NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transmigrasi apes

Sena mengusap-usap kasur empuk yang menopangnya. Permukaan kasur itu terasa sangat halus dan kenyal, jauh berbeda dengan kasur kapuk atau kasur busa biasa.

"Sumpah, empuk banget ini kasur... Apa ini kamar vila mewahnya Si Bella, ya?" gumam Sena seraya tersenyum tipis. "Tanggung jawab juga tuh anak, nggak membiarkan gue mati konyol di kolam renang."

Namun, setelah mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang begitu sunyi dan bernuansa dingin, Sena menyipitkan mata. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sahabatnya itu di sini.

"Tapi mana nih anak? Kok kaga ada dianya? Apa dia masih asyik party di bawah kali, ya?"

Sena memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer dingin. Ia berjalan melintasi ruangan besar itu menuju pintu keluar. Namun, saat baru melangkah beberapa meter, pandangannya secara tidak sengaja menangkap sebuah cermin berukuran setinggi badan yang berdiri di sudut ruangan.

Sena mendadak menghentikan langkahnya. Ia mundur satu langkah, menatap bayangan yang ada di dalam cermin itu dengan kening berkerut.

"Eits... Siapa nih? Cantik bener," celoteh Sena pelan, mengamati sosok wanita bergaun tidur putih yang terpantul di sana. "Gue paling malas deh ngelihat cewek yang lebih cantik dari gue. Kek hati gue iri gitu..."

Dengan acuh tak acuh, Sena kembali melanjutkan langkahnya. Namun, baru dua langkah berjalan, matanya melirik cermin itu lagi. Sosok wanita cantik di cermin itu ikut melangkah!

Sena berhenti. Sosok itu juga berhenti.

Sena mundur satu langkah lagi ke belakang. Sosok cantik itu ikut mundur satu langkah. Sena mengangkat tangan kanannya. Sosok itu ikut mengangkat tangan kanan. Sena menempelkan telunjuk ke hidung. Sosok itu menempelkan telunjuk ke hidung dengan gerakan yang persis sama.

"Eh... kok dia ngikutin gue?" Sena mengusap dadanya yang mendadak berdebar. "Ini cermin, kah? Jangan-jangan setan vila Bella?!"

Sena mendekati cermin itu perlahan, lalu menyentuh permukaan kaca yang dingin. Sosok wanita dengan kulit seputih porselen, mata beriris abu-abu jernih, dan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat gelap itu membalas tatapannya. Wajah itu sangat sempurna, bagaikan ditiupkan keindahan tanpa cela.

Sena meraba pipinya sendiri. Pipi di cermin ikut teraba. Ia meraba lengan bajunya. Sosok di cermin melakukan hal serupa.

"Anjiiiir! Gue ini?!" pusing Sena seraya membelalakkan mata lebar-lebar. Mulutnya melongo sempurna sampai-sampai ia mengacak-acak rambut mewahnya sendiri demi memastikan ini nyata. "Kok bisa?! Apa air kolam tadi air ajaib?! Kenapa muka gue yang standar pabrikan ini mendadak berubah jadi limited edition?!"

Namun, di tengah rasa syok dan keputusasaan atas perubahan fisiknya, tiba-tiba kepalanya berdengung hebat. Rasa sakit yang tajam seperti ditusuk ribuan jarum menyerang otaknya tanpa ampun.

"Akhh!" Sena memegangi kepalanya, berlutut di atas lantai marmer seraya meringis menahan nyeri yang luar biasa.

Berbagai memori asing, informasi, dan alur cerita yang sangat familar tiba-tiba berhamburan masuk ke dalam ingatannya bagaikan air bah. Kilasan-kilasan teks novel thriller yang pernah ia baca sampai larut malam mendadak terputar otomatis di kepalanya.

Setelah beberapa detik menahan sakit, rasa nyeri itu menghilang secepat datangnya. Sena masih berlutut di lantai, matanya kedip-kedip menatap kosong ke arah lantai.

"Anjir..." gumam Sena dengan napas terengah-engah. "Gue... transplantasi? Eh, transparan? Eh, bukan! Apa si namanya... TRANSMIGRASI?!"

Sena langsung melompat berdiri dan berteriak heboh, mengabaikan fakta bahwa ia berada di dalam ruangan asing. "Transmigrasi ke novel sialan itu?! Novel Vex Noir?!"

Rasa takut mendadak merayapi seluruh dinding dadanya. Vex Noir bukanlah nama asli dari karakter tersebut, melainkan julukan pembunuh berantai paling ditakuti di dalam cerita itu. Vex Noir adalah sosok psikopat genius yang teramat kejam. Cara membunuhnya begitu santai, sistematis, dan tanpa empati sedikit pun. Hebatnya lagi, hukum sama sekali tidak pernah berhasil menyentuhnya. Pria itu selalu lolos dari kejaran polisi tanpa menyisakan satu pun bukti, dan yang paling mengerikan: Vex Noir tidak pernah melepaskan target yang sudah ia incar.

Sena perlahan terduduk lemas di atas lantai, menyandarkan punggungnya pada lemari kaca.

"Dan gue... gue jadi Estella Aurora?!" racau Sena dengan suara bergetar. "Gue bukan karakter aman yang cuma lalu lalang! Gue cuma salah satu korban yang dia bunuh di bab-bab awal!"

Sena tersenyum getir, meratapi nasibnya yang jauh lebih tragis daripada ditolak puluhan pria di dunia nyata.

"Bentar..." Sena memegang dagunya, mencoba mengingat bagian dari bab novel yang pernah ia baca. "Di akhir cerita... disebutkan siapa nama asli psikopat sialan itu. Siapa ya... Kalau nggak salah... Lucian Voss deh!"

Sena menepuk jidatnya keras-keras. "Aish! Kalau nih tubuh masih hidup dan bernapas sekarang, berarti gue belum diincar atau... mungkin sedang diincar! Intinya, saat ini gue masih bernyawa!"

Namun, fakta bahwa ia masih bernyawa sama sekali tidak membuat hatinya tenang. Justru rasa panik semakin mencekik lehernya saat memori tentang nasib akhir Estella berputar di benaknya.

"Tapi tetap aja! Nanti yang dibunuh itu gue!" gerutu Sena dengan napas memburu. Ia mulai membayangkan adegan mengerikan dari bab novel tersebut. "Bayangin... Estella nih bakal dibunuh, terus kepalanya dijadikan mainan bola! Tangannya dipotong-potong terus dikasih makan anjing! Nggak banget, gila!"

Sena mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Aish, gimana ini?! Masalahnya tuh psikopat nggak bakal pernah ngelepasin mangsanya dan nggak pernah gagal sekali pun!"

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!