NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Serbuan Trio Srikandi dan Reuni Cewek

Suasana pagi di kediaman Dimas dan Kiara yang tenang mendadak pecah oleh klakson mobil bergaya ritmis

TIN-TIN-TIN!

Belum sempat Dimas melangkah ke pintu depan, suara corong toa mini mainan mendadak menggema dari balik pagar:

"PERHATIAN-PERHATIAN! PASUKAN PEMBERANTAS FITNAH DAN PEMBURU DISKONAN SUDAH TIBA DI LOKASI! HARAP BAPAK DIMAS DAN BUNDA KIARA BUKA PINTU DALAM HITUNGAN TIGA!"

Dimas sampai tersedak teh hangatnya, sementara Kiara yang sedang memotong buah mangga langsung tertawa lepas sambil menggelengkan kepala.

BRAK!

Pintu pagar terdorong lebar. Tamara masuk memimpin barisan dengan kacamata hitam di atas kepala, membawa buket bunga raksasa dari kerupuk kaleng dan pita merah.

Di belakangnya, Widya melangkah anggun membawa dua kotak kue sus vla berukuran jumbo, disusul Aini yang menggendong keranjang pikinik berisi aneka camilan.

"SURPRISEEE BUNDA KIARA SAYANGKU!" teriak Tamara heboh. Ia langsung menghambur, menubruk Kiara hingga buket kerupuknya berderet rame.

Kiara yang masih memegang lap dapur selesai memotong buah mangga sampai melongo di ambang pintu. "Kalian?! Kok nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba sampai rumah?!"

"Lho! Ya harus datang dong!" Tamara langsung menyerobot masuk, memeluk Kiara erat-erat.

"GILA YA! Gue dari kemarin udah gatal banget mau meluncur! Pas tahu kamu bantai si Rendy itu di depan tim pengawas pakai bukti CCTV... ASTAGA KIARA! Kamu itu bukan cuma Konsultan Hukum, kamu itu Avengers versi kebaya!"

Widya ikut memeluk Kiara erat-erat, matanya berbinar haru.

"Lega banget, Ra. Kita bertiga sampai nggak bisa tidur pas denger rumornya. Begitu dapat kabar nama Mas Dimas bersih total, Tamara langsung bikin grup WhatsApp khusus jam dua malam buat rencana penggerebekan hari ini."

Aini tersenyum manis seraya menyalami Dimas yang menghampiri ke ruang tamu.

"Maaf ya Mas Dimas, pagi-pagi rumahnya jadi rusuh. Mas Daffa yang ngasih tahu kalau Mas Dimas sama Kiara lagi libur hari ini."

Dimas tertawa lebar, menepuk jidatnya.

"Gak apa-apa, Aini. Rumah ini memang butuh energi heboh kayak gini setelah seminggu tegang. Ayo duduk, duduk!"

Tamara langsung menunjuk Dimas pakai kerupuk kaleng.

"Mas Dimas! Mas harus bersyukur punya istri kayak Kiara! Kalau bukan Kiara yang turun tangan, belum tentu si pelaku ngaku sambil nangis berlutut begitu!"

"Iya, Mbak Tamara. Saya sadar betul kok," balas Dimas sambil tersenyum tulus menatap Kiara.

"Saya ini suami paling beruntung di dunia."

"Oia Mas Dimas.....Kiara kami culik dulu y....Mas Dimas jaga Rayyan d rumah aja..." lanjut Tamara

"Siaaapz Mb Tamara....jangan kuatir...Rayyan aman sama saya....silahkan nikmatin waktu kalian sepuasnya" jawab Dimas sambil tertawa...

...***...

Siang harinya, untuk melengkapi acara jalan-jalan mereka, Kiara dan geng sahabatnya juga mengajak Menik!

Pemandangan di bawah rindangnya pohon mangga Kafe Kebun siang itu jadi sangat unik.

Di satu meja panjang bernuansa kayu asri, berkumpullah lima wanita hebat dengan latar belakang yang saling melengkapi: Kiara, Tamara, Widya, Aini, dan Menik (yang menggendong Arkan dengan tenang).

Pemandangannya benar-benar kontras dan menggemaskan: Kiara yang tegas elegan, Tamara yang serba modis dan heboh, Widya yang anggun berkelas, Aini yang manis dan tenang, serta Menik yang tampil lembut khas Jawa sambil memangku bayi Arkan yang tenang.

"Duh... gemes banget sama Arkan!" seru Tamara sambil mencubit pelan pipi bayi Arkan. Matanya lalu melirik Menik dari atas ke bawah.

"Tapi sebentar deh... Menik, kamu ini beneran habis melahirkan tiga bulan lalu?! Kok perut sama pinggang bisa langsung setipis kertas begini sih? Pakai susuk kecantikan Jawa ya?!"

Menik tertawa renyah, mukanya memerah merona.

"Aduh Mbak Tamara ini... mboten kok. Cuma rajin minum jamu beras kencur buatan simbok sama telaten momong Arkan dan Nabila. Mas Arga juga rajin bantu megang Arkan kalau malam."

"Tuh kan! Arga sekarang idaman banget!" potong Aini bersemangat.

"Mas Daffa aja di rumah sering cerita, sekarang Arga kalau habis latihan Harmony EO langsung pulang, gak pernah mau nongkrong kelamaan. Katanya kangen masakan Menik."

"Ah, masa sih Aini?" tanya Menik tersipu malu.

"Beneran!" sahut Kiara ikut menimpal.

"Tapi ngomong-ngomong soal cowok... nih dua ratu jomblo kita, Tamara sama Widya, kapan mau nyusul? Masa tiap kita kumpul ceritanya soal suami sama anak terus?" goda Kiara

Widya yang sedang meminum ice matcha-nya hampir tersedak. Ia tertawa anggun. "Aduh Kiara... jangan mulai deh. Gue masih menikmati karier dan kebebasan."

"Alasan!" tembak Tamara cepat.

"Padahal kemarin pas ke studio bareng Aini, mata Widya gak berenti ngelirik ke arah mas-mas konsultan keuangan yang kaku itu! Siapa namanya, Ni? Mas Fahri ya?!"

"EH!" muka Widya seketika berubah merah padam bagaikan udang rebus.

"Tamara! Jangan ngarang ya!"kilah Widya

"WKWKWK! Bener kan?!" gelak tawa Tamara pecah memecah kafe

"Gue liat sendiri! Widya yang biasanya dingin kayak es kutub, mendadak senyum-senyum sendiri pas dibahas rasio investasi!"

Suasana meja itu mendadak heboh luar biasa dengan derak tawa lima sahabat yang melepas rindu.

...***...

Niat awal cuma jalan-jalan santai, tapi berkat ide kompor dari Tamara, kelima Srikandi ini meluncur melakukan "Inspeksi Mendadak" ke Studio Harmony tanpa pemberitahuan sama sekali!

BLAR!

Pintu studio akustik kedap suara terdorong lebar oleh hantaman kaki Tamara. Suara corong toa mini mainan kembali meraung membelah ruangan, kali ini ditambah efek suara sirine tet-tot-tet-tot nyaring dari aplikasi ponselnya!

"PENGGEREBEKAN KUALITAS HIDUP KELUARGA! SEMUA HARAP TURUNKAN INSTRUMEN DAN TANGAN DI ATAS KEPALA!" teriak Tamara dengan vokal melengking.

Bagas yang sedang berdiri di atas kursi kayu demi meraih kabel mic di langit-langit mendadak kaget setengah mati. Kakinya tergelincir, lalu...

GUBRAK!

BRUK!

Bagas jatuh terlentang tepat menimpa simbal drum yang berdentang nyaring

"ASTAGHFIRULLAHAL'ADZIM! YAA ALLAH!" jerit Bagas memegangi pinggangnya dengan muka pucat pasi.

"Mbaak Tamara! Gue kira Satpol PP gabungan sama Paspampres! Pinggang gue bisa geser ini!"keluh Bagas

Arga yang duduk di depan panggung kecil sampai melongo melihat barisan lima cewek masuk membawa tas belanjaan dan makanan.

Daffa yang sedang meminum es teh manis langsung tersedak hebat sampai airnya keluar dari hidung. Daffa terbatuk-batuk sambil menunjuk-nunjuk istrinya.

"Aini... Aini kok ikut-ikutan jadi rombongan begal studio begini sih?"

Aini hanya tersenyum manis tanpa dosa sambil mengedipkan mata.

"Biar Mas Daffa nggak bosan latihan terus."

Suasana studio seketika berubah kacau penuh derak tawa. Tamara tidak tinggal diam; ia langsung beraksi bagaikan juri ajang pencarian bakat. Ia berjalan memutari studio, menginspeksi tiap sudut hingga pandangannya terkunci pada Rendra yang sedang mengatur kabel lighting di atas tangga portable.

"Mas Rendra!" panggil Tamara sambil menunjuk memakai toa mini.

"Itu pencahayaan spotlight warna kuning di pojok kenapa suram banget? Mau bikin konser akustik apa mau bikin acara uji nyali misteri?!"

Rendra yang tinggi tegap dan biasanya berwajah dingin kaku, mendadak hampir terpeleset di anak tangga.

Pria itu menoleh, dan seketika wajahnya merona merah padam sampai ke telinga.

"E-eh... Mbak Tamara? Itu... belum disetel voltasenya..."

"Sini turun! Biar saya yang bantu stel voltase hati kamu!" tembak Tamara tanpa rem.

"WKWKWK! ASEEEEEK!" seru Bagas dan Daffa kompak sambil menepuk-nepuk paha mereka heboh.

Sementara itu, Fahri yang duduk rapi membawa laptop dan kalkulator di sudut meja makin salah tingkah.

Widya melangkah mendekatinya dengan gaya anggun, namun tatapan matanya mengunci penuh percaya diri.

"Mas Fahri," sapa Widya lembut.

"Laporan arus kas Harmony EO bulan ini aman kan? Atau butuh pendampingan analisis dari saya?"

Fahri membetulkan letak kacamatanya lima kali berturut-turut karena panik.

"A-aman, Mbak Widya. Tapi kalau Mbak Widya mau dampingi... saya tidak akan menolak..."

Melihat situasi emas itu, Daffa langsung menyambar gitar listriknya dan Bagas memetik bass-nya, memainkan melodi lagu romantis dengan gaya groove kocak sebagai musik latar otomatis untuk Fahri dan Widya!

"UHUY! LANJUTKAN MAS FAHRI! JANGAN KASIH KENDOOOR!" goda Daffa sambil menaikkan alisnya naik-turun.

Di sudut teras, Arga mengambil alih bayi Arkan dari pelukan Menik. Pria tegap itu merangkul pinggang istrinya rapat-rapat, menikmati riuhnya tawa, godaan, dan kehangatan sahabat-sahabat mereka yang memenuhi seluruh sudut Studio Harmony malam itu.

"Ramai banget ya, Dek," bisik Arga di telinga Menik.

Menik mengangguk bahagia, menyandarkan kepalanya di bahu Arga.

"Ramai dan hangat banget, Mas. Kebahagiaan mereka semua... kerasa sampai ke hati Menik."

Malam itu ditutup dengan makan bakso bakar bersama di pelataran studio. Petikan gitar akustik dari Daffa dan ketukan dari Arga mengiringi tawa renyah lima srikandi yang tak henti-hentinya membuat malam di Kelurahan Damai terasa begitu bernyawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!