak terdengar.

Saat kendaraan masuk kompleks, Sari sudah berdiri di depan klinik. Sena melihatku dari jauh dan langsung meronta dalam gendongannya.

Aku turun sebelum mobil berhenti sempurna.

"Pelan!" tegur dokter.

Sena berpindah ke pelukanku, menangis keras sambil menarik kerudung. Tubuhnya hangat tetapi tidak demam. Aku membawanya ke ruang laktasi klinik dan menyusui dalam privasi.

Ia minum rakus, seolah takut aku akan menghilang lagi.

"Mama di sini," bisikku. "Mama pulang."

Air mata jatuh ke rambutnya.

Di kepalaku ada wajah Nala yang memalingkan diri. Di lenganku ada Sena yang mengenaliku bahkan dari ujung jalan.

Aku mencintai keduanya. Justru itulah yang membuat sakit ini tidak bisa dibagi menjadi dua bagian yang lebih kecil.

Malamnya, aku kembali ke kamar setelah dokter memastikan Sena tidak dehidrasi. Sari menyiapkan bubur untukku. Tuti mencuci popok tanpa diminta.

Bram datang tetapi tidak masuk. Ia berdiri di pintu dan mendengar laporan medis sampai selesai.

"Besok kendaraan klinik kembali untuk kontrol?"

"Bidan desa yang pantau, lalu kalau perlu dirujuk. Dokter tadi sudah koordinasi."

"Bagus."

Ia melihat mataku. "Kamu boleh menangis."

"Kalau mulai, saya takut nggak berhenti."

"Kalau begitu makan dulu. Menangis setelahnya."

Aku tertawa patah. Ia tetap di luar sampai mangkuk buburku kosong, lalu pergi tanpa mencoba menyentuh atau menghibur dengan janji palsu.

Aku makan sambil menggendong Sena dan menelepon warung kampung. Bu RT menjawab bahwa suhu Nala tetap turun dan ia sudah minum lagi.

Baru saat itu napasku terasa masuk penuh.

Di gedung seberang, tirai jendela lantai satu bergerak. Ratna berdiri di baliknya, telepon menempel di telinga.

Ia melihat kendaraan dinas, dokter, dan kepulanganku yang tergesa.

Namun ia tidak melihat dua bayi yang sama-sama hampir kehilangan susu karena seorang ibu dipaksa hidup di antara dua tempat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!