"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
Kemegahan lobi gedung penthouse eksklusif di pusat ibu kota itu sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang mencengkeram dada Viona. Dengan tubuh yang masih sedikit basah dan terbungkus jaket jas milik Arkan yang sengaja dilemparkan pria itu untuk menutupi pakaiannya yang melekat ketat, Viona melangkah dengan kepala tertunduk. Di sampingnya, Arkan Mahendra berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dominasi yang membuat para petugas keamanan gedung membungkuk hormat dengan takzim.
Lift pribadi membawa mereka melesat cepat menuju lantai teratas. Keheningan di dalam kubus logam berlapis cermin itu terasa begitu mencekam. Viona bisa melihat pantulan dirinya di cermin—berantakan, pucat, dan tampak seperti domba yang pasrah dibawa ke tempat jagal. Sementara di sebelahnya, Arkan berdiri dengan melipat tangan di dada, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras kokoh. Pria itu sama sekali tidak menoleh padanya, seolah-olah Viona hanyalah barang belanjaan mahal yang baru saja dia beli di pasar malam.
Ting!
Pintu lift terbuka, langsung menyajikan pemandangan sebuah penthouse dua lantai yang luar biasa mewah namun terasa sangat sunyi dan dingin. Didominasi oleh warna hitam, abu-abu, dan sentuhan marmer putih, tempat ini lebih mirip galeri seni modern yang tak berpenghuni daripada sebuah rumah.
"Masuk," perintah Arkan datar sambil melangkah lebih dulu.
Viona melangkah ragu-ragu. Kakinya yang telanjang tanpa alas sekarang menyentuh karpet bulu domba yang sangat lembut dan hangat. Kontras sekali dengan aspal jalanan yang basah dan kasar yang beberapa puluh menit lalu hampir merenggut nyawanya.
Arkan berjalan menuju sebuah meja bar mini, menuangkan cairan amber dari botol kristal ke dalam gelas sloki, lalu meneguknya dalam sekali tegak. Setelah itu, dia berbalik dan menatap Viona yang masih berdiri mematung di dekat pintu masuk.
"Bersihkan dirimu. Di dalam kamar utama ada kamar mandi. Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan pakaian ganti untukmu di atas tempat tidur," ucap Arkan, nadanya tidak menerima bantahan. "Aku tidak suka melihat wanita kotor di dalam rumahku."
"B-Baik, Tuan," bisik Viona lirih.
Dengan langkah gemetar, Viona berjalan menuju arah yang ditunjuk oleh Arkan. Kamar utama itu berukuran sangat luas, dengan sebuah ranjang berukuran king size berkelambu abu-abu tua yang tampak intimidatif di tengah ruangan. Di atas kasur, selembar gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna merah marun sudah terhampar rapi. Jantung Viona berdesir hebat melihat warna pakaian itu. Merah. Warna yang melambangkan gairah, sekaligus menegaskan status barunya malam ini.
Viona melangkah ke kamar mandi yang dilapisi marmer mewah. Di bawah pancuran air hangat, dia membiarkan air membasuh sisa-sisa air mata, debu jalanan, dan rasa takutnya. Namun, kehangatan air itu tetap tidak bisa mencairkan hatinya yang perlahan membeku. Dia tahu, setelah dia melangkah keluar dari kamar mandi ini, lembaran hidupnya sebagai Viona yang polos dan terhormat telah berakhir. Kini, dia hanyalah wanita simpanan seorang CEO.
Dua puluh menit kemudian, Viona keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra tersebut. Gaun itu pas di tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping, kulit bahunya yang seputih susu, serta belahan dadanya yang tercetak samar di balik bahan sutra yang halus. Rambut panjangnya yang setengah basah dibiarkan terurai bebas, menciptakan kesan seksi yang alami tanpa dibuat-buat.
Saat Viona kembali ke ruang tengah, Arkan sudah duduk di sofa kulit hitam yang besar. Di atas meja marmer di hadapannya, telah tersedia dua rangkap dokumen tebal bersanding dengan sebuah pena perak yang berkilau di bawah temaram lampu ruangan.
"Duduk di sini," Arkan menepuk sisi sofa di sebelahnya.
Viona menelan ludah yang terasa getir. Dia berjalan perlahan dan mendudukkan dirinya di tempat yang diminta, menjaga jarak beberapa sentimeter dari tubuh kekar sang CEO. Aroma maskulin bercampur wangi alkohol dari tubuh Arkan langsung menyerang indra penciuman Viona, membuat dadanya bergemuruh tidak karuan.
Arkan menggeser dokumen tersebut ke depan Viona. "Itu adalah kontrak tertulis kita. Doni sudah mengurus pelunasan utang ayahmu ke rentenir itu sepuluh menit yang lalu. Ibumu juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP di Rumah Sakit Medika Utama malam ini juga dengan pengawalan ketat."
Mendengar hal itu, ada rasa lega yang luar biasa membuncah di dada Viona. Setidaknya, pengorbanannya tidak sia-sia. Ibunya aman.
"Terima kasih, Tuan Arkan..." lirih Viona dengan tulus.
"Jangan berterima kasih dulu sebelum kamu membaca syaratnya," potong Arkan dingin. Jemari kokohnya mengetuk permukaan kertas. "Baca poin nomor tiga dan empat."
Viona menunduk dan membaca tulisan berhuruf cetak tebal tersebut dalam hati:
Poin 3: Pihak Kedua (Viona) wajib menyediakan diri, jiwa, dan raganya kapan pun Pihak Pertama (Arkan) membutuhkan, tanpa hak untuk menolak atau mengajukan protes.
Poin 4: Hubungan ini berstatus rahasia mutlak. Pihak Kedua dilarang keras menuntut pengakuan di depan publik, dilarang mencampuri urusan pribadi Pihak Pertama, dan dilarang keras melibatkan perasaan atau jatuh cinta.
Membaca poin terakhir, dada Viona terasa seperti ditusuk jarum tak kasat mata. Jatuh cinta? Viona tersenyum miris dalam hati. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta pada pria kejam yang mengikatnya dengan rantai uang seperti ini?
"Aku rasa syarat itu cukup adil untuk ratusan juta rupiah yang sudah aku keluarkan dalam sekejap, bukan?" tanya Arkan dengan nada meremehkan.
"Sangat adil, Tuan," jawab Viona dengan suara yang diusahakan sekuat mungkin. Dia meraih pena perak tersebut, menatap baris kosong di atas materai, lalu dengan satu tarikan napas, membubuhkan tanda tangannya di sana.
Selesai. Garis takdirnya kini resmi terikat pada Arkan Mahendra.
Begitu Viona meletakkan pena, Arkan langsung menarik dokumen tersebut. Seringai puas kembali terukir di wajah tampannya yang dingin. Pria itu bergeser mendekat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga Viona bisa merasakan kehangatan suhu tubuh Arkan yang memabukkan.
Tangan besar Arkan terangkat, jemarinya yang hangat perlahan menyelipkan anak rambut Viona yang basah ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan kasar namun sensual itu membuat tubuh Viona meremang seketika. Tatapan mata Arkan yang semula sedingin es, kini perlahan berubah menggelap, digantikan oleh kilatan gairah yang membara yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng keangkuhannya.
"Kontrak sudah sah," bisik Arkan, suaranya mendadak berubah menjadi berat dan serak di dekat telinga Viona. "Dan sekarang... saatnya kamu membayar angsuran pertamamu malam ini, Viona."
Sebelum Viona sempat menjawab, tangan Arkan sudah berpindah ke tengkuknya, menarik wajah gadis itu dengan lembut namun penuh penekanan, lalu mengunci bibir Viona dalam sebuah ciuman yang menuntut dan penuh gairah terlarang.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.