Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Kebakaran
Wajah Iwan langsung lesu. Adnan juga mengusap wajahnya. Selesai sudah. Bukannya berhasil menghindar atau menangkap Liza, mereka malah sama-sama berakhir di pinggir jalan menerima surat tilang.
Liza berjalan menghampiri Adnan. Dia tarik tangan cowok itu dan mengajaknya bicara di tempat sepi.
"Eh mau kemana kalian?! Ini belum selesai loh urusannya!" timpal salah satu polisi.
"Bentar, Pak! Saya mau bicara empat mata sama sopir saya!" sahut Liza. Polisi itu lantas mengangguk. Liza pun lanjut melangkah bersama Adnan.
Ketika sudah berada di tempat yang dirasa sepi, Liza langsung angkat bicara. "Semua ini gara-gara kau tahu nggak! Kenapa pakai acara ngejar aku segala sih?!" omelnya dengan wajah memerah padam karena kesal.
"Aku hanya menjalankan tugasku untuk menjagamu, Liz! Itu saja," balas Adnan.
"Tapi aku kan udah nyuruh kau pergi! Aku nggak mau terus di ikuti!" tegas Liza.
"Kalau aku pergi, nanti aku makan gaji buta. Lagian aku kerjanya sama ayahmu, bukan sama kamu. Jadi perintahmu nggak mempan buatku," tanggap Adnan tak mau kalah.
Liza terdiam. Ia hanya menatap tajam Adnan sembari mengepalkan tinju di kedua tangannya.
"Sebenarnya kalian mau kemana?" tanya Adnan.
"Nggak usah bacot! Pokoknya kau harus tanggung jawab sama kekacauan ini! Jadi kau yang bayar biaya tilangnya!" bentak Liza.
"Loh, kok aku? Tapi kan--"
"Ini semua nggak akan terjadi kalau kau nggak ngejar kami tadi!" potong Liza ketus.
Adnan sempat terdiam karena bingung. Namun itu tak berlangsung lama, sebab dia langsung terpikir untuk menghubungi Wildan.
"Oke, kalau itu maumu. Aku akan telepon Mas Wildan," ujar Adnan.
Sontak mata Liza membulat sempurna. Dia buru-buru hendak merebut ponsel Adnan. Tapi gagal karena Adnan langsung menjauhkan ponselnya.
"Jangan coba-coba bikin papaku ikut campur!" kata Liza galak.
"Katanya tadi suruh aku tanggung jawab, ya beginilah. Aku kebetulan nggak punya uang buat bayar denda. Lagian semua ini aku lakukan demi jagain kamu. Jadi aku yakin papamu pasti mau bantu," ucap Adnan.
Liza memejamkan matanya rapat-rapat. Berusaha meredam amarahnya dengan cara begitu. "Oke! Aku akan bayar uang dendanya. Tapi jangan bilang apapun tentang ini sama papaku dan biarin aku pergi sama teman-temanku!"
Adnan menggeleng seraya tersenyum tipis. "Nggak bisa. Kau harus ikut pulang denganku, baru aku akan rahasiakan semua ini," sahutnya.
Liza menggertakkan gigi kesal. "TERSERAH DEH!" gerutunya.
Dari jauh, Rini dan Salma memperhatikan Adnan dan Liza berdebat.
"Mereka nggak kayak sopir sama majikan ya," bisik Rini.
"Iya, lebih mirip pasangan yang lagi berantem," sahut Salma.
"Eh, tapi dari mana ya Liza dapat sopir ganteng gitu? Kalau aku punya sopir begitu, pasti aku pacarin aja," ungkap Rini.
"Dih! Kau pengemis ganteng aja kayaknya juga bakalan kau pacari! Dasar pemuja good looking garis keras!" timpal Salma tak habis pikir.
Tak lama Liza menghampiri dua sahabatnya itu. Dia mengatakan kalau rencana ke klub malam batal. Dia akan membayar denda dan pulang bersama Adnan.
"Ya sudah, nanti lain kali kita pergi dengan rencana matang." Iwan berbisik ke telinga Liza.
Liza hanya mengangguk. Usai melakukan bayar denda, semua orang bubar. Liza sendiri terpaksa ikut Adnan pulang ke rumah.
Sementara Adnan tak bisa berhenti tersenyum penuh kemenangan. Semuanya terasa tenang selama perjalanan.
Namun ketenangan itu sirna saat Adnan dan Liza melihat asap hitam tebal di langit. Asap itu mengepul hebat di lokasi rumah Liza. Terlihat juga beberapa mobil pemadam yang lalu lalang menuju lokasi munculnya asap hitam tersebut.
"Astaga, asap apa itu?" imbuh Liza yang mendadak panik.
"Sepertinya ada kebakaran!" sahut Adnan.
Liza dan Adnan mendadak terdiam. Apalagi saat mereka sudah dekat dengan lokasi tujuan. Terlihat ada banyak sekali orang di lokasi kejadian.
"Nggak... Nggak mungkin... Jangan sampai..." kata Liza. Berharap rumah yang terbakar itu bukanlah rumahnya.
Adnan hanya membisu sejak tadi. Karena dia merasakan firasat buruk saat melihat rumah yang sedang dilahap sang jago merah.
Ya, rumah itu tak lain adalah rumah keluarga Narendra. Rumahnya Liza.
"TIDAAAK!"
Liza langsung berteriak histeris. Ketika mobil berhenti, dia langsung berlari keluar.
Melihat itu, Adnan bergegas mengikuti. Dia menangkap Liza agar tidak mendekat ke kobaran api.
"PAPA! MAMA!" pekik Liza sembari mengedarkan ke segala arah. Berharap kedua orang tuanya itu masih hidup. Dia juga terus melepaskan pegangan Adnan.
"Pak! Tolong katakan tidak ada orang yang terjebak di rumah!" ujar Adnan. Bertanya pada salah satu warga yang ada di sana.
"Kami masih belum tahu apakah ada orang atau tidak di rumah! Karena kejadiannya terjadi begitu saja. Awalnya kami mendengar adanya suara ledakan, lalu disusul dengan kobaran api. Ini Mbak anaknya Mas Wildan kan?" tanya lelaki paruh baya itu.
Liza mengangguk lemah. Air matanya perlahan berlinang di wajah cantiknya. Sementara Adnan berusaha menenangkannya.
"Yang sabar ya, Mbak. Sekarang damkar lagi berusaha padamin api sama mencari tahu apakah ada orang di dalam atau tidak."
"Ad... Ini nyata kan? Katakan kalau semua ini hanya mimpi..." isak Liza yang merasa masih sulit percaya. Mengingat semuanya terjadi begitu cepat. Seakan tidak memberi Liza kesempatan untuk bernafas.
Adnan tak tahu barus berkata apa. Dia hanya membiarkan Liza menangis dalam pelukannya. Jauh di dalam hati, dirinya tahu kalau musibah itu kadang akan datang di waktu yang tak terduga.