Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Krek!"
Suara tulang bergemeretak terdengar keras saat Adit meregangkan badannya di atas kasur kapuk yang tipis.
Dia membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit kamar kayunya yang sudah mulai usang.
Badannya terasa sangat ringan dan segar pagi ini.
Adit bangkit dari kasur dan meremas telapak tangannya sendiri beberapa kali.
"Tenagaku rasanya penuh sekali sampai meluap-luap," guman Adit pelan.
Dia berjalan menuju meja kayu kecil di sudut kamar untuk mengambil gelas minumnya.
"Prang!"
Gelas kaca tebal itu tiba-tiba pecah berkeping-keping begitu jari Adit mencengkeramnya sedikit keras.
Air putih tumpah membasahi lantai papan kayu kamarnya yang berdebu.
Adit terdiam menatap telapak tangannya yang basah namun tidak terluka sama sekali oleh serpihan kaca tajam.
"Kapsul dari sistem itu benar-benar mengubah fisikku secara ekstrem," ucap Adit dalam hati sambil menelan ludah.
Dia sadar dia harus mulai membiasakan diri mengontrol tenaga barunya ini agar tidak merusak barang-barang lain.
Adit segera mengambil lap kain kotor dan membersihkan pecahan kaca di lantai kamarnya.
Setelah selesai, dia membuka pintu dan keluar dari kamar menuju ruang tengah.
Aroma singkong goreng langsung tercium sedap dari arah dapur rumah panggungnya.
Bang Jarwo dan Bang Sopo sedang duduk bersila mengopi di lantai dapur beralas tikar pandan.
"Pagi, Dit," sapa Bang Jarwo sambil mengunyah singkong goreng yang masih panas.
"Pagi, Bang," balas Adit santai lalu ikut duduk bersila di dekat mereka berdua.
Bang Sopo berhenti mengunyah dan menatap wajah Adit dengan dahi berkerut tajam.
"Kamu habis perawatan di salon kota semalaman ya, Dit?" tanya Bang Sopo tiba-tiba.
Adit mengangkat sebelah alisnya kebingungan mendengar pertanyaan absurd pamannya itu.
"Perawatan apanya, Bang? Saya dari semalam tidur mendengkur di kamar terus."
"Tapi kulitmu kelihatan bersih banget hari ini, otot lenganmu juga kayaknya makin gede dan padat," protes Bang Sopo sambil menunjuk lengan Adit.
Adit melirik lengannya sendiri dan memang benar ada perubahan fisik yang cukup mencolok.
"Oh, ini efek sering cuci muka pakai air sumur belakang rumah, Bang, seger banget airnya mengandung mineral tinggi," Adit beralasan sekenanya.
Bang Jarwo mendengus pelan mendengar alasan keponakannya yang terdengar sangat mengada-ada itu.
"Terserah kamu saja lah, Dit, pusing kepala Abang mikirin keanehan di rumah ini."
"Terus hari ini kita mau ngapain kerjaannya?" tanya Bang Jarwo mengubah topik pembicaraan.
"Ayam-ayam raksasa milikmu itu sudah mulai ribut di belakang minta makan dari subuh tadi," tambah Bang Jarwo.
Adit tersenyum simpul mendengar keluhan pamannya tentang ayam sistem tersebut.
"Hari ini kita akan bikin kandang baru yang jauh lebih besar dan canggih, Bang."
"Kandang bambu lagi? Biar Abang yang pergi potong bambunya di kebon Pak RT sekarang," tawar Bang Sopo cepat.
"Bukan kandang bambu, Bang, saya sudah pesan bahan material khusus dari kota semalam."
"Pesan dari mana malam-malam? Kok Abang tidak dengar ada truk material datang antar barang?" tanya Bang Sopo keheranan.
"Truknya datang jam dua pagi tadi, Bang."
"Abang tidurnya ngorok kencang banget jadi tidak dengar suara mesin mobil masuk halaman," jawab Adit berbohong dengan wajah tanpa dosa.
"Ya sudah, ayo kita ke belakang sekarang lihat barangnya," ajak Adit sambil berdiri dari duduknya.
Ketiga pria itu berjalan santai menuju halaman belakang yang sangat luas.
Seratus ekor ayam kampung super tampak berdesakan di dalam kandang bambu sementara buatan mereka kemarin.
"Tok tok tok!"
Suara patukan paruh ayam berukuran raksasa itu ke batang bambu terdengar sangat keras.
"Lihat itu, Dit, bambunya sampai mau jebol dipatuk rombongan siluman ayam ini," keluh Bang Jarwo khawatir.
Adit tidak menjawab dan hanya tersenyum melihat betapa agresifnya ayam ternaknya itu.
Dia berhenti melangkah dan memanggil antarmuka sistem di dalam pikirannya.
"Sistem, keluarkan Cetak Biru Kandang Otomatis dari penyimpanan sekarang," perintah Adit dalam hati.
[Merespons perintah Tuan.]
[Cetak Biru Kandang Otomatis disiapkan untuk segera digunakan.]
[Silakan tentukan area penempatan kandang di lahan Anda.]
Sebuah proyeksi garis kotak berwarna biru transparan yang bercahaya tiba-tiba muncul di pandangan mata Adit.
Proyeksi itu menutupi area kosong seluas lapangan basket di sudut kanan lahan hitam gembur tersebut.
"Di sebelah sana," ucap Adit pelan sambil menunjuk ke arah sudut lahan.
Bang Jarwo dan Bang Sopo kompak menoleh ke arah yang ditunjuk oleh telunjuk Adit.
"Di sana kan cuma tanah kosong melompong, Dit, materialnya mana?" kata Bang Jarwo bingung.
"Tunggu sebentar, Bang, kalian mundur sedikit ke belakang garis kayu ini," pinta Adit dengan nada tenang.
"Terapkan cetak biru sekarang juga," batin Adit memberikan perintah final kepada sistemnya.
[Menerapkan Cetak Biru Kandang Otomatis.]
[Proses konstruksi instan tingkat lanjut dimulai.]
"Wush!"
Angin kencang tiba-tiba berhembus berputar dengan ganas di sudut lahan kosong tersebut.
Debu dan tanah berterbangan tinggi menutupi pandangan mereka selama beberapa detik.
"Uhuk! Uhuk! Angin topan puting beliung dari mana ini pagi-pagi begini?!" batuk Bang Sopo sambil menutup matanya pakai lengan baju.
Perlahan angin puting beliung mini itu mereda dan debu pun turun kembali ke tanah.
Mulut Bang Jarwo ternganga lebar hingga rokok lintingannya jatuh bebas ke tanah tanpa dia sadari.
"Bruk!"
Bang Sopo langsung lemas dan jatuh terduduk di atas tanah hitam gembur melihat pemandangan di depannya.
Di tempat yang tadinya kosong melompong, kini berdiri sebuah bangunan memanjang berdinding baja ringan yang sangat bersih.
Atapnya terbuat dari jejeran panel surya yang berkilauan menyilaukan mata saat ditimpa sinar matahari pagi.
"Ini... bangunan ini turun dari langit pakai sihir ya, Dit?" tanya Bang Sopo dengan suara gemetar ketakutan.
Adit tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kedua pamannya yang sangat berlebihan seperti melihat hantu di siang bolong.
"Itu kandang otomatis yang saya pesan dari kota, Bang, rakitannya canggih kan?"
"Canggih dari hongkong! Bagaimana caranya merakit bangunan baja segede ini dalam hitungan detik?!" teriak Bang Jarwo nyaris histeris.
"Itu namanya teknologi portabel lipat, Bang, kayak tenda kemping tinggal ditarik langsung jadi bangunan," jawab Adit asal mangap mencoba menenangkan.
"Tenda lipat bapakmu! Ini baja ringan sama beton tebal yang tertanam di tanah, Dit!" protes Bang Sopo masih tak percaya dengan akal sehatnya.
"Sudahlah, Bang, jangan terlalu dipikirkan nanti botak rambutnya."
"Yang penting kandangnya sudah jadi rapi, ayo kita pindahkan ayam-ayamnya ke dalam sana."
Adit berjalan santai mendekati bangunan baru itu dan memutar gagang pintu besinya.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.