Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Kedua
“Riri, bangun! BANGUN!!” teriak Jung Kook pelan. Namun usahanya sia-sia, Riri tidak bisa mendengar suaranya.
Sapu tangan yang membekap wajah Riri sudah diberi cairan obat bius, hingga membuat wanita itu tidak sadarkan diri. Tubuh wanita itu tergeletak di lantai. Kedua tangannya terikat ke belakang, begitu juga dengan kakinya.
Sekuat apa pun Jung Kook berteriak, Riri tetap tidak menyadarinya.
Tak jauh dari Riri, tampak seorang pria duduk santai. Wajahnya tertutup topeng Rahwana berwarna merah. Di dekatnya terdapat palu dengan gagang kayu dan pemukul besi tumpul. Dia sedang serius melihat tayangan di ponselnya.
Pria itu sedang memperhatikan berita penggerebekan klub malam Butterfly yang lokasinya hanya berjarak dua ratus meter dari tempatnya sekarang. Suara sirine mobil polisi juga masih terdengar. Pertanda para petugas masih belum meninggalkan tempat tersebut.
Satu jam kemudian, suara sirine dan kebisingan di klub itu sudah tidak terdengar. Lingkungan di sekitar klub sudah sangat sepi. Apalagi di lingkungan itu hanya ada toko yang sudah tutup sejak sore hari dan beberapa gedung kosong.
Pria yang menculik Riri mengeluarkan drone. Dia segera menerbangkan drone tersebut untuk mencari kamera CCTV yang terpasang di sekitar lokasi. Sepuluh menit kemudian drone yang diterbangkannya kembali. Pria itu sudah mendapatkan beberapa titik kamera CCTV.
Dia kemudian mengeluarkan laptopnya. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard, meretas jaringan kamera CCTV di sekitar lokasi. Menghapus jejak dirinya dan menggantikannya dengan video lain yang hanya menunjukkan lingkungan sekitar yang sepi.
Pada saat yang sama Riri tersadar dari pingsannya. Tubuh wanita itu bergerak-gerak, berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Sang pria menyadari bahwa Riri sudah tersadar dari pingsannya. Pria itu menaruh kembali laptop ke dalam tas ranselnya lalu bangkit. Dia terlebih dahulu mengambil palu yang ada di dekat kakinya. Dengan langkah pelan pria itu mendekati Riri.
Ketakutan mulai merayapi Riri. Wanita itu mencoba berteriak, tetapi mulutnya disumpal kain hingga membuatnya tak bisa bersuara. Riri mencoba beringsut menjauh. Namun karena kedua tangan dan kakinya terikat, dia tidak bisa berbuat banyak.
Pria itu berjongkok di depan Riri. Dari balik topeng, matanya terus memandangi wanita di depannya. Matanya bergerak dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya, seolah tengah menentukan bagian mana yang akan dihantam palunya.
“Ehm! Ehm! Hmmmm!”
Hanya gumaman tak jelas yang keluar dari mulut Riri. Wanita itu mulai diliputi ketakutan. Napasnya mulai tersendat saat melihat pria di hadapannya mengangkat palunya. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Matanya mulai berkaca-kaca.
Tolong, jangan sakiti aku. Tolong ampuni aku, mohon Riri dalam hati.
Sadar jika Riri ingin bicara, dia menarik kain yang menyumpal mulut Riri dengan cepat.
“Siapa kamu? Apa maumu? Tolong jangan sakiti aku.”
Air mata yang sedari tadi berkumpul di pelupuk mata, akhirnya jatuh bercucuran. Dengan penuh permohonan, Riri meminta pria di hadapannya ini melepaskannya.
“Tolong, ampuni aku. Tolong lepaskan aku. Ibuku sedang sakit dan sangat membutuhkanku,” mohon Riri.
Tanpa mengatakan apa pun, pria itu kembali menyumpal mulut Riri.
Jung Kook yang sedari tadi tengah mencari pertolongan, terkejut saat melihat Riri sudah tersadar. Apalagi pria bertopeng yang menangkap wanita itu sedang mengarahkan palunya ke kaki Riri.
“JANGAN!!” teriak Jung Kook cepat.
Jin itu segera menunjukkan wujud aslinya pada pria yang memegang palu. Sejenak pria itu terdiam. Matanya memandangi makhluk menyeramkan di depannya. Namun tidak ada perasaan takut sedikit pun melihat wujud menyeramkan Jung Kook.
Pria itu memukulkan palunya ke pergelangan kaki Riri. Wanita itu berteriak kencang menahan rasa sakit yang menjalari kakinya. Namun teriakannya tertelan kain yang disumpalkan ke mulutnya. Air matanya mengalir deras dari kedua matanya.
“RIRI!” teriak Jung Kook.
Jung Kook melayangkan pukulan sekuat tenaga, tetapi tinjunya hanya menembus pria bertopeng itu. Jin itu berlari, hendak menabrak pria itu, tapi justru tubuhnya yang jatuh tersungkur.
Dari balik topengnya, pria itu tertawa sinis. Dia kembali memukulkan palunya, dan kini mengenai paha juga lengan Riri.
Belum hilang rasa sakit yang dialami Riri, pria bertopeng itu kembali menghantamkan palu ke kedua tangan Riri yang terikat. Tangannya sampai bergetar menahan sakit yang mendera.
“RIRI!” Jung Kook hanya bisa memanggil nama wanita yang disukainya itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Jin itu menangis melihat wanita yang dicintainya terus mendapat hantaman palu.
“Hentikan! Hentikan! Dasar iblis!” teriak Jung Kook sambil menangis.
Tak mau membuang waktu lebih banyak, berkali-kali pria bertopeng itu menghantamkan palunya. Dia menghantam bahu, dada, perut dan pinggang Riri. Terakhir dia menghantamkan palunya ke kepala Riri sebanyak tiga kali.
Setelah hantaman ketiga, tubuh Riri tidak bergerak lagi. Darah mulai mengalir dari kepala wanita itu. Bagian tubuhnya yang lain yang terkena hantaman palu juga sudah mengeluarkan darah. Perlahan tapi pasti, darah mulai menggenangi tubuh wanita itu.
“RIRIII!!” teriak Jung Kook saat menyadari wanita itu sudah tidak bergerak lagi.
Setelah memastikan Riri sudah tidak lagi bergerak, secara hati-hati pria bertopeng itu memosisikan tubuh Riri meringkuk seperti janin.
“Mau apa kamu?!” tanya Jung Kook.
Pria itu melepaskan sepatu yang dikenakan Riri, lalu dia mulai membuat dua titik hitam di telapak ibu jari kakinya.
Setelah itu, dia mengambil gambar Riri yang sudah terkapar tak bernyawa menggunakan kamera Polaroid.
“Dasar psikopat!” maki Jung Kook saat melihat apa yang dilakukan pria bertopeng itu.
Selesai mengambil gambar Riri, pria itu memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ranselnya.
Sebelum pergi, dia menghapus dulu jejak sepatunya di lantai berdebu itu. Pria itu juga memastikan tidak ada barang atau jejaknya yang tertinggal.
Tanpa melepas topeng yang dikenakannya, pria itu meninggalkan tempat tersebut. Dia menutup rapat pintu bangunan kosong itu.
Jung Kook jatuh di dekat Riri, dia menangis sejadi-jadinya. Jin itu teringat ucapan Ahqam padanya.
“Percuma kamu mengikutinya. Kalau terjadi sesuatu padanya, kamu tidak akan bisa membantu.”
“AAAAAA!!!”
Jung Kook berteriak kencang. Jin itu memukuli dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa. “Dasar bodoh! Tidak berguna! Menjaga Riri saja kamu tidak becus!” maki Jung Kook pada dirinya sendiri.
Jung Kook masih bertahan di dekat Riri yang sudah terbujur kaku. Jin itu terus menangisi kematian wanita yang begitu dicintainya.
Tanpa Jung Kook sadari, roh Riri keluar dari tubuhnya. Wanita itu terpaku di tempatnya saat melihat raganya terbujur kaku di lantai.
Keadaannya sangat menyedihkan. Luka pukulan memenuhi sekujur tubuhnya dan darah menggenangi jasadnya.
“Apa yang terjadi padaku? Siapa yang melakukan ini padaku? Apa salahku?” tanyanya sambil menangis.
Refleks Jung Kook mengangkat kepalanya. Dia terkejut melihat arwah Riri berdiri tak jauh dari jasadnya. Perlahan dia bangkit lalu mendekatinya.
“Riri,” panggilnya.
“Siapa kamu?” tanya Riri sambil beringsut menjauh. Saat ini Jung Kook masih menampilkan wujud aslinya dan membuat Riri ketakutan. “Apa kamu yang membunuhku?”
“Tidak, bukan,” jawab Jung Kook cepat seraya menggelengkan kepalanya.
“Jangan mendekat!” teriak Riri mencegah Jung Kook yang semakin mendekatinya. “Pergi! Pergi!” usir Riri.
Karena takut, Riri pun melarikan diri dari tempatnya kehilangan nyawa. Tubuhnya melayang tak tentu arah di udara.
“Riri!” panggil Jung Kook seraya mengejarnya.
***
Aku merinding pas ngetik part ini, serem sendiri ngebayangin kekejaman si Rahwana😬
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/