Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Seperjuangan
Eve masih berdiri di depan papan kecil itu ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu perpustakaan. Bastian yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya langsung menoleh. Eve ikut mengangkat kepala, tetapi sebelum sempat bertanya, Bastian sudah berjalan mendekat dan mengangkatnya kembali ke dalam gendongan.
"Sepertinya kita sudah cukup berkeliling untuk pagi ini, Nona," ujar Bastian sambil membenarkan posisi Eve di lengannya.
Eve mengangguk kecil. Kepalanya masih dipenuhi berbagai hal yang baru saja dilihatnya. Mansion ini ternyata jauh lebih besar daripada yang dia kira, dan sekarang dia bahkan tahu bahwa dirinya tidak bisa membaca tulisan di dunia ini. Setidaknya, masalah itu sudah masuk daftar yang harus dia selesaikan hari ini.
Bastian membawa Eve keluar dari perpustakaan. Mereka melewati beberapa lorong yang sebelumnya sudah dilewati, tetapi kali ini Eve tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Dia lebih sibuk mengingat bentuk huruf yang tadi ditunjukkan Bastian. Kalau besok atau bahkan hari ini dia benar-benar mulai belajar, membaca seharusnya menjadi prioritas.
Begitu mereka mendekati ruang utama, Bastian tiba-tiba memperlambat langkahnya. Di ujung lorong, dua sosok sudah berdiri di sana.
Lucien.
Dan seorang pria yang belum pernah Eve lihat sebelumnya.
Bastian langsung mengubah arah langkahnya dan mendekati mereka. Setelah berada beberapa langkah di depan Lucien, dia menundukkan kepala.
"Maaf membuat Anda menunggu, Yang Mulia Duke," ujar Bastian dengan sopan. "Saya terlambat karena tadi mengantar Nona Eve berkeliling kediaman."
Lucien mengalihkan pandangannya kepada Eve yang masih berada dalam gendongan Bastian. Tatapannya turun sebentar, lalu kembali kepada kepala pelayannya.
"Tidak masalah," jawabnya singkat. Pria itu kemudian kembali memusatkan pandangannya kepada Eve yang masih berada dalam gendongan Bastian.
"Kau sudah selesai berkeliling?"
Eve mengangguk.
"Uda."
"Apa yang paling kau sukai?"
Eve berpikir sebentar. Ruang pameran? Dapur? Atau perpustakaan?
Jawabannya sebenarnya jelas.
"Pelpustataan."
Lucien mengangkat alis tipis. "Perpustakaan?"
Eve mengangguk lagi dengan semangat.
"Banyat butu."
Lucien tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya sempat beralih kepada Bastian, seolah memastikan apa yang mereka lakukan selama berkeliling.
"Dia juga menemukan papan katalog di perpustakaan," jelas Bastian. "Nona belum dapat membacanya."
Eve langsung menoleh.
"Bactiyan!"
Bastian hanya tersenyum kecil.
Lucien kembali memandang Eve. "Karena itu kau akan belajar mulai hari ini."
Eve terdiam.
Eve memperhatikan Lucien dari pelukan Bastian. Entah kenapa, melihat pria itu lagi setelah pagi yang tenang tanpa dirinya membuat Eve merasa sedikit kehilangan suasana damai yang tadi sudah dia nikmati.
Namun perhatian Eve segera beralih kepada pria yang berdiri di samping Lucien.
Rambutnya panjang dan berwarna terang, diikat rapi di belakang kepala sehingga beberapa helai rambut tetap jatuh di sisi wajahnya. Wajah pria itu tampan, tetapi pada saat yang sama memiliki garis wajah yang begitu halus sampai sekilas Eve hampir mengira dia sedang melihat seorang wanita. Matanya berwarna hijau emerald muda, salah satu matanya tertutup monokel kecil yang terpasang rapi, sementara telinganya terlihat sedikit lebih panjang dan sedikit runcing dibandingkan manusia biasa.
Eve terdiam.
Matanya membesar.
'...Hah?'
Dia menatap pria itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bahkan dari penampilannya saja sudah cukup membuat ingatan Eve bekerja dengan cepat. Eve pernah membaca tentang tokoh ini.
Dia bukan karakter utama. Bukan pula bagian dari keluarga Valois. Namun namanya cukup sering muncul di bagian tertentu dalam novel karena dia merupakan salah satu pria yang mengejar perhatian Seraphina.
Eve mencoba mengingat namanya.
Nama itu cukup unik, bahkan sulit dilupakan setelah beberapa kali muncul di dalam cerita.
'Elyndor.'
Eve menelan ludah kecil.
'Elf itu beneran ada di sini?bukannya harusnya masih lama ya? kalau sesuai dengan cerita?'
Elyndor sendiri tampaknya belum menyadari bahwa sejak tadi sedang diperhatikan oleh seorang anak kecil. Dia justru sedang berbicara dengan Lucien, meskipun ekspresinya perlahan berubah menjadi tidak percaya setelah mendengar sesuatu dari pria di sampingnya.
Lucien kemudian mengalihkan perhatian kepada Eve.
Utnuk menghindari tatapan Lucien, Eve akhirnya memasang wajah polos dan memiringkan kepala sedikit.
"Dia ciapa?" tanyanya kepada Bastian dengan suara cadel.
Bastian tampak hendak menjawab, tetapi Lucien lebih dulu membuka suara dari dekat jendela.
"Elyndor."
Satu kata itu membuat Eve langsung menatap Lucien.
"Eve."
Eve langsung menoleh.
"Ya?"
"Mulai hari ini, Elyndor akan menjadi tutormu."
Eve berkedip. Dia kemudian menoleh kembali kepada pria berambut panjang itu.
"...?"
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Elyndor bahkan terlihat lebih terkejut daripada Eve. Alisnya terangkat, dan tangannya yang tadi berada di depan tubuh perlahan turun.
"Lucien," ujar Elyndor akhirnya, menatap Duke Valois dengan ekspresi tidak percaya. "Kau bercanda, kan?"
Lucien tetap tenang.
"Apa yang membuatmu berpikir aku bercanda?"
Elyndor menunjuk Eve dengan ekspresi yang semakin sulit disembunyikan.
"Aku akan mengajar anak empat tahun?"
Eve yang mendengar itu langsung menatap Elyndor.
'Kenapa nadanya kayak gue bakal makan dia? santai aja kali.'
Lucien sama sekali tidak terlihat terganggu. Dia hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa kau lupa perjanjian kita?" tanyanya datar.
Elyndor terdiam.
Ekspresinya sedikit berubah. Lucien melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, seolah sedang mengingatkan sesuatu yang sangat sederhana.
"Kau sudah berjanji kepadaku. Sebagai harga karena aku menolongmu di depan Kaisar."
Wajahnya perlahan berubah seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa dirinya telah masuk ke dalam jebakan yang sudah disiapkan dengan matang.
Eve memperhatikan keduanya dari gendongan Bastian.
Matanya berpindah dari Elyndor ke Lucien, lalu kembali kepada Elyndor.
'Wah.'
Sudut bibir Eve hampir bergerak naik.
'Berarti Elyndor kena tipu sama Lucien.'
Lucien tetap memasang wajah tenangnya. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di sana. Seolah menyerahkan seorang elf dewasa yang punya urusan sendiri untuk mengajar anak empat tahun adalah hal yang sudah sangat wajar.
Eve menahan senyum kecil.
'Selamat datang di perkumpulan korban Lucien, Elyndor.'
Eve merasa sedikit punya teman seperjuangan.