Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Di Balik Senyum
"Ada apa ini? Apa aku sedang bermimpi?"
Mawar memicingkan mata, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih menebal dan menyelimuti kesadarannya. Tubuhnya terasa berat, kepalanya pening seolah baru saja terhantam benda keras. Namun, rasa berat di kelopak matanya lenyap seketika, berganti rasa ngeri yang mencekam saat pandangannya jatuh pada sosok yang berada tepat di atas tubuhnya, menindihnya dengan berat badan yang tak bisa ia tolak.
Jantung Mawar seakan berhenti berdetak sejenak, lalu kembali berpacu kencang bagaikan ingin melompat keluar dari dadanya. Cahaya remang lampu tidur yang hanya menyisakan sinar kekuningan lembut itu memperjelas wajah orang itu, wajah yang sangat Mawar kenal, wajah yang sering menyapanya dengan senyum hangat, wajah yang selama ini ia anggap sebagai pelindung dan kakak yang baik.
"Kak Bima? Apa... apa yang Kakak lakukan di sini? Lepaskan aku!" suara Mawar pecah, bergetar hebat, penuh keterkejutan yang berubah seketika menjadi ketakutan yang mencekam.
Naluri bahaya berteriak keras di dalam otaknya, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri tegak. Mawar segera berusaha memberontak, melawan dengan sekuat tenaga yang ia miliki, berusaha mendorong, menendang, atau bergerak ke samping agar bisa lepas dari tindihan pria itu. Namun, tangan dan kaki gadis itu sudah terikat erat dengan kain panjang miliknya sendiri, diikatkan kuat ke keempat sudut ranjang hingga ia tak bisa menggerakkan sedikit pun. Semakin Mawar meronta, semakin erat tali itu menekan dan melukai kulit halusnya, meninggalkan bekas merah yang perih.
Usaha Mawar benar-benar sia-sia. Sang kakak ipar justru tampak sangat tenang, wajahnya datar tanpa rasa bersalah sedikit pun, seolah apa yang sedang dilakukannya adalah hal yang wajar, hal yang memang berhak ia lakukan.
"Mawar..." Bima berbisik pelan, namun nada suaranya telah berubah total. Bukan lagi nada ramah, lembut dan sopan yang biasa Mawar dengar. Kini suaranya terdengar berat, serak, penuh dengan hasrat gelap yang telah tertahan dan dipendam sekian lama.
"Sudah lama sekali aku menantikan kesempatan ini... Sudah lama sekali aku menyimpan rasa ini sendirian, diam-diam, tak berani menyampaikannya pada siapa pun, bahkan pada diriku sendiri. Kau tenang saja ya... Aku berjanji akan bergerak pelan-pelan, tidak akan menyakitimu terlalu banyak," bisik Bima tepat di telinga Mawar, napasnya yang panas dan berbau alkohol menerpa kulit leher gadis itu, membuatnya merinding ketakutan.
Tangan kasar Bima mulai menjelajahi setiap inci tubuh gadis itu dengan antusias yang mengerikan dan menjijikkan. Ia menyentuh, meraba, dan meremas sembarangan, seolah-olah tubuh Mawar adalah miliknya sepenuhnya. Mawar gemetar hebat, seluruh tubuhnya kaku dan dingin, matanya terbelalak menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan ketakutan. Suara lenguhan rendah dan kasar lolos dari bibir Bima, bercampur dengan suara hujan yang menderu deras dan angin yang menderu kencang menabrak jendela kaca, seolah alam pun turut meratapi nasib malang gadis itu.
"Kakak! Sadarlah! Sadar Kak! Aku ini adik iparmu! Aku adik dari istri kakak sendiri!" teriak Mawar sekuat tenaga, air mata mulai menggenang deras dan mengaburkan pandangannya, mengalir membasahi pelipis dan rambutnya.
"Kalau Ibu dan Kak Jingga pulang dan melihat keadaan ini, bagaimana nanti? Semuanya akan hancur! Nama baik keluarga kita akan rusak seumur hidup! Kakak akan dihukum dan dibenci semua orang!"
Bima hanya tersenyum miring, senyum yang sinis dan dingin, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pria brengsek itu menunduk mendekat lagi ke telinga Mawar, lalu berucap dengan nada yang sangat tenang namun menusuk hingga ke tulang.
"Di luar sedang hujan badai besar, Mawar. Jalanan berlumpur dan sangat licin, kabut tebal menyelimuti seluruh jalan raya. Mereka tidak akan bisa pulang dalam waktu cepat, bahkan mungkin mereka harus menginap di sana. Tidak ada yang akan datang, tidak ada yang akan mendengar jeritanmu. Hanya ada kita berdua di sini... dan ini adalah waktu kita berdua."
Kata-kata Bima itu menghancurkan harapan terakhir yang tersisa di hati Mawar. Di luar, petir menyambar terang benderang diikuti suara gemuruh yang menggelegar, seolah menandakan betapa mengerikannya malam itu. Suara lenguhan panjang dan kasar kembali lolos dari mulut Bima, tanda pria itu telah menuntaskan apa yang ia inginkan, merampas apa yang bukan haknya.
Tak lama kemudian, Bima berhenti bergerak dan terkulai lemas di samping tubuh Mawar yang kini terasa kaku, dingin, dan hampa bagaikan mayat hidup. Pakaian gadis itu berantakan, kulitnya penuh bekas ciuman kasar dan cengkeraman yang menyakitkan. Sementara itu, air mata Mawar tak henti-henti mengalir deras, membasahi bantal dan seprai di bawahnya. Rasa sakit yang ia rasakan bukan hanya sakit fisik yang merembes dari selangkangan hingga ke seluruh tubuhnya, tapi jauh lebih tajam dan menyakitkan lagi rasa sakit yang menusuk di hatinya, rasa sakit karena dikhianati, dirusak, dan diinjak-injak oleh orang yang seharusnya melindunginya.
"Bajingan... Manusia tidak tahu malu..." suara Mawar bergetar hebat penuh kebencian, matanya menatap tajam ke arah Bima. Ia mulai memukul dada dan lengan pria itu dengan tangannya yang kini sudah terlepas dan bebas, pukulan yang lemah namun penuh amarah.
"Kenapa? Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Aku ini adik iparmu! Aku selalu menghormatimu, menganggapmu kakak sendiri! Kenapa harus aku? Kenapa kau merusak hidupku?!" teriak Mawar histeris, suaranya pecah menjadi isak tangis yang panjang.
Namun pukulan-pukulan kecil dan tangisan itu sama sekali tak mengganggu atau menyentuh hati Bima. Pria itu hanya menatap Mawar dengan tatapan datar, lalu perlahan memasang wajah yang berusaha terlihat penuh penyesalan dan keprihatinan—wajah yang kini sudah tak lagi bisa dipercaya oleh siapa pun, apalagi oleh Mawar.
"Maafkan Kakak, Mawar... Maafkan aku... Kakak khilaf, terbawa suasana, terbawa rasa sayang yang terlalu besar. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Bima lembut, persis seperti sedang menenangkan anak kecil yang menangis.
"Kakak berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong... tolong jangan ceritakan kejadian ini pada Kak Jingga atau Ibu ya? Kalau mereka tahu, semuanya akan hancur, Kak Jingga pasti akan hancur hatinya, Ibu pasti akan jatuh sakit. Semuanya akan baik-baik saja, tenang saja... asal kita berdua diam saja dan menyimpan rahasia ini selamanya."
Bima mencoba mengusap air mata di pipi Mawar, lalu berusaha menarik sang adik ipar ke dalam pelukan. Namun, bagi Mawar, pelukan itu kini terasa seperti kurungan dingin, kotor, dan menjijikkan. Tidak ada satu pun kata-kata manis atau sentuhan lembut yang mampu mengembalikan kehormatan dan kesucian yang baru saja Bima rampas paksa dari dirinya. Semakin malam merambat larut, suara tangis Mawar berubah menjadi jeritan tertahan yang penuh kepedihan, semakin histeris dan putus asa di tengah keheningan rumah yang seharusnya terasa aman dan damai.
***
Di sisi lain, di jalan raya yang cukup jauh dari rumah, suara hujan yang semula mengamuk dan mengguyur bumi dengan derasnya perlahan mereda, menyisakan rintik halus yang jatuh pelan-pelan, serta udara dingin yang sejuk dan berbau tanah basah. Langit mulai sedikit terang kembali, kabut tebal perlahan menipis menyisakan kabut tipis yang melayang rendah di permukaan jalan.
"Untung hujannya cepat reda ya, Bu. Kalau tidak, pasti kita tidak akan bisa pulang malam ini, terpaksa harus menginap di rumah kerabat itu yang menyebalkan itu, setiap bertemu selalu saja bertanya kapan kami punya anak." ucap Jingga sambil menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya yang lelah di atas sofa empuk di ruang tengah setelah mereka sampai di rumah.
Bu Gendis meletakkan tas belanja dan payung basah di atas meja, lalu mengangguk setuju sambil mengusap pelan bahunya yang memutih. "Benar juga. Kalau kita terlambat pulang atau tidak bisa pulang sama sekali, bagaimana Bima dan kamu akan makan dan menjaga rumah? Lagipula kamu sendiri tahu kan sifat adikmu itu, kalau ditinggal lama pasti dia akan mulai merajuk atau bertingkah laku sembarangan lagi."
Jingga tersenyum tipis mendengar candaan ibunya, namun tiba-tiba ia menegakkan badan dan mengerutkan keningnya rapat-rapat. Ia memiringkan kepala, menajamkan pendengarannya.
"Eh, Bu... Ibu dengar tidak? Seperti ada suara orang menangis... terdengar sangat sedih dan panjang..." ucap Jingga, matanya menatap ke arah lorong panjang yang menuju ke kamar-kamar tidur.
Bu Gendis pun berhenti bergerak seketika. Ia memusatkan telinganya, napasnya tertahan. Wajah tenang wanita tua itu seketika berubah menjadi pucat dan penuh kepanikan.
"Ya... Ibu juga mendengarnya... Sepertinya... sepertinya suara itu berasal dari kamar Mawar..."
Raut wajah Bu Gendis yang semula ceria kini berubah menjadi sangat cemas.
"Ayo kita lihat, Bu... Cepatlah," ajak Jingga, rasa penasaran perlahan berubah menjadi kegelisahan yang tak beralasan, rasa cemas yang berat menindih dadanya tanpa sebab yang jelas.
Sepasang ibu dan anak itu berjalan beriringan menyusuri lorong yang panjang itu. Langkah mereka yang semula santai kini berubah menjadi lebih cepat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mendorong mereka berjalan terburu-buru. Semakin dekat mereka berjalan, semakin jelas terdengar suara isak tangis yang menyakitkan, suara tangisan yang penuh kepedihan dan keputusasaan.
"Benar, Bu... Itu pasti suara Mawar," bisik Jingga, hatinya mulai berdebar kencang karena rasa takut.
"Kenapa adikku menangis sehebat ini? Seolah ada hal buruk yang sangat mengerikan baru saja terjadi padanya..." tandasnya.
"Kita akan tahu semuanya setelah kita bertanya langsung pada adikmu," jawab Bu Gendis, berusaha tetap tegar dan tenang meski tangannya sedikit gemetar saat berjalan. Ia memberi isyarat pada Jingga untuk segera membuka pintu kamar Mawar.
Jingga melangkah maju mendekati pintu kayu itu, tangannya terulur perlahan memegang gagang pintu yang dingin. Namun tiba-tiba, rasa sakit yang tajam dan menusuk menyerang dadanya begitu hebat hingga ia terpaksa berhenti bergerak dan menahan napasnya.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba dadaku sakit sekali? Rasanya seperti ada sesuatu yang berat jatuh menimpaku..." batin Jingga, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Jantung Jingga berdetak kencang tak beraturan, seolah-olah organ itu sendiri sedang memberi peringatan keras tentang sesuatu yang mengerikan dan menyakitkan yang tersembunyi di balik pintu kayu itu. Napas Jingga tertahan di tenggorokan saat ia perlahan-lahan memutar gagang pintu ke bawah...
Bersambung...