Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11, BAYANGAN DI HUTAN OAKHAVEN
Hutan Oakhaven menyambut mereka dengan keheningan yang berat. Pohon-pohon raksasa berdiri beratus-ratus tahun, cabang-cabangnya saling bertautan hingga cahaya matahari hanya bisa menembus dalam bentuk bintik-bintik cahaya yang samar. Udara di sini terasa lebih sejuk, lebih lembap, dan penuh dengan aroma lumut, daun basah, dan kayu tua.
"Jangan berjalan terlalu berisik," bisik Arvin, matanya terus mengawasi sekeliling. "Hutan ini bukan milik pohon saja. Penduduk Oakhaven menjaganya dengan sangat ketat. Dan mereka tidak suka orang asing masuk tanpa izin."
"Kita tidak bermaksud jahat," kata Kael, meski suaranya juga rendah. "Mengapa mereka begitu curiga?"
"Karena di dunia ini, rasa curiga adalah perisai terbaik bagi yang lemah," jawab suara wanita dari arah kiri.
Ketiganya berhenti mendadak, tangan Zhoo langsung berada di gagang pedangnya. Dari balik pohon besar, muncul beberapa orang yang mengenakan pakaian berwarna daun dan kulit kayu, wajah mereka dicat dengan warna hijau dan cokelat, membuat mereka hampir menyatu dengan lingkungan. Di depan mereka berdiri Elara—wanita yang dilihat Zhoo di bukit beberapa hari yang lalu.
"Kau..." Zhoo sedikit terkejut.
"Kau berani melawan perwira Veyra tanpa senjata, tapi sekarang terkejut karena bertemu kami di hutan?" tanya Elara dengan nada mengejek namun lembut. Ia melangkah maju, rambutnya yang berwarna cokelat keemasan terlihat kontras dengan suasana hutan yang gelap. "Aku Elara, anak kepala suku di wilayah ini. Dan ini adalah tanah kami."
"Aku Zhoo. Ini Arvin dan Kael. Kami datang bukan untuk mengambil apa-apa," ucap Zhoo dengan hormat. "Kami hanya mencari tempat berlindung, dan mungkin... sekutu."
Elara menatapnya lama, seolah sedang membaca isi hatinya. "Sekutu? Tujuh kerajaan telah hidup ratusan tahun dengan cara masing-masing. Tidak ada yang mau bersekutu dengan orang asing, apalagi dengan orang yang membuat Raja Vereon marah. Kabar tentangmu sudah sampai ke sini, Zhoo. Kau membuat musuh yang sangat kuat sebelum kau bahkan memiliki satu prajurit pun."
"Karena aku tidak mencari perang," jawab Zhoo tenang. "Aku mencari keadilan. Dan jika orang-orang Oakhaven juga menginginkannya... mungkin kita bisa berdiri bersama."
Salah satu pengawal Elara maju dengan kasar, menodongkan tombak ke arah Zhoo. "Bicara kosong saja! Siapa yang tahu apakah kau mata-mata Veyra yang dikirim untuk memeriksa pertahanan kita?"
"Jika aku mata-mata, aku tidak akan datang hanya dengan dua orang teman," balas Zhoo tanpa berkedip. "Dan jika aku bermaksud jahat, aku tidak akan berdiri di sini dan berbicara dengan tenang."
Elara mengangkat tangan, memberi isyarat agar pengawalnya mundur. "Dia benar. Matanya tidak berbohong—setidaknya bukan tentang niatnya saat ini. Tapi itu tidak berarti kami bisa mempercayainya begitu saja." Ia menatap Zhoo lagi. "Ikutlah bersamaku. Ayahku ingin melihat orang yang berani menantang kekuasaan Veyra. Tapi peringatanku... di sana tidak semua orang akan sebaik aku memperlakukanmu."
Mereka mengikuti rombongan itu masuk lebih dalam ke hutan. Jalan yang mereka lalui hampir tidak terlihat, namun Elara dan pengawalnya bergerak dengan lincah dan yakin, seolah hutan ini adalah rumah yang mereka hafal setiap sudutnya. Semakin dalam mereka berjalan, semakin Zhoo menyadari sesuatu—Oakhaven bukan sekadar hutan. Di balik pepohonan itu terdapat kehidupan yang teratur, rumah-rumah di atas pohon, jembatan yang terbuat dari akar yang ditenun, dan alat-alat yang menunjukkan keahlian luar biasa dalam bekerja dengan alam.
"Kalian hidup menyatu dengan hutan," gumam Zhoo kagum.
"Karena kami tahu bahwa hutan ini adalah perisai sekaligus sumber kehidupan kami," jawab Elara di sampingnya. "Selama hutan ini berdiri, tidak ada pasukan besar yang bisa menyerang kami dengan mudah. Itulah sebabnya kami tetap bebas, sementara banyak daerah lain jatuh ke bawah kekuasaan Veyra."
"Namun berapa lama kebebasan itu bisa bertahan jika tujuh kerajaan tetap terpecah?" tanya Zhoo pelan. "Jika Vereon menyatukan kekuatan Veyra sepenuhnya, ia bisa mengirim pasukan yang cukup besar untuk menebas hutan ini sampai ke akar-akarnya."
Elara terdiam. Pertanyaan itu pernah ia tanyakan pada ayahnya berkali-kali, namun tidak pernah ada jawaban yang menenangkan. "Itulah ketakutan terbesar kami. Tapi kami tidak tahu bagaimana menghentikannya."
"Karena jawabannya bukan berdiri sendiri-sendiri," kata Zhoo lembut namun tegas. "Jawabannya adalah berdiri bersama-sama."
Sesampainya di pemukiman utama di atas pohon raksasa, mereka disambut oleh suasana yang penuh dengan tatapan curiga dan penasaran. Penduduk Oakhaven berhenti beraktivitas, menatap ketiga orang asing itu seolah mereka adalah binatang buas yang baru saja ditangkap. Di ruang utama yang luas, duduk seorang pria paruh baya dengan wajah penuh kerutan yang dalam dan tatapan yang tajam namun lelah—ayah Elara, penguasa wilayah itu.
"Ayah," sapa Elara pelan. "Ini Zhoo, dan teman-temannya."
Pria itu berdiri perlahan, suaranya berat dan dalam seperti gemuruh bumi. "Aku sudah mendengar tentangmu, anak muda. Kau membuat musuh paling berbahaya di benua ini sebelum kau dewasa sepenuhnya. Apakah itu keberanian... atau kebodohan?"
"Keduanya mungkin, Yang Mulia," jawab Zhoo dengan jujur. "Tapi aku tidak punya pilihan. Jika aku diam saja, orang-orangku akan mati perlahan-lahan. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"Dan apa yang kau harapkan dari kami? Perlindungan? Pasukan? Emas?"
"Aku tidak meminta perlindungan untuk diriku sendiri. Aku meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa lebih kuat jika kita bersatu. Veyra tumbuh kuat karena mereka menaklukkan yang lain. Tapi jika yang lain berdiri bersama... mereka tidak akan pernah bisa menaklukkan kita semua."
Pria itu menatapnya lama, lalu menghela napas panjang. "Kata-kata yang indah. Tapi kata-kata tidak bisa menghentikan pedang. Dan tujuh kerajaan ini telah saling membenci selama ratusan tahun. Luka-luka itu belum sembuh, dan kepercayaan sudah lama hilang." Ia berjalan mendekati Zhoo. "Namun... ada sesuatu di matamu yang membuatku ingin tidak langsung mengusirmu. Tinggallah di sini untuk sementara waktu. Buktikan bahwa kau bukan ancaman bagi kami. Dan jika kau bisa membantu kami menyelesaikan masalah yang sedang kami hadapi saat ini... mungkin kita bisa berbicara lebih lanjut."
"Masalah apa?" tanya Zhoo.
"Di bagian utara hutan ini, ada sesuatu yang mengganggu. Penduduk desa kami di sana mulai menghilang satu per satu. Dan mereka yang kembali... bukan lagi diri mereka sendiri. Seolah ada kegelapan yang merasuki mereka. Jika kau benar-benar ingin membuktikan niat baikmu... pergilah ke sana. Cari tahu apa yang terjadi. Dan jika kau bisa menghentikannya... mungkin aku akan mulai percaya pada kata-katamu."
Zhoo menatap mata pria itu, lalu mengangguk. "Aku akan pergi sekarang juga."
"Kau tidak perlu pergi sendirian," kata Elara tiba-tiba. "Aku ikut. Aku tahu jalan di sana lebih baik dari siapa pun."
"Elara, itu berbahaya!" tegah ayahnya.
"Justru karena itu aku harus pergi," jawabnya tegas, sama seperti Zhoo saat berbicara dengan perwira Veyra dulu. "Dan jika dia benar-benar orang yang baik, aku bisa membantunya. Jika dia musuh... aku bisa mengawasinya."
Pria itu terdiam, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi berjanjilah—jika ada bahaya yang tidak bisa kalian hadapi, kalian harus kembali. Jangan memaksakan diri."
"Kami janji," jawab Zhoo dan Elara hampir bersamaan.
Saat mereka bersiap berangkat, Arvin menarik lengan Zhoo ke samping. "Ini bukan perjalanan sederhana, Zhoo. Aku merasakan sesuatu di hutan ini... sesuatu yang bukan sekadar binatang buas atau perampok. Ada kekuatan gelap yang bergerak di sini."
"Kita semua merasakannya, Arvin," jawab Zhoo pelan. "Tapi jika kita mundur sekarang, kita tidak akan pernah maju. Dan Elara... dia penting, Arvin. Bukan hanya karena dia bisa membimbing kita, tapi karena dia adalah jembatan ke Oakhaven. Jika kita bisa menyelamatkan orang-orangnya, kita mendapatkan kepercayaan mereka. Dan itu jauh lebih berharga daripada emas atau pedang."
"Kau sudah mulai berpikir seperti pemimpin," kata Arvin dengan nada campur antara bangga dan khawatir. "Tapi ingat... jembatan juga bisa menjadi perangkap jika di bawahnya ada jurang yang dalam."
Zhoo tersenyum tipis. "Maka kita pastikan jembatan itu cukup kuat untuk menahan kita semua."
Mereka berempat—Zhoo, Elara, Arvin, dan Kael—berangkat menuju bagian utara hutan Oakhaven. Semakin jauh mereka melangkah, semakin gelap hutan itu menjadi. Pohon-pohon tampak lebih bengkok, cabang-cabangnya seperti jari-jari yang meraih ke bawah. Dan di kejauhan, terdengar suara yang tidak bisa dijelaskan—bukan suara binatang, bukan suara angin, melainkan suara bisikan-bisikan lembut yang seolah memanggil nama mereka satu per satu.