NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.

23 tahun lalu...

Di bawah pekatnya langit malam, hujan mengguyur kota sejak hari masih sore, menciptakan genangan air yang memantulkan cahaya lampu di halaman rumah sakit. Kilatan petir sesekali membelah langit, disusul suara guntur yang menggetarkan kaca-kaca rumah sakit.

Malam itu, dua wanita datang hampir bersamaan.

Meira Arkatama tiba di rumah sakit setelah kontraksi datang jauh lebih cepat dari perkiraan. Tidak sampai satu jam kemudian, Bram datang membawa Radinka yang juga mengalami kontraksi hebat.

Kebetulan yang membuat Damar sempat tertawa di tengah ketegangan yang sedang ia rasakan. “Kalau anak kita lahir di hari yang sama, mungkin nanti mereka akan bersahabat seperti kita.”

Bram tersenyum. “Kalau anakmu perempuan dan anakku laki-laki atau sebaliknya, sekalian saja kita jodohkan.”

Damar menepuk bahu sahabatnya dengan anggukan setuju. "Dan jika keduanya laki-laki?"

"Mereka akan menjadi sahabat," jawab Bram.

“Seperti kita?”

“Seperti kita.”

Saat itu Damar tidak pernah membayangkan bahwa janji sederhana tersebut akan menjadi awal dari sesuatu yang mengubah kehidupan dua keluarga.

.

.

.

Tangisan bayi terdengar dari ruang bersalin tempat Radinka berada.

Bram yang menunggu di luar segera bangkit dari duduknya. Seorang perawat keluar beberapa menit kemudian.

“Selamat, Pak. Bayinya laki-laki. Ibu dan bayinya selamat.”

Bram mengembuskan napas lega. “Boleh saya melihatnya?”

“Sebentar lagi. Ibu Radinka masih dalam pengaruh obat karena sempat mengalami pendarahan ringan. Kami akan membawa bayinya ke ruang bayi terlebih dahulu.”

Bram mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Sementara itu, di ruang bersalin di lantai berbeda, suara tangisan bayi yang sebelumnya menggema mendadak senyap sesaat setelah dokter keluar dari ruang bersalin, meninggalkan seorang perawat yang baru saja selesai membersihkan bayi itu tenggelam dalam kepanikan yang menyergapnya tiba-tiba.

Wajah perawat yang tidak lain adalah Mirah seketika berubah pucat pasi, ia mengguncang pelan tubuh bayi di tangannya, namun tidak ada reaksi. Ia meletakkan satu jarinya di leher bayi itu, memberikan sedikit tekanan untuk merasakan nadi, namun tidak merasakan apa pun.

Napas bayi di tangannya tidak ada, denyut nadinya berhenti, dan perlahan wajah bayi itu memucat.

"Tidak..." Mirah mendesis lirih, menatap bayi di tangannya, kemudia beralih ke wajah Meira yang kini tak sadarkan diri.

Ia tak diam begitu saja. Ia meletakkan bayi itu, memberikan resusitasi yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan napas si bayi, namun semua sia-sia. Bayi itu tetap tidak bergerak.

Di tengah kepanikan yang mendera, ia bergegas keluar dari ruangan untuk memanggil dokter. Namun, tepat saat pintu lift yang menjadi penghubung antara lantai ruangan Meira dan dokter berada terbuka, sosok Bram berdiri di hadapannya.

"P-pak-"

"Ada apa? Semua baik-baik saja bukan?" tanya Bram cepat saat melihat wajah panik Mirah.

"Tu-tuan Arkatama..."

"Damar sedang menjemput Pak Raksa karena beliau terjebak dalam perjalanan kemari. Katakan apa yang terjadi?" desak Bram.

"S-saya perlu memanggil dokter... Bayi... Bayi itu sempat menangis saat lahir, t-tapi sekarang... bayi itu tidak bernapas," jelas Mirah terbata. "S-saya sudah melakukan apa yang saya bisa, tapi sia-sia."

Kedua mata Bram melebar singkat, kemudian mundur selangkah memberi jalan pada Mirah untuk melewatinya. Namun, baru tiga langkah Mirah berjalan, tangan Bram bergerak cepat mencekal lengan perawat itu yang membuat langkah Mirah terhenti.

"Tunggu."

"P-pak... Saya harus cepat memanggil dokter," ucap Mirah berusaha melepaskan cekalan tangan Bram dari lengannya.

"Bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Bram.

"Laki-laki," jawab Mirah.

"Bayiku laki-laki, dan dia sehat. Berikan saja bayiku pada keluarga mereka," ucap Bram.

Kedua mata Mirah melebar, sedkit pun tidak bisa menutupi keterkejutannya. Bagaimana bisa seseorang rela menukar bayinya sendiri dengan bayi tak bernyawa?

"P-pak... Yang Anda lakukan ini-"

"Damar adalah sahabatku," ucap Bram sebelum Mirah menyelesaikan kalimatnya. "Dan keluarga Arkatama memberiku pekerjaan. Anggap saja, ini caraku untuk membalas kebaikan keluarga mereka."

"Keluarga Arkatama adalah keluarga terpandang, jika Pak Raksa tahu cucu pertamnya tidak selamat, kamu juga akan mendapat masalah," tambahnya.

Mirah ragu. Jelas ia tak tega memisahkan bayi dari ibunya, tetapi di saat yang sama ia juga takut.

"T-tapi, bagaimana dengan istri Anda?" tanya Mirah, suaranya bergetar campuran rasa takut dan rasa bersalah.

"Keuanganku tidaklah bagus. Aku rela anakku menjadi milik mereka, setidaknya anakku tidak menderita bersamaku," sahut Bram dengan wajah sendu. "Aku rela berkorban."

"Ayo." Bram menarik lengan Mirah agar mengikutinya ke ruang rawat sang istri. "Sebelum keluarga Arkatama kembali kita harus cepat."

Rasa takut akan disalahkan oleh keluarga Arkatama membuat Mirah setuju mengikuti langkah Bram. Pria itu membuka pintu ruang rawat dengan hati-hati, memandangi wajah istrinya yang masih terlelap akibat pengaruh obat, lalu menatap bayinya sesaat sebelum meminta Mirah mengangkatnya.

Kedua tangan Mirah terulur ragu, sedikit bergetar saat ia mengangkat sosok mungil yang tengah terlelap, kemudian membawa bayi itu ke dekapannya sebelum ia melangkah keluar bersama Bram menjauhkan bayi dari ibu kandungnya.

Langkah keduanya tergesa menuju lift, dengung mekanis dari lift yang bergerak naik membuat keduanya menekan rasa cemas yang memenuhi hati mereka. Dan begitu mereka tiba di ruangan Meira terbaring, rasa ragu kembali memenuhi hati Mirah.

"Lakukan sekarang," ucap Bram.

"T-tapi Pak..."

"Kau ingin menunggu keluarga Arkatama datang?" tanya Bram dengan nada menekan.

Mirah menggeleng. Ia segera meletakkan bayi Bram ke dalam box bayi di samping Meira dengan rasa bersalah yang semakin menghimpit, kemudian mengangkat bayi Meira yang masih tidak bergerak, dan berbalik pergi meninggalkan ruangan bersama Bram.

"Kita lewat tangga darurat saja," ucap Bram di tengah langkah mereka menuju lift. "Terlalu beresiko jika kita menggunakan lift."

Mirah mengangguk, mengikuti langkah Bram menuju pintu tangga darurat. Begitu pintu menutup di belakang mereka, petir kembali menyambar, disusul suara guntur menggelegar keras. Detik berikutnya, tangisan kecil terdengar.

Mirah membeku, begitu pula dengan Bram. Bayi yang sejak tadi tidak menunjukkan respons tiba-tiba menangis

“P-pak... Bayinya hidup.” Mirah tersenyum lega.

Wajah Bram berubah sesaat. "Berikan bayinya padaku."

Senyum Mirah perlahan menghilang. “Pak Bram?”

“Berikan bayinya padaku sekarang," ulang Bram lebih tegas.

Wajah Mirah memucat, kepalanya menggeleng kuat sambil mendekap erat bayi di gendongannya. "Tidak."

“Berikan itu padaku!”

Bram merebut bayi dari gendongan Mirah dengan kasar, membuat bayi itu berpindah tangan dalam sekejap.

“Tidak! Pak, jangan.” ucap Mirah dalam usahanya merebut bayi dari tangan Bram.

"Diam!" Bram menepis tangan Mirah.

"Pak... Jangan. Anda sebelumnya rela berkorban untuk mereka, tapi sekarang Anda mengkhianati mereka," ucap Mirah.

"Mengkhianati?" Bram mendengus dengan senyum sengit. "Aku dan Damar bergabung di Arkatama bersamaan, kami bahkan menggunakan satu sepeda motor untuk berangkat bekerja."

Bram mengembuskan napas kasar, menatap bayi di tangannya sesaat sebelum kembali menatap Mirah. "Lalu sekarang? Dia menggunakan mobil mewah sedangkan aku masih menggunakan sepeda motor yang sama."

"Karirnya naik dengan cepat di perusahaan, sedangkan aku? Aku masih di bawah. Atas dasar apa? Dia hanya beruntung menikahi putri Pak Raksa, mendapatkan kehormatan dengan menyandang nama Arkatama di belakang namanya padahal dia dan aku berasal dari panti asuhan yang sama."

Suara hujan lebat disertai guntur menjadi latar di belakang mereka atas pernyataan Bram yang tidak pernah Mirah pikirkan.

"Tapi bayi ini... " Bram melanjutkan. "Dia bisa saja menangis saat kita menukarnya dengan putraku. Tapi dia menangis saat kita sudah membawanya. kenapa? Dia sial. Putraku ditakdirkan hidup sebagai orang kaya, sedangkan putranya hidup biasa."

Mirah menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Sungguh, ia tidak pernah menyangka dengan jalan pikiran pria di hadapannya.

"Pak, jangan." Mirah berusaha menahan Bram. "Ini bukan hanya pengkhianatan, ini dosa. Jangan lakukan. Jangan pisahkan dia dari ibunya."

Keduanya berebut. Mirah berusaha merebut bayi itu kembali, namun tenaganya kalah kuat dengan Bram. Berulang kali tangannya meraih bayi itu, tapi Bram menepisnya dengan kasar. Hingga, tepisan tangan Bram berubah menjadi dorongan.

Tubuh Mirah terdorong mundur, kakinya kehilangan keseimbangan. Belum sempat ia menegakkan tubuhnya, tumitnya kehilangan pijakan di ujung anak tangga yang membuat ia jatuh terguling ke bawah dan kepalanya membentur lantai dengan keras. Darah perlahan muncul di bawah kepala Mirah membentuk genangan merah pekat di atas keramik putih.

Bram berdiri mematung di tempatnya dengan bayi masih berada dalam dekapan, menatap tubuh Mirah yang sempat mengulurkan tangan padanya, kemudian terkulai tak bergerak.

Beberapa detik kemudian, seorang petugas kebersihan menemukan tubuh Mirah dan berteriak meminta bantuan.

Malam itu Mirah dibawa ke ruang operasi. Cedera berat di kepalanya membuat wanita itu dinyatakan koma setelah operasi selesai dilakukan, menjadi penutup sempurna bagi rahasia yang Bram miliki.

. . .

. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
yakin keira di jodohno ambek revan🤔🤔🤔keira pekerja keras..revan pekerja abal2
Zhu Yun💫
Bakal jadi jodoh yang tertukar sih ini 🤭
Zhu Yun💫
Dan penjahat sebenarnya adalah orang terdekat anda sendiri 🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
eh, like pertama?
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm/
total 6 replies
Patrick Khan
aku ingin kasih tau q ini anakmu pak damar😁😁😁
Zhu Yun💫
langsung saja minta tes DNA biar terbongkar, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Yang bener kalau dinikahkan baru dia akan punya rasa tanggung jawab pak Raksa... kalau cuma dijodohkan doang nanti dia bisa jawab gini sama calonnya kalau lagi berantem 'Kita itu baru tunangan, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur aku.' Nah beda kalau udah nikah dan rasa tanggung jawab itu pasti bakal ada 'Kamu adalah Istriku, tanggung jawabku' 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
〈⎳ FT. Zira: asiap kaka/Joyful/
total 1 replies
Muft Smoker
persis seperti anak mu si ravian😏😏
〈⎳ FT. Zira: bener🤣
total 3 replies
Zhu Yun💫
Aku hafalinnya Tresna.. Tresna... Tresna aja ... biar gampang lah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
perjodohan..emang sopo yg mw ambek ravian 🤣🤣🤣lakik modelan gitu
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Zhu Yun💫
Karena yang manis kan kamu, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: devinisi cwe gombalin cwo yak/Facepalm/
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mulai maju nih si keira
〈⎳ FT. Zira: sebelum direbut orang kak🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rame yah di novel ini
〈⎳ FT. Zira: banyak tokohnya🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aturannya selidiki dulu elang diam2. pura2 aja dl ga tau apa2
〈⎳ FT. Zira: udah gedek duluan dia kak,gak mau drama🤭
total 1 replies
Muft Smoker
org luar menurut mu ,,
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
〈⎳ FT. Zira: 🤣/Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waah si bram udh jdi kambing guling niih ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁🫰🫰
total 8 replies
Muft Smoker
krn ravian emnk bukan anak ny pak damar ,, pak gatra ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waaaah actor Dunia lgi berbicara ,, 😒😒😒
〈⎳ FT. Zira: aduh/Facepalm/
total 3 replies
Zhu Yun💫
Beneran ulah Bram atau ada orang lain lagi dibelakangnya /CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!