Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Perubahan Sederhana Yang Berarti
Malam semakin larut. Setelah percakapan mereka di ruang tengah berakhir, Amora dan Atharazka memilih kembali ke kamar masing-masing. Tidak ada lagi obrolan yang mereka bahas. Apartemen kembali diselimuti keheningan, hanya ditemani dengungan halus pendingin ruangan serta samar-samar suara kendaraan dari jalan raya yang terdengar dari balik jendela.
Amora melangkah masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu perlahan. Ia duduk di pinggir ranjang sambil memandang ke arah jendela yang belum sepenuhnya tertutup tirai. Cahaya lampu-lampu kota masih berkelap-kelip di kejauhan, menghiasi langit malam Jakarta dengan warna-warna yang menenangkan.
Ia mengembuskan napas panjang. Hatinya terasa sedikit lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir, meski masih ada kegelisahan yang belum sepenuhnya menghilang. Pembicaraannya dengan Atharazka memang tidak berlangsung lama, tetapi cukup membuatnya percaya bahwa hubungan mereka tidak lagi layaknya orang asing.
Amora merebahkan tubuhnya perlahan di atas kasur. Tatapannya menerawang ke langit-langit kamar, sementara pikirannya kembali mengulang setiap kalimat yang mereka ucapkan malam ini.
"Teman..." bisiknya lirih.
Satu kata yang sederhana, tetapi memiliki arti yang cukup besar baginya. Ia tidak pernah berharap semuanya akan berubah dalam semalam. Menurutnya, memulai dari hubungan yang nyaman sebagai teman jauh lebih baik daripada terus hidup dalam kecanggungan sebagai dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.
Senyum tipis tanpa sadar terukir di sudut bibirnya. Masih banyak hal yang harus dijalani, masih butuh banyak penyesuaian yang harus ia hadapi. Namun setidaknya, malam ini ia telah menemukan secercah harapan untuk memulai langkah kecil bersama pria yang kini menjadi suaminya.
Dengan perasaan yang lebih damai, Amora menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kelopak matanya perlahan terpejam, sementara suasana malam yang tenang mengantarkannya menuju tidur. Meski masa depan mereka masih dipenuhi tanda tanya, namun Amora akan menjalaninya dengan lapang.
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi kamar Amora. Hari itu ia membuka mata lebih awal. Ada semangat sekaligus sedikit rasa gugup karena hari ini menjadi hari pertamanya kembali bekerja setelah beberapa hari terakhir menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri.
Setelah merapikan tempat tidur, Amora keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur. Suasana apartemen masih begitu sunyi. Udara pagi yang sejuk berpadu dengan aroma bersih dari ruangan yang semalam sudah ia rapikan.
Ia membuka pintu kulkas, lalu mengeluarkan beberapa bahan yang cukup untuk membuat sarapan sederhana. 4 buah telur, beberapa lembar roti tawar, serta selada dan tomat segar segera ia letakkan di atas meja dapur.
"Masak yang praktis aja," gumamnya pelan sambil memanaskan wajan.
Tangannya bergerak cekatan mengocok telur sebelum menuangkannya ke atas wajan yang sudah panas. Sesekali pandangannya beralih ke jam dinding yang hampir menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Sebentar lagi Mas Razka keluar, mungkin," batinnya.
Dugaannya benar. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka. Atharazka keluar dengan penampilan yang sudah rapi. Kemeja berwarna abu-abu muda dipadukan celana bahan hitam membuat penampilannya terlihat formal seperti biasa. Langkahnya tenang menuju ruang makan.
Amora menoleh sambil tersenyum tipis.
"Mas Razka, sarapannya sebentar lagi siap."
Pria itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tanpa banyak bicara ia menarik salah satu kursi, lalu duduk sambil mengecek beberapa pesan di ponselnya.
Tidak lama kemudian Amora membawa dua piring berisi roti panggang, telur dadar, serta potongan tomat dan selada. Dua gelas air putih ikut ia letakkan di atas meja.
"Silakan, Mas."
"Terima kasih," balas Atharazka singkat.
Mereka menikmati sarapan dalam suasana yang tenang. Belum banyak percakapan yang terjalin. Hanya suara alat makan yang sesekali beradu dengan piring memecah keheningan apartemen.
Di tengah sarapan, Atharazka akhirnya mengangkat pandangan.
"Hari ini ada kegiatan?" tanyanya datar.
Amora mengangguk pelan.
"Aku mulai masuk kerja lagi hari ini, Mas. Sudah cukup lama juga libur."
"Oh."
Atharazka kembali mengangguk kecil. Meski jawabannya singkat, setidaknya kini ia mulai mengajak Amora berbicara lebih dulu. Hal kecil itu membuat hati Amora terasa sedikit lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya.
Tidak lama kemudian keduanya menyelesaikan sarapan.
Amora segera mengangkat piring dan gelas kotor menuju wastafel. Ia mencuci semuanya hingga bersih, lalu mengelap meja makan agar kembali rapi. Sementara itu, Atharazka mengenakan jasnya yang tadi ia letakkan diatas sofa..
"Aku berangkat dulu," ucapnya sambil meraih kunci mobil.
Amora menoleh dan tersenyum sopan.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
Atharazka mengangguk tipis sebelum melangkah keluar dari unit apartemen.
Pintu kembali tertutup dan suasana menjadi sunyi.
Amora berdiri beberapa saat di depan meja makan yang kini sudah kosong. Ada rasa sepi yang masih tersisa, tetapi tidak sedalam beberapa hari lalu. Setidaknya sekarang mereka sudah mulai saling menyapa tanpa rasa canggung yang berlebihan.
Ia kemudian kembali ke kamar untuk bersiap. Setelah mandi, Amora memilih mengenakan blouse berwarna krem yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Penampilannya terlihat sederhana, tetapi tetap anggun dan formal. Rambut panjangnya diikat setengah ke belakang sehingga memperlihatkan wajahnya yang segar.
Sebelum meninggalkan apartemen, ia memeriksa kembali seluruh ruangan. Kompor sudah dimatikan, lampu yang tidak diperlukan telah dipadamkan, dan semua barang berada di tempatnya masing-masing sehingga tampak terlihat rapi.
"Sudah beres."
Amora menghela napas pelan, lalu mengunci pintu apartemen.
Sesaat setelah memasuki mobil, pikirannya kembali melayang. Ia teringat percakapannya dengan Atharazka semalam. Mungkin hubungan mereka masih jauh dari kata dekat, tetapi setidaknya kini sudah ada awal yang baik.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, ia mencoba memusatkan perhatian pada hari yang akan dijalani. Hari ini ia akan kembali bekerja sebagai Manager Pemasaran di D'Endra Group, bertemu rekan-rekan kantor, dan kembali menjalani rutinitas yang sempat terhenti.
Senyum kecil menghiasi wajahnya.
"Ayo semangat, Amora."
Dengan keyakinan baru di dalam hati, ia melangkahkan kaki memasuki gedung D'Endra Group. Hari yang baru telah dimulai, dan ia ingin menjalaninya sebaik mungkin, sambil terus belajar beradaptasi dengan kehidupan yang kini perlahan berubah.
.
.
.
*Jangan lupa like, dan komen kritik sarannya ya🫶*
***Terima Kasih 🥰❤️***
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰