NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Ejekan Sahabat

Pukul setengah tujuh pagi.

Usai membasuh sisa-sisa air mata dan membuang memori pahit masa lalu di kamar mandi, Aira langsung bersiap-siap dengan cekatan.

Pagi ini adalah hari pertamanya kembali bekerja di Hermawan Group pasca-menikah. Ia mengenakan blazer berwarna dusty rose dengan celana bahan high-waist putih yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul dengan sisa beberapa helai memutar halus di pinggir pipinya. Makeup tipis tapi tegas berhasil menutupi jejak sembab di matanya.

Begitu keluar dari kamar sambil membenahi jam tangannya, aroma gurih nan wangi yang menggugah selera langsung menusuk hidungnya.

Aira menaikkan sebelah alisnya, melangkah pelan menuju area dapur.

Di sana, Devan sudah berdiri rapi dengan setelan kemeja biru navy dan celana hitam. Apron abu-abu masih melilit pinggangnya. Pria itu tampak sibuk meletakkan dua piring pancake bermandikan sirup dan potongan buah beri segar di atas meja makan, berdampingan dengan dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis.

Aira membeku sejenak di tempatnya.

Pria ini bisa masak?

Devan yang menyadari kehadiran Aira langsung mematikan kompor, berbalik sambil menyunggingkan senyuman tipis. "Pagi, Istriku. Tepat waktu banget. Ayo duduk, kita sarapan bareng dulu sebelum berangkat kerja."

Langkah Aira yang tadinya mau menuju pintu depan langsung terhenti. Tatapan Aira berubah dingin dalam hitungan detik.

"Nggak usah. Gue makan di luar aja," tolak Aira ketus.

Senyuman di bibir Devan agak meredup. Ada kilatan rasa sakit yang berdesir halus di mata pria itu—melihat uluran tangannya ditolak mentah-mentah oleh Aira. Makanan yang sengaja ia buatkan sejak jam enam pagi tadi serasa tak berharga sama sekali.

Namun, bukan Devan namanya kalau tidak bisa menutupi perasaannya di balik tameng ejekan.

Devan merapikan apronnya, melepasnya santai lalu melemparnya ke sandaran kursi. Pria itu menyilangkan tangan di dada sambil tertawa renyah yang dibuat-buat.

"Elah, jual mahal banget lu," ledek Devan dengan nada menyebalkan seperti biasa. "Takut ya kalau makan olahan gue ntar malah ketagihan? Atau takut gue taburin pelet di pancake-nya biar lu makin baper sama gue?"

Aira memutar bola matanya malas, berdecak keras. "Ck!"

"Pede banget lu! Gue cuma nggak sudi makan makanan buatan cowok kayak lu. Bisa-bisa perut gue mules seharian," sembur Aira tajam. Tanpa memedulikan Devan yang masih berdiri kaku di dekat meja makan, Aira membalikkan badannya dan melangkah lebar menuju pintu keluar penthouse.

Brak!

Pintu ditutup kasar dari luar. Devan menghela napas panjang, menatap dua piring pancake yang masih hangat di atas meja dengan tatapan nanar. "Gagal lagi kan strategi pendekatan lewat perut..." gumam Devan pelan pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyum pasrah.

Begitu melangkah keluar dari area gedung kondominium itu, Aira langsung linglung.

Angin pagi kawasan Sudirman berhembus cukup kencang. Aira berdiri di pinggir trotoar jalan utama dengan blazer cantiknya, memegang tas merek ternama.

Baru sekarang Aira menyadari masalah utamanya: ia tidak tahu caranya berangkat kerja!

Biasanya, sejak zaman kuliah sampai minggu lalu, Aira selalu menyetir mobilnya sendiri atau tinggal panggil sopir pribadinya. Tapi sejak Papi Surya menyita kunci mobil dan membekukan fasilitas pribadinya kemarin, Aira terdampar tanpa kendaraan.

Aira mengambil ponsel di tasnya, membuka layar. Niatnya mau memesan ojek atau taksi online. Tapi jemarinya berhenti di atas layar.

"Gimana cara makenya sih gila?!" gerutu Aira frustrasi. Ia memang punya aplikasinya, tapi ia tidak pernah mengoperasikannya sendiri dari nol.

Mau pencet yang mana? Pilih motor atau mobil? Masukin alamatnya gimana? Semuanya membingungkan buat cewek manja yang biasa tinggal terima beres ini.

Mana uang tunai di dompetnya cuma tersisa tiga lembar ratusan ribu—sisa uang jajan tunai yang belum disita Papi.

Aira mulai berjalan menyusuri trotoar dengan melangkah kesal. Kakinya yang mengenakan sepatu mahalnya mulai terasa lelah. Suara lalu lintas ibu kota yang bising makin membakar emosinya yang belum stabil.

Kruuuk...

Suara yang sangat amat memalukan terdengar dari perut Aira. Aira refleks memegangi perutnya yang kempis. Gara-gara gengsi menolak sarapan Devan tadi, sekarang cacing di perutnya menjerit-jerit minta diisi.

Langkah Aira terhenti tepat di depan sebuah gerobak bubur ayam. Aroma kuah kaldu ayam yang gurih, taburan daun seledri, dan kerupuk goreng mendadak merayapi indra penciumannya.

"Pagi, Neng cantik! Sarapan dulu Neng, Bubur Ayam Asli Cirebon nih, hangat!" tawar abang penjual bubur yang ramah sambil mengaduk kuali kuah kaldunya.

Aira menatap gerobak itu dengan pandangan ragu. Selama hidup dua puluh lima tahun, Aira Hermawan tidak pernah makan di pinggir jalan seperti ini. Gengsi tingginya menjerit histeris.

Masa anak pemilik Hermawan Group makan bubur ayam pinggir jalan sih?!

Kruuurukkk!

Suara perutnya berbunyi jauh lebih kencang dari sebelumnya.

Aira menelan ludah. Demi keselamatan cacing di perutnya yang sudah siap demo berujung kerusuhan, Aira akhirnya mengalahkan gengsinya.

"Pak... buburnya satu piring," kata Aira pelan, suaranya agak ragu.

"Siap, Neng! Pakai kerupuk nggak? Sate usus?"

"Nggak usah, bubur sama ayam suwir aja!"

Aira akhirnya duduk kaku di atas bangku plastik di samping gerobak. Rasanya sungguh ajaib.

Wanita yang semalam menggelar resepsi mewah miliaran rupiah, pagi ini duduk di dekat gedung perkantoran sambil menyuap bubur ayam lima belas ribuan.

Tapi ajaibnya... bubur itu enak banget. Gurihnya pas, hangat di tenggorokan, dan langsung menenangkan perutnya yang keroncongan.

Sambil mengunyah buburnya, Aira buru-buru menghubungi Sandy.

"Halo, Ra? Tumben lu telepon pagi-pagi? Lagi honeymoon ya lu sama Devan?" suara Sandy di ujung telepon terdengar jahil.

"Sandy! Jemput gue sekarang juga!" potong Aira panik, memelankan suaranya biar nggak didengar abang bubur.

"Hah? Jemput di mana? Lu kan di penthouse-nya Devan?"

"Gue... gue lagi terdampar di dekat gedung perkantoran. Gue nggak bisa berangkat kerja!" adu Aira frustrasi. "Gue nggak ada mobil, nggak bisa pesen ojol, dan gue lagi makan bubur ayam pinggir jalan nih!"

Suara gelak tawa Sandy yang amat dahsyat langsung meledak di seberang telepon. "BHAKAKAKAK! SERIUSAN LU, AIRA?! Seorang Aira Hermawan makan bubur ayam di pinggir jalan?! Sumpah demi apa ini berita paling viral tahun ini! Tungguin gue, lima belas menit lagi gue nyampe!"

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil sedan merah milik Sandy berhenti persis di depan gerobak bubur ayam.

Sandy turun dari mobil, memakai kacamata hitam, lalu berdiri menatap Aira yang baru saja mengelap bibirnya pake tisu. Sandy tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.

"Gila, gila! Momen langka banget!" ejek Sandy sambil memotret Aira menggunakan ponselnya. "Gue harus mengabadikan momen Aira si anak sultan lagi nongkrong di gerobak bubur Cirebon!"

"Sandy, hapus nggak?!" jerit Aira malu setengah mati, membayar abang penjual bubur dengan uang seratus ribu tanpa meminta kembalian, lalu buru-buru masuk ke dalam mobil Sandy. "Awas ya lu kalau berani sebarin foto itu ke grup alumni!"

Di dalam mobil, Sandy masih sibuk mengejek Aira sepanjang perjalanan menuju kantor Hermawan Group.

"Lagian lu aneh banget sih, Ra," kata Sandy sambil menyetir, sesekali melirik Aira yang sedang sibuk bercermin merapikan rambutnya. "Ngapain juga lu kabur jalan kaki? Kenapa nggak minta anterin sama Devan aja? Lu kan udah resmi jadi istrinya. Devan kan punya mobil."

Aira mendengus kencang. "Gue gak sudi naik mobil cowok itu? Mending gue jalan kaki keliling Jakarta daripada harus satu kabin lagi sama dia!"

"Alah, gengsi lu ketinggian," cibir Sandy terkekeh. "Ingat ya, Ra, benci sama cinta itu bedanya tipis banget. Nanti kalau lu malah makin nempel sama Devan, jangan lupa traktir gue bubur ayam lagi ya!"

"Gak bakal!" sembur Aira mantap.

Pukul delapan pagi tepat.

Gedung Hermawan Group berdiri kokoh di pusat bisnis Jakarta. Sebagai perusahaan konglomerat yang bergerak di bidang properti, suasana di dalam lobby kantor selalu riuh oleh hilir mudik karyawan berbusana rapi.

Aira melangkah masuk melalui pintu kaca utama. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai.

Mata para karyawan di area lobby langsung tertuju pada wanita itu. Bisik-bisik halus mulai kasak-kusuk di antara para staf.

Semua orang di Hermawan Group sudah tahu bahwa Aira bisa masuk ke kantor jalur orang dalam.

Tapi Aira tak peduli.

Emang masalah buat gue.

Baginya memuaskan Papinya yang punya harga diri tinggi itu lebih utama.

"Selamat pagi, Kak Aira," sapa beberapa staf divisi pemasaran dengan ramah dan membungkuk sopan.

Aira menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyuman tipis. "Pagi."

Hari pertama kerja setelah menikah ini... ada yang berbeda dari seorang Aira Calista Hermawan.

Begitu sampai di lantai lima—divisi Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis tempat Aira menjabat sebagai Senior Manager—Aira langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya. Ia melepas blazer-nya, menyampirkannya di kursi kerja, lalu menyalakan komputer.

Bisa dibilang, ancaman Papi Surya soal penyitaan aset benar-benar membakar naluri bertahan hidup Aira. Aira tahu, cara satu-satunya agar ia tidak terus-terusan diintimidasi dan dikontrol oleh papinya serta tidak diremehkan oleh Devan adalah dengan membuktikan bahwa ia sanggup memegang kendali atas pekerjaannya sendiri.

Aira tidak mau dianggap cuma sekadar 'anak bos yang manja' atau 'istri pajangan Devan Argawinata'.

"Rika!" panggil Aira lewat telepon interkom meja kerjanya.

Tak sampai satu menit, Rika—sekretaris pribadinya—masuk ke dalam ruangan membawa satu tumpukan berkas tebal.

"Iya, Kak Aira? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rika agak segan.

"Tolong bawakan berkas proyek rekayasa kawasan resort di Bali yang kemarin ditunda," perintah Aira, matanya sudah fokus menatap layar monitor yang menampilkan Grafik Analisa Keuangan. "Sama tolong jadwalkan meeting dengan tim arsitek dan tim analisis risiko sebelum jam makan siang."

Rika sempat melongo kaget sejenak. Biasanya, kalau habis libur atau ada acara besar, Aira bakal malas-malasan, minta kopi mahal, dan baru mulai kerja jam sepuluh pagi. Tapi hari ini... bos mudanya itu tampak luar biasa fokus, tajam, dan penuh determinasi.

"B-baik, Kak Aira! Segera saya siapkan!" jawab Rika sigap lalu buru-buru keluar ruangan.

Aira menyandarkan punggungnya di kursi kerja sejenak, menghela napas panjang. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja itu dengan konstan.

Di layar komputernya, foto profil Devan di grup WhatsApp keluarga Hermawan-Argawinata sempat terlintas di panel notifikasi. Aira menatap foto Devan sejenak dengan tatapan dingin.

"Lu pikir gue bakal kalah gara-gara ulah lu dan Papi?" gumam Aira pelan pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyuman sinis. "Lihat aja, Devan. Gue bakal buktiin kalau gue bisa berdiri di atas kaki gue sendiri, tanpa perlu bantuan lu sedikit pun."

Aira meraih pulpennya, kembali menenggelamkan dirinya dalam tumpukan berkas proyek bisnis besar perusahaan.

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!