NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Harga Sebuah Kantong Darah

Ratri tidak percaya pada cerita Yuliana. Ia percaya pada perubahan wajah Baskara ketika cerita itu diucapkan.

Sehari kemudian, Reza membawa satu nama.

"Bono," katanya. "Perantara barang pusaka dan laku langka. Bukan dukun. Dia menghubungkan pembeli dengan pemilik benda, padepokan, atau tabib yang tidak beriklan."

"Dia pernah berhubungan dengan Yuliana?"

"Yuliana mencoba. Bono menolaknya karena tidak mampu membayar biaya awal. Tapi beberapa bulan terakhir ada pembeli lain yang mencari segala hal berkaitan dengan penyambungan sukma dan penahan garis takdir."

Pertemuan diatur di sebuah rumah teh tua di pinggir Jakarta. Reza menunggu di kendaraan lain. Wira duduk dekat pintu. Ratri menghadapi Bono seorang diri di meja belakang.

Bono berusia sekitar empat puluh tahun dan berpakaian seperti pedagang biasa. Ia tidak membawa jimat mencolok. Hanya ada cincin kayu tua di jari telunjuk.

"Saya tidak menjual nyawa," katanya. "Saya hanya mempertemukan orang."

"Anda mempertemukan seseorang dengan pemilik pusaka untuk saya."

Tatapan Bono berubah. "Saya tidak menyebut nama klien."

Ratri meletakkan foto kotak beludru Yuliana. "Benda ini palsu."

Bono melirik sekali. "Kayu biasa, kain baru, rajah cetak. Tidak ada isi."

"Yuliana menjual akses ke ahli kejawen memakai benda itu."

"Itu penipuan. Jangan samakan dengan orang yang benar-benar menjalani laku."

"Karena itu saya datang kepada Anda, bukan dia."

Bono diam lebih lama.

Ratri menjelaskan hanya bagian yang perlu. Sejak lahir, garis takdirnya rapuh. Darah dan tenaga sukma dapat keluar saat guncangan maut datang. Rumah sakit mampu menutup luka, memberi transfusi, dan menopang tubuh, tetapi tidak dapat memperbaiki jalur gaib yang membuat kehidupan terus bocor.

Eyang Suryo menahannya dengan pusaka dan laku. Namun, beberapa bulan terakhir ada tenaga lain yang berkali-kali menyambungnya dari luar.

"Seseorang membayar Anda," kata Ratri. "Saya ingin tahu harga yang dia bayar."

Bono menatap cincin kayunya. "Uang bukan harga terbesarnya."

"Apa?"

"Darah yang satu jalur dengan ikatan sukma. Umur. Tenaga hidup. Kalau orang itu tidak terhubung, ritualnya gagal. Kalau terhubung, yang satu bisa menahan yang lain dengan memindahkan bagian hidupnya sendiri."

Ratri merasakan dingin di punggung.

"Siapa dia?"

"Saya tidak pernah melihat wajahnya. Semua pesan datang melalui orang lain. Pembayaran memakai perusahaan berlapis. Mereka membeli keping pusaka, ramuan pemulih tenaga, dan jadwal beberapa ahli. Ada yang menolak setelah tahu dia ingin memakai darah sendiri berkali-kali."

"Berapa lama?"

"Paling tidak tiga tahun."

Bono mengingat tiga pencarian terbesar. Pertama, sepotong pusaka tua yang dipercaya mampu menahan sukma agar tidak lepas saat tubuh melemah. Kedua, ramuan untuk memulihkan orang yang berkali-kali memberikan tenaga hidupnya. Ketiga, seorang tabib yang memahami sumpah darah dua orang dengan garis nasib saling terkait.

"Pembelinya tidak pernah menawar," kata Bono. "Pemilik meminta tanah, uang, bahkan perlindungan keluarga. Semua dipenuhi."

"Apakah benda-benda itu sampai kepada orang yang sama?"

"Ya. Setelah setiap pengiriman, selalu ada kabar seorang perempuan muda di Jakarta lolos dari kejadian yang seharusnya memutus nyawanya."

Ratri teringat pendarahan yang tiba-tiba berhenti, kecelakaan yang tidak merenggutnya, dan luka kepala yang hilang semalam. Selama ini ia menyebutnya keberuntungan atau bantuan Eyang Suryo. Mungkin ada tubuh lain yang menanggung bagian dari setiap keselamatan itu.

Tiga tahun.

Selama waktu yang sama Baskara menghilang.

Bono mengeluarkan kertas kecil. Di sana tertulis kode pengiriman lama dan satu kata.

Nardi.

"Itu satu-satunya nama yang muncul," katanya. "Organisasi, bukan orang yang datang."

Ratri membawa informasi itu kepada Reza. Penelusuran rekening berhenti pada yayasan yang sama dengan pembayaran rumah sakit dan perusahaan yang membuka jalur media Rara. Semua mengarah ke Nardi, lalu lenyap di balik struktur asing.

Reza juga menunjukkan catatan pembelian. Beberapa pusaka dibeli melalui lelang keluarga tertutup. Satu ramuan langka dibawa dari lereng gunung dengan pengawalan yang lebih ketat daripada pengiriman uang. Semua biaya dibayar dari jalur berbeda, tetapi kode referensinya memiliki susunan yang sama dengan kertas `NG Executive Office`.

"Orang ini tidak mulai mencari setelah Ndoro Baskara pulang," kata Wira. "Dia sudah melakukannya selama bertahun-tahun."

Ratri menutup map. Itulah bagian yang paling sulit. Jika Baskara benar orangnya, berarti ia tidak benar-benar meninggalkan Ratri selama tiga tahun. Ia hanya memilih hadir dengan cara yang membuat dirinya tidak bisa dilihat.

"Mau saya tekan Bono?" tanya Reza.

"Tidak. Dia sudah memberi yang dia tahu. Lindungi namanya. Wiryawan sedang membunuh saksi."

Sore hari, Ratri pulang dan menemukan Baskara memperbaiki pegangan payung di teras.

Ia berdiri beberapa meter dari pria itu.

Bekas luka di lengan.

Pil pemulih tenaga.

Pengetahuan tentang laku.

Nardi.

Tiga tahun.

Semua potongan membentuk jawaban yang terlalu berat untuk diterima.

Baskara mengangkat kepala. "Kenapa melihatku?"

Ratri ingin bertanya apakah darahnya yang membuat luka di kepalanya hilang semalam. Ia ingin bertanya berapa tahun umur yang telah dipindahkan. Namun, jika jawabannya benar, ia tidak tahu harus marah atau berterima kasih.

"Payungnya rusak," katanya akhirnya.

"Aku sedang memperbaiki."

Ratri masuk ke rumah tanpa bertanya lagi.

Malam itu, garis takdirnya runtuh.

Ratri terbangun dengan rasa basah di lengan. Darah merembes dari pori-pori tanpa luka. Lebam gelap menyebar di paha, pinggang, dan bahu seperti bunga hitam di bawah kulit.

Pusaka cendana di dekat bantal retak pada salah satu sudut. Udara kamar terasa sangat dingin meski pendingin mati. Bayangan di cermin bergerak terlambat setengah detik, tanda sukma Ratri mulai tidak melekat sempurna pada tubuh.

Ia meraih ponsel, tetapi jari-jarinya tidak mampu menggenggam. Setiap tarikan napas membuat suara di sekeliling menjauh.

Ia mencoba berdiri, tetapi lututnya tidak mampu menopang.

Gelas jatuh dari meja samping.

Baskara membuka pintu bahkan sebelum Wira tiba dari lorong.

Ia terbangun bukan karena suara gelas. Ikatan sukma di dadanya mendadak terasa seperti ditarik keluar dengan paksa. Rasa sakit Ratri menembus tidurnya lebih cepat daripada bunyi apa pun.

Ia melihat darah, lalu wajahnya berubah sepucat kertas.

"Panggil Panji. Siapkan pusaka penyambung, ramuan akar hitam, dan ruang yang menghadap timur," katanya.

Tidak ada keraguan. Tidak ada pencarian. Ia tahu tepat apa yang dibutuhkan dan ke mana harus membawa Ratri.

"Bagaimana Anda..." Napas Ratri terputus.

Baskara mengangkatnya dari lantai.

"Jangan bicara. Simpan tenagamu."

"Ke rumah sakit?"

"Bukan. Rumah sakit tidak bisa menahan yang sedang terlepas."

Wira membuka jalan, sementara Panji dari telepon memastikan ruang rahasia dan tabib sudah menunggu mereka tanpa penundaan.

Ia membawa Ratri menembus lorong, menuju tempat yang hanya diketahui orang yang telah menyaksikan guncangan maut itu berkali-kali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!