Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Akal Ni Setan Gak Ada Habisnya!
Ryuji seketika teringat sesuatu.
"Oh iya, Yuka masih menungguku," serunya tiba-tiba.
Dia segera berlari kembali menuju tempat Yuka menunggu sebelumnya sambil memasukkan kembali ponselnya, dan mengambil jalan memutar dari arah toilet.
Saat itu, dia lewat di salah satu stand yang menjual aksesoris lucu.
Melihat itu sekilas, Ryuji terhenti sambil menatap stand itu.
"Yuka sebelumnya beliin aku cemilan. Apa mungkin kubeliin aksesoris aja buat dia sebagai tanda terima kasih dariku?" pikirnya sambil sedikit tersenyum, sambil melihat-lihat sejenak.
Dia pun mendekat ke stand, dan langsung membeli yang menarik perhatiannya, "Paman! Aku beli yang ini!"
"Wah, matamu jeli juga, Nak. Kamu beli itu untuk adikmu?" balas penjualnya sambil tersenyum hangat.
"Tidak" jawab Ryuji sambil menggeleng pelan, "Aku tidak punya adik."
Si penjual seketika berekspresi terkejut, "Berarti, kamu beli untuk pacarmu?"
"Aku juga tidak punya pacar," jawab Ryuji lagi, "Lagipula, aku beli ini untuk temanku."
Penjual itu sedikit mendekatkan wajahnya, lalu bertanya dengan nada pelan hampir berbisik, "Dia laki-laki atau perempuan?"
Tanpa merasa curiga atau semacamnya, Ryuji menjawab dengan santai, "Perempuan. Memangnya kenapa, Paman?"
Penjual itu kembali tersenyum hangat lalu tertawa singkat. Ia pun menggeleng pelan setelahnya, "Tidak ada."
Pedagang itu memegang pundak Ryuji.
"Kalau begitu..." ucapnya sambil meletakkan benda yang dibeli ke tangan Ryuji, "Semoga berhasil."
Ryuji bingung dengan yang dimaksud olehnya. Matanya mengerjap heran.
Polos amat.
.........
Ryuji akhirnya berjalan kembali sambil melihat benda yang dibelinya, "Nah, ini pasti bagus kalo dipake Yuka."
Dia pun memasukkan benda yang dibelinya ke dalam saku celananya.
Kemudian, Ryuji menatap ke depan dan menemukan Yuka sedang duduk diam di salah satu kursi panjang—dekat dengan tempat duduk Moiro dan Mika sebelumnya, dan Ryuji tidak sadar dengan itu.
Dia segera berlari lalu memanggilnya, "Yukaaa!"
Yuka tersentak dan seketika menoleh ke asal suara.
Ryuji berhenti di depannya lalu tersenyum lebar, "Yah... Maaf ya, kayaknya aku kelamaan."
Yuka menoleh ke sembarang arah, pipinya sedikit memerah karena cukup senang Ryuji kembali, "Y-Ya... Tidak masalah bagiku..."
Dia langsung melipat tangannya, "Tapi bukan berarti aku menunggumu loh ya!"
Yeh, boong bet.
"Benarkah? Mungkin sebaiknya tadi kulamain aja," balas Ryuji dengan polos.
Jangan gitu juga lah!
"Oh, iya," seru Ryuji tiba-tiba. Dia langsung merogoh kantong celananya.
Yuka terlihat bingung melihatnya.
"Lihat ini..." ucap Ryuji sebelum akhirnya mengeluarkan dan menunjukkan sesuatu, "Ta-da!"
Di tangannya yang terbuka, terlihat sebuah jepit rambut berwarna putih yang berhiaskan kepala naga hitam menganga dengan semburan api kecil di ujung mulutnya.
Emang ada benda kayak gitu buat cewek?!
Yuka mengerjap saat melihatnya, lalu berucap pelan, "Jepit rambut...?"
Ryuji menjawab sambil tersenyum lebar, dan mengulurkan benda itu pada Yuka, "Benar! Kubeliin ini buatmu. Kupikir ini cocok."
COCOK DARI MANA COBA?!
Yuka menatap Ryuji sekilas, lalu kembali menatap ke arah jepit rambut yang diarahkan padanya.
Yuka tersenyum tipis, pipinya merona samar. Tangannya perlahan terangkat, sempat ragu sebelum akhirnya mengambil jepit rambut yang diberikan padanya.
Eeee... Yuka?
Yuka menatap benda itu di atas kedua telapak tangannya dengan mata berbinar.
"Jepit rambut pemberian Ryuji..." ucapnya dalam hati. Bibirnya yang tersenyum nampak bergetar halus dihiasi rona merah samar pada pipinya.
Yuka menggenggam pelan benda itu dengan kedua tangannya, lalu memeluknya di depan dada.
"Akan kuterima," ucapnya sambil tersenyum manis. Dia merasa sangat senang atas pemberian Ryuji. Dan tanpa sadar, dia akhirnya mulai jujur pada dirinya sendiri—tidak menyangkal seperti biasanya.
Terserah kau sajalah.
Melihat itu, mata Ryuji sedikit melebar, lalu kembali tersenyum lebar, "Tak kusangka, kau bisa berekspresi imut begitu."
"Imut—?" sentak Yuka tertahan sambil menatapnya. Wajahnya seketika memerah. Bibirnya bergelombang.
"Benar," jawab Ryuji lalu mengacungkan jempolnya, "Kau tadi sangat imut!"
Wajah Yuka seketika memerah padam. Uap tipis mengepul di atas kepala saking malunya. Dia menunduk cepat sambil menjerit kecil, tak berani menatap wajah Ryuji yang tersenyum padanya.
"Tenanglah! Kendalikan dirimu...!" matanya terpejam rapat, "Mana jiwa pemimpin dalam dirimu...?!"
Yuka menggigit bibirnya, "Tak bisa... Aku tak bisa menahannya..."
Bentar, bentar. Apakah apakah...?!
Ryuji memiringkan kepalanya, menatap Yuka dengan ekspresi kebingungan, "Yuka?"
Yuka perlahan mengangkat kepalanya, gerakannya kaku. Wajahnya yang memerah padam dengan alis mengerut karena kesal pada diri sendiri terlihat, seolah menampakkan sisi lain dari dirinya.
"R-Ryuji..." panggilnya pelan, suaranya bergetar, lalu menoleh cepat ke arahnya.
Tangannya menggenggam lebih erat di depan dadanya. Napasnya terasa berat, seolah sedang membawa beban yang siap dia lepaskan.
^^^>Ilustrasi dari AI.^^^
Matanya membulat di belakang kacamata bulatnya, menatap Ryuji dengan tatapan berkaca-kaca, "A-Aku... Aku su—"
"Su..." suaranya tertahan. Rahangnya sedikit mengeras. Matanya terpejam rapat.
"Sudah kubilang jangan puji aku berlebihan!" serunya tiba-tiba.
"Kapan kau pernah bilang gitu?!" balas Ryuji cepat.
Yah, Author. Aku kecewa.
.........
Beberapa waktu berlalu, dan Yuka sudah kembali dapat mengendalikan dirinya. Benda pemberian Ryuji sebelumnya juga sudah disimpan di kantong bajunya.
Dia menghela napas untuk menenangkan diri, sebelum menatap tajam ke arah Ryuji yang duduk di sebelahnya.
"Oh iya. Tadi aku ketemu sama..." ucapannya mulai terhenti, melihat sesuatu. Alisnya sedikit mengernyit.
Ryuji menoleh padanya dengan mulut penuh cemilan.
Yuka berkedip singkat, "Jangan makan dulu, ngapa? Dengerin aku ngomong dulu."
"Hehe. Sorry, Bos. Laper," balas Ryuji sambil tersenyum. Cemilan terlihat penuh di mulutnya yang tersenyum.
Telan dulu makanannya, Bos.
Yuka menatap Ryuji datar karena dipanggil dengan sebutan bos dari mulut yang tersumpal makanan.
Yuka kembali menghela napas lalu mencoba kembali ke topik yang ingin dibahas sebelumnya. Saat itu, Ryuji juga masih mengunyah makanan di mulutnya.
Yuka menatap ke depan, lalu mulai bercerita.
"Tadi aku bertemu dengan Sano dan Asahi secara kebetulan," ucapnya melanjutkan.
Makanan menyembur. Ryuji terkaget dan terbatuk setelahnya.
"Hwa—?! Mana etika makanmu?!" seru Yuka yang terkejut melihatnya dengan marah.
"Maaf, maaf," balas Ryuji cepat.
Si kocak. Mubazir!
Ryuji mengusap mulutnya, ekspresinya berubah panik, "Apa aku juga ketahuan?!"
"Ya ampun, kamu ini," balas Yuka pelan. Pipinya sedikit memerah.
Dia mengambil tisu yang dibawanya lalu diberikan pada Ryuji.
Ryuji menoleh, lalu mengambilnya tanpa ragu sambil berterima kasih.
Dia pun mengelap mulutnya dengan tisu.
Yuka menoleh ke depan, tatapannya merendah, lalu kembali berkata, "Mereka kayaknya lagi jalan-jalan juga di sini."
Kedua tangannya mengepal di atas pahanya yang rapat. Matanya mulai menyipit disertai pipi yang memerah, "Apa mungkin, mereka sedang..."
"Nih," ucap Ryuji tiba-tiba sambil menyodorkan tangannya pada Yuka.
Yuka melirik, dan melihat tisu bekas malah diberikan padanya.
"Kamu ngapain ngasih beginian ke aku?!" serunya seketika. Bingung sekaligus sedikit kesal sambil menatapnya.
Ryuji membalas, "Aku ngembaliin sehabis dipake."
"Ini bukan sapu tangan!"
Ryuji pun membuang tisunya ke tempat sampah lalu kembali duduk di samping Yuka—sedikit berjarak seperti sebelumnya.
"Hehe, maaf. Lanjutin aja apa yang tadi mau kau bilang," ucapnya sambil tersenyum, seolah tak melakukan hal aneh sebelumnya.
Yuka kembali menatap ke depan. Tatapannya kembali merendah dan pipinya mulai memerah, "Itu... Apa mereka sedang... k-kencan...?"
Ryuji diam sejenak, lalu tersenyum lebar, "Bisa saja mereka sedang berkencan."
"A-Ap—" jerit Yuka tertahan saat menoleh pada Ryuji cepat.
Dia langsung menoleh ke arah sebaliknya, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah dari pandangan Ryuji. Kedua pipinya dipegang karena tak percaya, "Apa mereka beneran kencan...? Eh?! Itu berarti... k-kami juga...? Kyaa...!"
Ryuji kembali memakan cemilannya, lalu menelan sebelum akhirnya bertanya pada Yuka, "Oh, iya. Apa kau menyapa mereka?"
Yuka kembali berekspresi normal. Dia menoleh dan menatap serius ke arah Ryuji lalu menjawab, "Iya, aku juga sempat berbincang tipis-tipis dengan mereka. Aku juga bilang kalau kamu juga ada di sini."
Ryuji tersentak seolah tersambar petir.
Yuka melanjutkan ucapannya sambil menatap ke depan, "Aku gak tau kenapa, tapi waktu itu, ekspresi Asahi tiba-tiba berubah kesal setelah aku bilang kamu juga ada di sini, meski masih keliatan cukup datar."
Ryuji yang mendengar itu mulai gemetaran, "Tuh, kan... Aku pasti sudah ketahuan...!"
"Oh, iya," Yuka menoleh ke arah Ryuji, "Mereka juga bilang kalau mereka ingin pergi ke Rumah Hantu."
Dia mengangkat satu tangannya lalu mengibaskannya beberapa kali seperti kipas, "Aku sempat diajak mereka, tapi aku menolaknya."
"Be-Begitu, ya...? Aku juga tau itu..." balas Ryuji yang terlihat suram.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Yuka heran.
Ryuji menoleh kaku, lalu membalas, "Sebenarnya aku..."
Ryuji pun memberitahukan tujuannya yang sebenarnya dan apa saja yang telah dia lakukan.
"Apa?!" teriak Yuka setelah mendapat penjelasan dari Ryuji.
"Jadi kamu menguntit mereka?!" seru Yuka terkejut sambil menunjuk.
Ryuji mengangkat dua tangannya dan digoyangkan pelan seperti gestur menolak, "Aku bukan menguntit! Hanya mengikuti!"
"Itu menguntit namanya!"
Jangan ditiru ya, adik-adik.
Yuka menunduk ke depan sambil memegang kepalanya dengan satu tangan, "Mungkin itu alasan mengapa Asahi tiba-tiba berekspresi kayak tadi..."
Saat itu, Ryuji hanya diam dengan wajah mengeras dan berkeringat dingin, sambil sesekali menyuap cemilan yang tiada habisnya sedari tadi.
Matanya seketika membelalak begitu mendapati sebuah ide di kepalanya.
"Benar juga! Mumpung sudah ketahuan, kenapa gak sekalian aja?" pikirnya sambil tersenyum.
Ryuji menelan makanannya, lalu sedikit mendekat.
"Gimana kalo kita ikuti mereka?" ujarnya tiba-tiba sambil menoleh pada Yuka.
Yuka menoleh datar dengan wajah kecewa, tangannya masih memegang kepalanya, "Kamu masih mau nguntit?"
"Bukan," jawab Ryuji cepat, "Tapi bagaimana kalau kita kerjain mereka?"
"Jangan ajak-ajak aku kalo urusan begituan," balas Yuka datar sambil kembali duduk tegak.
Ryuji menggelengkan satu jarinya, "Tidak, kita hanya menjadi hantu di wahana itu untuk menakut-nakuti mereka."
"Jadi hantu?" tanya Yuka yang mulai terpancing, "Itu berarti... nanti kita akan berkostum layaknya hantu?"
Ryuji mengangkat telunjuknya sambil tersenyum lebar, "Benar! Terus nanti kita kejar mereka dan buat mereka ketakutan."
Dia pun menghadap ke depan dan berkacak pinggang lalu tertawa setelahnya sambil mendongak.
Sementara itu, Yuka hanya menatapnya dengan mata yang membulat. Satu tangannya mulai terangkat, mengepal ringan di depan mulutnya.
"Cosplay hantu dan bermain bersama Ryuji..." pikirnya. Pipinya mulai memerah.
Degup! >//<