NovelToon NovelToon
Pernikahan Bisnis

Pernikahan Bisnis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

***

Pagi harinya, jam dinding di kamar utama tepat menunjukkan pukul enam pagi. Sinar matahari tipis menembus tirai sutra berwarna champagne, menyinari sosok Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo yang sudah berdiri tegap di depan cermin raksasa. Pria itu telah mengenakan kemeja putih buatan perancang Italia, siap memulai hari sibuknya sebagai pimpinan tertinggi Soerjoatmodjo Group.

Suara dentang halus high heels rumahan berbunyi dari arah walk-in closet. Lilianne melangkah keluar dengan raut wajah yang masih menahan kantuk berpadu rasa gengsi yang membumbung tinggi. Ia mengenakan gaun rumahan berbahan sutra lembut berwarna merah jambu pucat, dengan rambut blonde alaminya yang sengaja ia sanggup asal—menampilkan leher jenjangnya yang mulus.

"Sudah bangun, Nyonya Soerjoatmodjo?" tegur Arya tenang, melirik Lilianne dari pantulan cermin seraya memutar-mutar dasi sutra bernuansa navy di tangannya.

Lilianne melipat kedua tangannya di dada, mendengus pelan. "Jangan banyak bicara, Mas Arya. Aku cuma mau menagih janji agar pelayan genit itu tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di kamar ini."

Lilianne melangkah mendekat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, putri tunggal klan Djojodiningrat yang biasa dimanja ini harus melayani seorang pria. Dengan canggung, jemari lentiknya yang dihiasi berlian murni meraih ikatan dasi Arya.

Arya menundukkan kepalanya sedikit, membiarkan Lilianne yang bertubuh lebih pendek berjuang memasangkan dasi di lehernya. Jarak mereka yang teramat dekat membuat aroma parfum woody berpadu tobacco milik Arya langsung menguasai indra penciuman Lilianne, membuat napas gadis itu tertahan sejenak.

Jemari Lilianne yang gemetaran mencoba memutar kain sutra itu, membentuk simpul yang sayangnya... tampak kaku dan sedikit miring di kerah kemeja mahal Arya.

"Kenapa simpulnya miring begitu, Ajeng?" goda Arya rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu memikat sekaligus menyebalkan.

Lilianne sengaja menarik ujung dasi itu agak kencang hingga Arya sedikit terdorong ke depan.

"Terima saja hasilnya, Pak Arya Sena!" desis Lilianne sinis dengan mata hijau yang berkilat galak. "Ini karya pertamaku. Kalau Mas Arya tidak suka, lepas saja sendiri!"

Bukannya melepaskannya, Arya justru memegang tangan Lilianne yang masih menempel di dada kemejanya. Pria itu merapikan posisi dasi miring tersebut dengan bangga, lalu menyapukan jas navy-nya ke bahunya yang tegap.

"Saya akan memakainya sepanjang hari ini di kantor," ujar Arya tenang, suaranya dipenuhi nada penekanan yang sarat akan dominasi. "Agar semua jajaran direksi tahu bahwa dasi miring ini adalah hasil jerih payah dari jemari manis istri saya."

Darah Lilianne mendidih seketika, namun desiran aneh di dadanya tak mampu ia bendung akibat tatapan pekat sang suami.

Arya kemudian mengambil sebuah map kulit hitam tebal dari atas meja rias, lalu menyodorkannya ke hadapan Lilianne.

"Apa lagi ini?" tanya Lilianne dengan dahi berkerut.

"Setumpuk dokumen kepemilikan baru atas namamu," jawab Arya santai. "Termasuk dokumen kepemilikan garasi khusus berpendingin udara yang baru saja diselesaikan di area barat mansion ini—khusus untuk menyimpan koleksi Aston Martin DBS Superleggera Royal Maroon milikmu, serta beberapa unit mobil mewah lainnya yang mungkin akan kamu borong esok hari."

Lilianne menerima map itu, membelalakkan matanya tipis. "Mas Arya mencoba menyogokku?"

Arya terkekeh rendah—suara tawa maskulin yang terdengar begitu mesra. Pria itu menyisipkan satu tangannya ke dalam saku celana, melangkah mengikis sisa jarak di antara mereka.

"Bukan sogokan, tapi fasilitas untuk Nyonya Soerjoatmodjo," Arya menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Lilianne hingga napas hangatnya menyapu kulit leher halus sang istri. "Tapi tidak ada fasilitas yang cuma-cuma, Lilianne."

"Maksudmu?" Lilianne menatap mata kelam Arya dengan curiga.

"Hari ini jadwal saya sangat padat sampai sore. Dan saya paling tidak suka makan siang dengan menu katering kantor," Arya menyunggingkan senyum liciknya. "Saya menantangmu untuk mengantarkan makan siang buatan rumah ke ruangan presdir saya di Soerjoatmodjo Tower tepat pukul satu siang."

Lilianne membelalakkan matanya, tertawa mengejek. "Aku? Mengantarkan makan siang ke kantormu? Mas Arya mimpi apa semalam?! Aku ini Lilianne Djojodiningrat, bukan kurir makanan!"

"Kamu bukan sekadar Djojodiningrat lagi, kamu adalah Nyonya Soerjoatmodjo," pangkas Arya tegas namun halus. "Buktikan pada seluruh jajaran direksi dan media yang terus mempertanyakan kapasitasmu bahwa kamu bukan sekadar boneka pajangan berbaju emas. Datanglah saat makan siang... atau saya akan menganggap kamu takut untuk menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan saya."

Kata 'takut' dan 'boneka pajangan' mendadak membakar gengsi tinggi khas keluarga Djojodiningrat di dalam dada Lilianne.

"Takut?" tantang Lilianne dengan dagu terangkat tinggi, mata hijaunya menyala penuh keberanian. "Jangan sombong dulu, Mas Arya! Aku akan datang ke gedung pencakar langitmu itu. Kita lihat siapa yang akan membuat gempar seluruh kantor pusat Soerjoatmodjo Holding nanti siang!"

Arya terkekeh puas. Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi mulus Lilianne sebelum mengecup kening istrinya singkat.

"Saya pegang ucapamu, Ajeng," bisik Arya memikat, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar dengan langkah tegas seorang raja, meninggalkan dasi miringnya yang bertengger bangga di kerah kemejanya.

Lilianne berdiri terpaku di tengah kamar mewah itu, memegang dokumen kepemilikan di tangannya seraya menatap pintu yang tertutup rapat. Babak baru dari perang dingin mereka kini resmi berpindah dari dinding mansion menuju arena arena publik di gedung pencakar langit bisnis Jakarta.

**

Mobil supercar Aston Martin DBS Superleggera bernuansa Royal Maroon meluncur anggun dan berhenti tepat di pelataran utama Soerjoatmodjo Tower. Kedatangan mobil edisi terbatas seharga puluhan miliar rupiah itu langsung menyedot perhatian seluruh staf dan keamanan gedung pencakar langit tersebut.

Pintu gull-wing terangkat perlahan. Lilianne melangkah keluar dari dalam mobil dengan keanggunan seorang ratu bangsawan. Penampilannya siang itu betul-betul mendefinisikan kemewahan tingkat tinggi—mengenakan midi dress berpotongan haute couture berwarna cream ivory buatan rumah mode Italia, dipadukan dengan high heels bernuansa emas dan kacamata hitam oversized. Rambut blonde alaminya yang panjang terurai bebas di bahu, memantulkan kilau indah di bawah terik matahari, sementara netra hijaunya memancarkan binar menyejukkan sekaligus sarat akan keangkuhan yang tak tersentuh.

Para karyawan, staf resepsionis, hingga satpam yang berdiri di lobby utama refleks menundukkan kepala penuh keseganan. Siapa di tanah air yang tidak mengenali sosok wanita berparas jelita blasteran Eropa-Jawa tersebut? Dia adalah Lady bangsawan klan Djojodiningrat yang kini telah resmi menjadi nyonya besar di dinasti Soerjoatmodjo usai memecahkan rekor Royal Wedding abad ini.

Dengan senyuman miring yang penuh semangat intrik, Lilianne melangkah membelah lantai marmer lobby, memegang sebuah tas rantang eksklusif berisi hidangan makan siang.

Menggunakan lift khusus eksekutif, Lilianne menaiki lantai tertinggi gedung menuju area kantor Presdir. Begitu pintu lift terbuka, pandangan Lilianne mendadak disambut oleh suasana tegang di area meja sekretaris. Beberapa staf dan sekretaris pria kepercayaan Arya tampak masih berkutat sibuk di depan layar komputer dengan raut wajah tertekan.

"Halo... Bukankah ini sudah jam makan siang? Kenapa kalian masih di sini?" sapa Lilianne sangat halus dan sopan, memecah keheningan lantai VIP tersebut.

Mendengar suara jernih itu, seluruh staf dan sekretaris refleks mendongak. Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapan mereka, mereka langsung berdiri serentak dari kursi masing-masing dan membungkuk hormat.

"M-maaf, Ibu..." jawab salah satu staf muda dengan nada canggung dan takut. "Pak Arya menugaskan kami untuk segera menyelesaikan draf laporan akuisisi ini sebelum jam makan siang selesai."

Sekretaris utama Arya—seorang pria berjas rapi yang menjadi orang kepercayaan Arya—segera berdehem pelan seraya memberi kode mata pada bawahannya agar tidak terlalu banyak mengeluh di depan sang nyonya rumah.

Lilianne menyipitkan mata hijaunya, lalu menghembuskan napas pelan seraya menggelengkan kepala.

"Ck, dasar bos tidak berperikemanusiaan," gumam Lilianne jengkel.

Tanpa ragu, Lilianne merogoh tas Hermès-nya dan mengeluarkan kepingan Black Card milik Arya yang diberikan suami kaku itu tadi pagi. Lilianne meluncurkan kartu hitam eksklusif itu ke atas meja kerja sang sekretaris.

"Ambil ini. Kalian semua pergi makan siang sekarang," titah Lilianne santai diiringi senyum maniskus.

Para staf membelalakkan mata kaget. Sekretaris utama Arya gagap seketika. "M-maaf Ibu, tapi ini... kartu milik Pak Arya..."

"Ambil saja," potong Lilianne tak terbantahkan. "Makan apa saja yang enak di restoran terbaik bawah sana. Nanti urusan bos kaku dan tidak punya hati itu biar saya yang urus."

Wajah para staf yang tadinya tegang mendadak berubah menjadi kegirangan luar biasa. "Baik, Ibu! Terima kasih banyak, Ibu Lilianne!" seru mereka serentak seraya membungkuk lega sebelum bergegas pergi meninggalkan area meja sekretaris.

Lilianne tersenyum puas. Ia kemudian berjalan menghampiri pintu ganda kayu mahoni berukir milik ruang kerja Presdir. Tanpa mengetuk pintu sama sekali, Lilianne mendorong pintu ganda itu hingga terbuka lebar.

Di dalam ruangan kerja yang teramat luas dan berorientasi pemandangan kota Jakarta, Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo sedang duduk tegap di balik meja marmer raksasa. Pria itu mengenakan kemeja putihnya yang digulung hingga siku, dan hal paling mengejutkan adalah... dasi sutra miring hasil jerih payah Lilianne tadi pagi masih bertengger bangga di kerah kemejanya!

Arya mendongak perlahan dari berkasnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman licik saat melihat istrinya melangkah masuk.

"Kamu betul-betul datang, Nyonya Soerjoatmodjo," ujar Arya dengan suara beratnya yang mengalun tenang.

"Tentu saja. Seorang Djojodiningrat tidak pernah mundur dari tantangan," sahut Lilianne seraya meletakkan tas rantang di atas meja santai di sofa VIP.

Lilianne mendudukkan dirinya di sofa, lalu membuka susunan rantang stainless tersebut. Di dalamnya terhidang tumisan sayur dan olahan daging yang tampak menggiurkan secara visual.

Namun di balik penampilannya yang cantik, raut wajah Lilianne menyembunyikan senyuman kelicikan yang teramat murni.

Arya bangkit dari kursi kerjanya, melangkah menghampiri Lilianne dan duduk di sofa seberang sang istri. Tanpa curiga atau banyak bertanya, Arya mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan dari rantang tersebut ke dalam mulutnya. Pria itu mengunyahnya dengan sangat tenang, lalu menelannya tanpa ekspresi sedikit pun.

Satu suapan... dua suapan... tiga suapan. Arya terus menyantap makanan itu dengan wajah datar, tanpa reaksi atau keluhan apa pun.

Lilianne yang duduk di hadapannya mulai menahan napas. Netra hijaunya membelalak heran, menatap Arya dari atas ke bawah. Tunggu... kenapa tidak ada reaksi sama sekali?! batin Lilianne kebingungan.

"Mas Arya..." panggil Lilianne tak tahan lagi, mendengus heran. "...kamu tidak apa-apa?"

Arya menghentikan gerakan sendoknya sejenak, melirik Lilianne dengan satu alis terangkat. "Maksudmu?"

"Maksudku... apakah masakan aku itu seenak itu sampai Mas makan tanpa henti?" tanya Lilianne penasaran.

Arya menyesap air putih di gelas kristalnya, lalu menjawab datar dengan nada santainya yang angkuh. "Hmm. Layak untuk dimakan."

Dada Lilianne berdesir sengit, sekaligus kebingungan setengah mati di dalam hati.

Bagaimana mungkin makanan itu hanya dibilang 'layak dimakan' tanpa Arya memuntahkannya?! Padahal, jujur saja... masakan di dalam rantang itu adalah masakan pertama dalam sejarah hidup Lilianne selama 21 tahun!

Lebih dari itu, saat Lilianne berada di dapur mansion tadi pagi, Widya sempat mendatangi area dapur dan mencoba menasihati Lilianne dengan ocehan sok pahamnya mengenai 'pantangan dan selera lidah Pak Arya yang sangat tinggi'. Karena merasa jengkel dan panas hati dikatai tidak bisa mengurus suami oleh pelayan tersebut, Lilianne yang murka sengaja membalas dendam secara impulsif: ia memasukkan dua sendok makan garam, segenggam gula, dan taburan bubuk cabai yang melimpah ke dalam tumisan tersebut agar Arya kapok memintanya memasak lagi!

Lilianne menatap Arya yang kini malah kembali menyuap masakan ekstrim itu dengan santai.

Pria ini lidah dan lambungnya terbuat dari baja atau bagaimana?! batin Lilianne menjerit heran, antara jengkel rencananya gagal dan takjub luar biasa pada ketahanan suami kaku berumur 30 tahun di hadapannya.

Bersambung...

1
Ariany Sudjana
betul sekali nasehat ibumu itu Lilianne, Arya itu konglomerat, banyak pelacur murahan yang mengincar, jangan sampai rumah tangga kamu hancur karena kehadiran pelacur murahan
Anonim
crazy up thor
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Arya jadi suami siaga 😍😍😍
Helen@Ellen@Len'z
up byk ya 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪thor 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Anonim
crazy up thor
falea sezi
sesuai janji q kirim bunga tuh🤭 lanjut banyakkk Thor
Heresnanaa_: wahhh, terimakasih Kaka, stay tune ya 🥹😚
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
Heresnanaa_: wahhh, maaciw kakak, stay tune ya beb🙏😚
total 1 replies
falea sezi
cantik tp otak kosong🤣 lu nyingkirin widya g mau kesaing🤣 tp lu g mau gantiin tugas dia layani laki lo🤣🤣 aneh gt ini cwek manja bisa nya apa shoping doank😒
falea sezi
nah gini🤣 aduin ke bumertua🤣 emank babu g tau diri si widya
falea sezi
harusnya di belikan buat anak yatim🤣 biar suami mu kagum 🤭
falea sezi
g suka cwek sombongnya kayak lily ini 🤣🤣 berharap dia itu lemah lembut cegil tp bukan sok jd cowok penasaran🤣
falea sezi
nyimak dlu klo bagus q krim bunga🤭
Mita Paramita
so sweet 😍😍😍
Mita Paramita
Liliane masih syok udah di unboxing paksa 😭 tinggal Arya nih yang mesti ngejar cinta Liliane
Arix Zhufa
up
Mita Paramita
akhirnya Arya unboxing Liliane 😍😍😍
Mita Paramita
Widya backstabbing 🤣🤣🤣
i got you 🔥🔥🔥
Mita Paramita
nice statement Liliane 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!