NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Armada Siput Raksasa

​Lautan tidak pernah berhenti menyimpan misteri. Di satu waktu, permukaan air bisa terlihat begitu tenang bagaikan cermin raksasa yang memantulkan cahaya matahari. Namun dalam hitungan jam, cermin itu bisa hancur berkeping-keping, digantikan oleh ombak buas dan kabut yang menelan segala bentuk kehidupan.

​Kapal kayu yang ditumpangi oleh Uchiha Madara kini mulai meninggalkan perairan West Blue yang hangat.

​Langit di atas mereka kehilangan warna biru cerahnya. Gumpalan awan abu-abu yang sangat tebal bergulung rendah, menghalangi sinar matahari untuk menyentuh permukaan laut. Suhu udara turun secara drastis. Angin yang sebelumnya berhembus sejuk kini berubah menjadi tiupan dingin yang menusuk hingga ke tulang.

​Sebuah kabut putih pekat mulai merayap dari arah utara. Kabut itu bergerak perlahan menyapu permukaan air, menelan horizon, dan akhirnya menyelimuti seluruh bagian kapal. Jarak pandang menurun drastis. Berdiri di geladak tengah, seseorang nyaris tidak bisa melihat ujung tiang layar utama.

​Para kru bajak laut menghentikan pekerjaan mereka. Mereka merapatkan jaket usang yang mereka kenakan, menggosokkan kedua telapak tangan untuk mencari kehangatan. Ketakutan mulai menjalar di hati mereka. Lautan yang tidak terlihat selalu menjadi mimpi buruk terbesar bagi para pelaut.

​Di ujung haluan kapal, Madara duduk bersila dengan tenang.

​Kabut tebal menempel pada rambut hitam panjangnya dan membasahi pelindung dada merah yang dia kenakan. Dia tidak peduli dengan suhu dingin yang menggigit kulit. Fokusnya sepenuhnya tercurah ke dalam benaknya.

​Madara sedang bermain dengan indra barunya.

​Hadiah dari Sistem berupa Kenbunshoku Haki tingkat dasar telah membuka sebuah dimensi baru dalam cara dia memandang dunia. Dia memejamkan mata, membiarkan energi spiritualnya mengalir dan menyatu dengan udara yang berkabut.

​Gelombang radarnya meluas menembus dinding kabut.

​'Sebuah kemampuan yang sangat praktis,' batin Madara.

​Dia bisa merasakan pergerakan kawanan ikan yang berenang melawan arus di kedalaman puluhan meter di bawah kapal. Dia bisa merasakan suhu air yang semakin menurun semakin jauh mereka berlayar ke arah utara. Dia bahkan bisa merasakan butiran air di dalam kabut yang saling bergesekan.

​Ini sangat berbeda dengan teknik sensorik yang dia kenal di dunia asalnya. Chakra sensor membutuhkan pelacakan jejak energi fisik dan spiritual lawan. Namun Haki ini membaca keberadaan dan kehendak. Sebuah sistem pelacakan yang murni berdasarkan insting dan perluasan kesadaran jiwa.

​Madara menarik batas jangkauan Haki-nya kembali ke atas kapal.

​Dia bisa merasakan emosi para krunya dengan sangat jelas. Ada kepanikan yang berdetak cepat di dada mantan kapten gemuk. Ada rasa cemas yang mengendap di pikiran para kru lainnya. Mereka semua takut pada kabut ini. Mereka takut pada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.

​'Manusia yang lemah selalu menjadikan ketidaktahuan sebagai sumber ketakutan,' nilai Madara dalam diam.

​Satu-satunya emosi yang terasa stabil di atas kapal itu berasal dari seorang wanita yang sedang berdiri tidak jauh di belakangnya.

​Nico Robin melangkah mendekati haluan kapal. Dia berjalan dengan sangat hati-hati, memastikan sepatu bot kulitnya tidak menimbulkan suara keras di atas lantai kayu yang basah oleh kabut. Di kedua tangannya, Robin memegang sebuah peta navigasi dan sebuah kompas logam yang jarumnya berputar liar.

​Gadis itu mengenakan mantel tebal pinjaman yang sedikit kebesaran untuk menahan hawa dingin. Rambut hitamnya terikat rapi di belakang. Wajahnya terlihat serius, memancarkan fokus dari seorang sarjana yang sedang memecahkan masalah.

​Robin berhenti tepat dua langkah di belakang Madara. Dia menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan tanda hormat, meskipun dia tahu pemuda itu tidak membuka matanya.

​“Tuan,” panggil Robin dengan suara pelan dan sopan.

​Madara tidak bergerak. Dia hanya membuka kelopak matanya perlahan. Iris hitamnya menatap lurus menembus kabut putih pekat di depannya.

​“Bicaralah,” jawab Madara singkat.

​Robin membetulkan posisi peta di tangannya agar tidak terlalu basah terkena embun.

​“Kita sedang memasuki wilayah perbatasan yang menghubungkan West Blue dengan perairan utara,” jelas Robin. Suaranya terdengar jernih mengalahkan suara ombak yang menghantam lambung kapal. “Arus laut di wilayah ini sangat tidak stabil. Suhunya juga anomali.”

​Madara melirik ke arah jarum kompas di tangan Robin yang masih bergetar tidak menentu.

​“Jarum itu tidak menunjuk ke satu arah yang pasti,” kata Madara.

​“Benar. Medan magnet di wilayah ini berantakan,” sahut Robin. Dia melipat petanya dan menyimpannya ke dalam balik mantel. “Banyak pelaut menghindari jalur ini karena kabut abadi yang menutupi pandangan. Menurut catatan sejarah yang pernah aku baca, tempat ini sering disebut sebagai kuburan kapal tanpa jejak.”

​Madara mendengus pelan.

​Sebuah kuburan kapal. Tempat di mana orang-orang lemah kehilangan arah dan mati perlahan karena keputusasaan. Tempat seperti ini tidak memiliki arti apa pun bagi seseorang yang pernah mengubur ribuan musuh di medan perang terbuka.

​“Lalu? Apakah kau datang kepadaku hanya untuk melaporkan bahwa kau kehilangan arah, Wanita?” tanya Madara dengan nada dingin.

​Robin menggelengkan kepalanya.

​“Tidak, Tuan. Arus bawah laut masih memiliki pola yang bisa dibaca. Aku tahu ke arah mana kita harus berlayar. Aku hanya datang untuk memberikan peringatan. Kabut tebal ini bukan satu-satunya ancaman di sini. Banyak rumor tentang monster laut raksasa atau kelompok penyelundup yang menggunakan kabut ini sebagai tempat bersembunyi.”

​Madara tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah depan.

​Monster laut raksasa. Bajak laut yang bersembunyi. Semua itu terdengar seperti hiburan kecil yang mungkin bisa mengusir rasa bosannya. Dia baru saja mendapatkan kapasitas chakra Jonin Elit dan Kenbunshoku Haki. Dia membutuhkan target yang bergerak untuk mengkalibrasi kekuatan barunya ini dalam pertarungan nyata.

​“Biarkan mereka bersembunyi,” ucap Madara tenang. “Jika ada yang cukup bodoh untuk menghalangi jalan kita, aku akan membuat mereka menyesal karena tidak tetap tinggal di dasar laut.”

​Robin mengangguk pelan. Dia sudah menduga jawaban arogan tersebut. Keyakinannya pada perlindungan pemuda ini tidak berkurang sedikit pun. Gadis itu berbalik, bersiap untuk kembali ke ruang kemudi dan memberikan arahan kepada para kru untuk menjaga posisi layar.

​Namun, tepat pada detik Robin membalikkan badannya, Kenbunshoku Haki Madara menangkap sebuah gelombang keberadaan yang sangat masif.

​Madara menyipitkan matanya.

​Ini bukan sekadar monster laut biasa. Getaran yang dia rasakan tidak berasal dari satu sumber, melainkan dari puluhan sumber yang bergerak secara bersamaan dalam sebuah formasi yang teratur. Keberadaan itu sangat besar, memancarkan aura mekanis yang berpadu dengan kehidupan biologis.

​Sesuatu yang sangat berat sedang membelah lautan dan menuju ke arah mereka.

​“Tunggu,” perintah Madara.

​Langkah Robin terhenti. Dia menoleh kembali menatap punggung Madara.

​“Ada yang datang,” kata Madara datar.

​Robin segera memfokuskan pandangannya ke arah depan kapal. Dia menajamkan pendengarannya.

​Beberapa saat kemudian, suara aneh mulai terdengar menembus dinding kabut tebal. Suara deburan air yang sangat keras, jauh lebih besar dari ombak yang biasa dihasilkan oleh sebuah kapal kargo. Suara itu diiringi oleh deru mesin yang berdengung konstan.

​Para kru bajak laut di geladak belakang juga mulai mendengar suara tersebut. Kepanikan langsung menyebar.

​“S-Suara apa itu?!” teriak mantan kapten gemuk sambil memegangi pagar kapal. “Apakah itu monster laut raksasa?!”

​“Semuanya bersiap di pos masing-masing! Jangan ada yang panik!” perintah pria bermata satu, meskipun suaranya sendiri bergetar karena takut.

​Suara gemuruh itu semakin keras. Air laut di sekitar kapal mereka mulai bergolak tidak beraturan. Gelombang air yang tinggi menghantam lambung kapal kayu mereka, membuat seluruh bangunan kapal berguncang hebat.

​Madara tetap duduk tidak bergerak. Dia menatap kabut di depannya dengan ketenangan yang absolut.

​Perlahan, dinding kabut putih itu mulai terbelah.

​Sebuah bayangan raksasa menjulang tinggi dari balik kabut. Bayangan itu menutupi cahaya redup di langit, menciptakan kegelapan yang menaungi kapal kayu kecil Madara.

​Itu bukan satu kapal. Itu adalah puluhan kapal raksasa yang saling merapat.

​Mata Robin terbelalak sempurna. Napasnya tercekat saat dia melihat wujud asli dari bayangan tersebut.

​Lambung kapal-kapal itu tidak terbuat dari kayu biasa. Bentuknya melengkung secara organik, dengan tekstur kulit berlendir yang sangat tebal. Setiap kapal ditarik oleh seekor siput laut raksasa, Den Den Mushi raksasa yang ukurannya sebesar bukit. Mata siput-siput itu menonjol keluar, bergerak menatap lautan di depan mereka tanpa emosi.

​Di atas cangkang siput raksasa tersebut, dibangun struktur kastil yang megah. Bangunan logam yang kokoh, menara-menara pengawas, dan meriam-meriam artileri yang moncongnya mengarah ke segala penjuru lautan.

​Kapal-kapal siput itu saling menempel dan terhubung oleh jembatan logam, membentuk sebuah negara terapung yang bergerak membelah lautan secara bersamaan.

​Di puncak menara tertinggi dari kastil pusat, berkibar sebuah bendera raksasa. Bendera itu tidak memiliki gambar tengkorak. Hanya ada dua angka besar berwarna gelap yang tercetak di atas kain putih tersebut.

​Angka 66.

​Mantan kapten bajak laut jatuh berlutut di atas lantai geladak yang basah. Wajahnya kehabisan darah. Tubuhnya gemetar begitu hebat hingga giginya bergemeretak.

​“T-Tidak mungkin,” rintih kapten gemuk itu dengan keputusasaan yang mendalam. “Itu... itu hanyalah mitos. Itu hanyalah cerita komik untuk menakut-nakuti anak kecil di North Blue.”

​Kru lainnya saling berpelukan dalam ketakutan. Mereka menjatuhkan senjata dan peralatan mereka. Semangat untuk bertahan hidup menguap sepenuhnya dari jiwa mereka.

​“Mitos komik pahlawan laut Sora telah menjadi nyata!” teriak salah seorang kru sambil menangis. “Itu adalah pasukan kejahatan bawah tanah! Armada Germa 66!”

​Robin mundur selangkah. Tangannya tanpa sadar mencengkeram erat pinggiran pelindung dada armor Madara. Gadis yang biasanya selalu tenang di segala situasi ini, kini menunjukkan wajah yang sangat tegang.

​“Germa 66,” bisik Robin, memastikan apa yang dia lihat. “Sebuah kerajaan tanpa wilayah daratan. Negara militer fiksi yang ternyata benar-benar ada. Mereka adalah organisasi pembunuh bayaran terkuat yang berbasis ilmu pengetahuan mutakhir.”

​Madara mendengar penjelasan singkat itu. Dia mengangkat pandangannya, menatap formasi kapal siput raksasa yang bergerak angkuh di atas perairan berkabut.

​Sebuah negara yang berlayar di atas cangkang siput. Organisasi pembunuh bayaran yang mengandalkan teknologi untuk menakut-nakuti dunia.

​Madara mendengus. Sebuah suara dengusan yang dipenuhi oleh rasa geli yang meremehkan.

​“Pasukan kejahatan dari buku komik anak-anak?” ucap Madara. Nada suaranya sangat sarkastis. “Dunia ini benar-benar dipenuhi oleh lelucon yang tidak ada habisnya. Apakah mereka tidak memiliki sesuatu yang lebih berwibawa daripada menunggangi siput lendir raksasa?”

​Robin tidak menjawab. Dia tahu pemuda ini tidak akan menganggap serius organisasi mana pun, tidak peduli seberapa menakutkannya legenda mereka.

​Armada siput raksasa itu terus bergerak maju. Konvoi militer Germa 66 sedang dalam perjalanan menuju sebuah misi di wilayah North Blue. Formasi mereka rapat dan tertata rapi. Mereka tidak memiliki niat untuk melambat atau membelokkan arah hanya karena ada sebuah kapal kayu kecil yang terjebak di jalur mereka.

​Bagi kerajaan terapung sebesar Germa, kapal bajak laut tanpa bendera itu tidak lebih dari selembar daun kering yang mengambang di atas genangan air. Sesuatu yang akan hancur dan tenggelam jika digilas oleh laju mereka.

​Di atas salah satu menara pengawas kapal siput yang berada paling depan, beberapa prajurit klon Germa berseragam melihat keberadaan kapal Madara.

​Prajurit-prajurit itu tidak memiliki emosi. Mereka adalah hasil modifikasi genetik yang diciptakan semata-mata untuk mematuhi perintah dan membunuh. Mereka tidak memiliki belas kasihan dan tidak mengenal kata peringatan.

​Melihat ada penghalang di jalur konvoi kerajaan mereka, prosedur militer mereka segera aktif.

​Salah seorang komandan prajurit mengangkat tangannya. Moncong meriam raksasa yang berada di sisi lambung kastil siput itu berputar perlahan. Suara logam bergesekan terdengar nyaring. Laras meriam itu kini mengarah lurus tepat ke arah haluan kapal kayu yang ditumpangi oleh Madara.

​“Tuan! Mereka mengarahkan meriam ke kapal kita!” teriak Robin. Kepanikan mulai mewarnai suaranya.

​Para kru di geladak belakang mulai berlarian tanpa arah. Mereka mencari tempat untuk bersembunyi di balik tong kayu atau ruang penyimpanan di bawah geladak. Mereka tahu bahwa satu tembakan dari meriam kerajaan Germa akan mengubah kapal kayu kecil mereka menjadi serpihan kayu bakar dalam sekejap.

​Madara tidak beranjak dari posisinya.

​Dia masih duduk bersila, bersandar dengan nyaman di ujung haluan. Lengannya disilangkan di depan dada. Dia menatap laras meriam raksasa yang mengancamnya dengan pandangan yang luar biasa bosan.

​Tidak ada negosiasi. Tidak ada bendera peringatan. Pasukan siput itu langsung memilih jalan kekerasan kepada siapa pun yang menghalangi jalan mereka.

​Itu adalah tindakan yang sangat arogan. Dan jika ada satu hal di dunia ini yang paling dibenci oleh seorang Uchiha Madara, itu adalah melihat pihak lain bertindak lebih arogan daripada dirinya.

​Suara ledakan keras meletus dari atas kapal siput raksasa tersebut.

​Kilatan api menyembur dari laras meriam. Udara di sekitar moncong senjata itu terdistorsi akibat suhu panas yang dihasilkan dari pembakaran mesiu berkualitas tinggi. Suara dentuman meriam itu bergema sangat kuat, menembus kabut dan menggetarkan air laut di sekitarnya.

​Sebuah peluru peledak berwarna hitam pekat berukuran sebesar tubuh manusia dewasa melesat membelah udara.

​Peluru itu membawa momentum yang sangat mematikan. Bentuknya dirancang khusus untuk menembus lambung kapal kayu musuh sebelum meledak dari dalam, memastikan kehancuran total. Peluru itu meluncur turun dari ketinggian, mengarah lurus menembus kabut, tepat menuju posisi haluan kapal di mana Madara dan Robin berada.

​Jeritan histeris pecah dari para kru bajak laut di belakang. Beberapa dari mereka menutup telinga dan menjatuhkan diri ke lantai, menunggu kematian menjemput mereka. Robin mengepalkan kedua tangannya, bersiap untuk memunculkan lengan-lengan ilusi untuk mencoba mengubah arah peluru itu, meskipun dia tahu usahanya mungkin sia-sia.

​Namun, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Madara.

​Kenbunshoku tingkat dasar yang dia miliki telah membaca niat prajurit Germa bahkan sebelum meriam itu ditembakkan. Dia tahu kapan sumbu meriam dinyalakan. Dia tahu dengan pasti lintasan, kecepatan, dan massa dari proyektil logam yang sedang terbang ke arahnya.

​Bagi mata biasa, peluru itu melesat terlalu cepat. Bagi Madara, peluru itu melayang dengan kecepatan yang sangat mudah ditebak.

​Dia tidak perlu merapal jutsu. Dia tidak perlu membuang chakra untuk menciptakan dinding pertahanan. Menghadapi senjata primitif seperti ini tidak pantas untuk diselesaikan dengan kekuatan sejati seorang shinobi.

​Madara hanya membuka kedua matanya.

​Iris hitamnya berubah dalam sepersekian detik. Warna merah darah menyapu bola matanya. Tiga tanda koma hitam muncul dan mengunci pandangannya pada peluru peledak tersebut. Sharingan.

​Dengan gerakan yang terlihat sangat malas dan tidak bertenaga, Madara menggeser kaki kanannya yang sedang bersila.

​Di dekat ujung haluan, beberapa meter dari tempatnya duduk, terdapat sebuah tong kayu berukuran sedang. Tong itu sengaja diletakkan di sana dan diisi dengan air laut oleh para kru untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran ringan di geladak depan.

​Madara menjulurkan kaki kanannya. Dia menendang bagian bawah tong kayu tersebut.

​Itu bukanlah tendangan berkekuatan penuh. Itu hanyalah sebuah dorongan fisik yang dihitung dengan presisi matematika tingkat dewa, dilapisi oleh sedikit aliran chakra murni agar tong kayu itu tidak hancur saat ditendang.

​Tong berisi air laut itu terlempar ke udara.

​Tong itu berputar dengan kecepatan tinggi, terbang melayang menjauhi haluan kapal, membentuk sebuah lintasan parabola yang memotong lurus garis tembak peluru meriam Germa.

​Tepat pada jarak dua puluh meter di depan haluan kapal, di udara yang diselimuti kabut tipis.

​Brak.

​Peluru meriam berbahan logam berat itu bertabrakan secara frontal dengan tong kayu berisi air laut yang melayang di udara.

​Dampak tabrakan itu memicu mekanisme ledakan di dalam proyektil Germa.

​Sebuah ledakan api raksasa meletus di tengah udara. Suara dentuman yang memekakkan telinga mengguncang kabut di sekitarnya. Asap hitam mengepul tebal, menyembunyikan kilatan api yang membakar oksigen.

​Namun karena peluru itu meledak di tengah udara setelah menghantam tong yang berisi penuh air laut, daya ledaknya tidak terarah ke kapal Madara. Air laut di dalam tong kayu itu menyerap sebagian besar panas dan pecahan logam dari ledakan tersebut.

​Ledakan itu menghempaskan air laut ke segala arah.

​Hujan air asin buatan turun dengan deras, mengguyur area di sekitar haluan kapal. Tetesan air laut memadamkan sisa-sisa percikan api di udara, menghasilkan suara mendesis saat air bertemu dengan udara panas.

​Serpihan kayu dari tong yang hancur jatuh berserakan di atas geladak bersamaan dengan serpihan cangkang logam peluru yang telah kehilangan daya rusaknya.

​Asap sisa ledakan perlahan tersapu oleh angin laut.

​Kapal Bajak Laut Taring Berkarat masih utuh. Tidak ada satu pun lubang pada lambung kapalnya. Tiang layarnya masih berdiri kokoh.

​Di ujung haluan, Madara masih duduk di posisinya. Tidak ada satu pun serpihan ledakan yang berhasil menyentuh kulit atau armornya. Beberapa tetes air asin sisa ledakan jatuh menimpa pelindung dada merahnya, namun dia sama sekali tidak peduli.

​Robin yang masih berdiri di belakangnya menahan napas. Dia menatap keajaiban yang baru saja terjadi. Pemuda itu hanya menendang sebuah tong air. Sebuah gerakan kecil yang terlihat sangat meremehkan, namun berhasil menggagalkan tembakan artileri dari kerajaan militer terkuat di North Blue.

​Para kru bajak laut di geladak belakang perlahan mengangkat kepala mereka. Saat mereka melihat kapal mereka masih utuh dan sang kapten masih duduk diam di haluan, mereka semua langsung bersujud sambil menangis histeris. Mereka memuja kekuatan dewa yang telah menyelamatkan nyawa mereka dari kematian yang pasti.

​Di atas kastil siput Germa 66, para prajurit klon yang bertugas di menara meriam memandang ke bawah dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka melihat target mereka masih berlayar dengan tenang. Prosedur standar mereka mengharuskan mereka untuk mengisi ulang peluru dan menembak kembali hingga target hancur.

​Tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan seekor monster yang sedang tidur.

​Madara perlahan menurunkan kaki kanannya. Dia mengubah posisi duduknya, berdiri dengan sangat tenang di atas pagar haluan kapal.

​Angin laut bertiup semakin kencang, mengibarkan rambut hitam panjangnya.

​Mata merah Sharingan yang menyala di wajahnya menatap lurus ke arah kastil besi di atas cangkang siput raksasa. Pandangannya menembus jarak, mengunci target pada para prajurit berseragam yang berani mengusik ketenangannya.

​Dia tidak pernah memulai pertarungan tanpa alasan. Tetapi jika ada yang melemparkan senjata ke arah wajahnya, maka itu adalah undangan terbuka untuk sebuah pembantaian.

​Madara menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Hawa membunuh yang sangat pekat dan dingin mulai menguar dari tubuh remajanya, menekan udara di sekitar kapal hingga terasa membeku.

​“Mereka berani mengganggu ketenanganku dengan kembang api murahan?”

​Suara Madara keluar berdesis. Nada suaranya sangat pelan, namun mengandung racun keangkuhan yang mematikan. Dia menatap armada siput raksasa itu seolah-olah dia sedang menatap tumpukan kayu bakar yang siap untuk dinyalakan.

​Sebuah senyuman haus darah terbentuk di bibir Madara.

​“Kalau begitu, biarkan aku mengajari siput-siput jelek ini tentang seni bertarung yang sesungguhnya.”

​Mata tiga Tomoe di wajah Madara berputar semakin cepat. Chakra Jonin Elit di dalam tubuhnya mulai bergejolak, bersiap untuk meledak dan mengukir sejarah baru di perairan utara. Waktu bermain dengan mafia kecil dan agen rahasia kelas teri telah usai. Sang Hantu Uchiha kini siap menari di panggung militer dunia.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!