Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedamaian Dua Saudara
Suara deru mesin kereta api perlahan memudar saat rangkaian gerbong melaju meninggalkan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Di pelataran peron yang riuh oleh lalu-lalang penumpang, Yunita melangkah menuju pintu keluar dengan koper kabin di tangan kanan dan dua kantong kertas berukuran besar di tangan kirinya.
Sebelum naik ke atas kereta tadi, Vino sengaja datang mengantarnya langsung ke stasiun. Pemuda itu tidak datang dengan tangan kosong. Dengan senyum ramah yang kini begitu matang, Vino menyerahkan kantong-kantong kertas tersebut kepada Yunita.
"Ini ada oleh-oleh bakpia kukus dan bakpia patok buat Pak Haris sama Bu Manda," ujar Vino saat berada di peron tadi, menyuarakan alasan yang hangat. "Sama ada titipan kue basah buat Ibu di rumah. Tolong disampaikan ya, Yun."
Yunita sempat tertawa halus melihat banyaknya oleh-oleh itu. "Banyak banget, Vin? Kamu nggak usah repot-repot begini, ih."
Vino menggeleng pelan, mengulas senyum tulus yang memancarkan kerendahan hatinya. "Nggak repot sama sekali, Yun. Anggap saja ini balas budi kecil dari aku. Dulu waktu kita masih SMA di Surabaya, kamu kan sering banget traktir aku makan di kantin waktu uang saku aku pas-pasan. Sekarang alhamdulillah, aku sudah punya penghasilan sendiri dari hasil keringat di studio."
Mengingat momen percakapan singkat di stasiun itu membuat hati Yunita berdesir hangat. Namun, sepanjang perjalanan tiga jam di dalam kereta hingga akhirnya menginjakkan kaki di Stasiun Gubeng Surabaya pada Jumat malam, ada satu hal ganjil yang terus berputar di pikiran Yunita.
Vino membelikan oleh-oleh untuk ayahnya, Pak Haris. Pemuda itu juga menyertakan bingkisan untuk ibunya, Bu Manda, serta titipan khusus untuk Bu Lidya. Namun... Vino sama sekali tidak membelikan atau menitipkan apa pun untuk Evita. Bahkan, nama Mbak Vita tidak sekali pun terucap dari bibir Vino selama mereka berpisah di peron.
"Apakah Vino sebenarnya masih menyimpan rasa sakit hati atas perkataan tegas Mbak Vita dulu?" batin Yunita seraya menghela napas panjang di dalam taksi yang membawanya membelah jalanan malam kota Surabaya. "Atau... dia memang sengaja membentengi dirinya agar tidak lagi mengusik kehidupan Mbak Vita?"
Yunita memilih menyimpan rapat-rapat spekulasi itu di dalam dadanya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa keberadaan dan pencapaian Vino di Yogyakarta tidak akan pernah ia bocorkan kepada Pak Haris, Bu Manda, maupun Evita. Biarlah waktu yang menentukan bagaimana takdir akan mempertemukan mereka kembali.
Taksi berhenti tepat di depan pagar rumah keluarga yang tampak asri. Lampu teras yang memancarkan cahaya kuning hangat menyambut kepulangan Yunita.
Belum sempat Yunita menekan bel, pintu depan sudah terbuka lebar. Keyra berlari kecil keluar dengan gaun tidur merah jambu, disusul oleh Evita yang berjalan santai di belakangnya.
"Tante Yunita!" seru Keyra riang, langsung menubruk dan memeluk kaki adiknya.
Yunita tertawa lepas, meletakkan bawaannya lalu membungkuk merengkuh tubuh mungil keponakannya itu ke dalam pelukan hangat. "Halo Sayang! Kangen banget sama Keyra!"
Evita melangkah mendekat, mengulas senyum paling hangat yang ia miliki. "Selamat datang di rumah, Dokter Muda," goda Evita seraya merangkul bahu Yunita dan mencium kedua pipinya.
"Mbak Vita makin cantik saja," balas Yunita jujur, mengamati raut wajah kakaknya yang kini tampak begitu tenang, segar, dan bebas dari bayang-bayang ketakutan.
Di dalam rumah, Pak Haris dan Bu Manda sudah menunggu di ruang keluarga. Pak Haris, pria paruh baya dengan pembawaan tegap khas mantan perwira polisi, tersenyum bangga melihat putri bungsunya pulang. Bu Manda langsung menyambut Yunita dengan pelukan hangat seorang ibu.
" Gimana kuliahmu di UGM, Yun? Lancar?" tanya Pak Haris seraya mengusap kepala Yunita.
"Lancar, Ayah. Ujian praktikum anatomi semester ini baru saja selesai tadi sore," jawab Yunita mantap. Ia kemudian meletakkan dua kantong kertas berisi oleh-oleh di atas meja kayu. "Ini ada sedikit oleh-oleh dari Jogja buat Ayah sama Ibu."
Bu Manda membuka kantong tersebut dengan raut wajah berbinar. "Wah, bakpia kukus kesukaan Ibu! Kamu beli di mana ini, Yun?"
"Beli di toko dekat stasiun tadi, Bu," sahut Yunita tenang, menjaga rahasianya dengan sangat rapi tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.
Setelah melepas rindu dan menikmati santapan makan malam sederhana bersama keluarga, Pak Haris dan Bu Manda pamit istirahat ke kamar utama. Keyra pun telah tertidur pulas di kamarnya usai puas bermain bersama Yunita.
Malam makin larut. Angin malam Surabaya yang sejuk berembus pelan di teras depan. Evita dan Yunita duduk berdampingan di kursi kayu, masing-masing menggenggam cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap halus.
" Gimana rasanya tinggal di Jogja, Yun?" tanya Evita membuka percakapan, menatap lurus ke arah halaman rumah yang sepi.
Yunita menyeruput tehnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Menyenangkan, Mbak. Udara di sana sejuk, suasananya tenang. Jogja benar-benar tempat yang pas buat mendewasakan diri dan melupakan ketegangan masa lalu."
Evita menoleh, menatap wajah adiknya dengan pandangan penuh rasa penyesalan yang telah mengendap. "Mbak minta maaf ya, Yun... untuk pertengkaran dan kata-kata kasar Mbak beberapa bulan lalu sebelum kamu pindah. Waktu itu pikiran Mbak kalut banget."
Yunita tersenyum lembut, mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari Evita dengan erat. "Mbak Vita nggak perlu minta maaf lagi. Kita berdua sama-sama salah waktu itu karena terbawa emosi. Yang penting sekarang, kita sudah berdamai dan tahu arah hidup masing-masing."
"Iya, Yun," bisik Evita tulus. "Mbak senang banget melihat kamu makin mandiri dan fokus sama cita-citamu jadi dokter."
Yunita memperhatikan raut wajah kakaknya dari samping. Ketegangan yang dulu selalu membayang di mata Evita kini telah digantikan oleh kematangan seorang wanita berdaya.
"Mbak Vita sendiri gimana?" tanya Yunita pelan. "Pak Hendra... benar-benar sudah tidak pernah mengganggu lagi?"
Evita mengulas senyum tipis yang sarat akan ketegasan. "Sudah tidak pernah, Yun. Sejak Mbak tegaskan batas-batas di rumah ini dan menolak semua bentuk bantuan modalnya, dia sadar kalau Mbak bukan wanita yang bisa dikontrol pakai uang. Sekarang Mbak fokus penuh membesarkan Hani’s Atelier pakai modal sendiri, dan menjaga Keyra."
Yunita mengangguk-angguk paham, merasakan kebanggaan yang luar biasa pada kakaknya. Namun, di balik rasa bangga itu, bayangan sikap Vino di stasiun tadi sore kembali berkelebat di pikiran Yunita.
Pikirannya melayang pada fakta betapa dua insan ini Evita dan Vino kini telah sama-sama bertransformasi menjadi pribadi yang begitu kuat, mandiri, dan berprinsip di tempat yang berbeda. Tanpa saling menyapa, tanpa saling mencari, namun seolah ditempa oleh rasa sakit yang sama untuk tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih bernilai.
"Mungkin memang begini caranya takdir bekerja," batin Yunita seraya menatap langit malam. "Vino fokus mengejar impiannya tanpa mau mengusik Mbak Vita lagi, dan Mbak Vita berdiri tegap memimpin hidupnya sendiri."
"Mbak," panggil Yunita lembut.
"Ya, Yun?"
"Aku cuma mau bilang... aku bangga banget sama Mbak Vita," tutur Yunita tulus, menatap mata kakaknya dengan binar kasih sayang seorang adik. "Mbak sudah membuktikan kalau Mbak bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada pria mana pun."
Evita tertegun sejenak, lalu mengulas senyum hangat yang memancarkan kedamaian jiwa. Ia merengkuh bahu Yunita, menyandarkan kepalanya di bahu adiknya itu.
Di bawah naungan langit malam Surabaya yang tenang, dua bersaudara itu saling melengkapi dalam keheningan. Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi cemburu, dan tidak ada lagi rahasia yang menyakiti. Hanya ada kedamaian utuh dari dua jiwa yang telah sama-sama dewasa menyikapi takdir kehidupan.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍