Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Rencana busuk Ruby
Siang itu, panasnya daerah Ring Road benar-benar tidak santai. Aspal seperti dipanggang, udara terlihat bergetar, dan jalanan sepi hanya sesekali dilewati truk kontainer.
Tiba-tiba, mobil putih Ruby mendadak batuk-batuk, "krek-krek", lalu mati total. Semua lampu indikator di dashboard langsung menyala.
"Sialan! Kenapa harus sekarang, sih?!" umpat Ruby sambil memukul setir.
Ia mencoba menyalakan mesin lagi. Nihil. Hanya terdengar suara "cekek" yang bikin makin panik. Pas tengok kanan-kiri, cuma ada semak-semak dan pagar gudang tua. Bengkel atau pos polisi? Sama sekali tidak ada.
Dengan emosi meluap, ia keluar dan membuka kap mobil. Asap tipis berbau kabel terbakar langsung menyengat hidungnya. Ruby makin cemberut. Ia tidak tahu-menahu soal mesin. Prinsipnya simpel: mobil itu tugasnya jalan, titik.
Jari-jarinya yang gemetaran langsung menekan nomor ayahnya.
"Papa..." ujar Ruby sok lemah begitu tersambung. "Mobil aku mogok di Ring Road, dekat gudang bekas."
Suara Daniel di seberang terdengar sibuk, terikat suasana meeting. "Papa lagi rapat sama investor, Sayang. Paling sejam lagi baru bisa ke sana. Tunggu di dalam mobil ya, kunci pintunya."
"Sejam?! Panas banget, Pa!" protes Ruby, suaranya langsung naik. "Nggak mau, aku bisa pingsan!"
Tanpa menunggu jawaban Daniel, ia mematikan telepon. Keringat mulai membasahi leher dan punggungnya. Makeup-nya pun mulai luntur. Otaknya berputar cepat mencari penyelamat, seseorang yang tidak akan pernah menolaknya.
Satu nama muncul: Altair.
Ruby yakin cowok itu masih punya rasa. Dulu, secepat apa pun Ruby butuh bantuan, Altair pasti sampai dalam 15 menit. Altair yang dulu selalu panik kalau ada apa-apa dengannya.
Dengan penuh percaya diri, ia mengirim pesan:
Al, mobil aku mogok di Ring Road. Tolong ya.
1 menit... 3 menit... 5 menit. Tidak ada centang biru, apalagi balasan.
"Datang dong..." gumam Ruby sambil gigit bibir, duduk di atas kap mobil yang hangat. Egonya tetap yakin Altair pasti datang.
Sepuluh menit kemudian, derum mesin berkarakter berat terdengar mendekat. Sebuah Ducati merah berhenti tepat di sampingnya, menerbangkan sedikit debu.
Altair melepas helm. Rambutnya basah oleh keringat. Wajahnya datar, tanpa senyum, tanpa sapaan manis. Tatapannya dingin, bak melihat orang asing.
Ruby langsung memasang mode korban. Matanya berkaca-kaca. "Al... makasih ya udah datang. Aku kira kamu nggak mau."
Altair tidak bergeming. Ia turun, melangkah ke depan mobil, dan membuka kapnya dengan sekali hentakan. Tanpa sepatah kata pun, ia mengecek aki, kabel, hingga radiator menggunakan alat kecil dari saku jaketnya. Tangan dan bajunya seketika kena oli hitam.
Ruby berdiri di sampingnya, berharap Altair akan bilang kangen atau setidaknya bercanda seperti dulu Mobil kamu lagi PMS, ya? Tapi tidak ada. Altair benar-benar mengabaikannya.
Rasa kesal mulai menyelimuti dada Ruby.
"Aku minta tolong kamu karena cuma kamu yang paham soal mesin," bisik Ruby mencoba mencairkan suasana.
Altair diam, makin fokus melepas kabel aki.
Ruby nekat mendekat dan mengelus lengan Altair. "Udah lama ya nggak ketemu... kamu makin kekar."
Plak.
Altair menepisnya. Cepat dan tegas.
"Jangan sentuh gue," potong Altair dingin. Ia menutup kap mobil dengan bunyi "dug" yang keras. "Akinya soak total. Harus ganti, nggak bisa di jumper"
Altair melepas sarung tangannya dan bersiap pergi. Ruby yang belum menyerah, mengambil tisu dari tas mewahnya untuk mengelap oli di pipi Altair. Namun lagi-lagi, Altair menepisnya.
"Lo nggak tuli, kan?" bisik Altair dengan tatapan tajam yang membuat Ruby merinding seketika.
"Trus kenapa kamu datang kalau benci banget sama aku?!" seru Ruby, mulai sakit hati.
Altair menatapnya lurus. "Gue cuma mau kasih tahu: jangan pernah minta tolong atau hubungi gue lagi. Gue nggak mau istri gue cemburu cuma gara-gara hal nggak penting kayak gini."
Ruby tertawa pahit. "Dia nggak bakal cemburu, Al! Dia cuma nikah sama kamu karena terpaksa. Kamu itu cuma pelarian!"
"Tahu apa lo soal istri gue?" nada Altair menajam. "Lo nggak tahu gimana kehidupan kita sekarang. Dia berisik, manja, bikin pusing tiap hari. Tapi dia berhasil bikin gue lupain cewek kayak lo. Dia berhasil bikin gue betah pulang."
"Secepat itu kamu lupain aku? Kita empat tahun, Al!" air mata Ruby menetes, kali ini sungguhan.
"Terserah lo mau percaya atau enggak," jawab Altair santai sambil menaiki motornya. "Orang yang paling mau gue lindungi sekarang cuma Aquilla. Jadi, mending hidup masing-masing. Lo sibuk sama tunangan kaya lo, gue sibuk sama istri cantik gue."
"Aku masih sayang sama kamu, Al!" jerit Ruby seraya memegang erat jok motor Altair.
Altair kembali turun, menatap Ruby dari jarak dekat. "Lo duluan yang ninggalin gue demi harta. Lo yang pilih uang dan status. Sekarang gue udah nyaman sama Aquilla."
"Aku dipaksa Papa!" kilat Ruby membela diri. "Aku nggak punya pilihan!"
"Bukan," potong Altair tajam. "Lo iri sama Aquilla. Waktu Aquilla masih dikira anak kandung orang tua lo, lo sengaja bongkar identitas aslinya biar bisa gantiin posisinya. Lo nggak pernah kekurangan, Ruby. Tapi lo nggak pernah puas."
Ruby bungkam. Rahasianya ditelanjangi begitu saja.
"Lo sama Evan itu cocok. Sama-sama punya penyakit iri," tambah Altair sebelum menyalakan mesin Ducati-nya dan tancap gas, meninggalkan Ruby dalam kepulan debu.
"Altair! Kamu berubah! Kamu dingin!" teriak Ruby histeris. Ia menendang ban mobilnya sendiri hingga kesakitan. "Kenapa harus Aquilla terus?!"
Tak lama, mobil Daniel tiba. Ayahnya keluar dengan wajah panik dan menghampiri Ruby. "Kamu nggak apa-apa, Sayang? Mobilnya kenapa?"
Ruby menoleh. Matanya merah padam oleh amarah dan dendam.
"Papa," bisik Ruby dengan suara menakutkan. "Aku mau Aquilla hancur. Aku mau dia mati."
Daniel terkejut. "Ruby... jangan ngomong sembarangan."
"Aku nggak bercanda, Pa!" potong Ruby tajam. "Selama Aquilla masih ada, Altair nggak bakal balik ke aku!"
Daniel menghela napas panjang, menatap jalanan kosong bekas rute Altair. "Papa akan pikirkan. Tapi kamu harus tenang dulu. Nyingkirin Aquilla sekarang nggak mudah karena ada Altair yang ngelindungin dia."
Ruby mengusap air matanya kasar. "Kali ini Papa harus berhasil. Pokoknya bikin dia hancur."