"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Mitos Janji Konyol dan Kopi Favorit
Nadira melempar tubuhnya ke atas kasur berukuran king size di kamarnya. Wajahnya ditekuk dalam-dalam ke balik bantal empuk, membiarkan suara teriakannya teredam sempurna.
"Argh! Gila! Gila! Kenapa gue bisa ngomong kaya gitu lima tahun lalu?!" jeritnya frustrasi.
Ia berbalik menatap langit-langit kamar. Bayangan wajah Askara yang tadi malam menunduk rapat di depan wajahnya—dengan tatapan mata tajam, napas hangat, dan suara berat yang membisikkan kata-kata itu—terus berputar seperti kaset rusak di otaknya.
“Gue udah cukup sabar nunggu lima tahun ini.”
"Gila! Askara pasti bercanda! Dia pasti cuma mau nakut-nakutin gue biar gue enggak cerewet lagi!" guman Nadira berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Ia memiringkan badan, mengusap dadanya yang masih berdegup kencang. Secara objektif, Nadira tidak bisa memungkiri kenyataan. Askara Pradipta itu tampan. Sangat tampan. Badannya tegap, tinggi, bahunya lebar, dan perutnya yang terbentuk rapi itu adalah hasil rutin gym yang selalu dipamerkan tanpa sengaja saat pria itu mencuci mobil di akhir pekan. Sikapnya? Jangan ditanya. Askara tidak pernah sekalipun mengecewakan atau menyakiti hatinya selama belasan tahun mereka bersahabat.
Nadira memejamkan mata rapat-rapat. "Enggak, enggak. Dia itu Askara! Cowok yang pernah gue jejelin cabai rawit pas SMP!"
Namun, saat matanya terpejam dan kantuk akhirnya menguasai, otak Nadira justru memainkan lelucon yang jauh lebih liar.
Dalam tidurnya malam itu, Nadira bermimpi. Bukan mimpi dikejar hantu atau jatuh dari jurang, melainkan mimpi yang membuat tubuhnya terbangun dengan napas memburu dan peluh membasahi dahi pada pukul empat pagi. Di dalam mimpi itu, tidak ada batasan 'sahabat'. Ada Askara yang menatapnya penuh gairah, jemari besar pria itu yang mengelus pinggangnya, dan sentuhan-sentuhan intim yang terasa sangat nyata hingga membakar kulitnya.
"Astaga, Nadira Ruella! Lo beneran udah gila!" pekik Nadira melompat bangun dari tempat tidur. Wajahnya merah padam hingga ke ujung telinga. "Bisa-bisanya gue mikirin Askara ampe kayak gitu?!"
Pukul tujuh pagi. Seperti biasa, mobil Askara sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Nadira untuk berangkat kantor bersama. Namun pagi ini, begitu mendengar suara klakson mobil Askara, Nadira justru panik setengah mati.
"Mba Nad! Mas Ka udah nungguin tuh di depan!" teriak Nadeo dari arah dapur sambil mengunyah roti tawar.
Nadira yang baru turun tangga dengan pakaian kantor rapi langsung menghentikan langkahnya. "Deo! Bilang ke Askara, gue... gue udah berangkat duluan pake taksi online!"
Nadeo mengernyitkan dahi. "Lah? Taksi online darimana? Orang lo baru turun tangga—"
"Bilang aja gitu! Susah amat sih lo!" potong Nadira setengah berbisik tajam. Ia langsung balik kanan dan berlari kecil lewat pintu samping rumah menuju garasi motor, menyelinap keluar sebelum Askara menyadarinya.
Nadeo yang berjalan ke depan pagar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Di luar, Askara sedang bersandar di pintu mobilnya, mengenakan kemeja biru gelap yang digulung rapi hingga siku.
"Pagi, Deo. Kakak lo mana?" tanya Askara tenang.
Nadeo menjawab dengan polos. "Udah kabur lewat pintu samping, Mas. Katanya naik taksi online."
Askara tidak terkejut. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman tipis yang sudah bisa ditebak. "Kabur lagi, ya?"
"Biasa, Mas. Gengsi setinggi langit. Lagian Mas Ka ngomong apa semalam sampai Mbak Nad mukanya panik gitu pas turun tangga?"
"Cuma mengingatkan janji lama," jawab Askara santai. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel. "Ya udah, gue berangkat dulu."
"Siap, Calon Kakak Ipar!" seru Nadeo sambil tertawa.
...****************...
Di kantor Ruella Creative, suasana pagi itu terasa sangat canggung—setidaknya bagi Nadira. Ia duduk di kursi kerjanya dengan pandangan kosong menatap layar monitor. Pekerjaannya terbengkalai. Draf desain untuk proyek rebranding klien terbesarnya minggu ini bahkan belum tersentuh sama sekali.
"Fokus, Nadira, fokus!" bisiknya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. "Cuma mimpi! Itu cuma bunga tidur konyol gara-gara lo ketakutan semalem!"
Tok! Tok!
Pintu ruang kerjanya terbuka. Odelia—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang super ceplas-ceplos—masuk membawa sebuah kantong kertas dari kedai kopi ternama dan satu porsi croissant hangat.
"Pagi, Ibu Direktur yang mukanya kayak belum dimaafkan dosanya," sapa Odelia santai sambil meletakkan minuman dan makanan itu di atas meja Nadira.
Nadira mengernyit. "Apaan nih? Gue kan belum pesen kopi."
Odelia menyilangkan dada, menatap Nadira dengan pandangan geli. "Bukan dari gue. Dari 'Pengawal Setia' lo tuh. Tadi kurir ojek online nganterin ke depan. Ada catatannya nih."
Odelia menyodorkan selembar kertas sticky note berwarna kuning yang menempel di cup kopi. Nadira mengambilnya dengan tangan sedikit gemetar.
Iced Caramel Macchiato, extra shot, less sugar. Jangan lupa dimakan croissant-nya. Jangan kabur-kabur lagi, nanti kaki lo capek.
- A
Nadira menahan napasnya. Kopi favoritnya. Dan Askara tahu persis bahwa hari ini Nadira sedang menghindarinya, jadi pria itu memilih tidak mengantarkannya secara langsung agar Nadira tidak makin tertekan.
"Kenapa tuh muka? Merah amat kayak udang rebus," ledek Odelia, mengambil kursi di depan meja Nadira dan duduk di sana.
"Gak ada apa-apa," sahut Nadira cepat, menyembunyikan kertas kecil itu ke dalam laci mejanya.
"Halah, halah! Bohong banget," Odelia memajukan badannya. "Lo ada masalah apa lagi sama Pak Bos Askara Pradipta? Tadi pagi gue dengar lo berangkat naik taksi, padahal biasanya nebeng mobil mewahnya Pak Askara."
Nadira menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri di atas meja. Rasa frustrasi yang tertahan sejak semalam akhirnya tidak sanggup ia simpan sendiri.
"Del... gue mau cerita, tapi lo janji jangan ketawa dan jangan ember ya?"
"Iya, demi Tuhan! Cepetan cerita, gue udah kepo dari tadi!"
Nadira menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan pintu ruangannya tertutup rapat. "Lo inget kan... cerita gue soal janji konyol umur 30 tahun yang pernah gue omongin ke Askara?"
"Inget banget! Yang lo bilang kalau lo belum nikah umur 30, Askara wajib nikahin lo itu kan?"
"Nah! Semalem... semalem Askara ngungkit itu lagi, Del!" bisik Nadira histeris. "Dia ngomongnya serius banget! Katanya waktu gue udah habis, dan dia udah cukup sabar nunggu lima tahun!"
Mata Odelia membelalak, lalu detik berikutnya wanita itu justru menepuk tangannya girang. "DEMI APA?! Pak Askara ngomong gitu?!"
"Ssstt! Pelan-pelan suara lo!" tegur Nadira panik. "Gue serius, Del! Gue pusing banget! Terus... terus semalem gue malah bermimpi aneh lagi tentang dia!"
Odelia menyeringai nakal. "Mimpi aneh gimana? Mimpi basah ya lo?"
"ODELIA!"
"Hahaha! Muka lo ketahuan banget, Nad!" Odelia tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya. "Aduh, kasihan banget sahabat gue. Makanya, jangan sok gengsi! Lagian kurang apa coba Askara?"
"Ya tapi kan kita sahabat, Del! Dari zaman bau kencur!" sanggah Nadira defensif. "Gue gengsi lah kalau tiba-tiba harus nikah sama dia cuma gara-gara janji umur 30! Kesannya gue gak laku banget!"
"Dengar ya, Nadira Ruella yang otaknya agak geser," ujar Odelia serius, menatap matanya dalam-dalam. "Lo itu emang gak laku kalau nyari cowok sendiri! Dapetnya yang red flag, yang udah punya tunangan, yang penipu... Lo itu butuh diselamatkan dari kriteria cowok aneh lo sendiri!"
"Kok lo malah ngebela Askara sih?!"
"Bukan ngebela, tapi fakta!" seru Odelia. "Askara itu idaman semua wanita se-Indonesia Raya, Nad! Ganteng, kaya, mapan, pinter, dan yang paling penting... dia itu cuma sabar sama lo! Lo pikir ada cowok lain yang mau nampung drama lo selama lima tahun terakhir?"
Nadira bungkam. Kata-kata Odelia menyentuh bagian paling jujur di hatinya, meski gengsinya masih berusaha menolak.
"Lagian ya," lanjut Odelia sambil menyandarkan punggungnya. "Lo tahu gak proyek rebranding PT Megah Nusantara yang lagi kita pegang ini?"
Nadira mengernyit. "Tahu lah. Kenapa? Tadi pagi pihak sana tiba-tiba telepon, katanya berkas kerja samanya langsung disetujui tanpa revisi berbelit-belit. Tumben banget, padahal kemarin-kemarin mereka agak alot."
Odelia tersenyum bermakna. "Lo pikir kenapa mereka mendadak manis begitu?"
"Ya... mungkin karena konsep gue bagus?"
"Konsep lo emang bagus. Tapi yang bikin Komisaris PT Megah Nusantara langsung tanda tangan tadi pagi itu karena ada investor baru yang masukin dana suntikan segar sebesar lima miliar khusus buat mendanai proyek yang dipegang sama perusahaan lo!"
Nadira melotot kaget. "Lima miliar?! Siapa investornya?!"
Odelia menunjuk ke arah cup kopi Caramel Macchiato di atas meja Nadira. "Siapa lagi kalau bukan Pradipta Group? Perusahaannya Askara."
Nadira tertegun. Tangannya yang memegang cangkir kopi membeku seketika. "Askara... suntik dana buat proyek gue?"
"Iya, Sayangku!" sahut Odelia gemas. "Dia tahu proyek ini penting banget buat karier lo, dan dia tahu lo lagi stres gara-gara kliennya kemarin alot. Dia bantu lo dari belakang tanpa minta dipuji-puji atau dipamerin. Masih kurang bukti apa lagi kalau Askara itu tulus banget sama lo?"
Nadira menatap cup kopi dingin di tangannya. Rasa hangat mendadak menjalar ke dadanya, bercampur dengan rasa bersalah yang teramat sangat karena sudah melarikan diri tadi pagi.
Di saat yang sama, telepon genggam Nadira bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor Askara.
Kopinya diminum, Nad. Jangan lupa makan siang. Kalau proyeknya udah beres, sore ini gue jemput. Jangan kabur lagi ya, kasihan kaki lo nanti pegal naik angkutan umum.
Nadira memegangi dadanya yang berdegup makin kencang. Dinding gengsi yang selama ini dibangung rapat-rapat, perlahan tapi pasti, mulai goyah di tembak perhatian-perhatian kecil pria itu.
semangat terus thor...
/Heart/