Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Langkah ke Depan
Hari-hari berikutnya berjalan tenang. Bukan berarti gak ada tugas, gak ada ujian, gak ada hari yang bikin capek. Tapi semuanya kerasa ringan — karena gak ada lagi rahasia yang ditahan di dada. Gak ada lagi mata-mata yang mengawasi dari gelap.
Pagi itu, Farhan jalan bareng gue kayak biasa. Di tangannya ada selembar kertas lipat, dilipat rapi sampai gak kelihatan isinya.
"Lo mau lihat?" tanyanya ragu dikit pas sampai di gerbang.
"Apa itu?"
"Rencana. Masa depan gue." Dia buka pelan-pelan. "Bu Sari ajak gue lanjut kuliah di kota lain nanti. Katanya ayah gue dulu pengen banget anaknya belajar di sana. Tapi Bapak sama Ibu yang di sini... mereka juga mau gue tetap dekat."
Gue baca pelan. Daftar jurusan, nama universitas, tanggal pendaftaran. Semuanya tertulis rapi di bawah judul: "Yang Gue Mau, Bukan Yang Disuruh Orang."
"Keren banget, Han. Lo bikin sendiri?"
"Sendiri. Tanya saran banyak orang, tapi keputusan akhir gue pegang sendiri." Dia lipat lagi kertasnya, masukin ke saku. "Cuma ada satu hal yang bikin gue berat."
"Apa?"
"Kalau gue pergi... lo gimana?" Dia natap gue, matanya jujur banget. "Gue gak mau minta lo nunggu tanpa janji. Gak mau minta lo ikut kalau lo belum siap. Gue cuma mau bilang — gue mau lo ikut. Kalau lo mau."
Gue berhenti sejenak, tarik napas dalam. "Gue juga punya sesuatu, Han." Gue ambil kertas kecil dari tas. "Gue mau ikut tes beasiswa ke kota yang sama. Gue udah isi formulirnya minggu lalu. Cuma gue takut bilang... takut lo pikir gue ngejar-ngejar atau gak punya mimpi sendiri."
Farhan diam sebentar, lalu senyum melebar sampe matanya menyipit. "Lo gila ya? Itu hal paling indah yang pernah gue denger."
"Bener?"
"Bener banget." Dia pegang kedua bahu gue pelan. "Kita bukan ikut-ikutan. Kita jalan ke arah yang sama. Itu beda jauh."
Jam istirahat, Dimas nyamperin kita. Mukanya lebih segar dari biasanya.
"Gue ada kabar," katanya sambil duduk di bangku panjang. "Hari ini terakhir gue lapor. Mulai besok gue boleh ikut kegiatan sekolah lagi penuh. Dan... gue udah diterima magang di bengkel teknik."
"Wah, mantap banget, Dim!" seru gue senang.
"Gue mau mulai dari bawah. Bersih-bersih, bantu-bantu. Gak malu." Dia senyum tenang. "Gue mau buktiin — orang bisa jatuh, tapi bisa bangkit lagi lebih kuat."
"Lo pasti bisa," kata Farhan tulus. "Kalau butuh bantuan, bilang aja."
"Siap, Bos." Dimas ketawa, berdiri sambil tepuk bahu Farhan. "Ayo kita buat cerita baru. Yang gak ada kebohongannya."
Sore itu, gue pulang dan cerita semuanya ke Ibu. Tentang tes, tentang kota jauh, tentang keinginan gue untuk maju.
Ibu diam sebentar, lalu senyum lembut sambil pegang tangan gue. "Kamu sudah dewasa, Nak. Kamu tahu mau ke mana. Ibu tidak akan menahan. Tapi ingat satu hal — rumah selalu di sini. Bukan tempat kamu kembali saat lelah saja. Tapi tempat kamu tahu, ke mana pun kamu pergi, ada yang menunggumu pulang."
"Makasih, Bu..." Gue peluk Ibu erat. "Gue takut gak bisa pulang sering."
"Yang penting kamu pulang sebagai dirimu sendiri. Bukan sebagai orang yang lain mau."
Malamnya, Farhan datang ke rumah. Bukan cuma sebentar. Dia duduk di ruang tamu, bicara langsung sama Bapak dan Ibu dengan sopan dan tenang.
"Saya tidak berjanji akan kaya atau sukses besar," katanya jujur. "Tapi saya berjanji satu hal — saya akan jaga Amira. Saya akan dukung mimpinya. Dan kalau dia capek, saya bantu dia berdiri lagi. Bukan untuk saya saja. Tapi supaya dia bisa jadi apa yang dia mau."
Bapak mengangguk pelan, matanya teduh. "Kami tidak menuntut janji yang berat, Nak. Cukup satu — jujur. Kepada dia, kepada dirimu sendiri. Itu saja sudah cukup."
Minggu berikutnya, kita sibuk banget. Belajar bareng di perpustakaan, saling tanya soal, saling periksa tulisan. Kadang capek sampe mau nangis, tapi Farhan selalu kasih permen kecil dan bilang:
"Pelan-pelan. Kita gak harus lari. Yang penting jangan berhenti jalan."
Satu sore, pas istirahat di taman, gue tanya hal yang selama ini gue pikirin.
"Han... kalau nanti kita beda jadwal, beda tempat, sibuk masing-masing... lo takut gak kita berubah?"
Dia diam sebentar, mainin rumput di sela jari. "Gue takut. Jujur. Tapi gue lebih takut kalau kita tetap di sini dan gak pernah tau siapa kita sebenarnya." Dia natap gue. "Kalau kita berubah... berarti kita hidup. Yang penting — berubahnya jadi lebih baik. Dan tetap ke arah yang sama."
"Pintar banget jawabnya," goda gue sambil senyum.
"Belajar dari orang pintar," balasnya cepat, ketawa kecil.
Hari pendaftaran tiba. Kita berangkat bareng, membawa berkas masing-masing di dalam tas. Tangan kita saling pegang di jalan, gak erat, cukup untuk saling ingat — kita ada di sini, bareng.
Di depan gerbang universitas, gue berhenti napas. "Besar banget ya..."
"Kita juga bakal gede di sini," kata Farhan pelan. "Bukan berarti kita jadi orang lain. Cuma... versi yang lebih lengkap."
Setelah selesai urusan, kita duduk di halaman luas di bawah pohon rindang.
"Gue sempat mikir..." gue mulai pelan. "Dulu gue pikir bahagia itu dapet apa yang diinginkan. Sekarang gue tau — bahagia itu tau arahnya, dan ada orang yang jalan bareng walau jalannya gak rata."
Farhan sandarkan punggung ke batang pohon, natap langit. "Gue dulu mau jawaban atas semua pertanyaan. Siapa ayah gue, kenapa ditinggal, siapa yang salah. Sekarang gue sadar — pertanyaan penting bukan soal masa lalu. Tapi soal masa depan. Apa yang mau gue lakuin dengan hidup gue?"
"Dan jawabannya?"
"Belum selesai ditulis." Dia menoleh ke gue, senyum cerah. "Tapi penulisnya dua orang. Dan satu lagi yang nunggu kita pulang sesekali."
Malam itu, gue tulis panjang di buku catatan:
"Cerita kita gak berakhir di satu pilihan. Itu baru awal. Karena yang bikin pilihan itu berharga bukan karena akhirnya bahagia selamanya tanpa masalah. Tapi karena akhirnya kita berani — berani bermimpi, berani pergi, berani pulang, dan berani tetap sama di tengah semua perubahan."
Tiba-tiba HP bunyi. Dari Dimas:
"Gue lulus ujian masuk! Mulai bulan depan gue sekolah sambil magang. Terima kasih ya... kalian bikin gue percaya diri lagi."
Gue ketik balas bareng Farhan:
"Selamat, Dim! Lo emang kuat. Jalan terus. Kalau capek, istirahat. Jangan berhenti."
Farhan taruh HP-nya, natap gue di meja belajar. "Lo tau gak... dari semua hal yang gue punya sekarang — nama baru, keluarga lengkap, masa depan yang jelas — yang paling gue syukuri cuma satu."
"Apa?"
"Lo ada di sini. Dari awal, di tengah badai, sampai sekarang saat langit udah cerah." Dia ulurkan tangan, genggam tangan gue di atas meja. "Dan gue harap... lo masih ada di sini saat kita lulus, saat kita kerja, saat kita tua nanti."
Gue senyum, mata terasa hangat tapi bahagia. "Gue gak janji gak bakal ada hari yang berat. Gue gak janji gak bakal ada yang bikin sedih. Tapi satu hal gue janji — gue gak bakal jalan sendiri kalau lo mau bareng. Dan gue gak bakal ninggalin lo saat lo butuh teman."
"Kesepakatan?"
"Kesepakatan."
Kita ketawa pelan. Di luar, bulan bersih dan terang. Bintang banyak sekali, seakan semua menyaksikan awal yang baru ini.
Besok masih ada sekolah, tugas, ujian. Masih ada jarak yang harus dijalani. Masih ada hal yang belum pasti.
Tapi untuk pertama kalinya... gue gak takut.
Karena gue tau — ke mana pun kita pergi, seberapa jauh kita melangkah, hati kita sudah tahu arah pulang. Dan kita pulang bersama.