NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Perempuan dari Masa Lalu

Vanya menatap Keisha dari balik pintu yang terbuka setengah.

"Jadi kamu Keisha," katanya.

Suaranya lembut, hampir ramah. Justru itu membuat kewaspadaan Keisha naik.

"Dan kamu Vanya. Ada keperluan apa datang selarut ini?"

Senyum Vanya melebar sedikit. "Aku ingin bertemu Mas Arya. Rumah ini dulu sangat akrab bagiku."

Bu Yati bergerak tidak nyaman di belakang Keisha. Sebelum jawaban keluar, petugas gerbang berbicara lewat interkom. Tamu tidak terdaftar tidak boleh masuk melewati teras setelah jam kunjung, terutama sejak insiden keamanan Keisha.

"Mas Arya tidak di rumah," kata Keisha. "Kalau ada urusan, hubungi dia langsung."

"Nomorku mungkin masih diblokir." Vanya melirik ke bagian dalam rumah. "Tidak apa-apa. Aku sudah melihat yang perlu kulihat."

Ia mundur. Tangan yang tadi tersembunyi kembali masuk ke sisi tubuhnya sebelum Keisha sempat melihat siapa atau apa yang berada di balik pilar teras.

"Sampaikan kepada Mas Arya bahwa aku datang," katanya, lalu berjalan menuju mobil.

Keisha menutup pintu dan mengunci kembali. Pesannya kepada Arya belum terbaca.

Malam itu mereka baru sempat berbicara lewat telepon. Arya menerima panggilan dinas mendadak dan harus menjalani pemeriksaan kesiapan di markas.

"Dia tidak masuk rumah," kata Keisha. "Aku juga tidak memberinya informasi apa pun."

"Bagus. Aku akan pulang sebelum Subuh."

"Bahumu belum boleh dipakai latihan berat."

"Hanya pemeriksaan dan pengarahan."

"Kalau perbannya basah lagi, saya lapor ke Firdaus."

"Ancaman diterima, Dokter."

Arya meminta Keisha meneruskan rekaman interkom dan waktu kedatangan Vanya. Ia lalu menghubungi petugas gerbang agar nama Vanya tidak otomatis mendapat akses hanya karena pernah dikenal keluarga.

"Menurutmu akun anonim itu miliknya?" tanya Keisha.

"Kemungkinannya besar, tapi kita tetap perlu bukti digital. Jangan tuduh lewat pesan. Simpan semuanya."

"Kamu sangat tenang menghadapi mantan yang datang ke rumah tengah malam."

"Aku tidak tenang." Suara Arya merendah. "Aku sedang berada jauh ketika seseorang yang sudah mengganggumu berdiri di depan pintu."

Keisha mencengkeram ponsel sedikit lebih erat.

"Aku aman. Bu Yati dan petugas ada di sini."

"Tetap kunci pintu kamar. Kalau ada gerakan mencurigakan, telepon keamanan dan aku. Urutannya boleh dibalik kalau kamu mau."

Kekhawatiran yang berusaha disamarkan sebagai prosedur itu menghangatkan dada Keisha.

Keisha hampir tersenyum. Setelah panggilan berakhir, rumah terasa terlalu sunyi.

Pagi berikutnya, Arya duduk di meja makan dengan seragam yang belum dikenakan lengkap. Kemeja dinasnya tertutup jaket sipil agar tidak menarik perhatian di luar. Wajahnya menunjukkan ia hanya tidur sebentar.

Keisha menuangkan teh tanpa berani terlalu lama menatap bibirnya.

"Vanya benar-benar datang hanya untuk melihatku," katanya.

"Itu bukan alasan yang wajar untuk datang malam-malam."

"Dia bilang rumah ini dulu akrab baginya."

Tangan Arya berhenti di atas piring. "Dia pernah datang bersama Bunda untuk acara keluarga. Tidak pernah tinggal di sini."

"Aku tidak bertanya apakah dia pernah tinggal."

"Aku sedang mencegah kesimpulan lain."

Keisha mengoleskan sambal terlalu banyak ke nasi karena gugup. "Saya tidak menarik kesimpulan apa pun."

"Kamu memakai sambal untuk tiga orang."

"Saya suka pedas."

"Kamu sedang marah."

"Tidak."

Arya menggeser segelas air ke arahnya. "Kalau begitu habiskan."

Keisha menggigit satu suap dan langsung terbatuk. Arya menahan tawanya sambil menepuk punggungnya pelan setelah Keisha mengangguk memberi izin.

Bu Yati datang membawa buah. "Kalian sudah seperti pasangan yang menikah bertahun-tahun. Bertengkar soal mantan sebelum sarapan."

"Kami tidak bertengkar," jawab keduanya bersamaan.

Bu Yati tersenyum lebar dan kembali ke dapur.

Ponsel Arya berdering. Begitu melihat layar, seluruh kehangatan di wajahnya hilang. Ia berdiri dan menjawab dengan suara resmi.

"Siap. Saya berangkat sekarang."

Keisha ikut berdiri. "Ada masalah?"

"Aku dipanggil kembali ke markas. Ada evaluasi yang harus ditangani."

"Dengan bahu seperti itu?"

"Aku tidak turun ke lapangan."

Arya meraih tasnya, lalu berhenti di depan Keisha. Tatapannya turun sejenak ke bibir Keisha sebelum kembali ke mata.

"Jangan buka pintu untuk Vanya kalau dia datang lagi. Hubungi aku."

"Aku bisa menanganinya."

"Aku tahu. Ini permintaan, bukan perintah."

Keisha mengangguk. "Baik."

Belum sempat Arya keluar, ponsel Keisha berdering. Herman menelepon.

"Minggu depan datang ke Surabaya," katanya tanpa salam. "Ada rapat dengan pihak yang akan mengambil alih beberapa aset Griya Anindita. Kalau kamu masih ingin biaya perawatan Anindita aman, tanda tangani persetujuan saham dan cabut laporanmu."

"Kirim undangan rapat, daftar aset, dasar kepemilikan, dan draf transaksinya kepada pengacara saya. Saya tidak akan datang untuk menandatangani dokumen buta."

"Jangan merasa kuat hanya karena menikah dengan tentara."

"Dan Pak Herman jangan merasa bisa menjual perusahaan Mama tanpa pertanggungjawaban."

Keisha memutus sambungan, tetapi ancaman Surabaya menambah beban baru di kepalanya.

Arya telah mendengar sebagian percakapan. "Jangan pergi sendiri."

"Belum tentu saya pergi."

"Kalau kamu harus pergi, kita siapkan pendamping hukum."

Ia tidak berkata akan membereskan semuanya. Ia mengatakan kita.

Keisha mengangguk lagi.

Mereka berjalan ke teras. Sebuah mobil hitam terparkir di luar gerbang cluster. Kaca belakangnya gelap, tetapi Bu Yati yang menyusul langsung berhenti.

"Itu mobil perempuan semalam," bisiknya. "Sepertinya dia mengenal Mas Arya."

Arya menatap mobil tersebut dengan wajah dingin. Sebelum ia mendekat, kaca belakang turun beberapa sentimeter.

Vanya terlihat di dalam, rapi dan tenang. Ia tidak memandang Keisha. Tatapannya hanya tertuju kepada Arya.

"Bu Yati," katanya dengan senyum manis, "tolong sampaikan kepada Arya, Vanya sudah pulang."

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!