Kehidupan Bryan Lionel Woodrow (30) yang penuh misteri. Pemuda tampan menawan memiliki sejuta pesona dan misteri. Bahkan di setiap langkah pemuda ini selalu menebar senyum tipis menawan, tetapi palsu.
Bryan sendiri adalah seorang Komisaris di Woodrow Corporations sekaligus Dosen baik hati serta jadi idola kaum hawa. Dia adalah sosok sempurna bagi semua orang, tetapi siapa tahu kalau dirinya adalah psychopath sejati yang menakutkan.
Angelica Sonja Cornelius (20) mahasiswa populer, primadona kampus. Gadis baik hati, polos dan ramah. Dia juga memiliki segudang prestasi membuatnya menjadi idol para Mahasiswa.
Siapa sangka Angel sangat mengidolakan sang Dosen (Bryan), hingga suatu hari mengetahui rahasia sang Dosen. Angelica tidak pernah tahu kalau sebenarnya Dosen favoritnya adalah seorang psychopath.
Mampukah Bryan melabuhkan hati serta menjadikan Mahasiswinya sebagai tambatan hati?
Rahasia kelam membuat Bryan menjadi iblis berkedok malaikat. Akankah Angel bisa menerima Bryan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIL - Caught
Angelica tercengang melihat aksi mengerikan yang dilakukan oleh Bryan. Di depan mata ia melihat sang kekasih membunuh dua Mahasiswa UCLA dengan sadis.
Rasanya semakin sesak saat, Bryan mengangkat kepala itu enteng dan meneguk darah korban. Perutnya sangat mual, hingga pandangannya mengabur karena tidak tahan melihat aksi keji dari Bryan. Angelica tersungkur di rerumputan hijau.
Bryan terperangah mendengar gumaman Angelica. Matanya membulat sempurna karena Angelica sudah tahu siapa dirinya. Langit mendung mengeluarkan tangisannya. Hujan mengguyur kota Westwood di Los Angeles, California dengan deras. Tubuhnya membeku merasakan keresahan hati. Ia segera menelepon bawahannya untuk mengurus dua mayat ini. Lalu menghancurkan barang bukti yang tersimpan apik di ponsel salah satu Mahasiswa tadi.
Bryan memangku kepala Angelica. Air mukanya mengeras menandakan keresahan hati. Dia menggigit bibir bawah sampai berdarah. Darah korban menghilang terbawa oleh aliran air hujan yang mengguyur tubuh.
Bryan tahu, Angelica sangat sok menyebabkan dia tidak sadarkan diri. Tidak lama menunggu, 3 Mafioso pribadinya datang.
"Mr Bryan, serahkan pada kami, kita akan membuang mayat mereka di hutan. Dan barang bukti akan kami hancurkan. Anda tenang saja, Big Boss!" terang Max.
"Hn, mutilasi tubuh mereka. Kalian bawa koper bukan? Dan jangan sampai terbongkar kejahatan kita. Kalau kalian berkhianat, yakinlah aku akan membuat keluarga kalian mati dengan keji!" gertak Bryan. Ia mengangkat tubuh Angelica hati-hati.
"Baik, Big Boss. Kami tidak akan berkhianat. Anda tenang saja!" seru mereka.
"Hn, lakukan dengan cepat." perintah Bryan.
"Baik ....!!"
***
Angelica menggeliat pelan, perlahan mata indahnya terbuka sempurna. Ia memijat pelipisnya kasar.
"Aku bermimpi sangat menakutkan. Tidak mungkin, Bryan berubah menjadi psycho."
Menatap kesekeliling ruangan dengan interior mewah secara saksama. Angelica sok pasalnya berada di kediaman megah, Bryan.
"Ngomong-ngomong, aku kenapa bisa di rumah, Bryan? Kenapa bisa begini? Aku kan di kampus. Arghh, ada apa sih?" tanya Angelica entah pada siapa.
"Sudah bangun, Sayangku?" tanya Bryan kalem. Ia mendekat ke arah Angelica sambil membawa makanan dan minuman.
Angelica jadi takut dengan Bryan karena mimpi buruk itu. Dia mundur saat tangan besar Bryan hendak mengusap pipinya.
"Why, Baby?" tanya Bryan kalem.
"Kamu Psychopath, kan? A----aku mimpi kalau kamu membunuh seseorang dengan sadis ...," cicit Angelica bergetar ketakutan.
Bryan memejamkan matanya sesaat. Dia menatap Angelica dingin, sangat berbeda dengan pandangan lembut yang biasanya dia berikan.
Angelica tambah ketakutan melihat tatapan mengerikan itu, "itu mimpikan? Hahaha, tidak perlu ditanggapi," sergah Angelica sambil tertawa garing.
"Aku memang Psychopath, Honey," balas Bryan datar. Mata brown berpancar menakutkan tanpa ada kelembutan.
Angelica menegang mendengar balasan tak terduga dari Bryan. Ia langsung ingat pembunuhan sadis yang di lakukan oleh, Bryan.
"Jangan bunuh aku, hiks. Kenapa ... Kenapa kamu begitu tega melakukan itu?" tanya Angelica ketakutan. Air mata mengucur deras membasahi pipi gembulnya.
"Kenapa aku harus membunuhmu? Kamu akan kujadikan budak Sex, dan soal itu, membunuh adalah hobiku," terang Bryan sangat kejam.
Angelica membekap mulutnya sendiri. Dia tidak percaya dengan ucapan, Bryan. Ia tambah menangis pilu mengingat semuanya. Jadi, selama ini dia mencintai psycho? Rasa cinta itu perlahan memudar dari hatinya dan tergantikan rasa benci bersama rasa takut.
"Bunuh saja aku! Aku tidak sudi menjadi budak Sex-mu ...! Kenapa kamu mempermainkan aku sedalam ini? Kamu membiarkan aku terlalu mencintaimu, tapi ternyata itu semua hanya palsu. Kebaikan, keramahan dan cinta itu semua hanya kedok untuk menutupi sifat aslimu. Aku membencimu!" raung Angelica.
"Ppffftt ... Ahahaha ...! Ahahahahaha ...," tawa Bryan menggelegar dikamar mewah miliknya, "kamu sangat tolol, Sayangku ...! Mana mau aku membunuhmu, karena kamu selamanya akan menjadi budak Sex untukku. So, bila kamu menolak semua itu, maka kamu akan melihat kehancuran, darah dan kepala terpenggal tepat di depan matamu," jabar Bryan kalem.
Mata Angelica terbelalak mendengar ucapan Bryan. Dia benar-benar tertipu oleh kebaikan, Bryan. Lelaki yang dia anggap malaikat ternyata seorang iblis. Air mata berderai membasahi pipinya. Ia tambah yakin betapa gilanya lelaki ini.
"Apa maksudmu? Kamu mau menghancurkan siapa? Dan baru ku ketahui, ternyata seorang Bryan Lionel Woodrow adalah seorang Psychopath yang hanya bisa mengancam dan mengandalkan kekuasaan!" cela Angelica seraya tersenyum mengejek.
"Gadis pintar ...! Perusahaan Ayahmu, butik Ibumu akan hancur bila aku berkehendak. Dan seluruh keluargamu akan kubunuh secara keji di depan matamu. Aku tidak peduli dengan ucapanmu, Hahaha," terang Bryan kalem seraya tertawa iblis.
Angelica merasa dunia runtuh menimpanya saat ini juga. Karena tidak kuat menahan beban hatinya dia kembali tidak sadarkan diri. Bersamaan itu, rasa cinta berubah menjadi benci.
Bryan menatap miris gadis yang sangat dicintai. Dia merasakan setitik air mata meluncur bebas membasahi pipinya.
"Maafkan aku, Sayang," gumam Bryan frustrasi.