NovelToon NovelToon
RINDU DIATAS KHIANAT

RINDU DIATAS KHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.

Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan menantu baru

Pintu kamar tertutup dengan pelan,

Rindu berjalan mendekati meja rias, melepas jepit rambutnya, lalu mulai membersihkan sisa riasan tipis di wajahnya.

Gerakannya sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihujani sindiran tajam.

Arsen berdiri di dekat tempat tidur, menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah yang kentara. Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Rindu, menatap pantulan wajah istrinya dari cermin.

"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan? Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati ya, perkataan Mama tadi. Kamu tahu sendiri kan Mama kalau sudah telanjur bicara, kadang suka lepas kendali. Maksud Mama sebenarnya tidak bermaksud jahat kok, cuma..."

Arsen menjeda kalimatnya sendiri, merasa pembelaannya terdengar hambar dan klise di telinganya sendiri.

Rindu menghentikan usapan kapas di wajahnya sejenak. Ia menatap pantulan mata Arsen di cermin, lalu membalikkan badan menghadap suaminya. Ia memegang tangan Arsen yang berada di bahunya.

"Tidak apa-apa, Mas. Sungguh. Nanti setelah bangun tidur besok, aku pasti sudah melupakannya kok. Kamu tenang saja." Katanya.

"Lagipula, aku kan memang sudah terbiasa dengan hal itu, Mas. Ini bukan pertama kalinya Mama bicara begitu, kan? Tiga tahun ini sudah cukup membuat telingaku tebal."

Rindu melepaskan tangan Arsen, lalu berjalan menuju tepi ranjang dan mendudukkan diri di sana. Ia menatap lantai kamar dengan pandangan kosong, menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya yang paling jujur.

"Dan setelah aku pikir-pikir, mama ada benarnya juga, Mas. Aku juga sadar diri. Sebagai perempuan, ini memang salahku. Salahku karena sampai sekarang belum bisa memberikan cucu untuk Mama dan Papa. Belum bisa menjaga harapan keluarga ini."

"Sayang, kenapa kamu bicara begitu? Ini bukan salah siapa-siapa. Dokter kan sudah bilang kita berdua bisa terus berusaha."

Arsen menghela napas panjang, lalu ikut merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang kosong. Ia bergeser mendekat, merapatkan tubuhnya ke punggung Rindu, lalu melingkarkan lengannya di pinggang sang istri. Ia bisa merasakan tubuh Rindu yang sempat menegang sejenak sebelum akhirnya kembali relaks.

"Jangan pernah bilang kalau ini kekuranganmu. Menikah itu urusan kita berdua. Kalau ada yang belum sempurna, itu adalah proses kita berdua, bukan salahmu sendiri. Aku yang suamimu saja tidak pernah menyalahkanmu, jadi tolong, jangan hukum dirimu sendiri dengan pikiran seperti itu."

Arsen mengecup pundak Rindu dengan lembut, menyalurkan seluruh rasa bersalah dan cinta yang tak mampu ia bahasakan sepenuhnya. Tangan Rindu perlahan bergerak ke bawah, menyentuh jemari Arsen yang melingkari perutnya, menggenggamnya erat.

****

Sesuai ucapannya semalam, Rindu bangun dengan wajah yang tampak segar, seolah mendung semalam telah luruh bersama pekatnya malam.

Mengenakan daster rumahan dan rambut yang dicepol rapi, ia sudah sibuk di dapur memotong sayuran untuk sarapan.

Langkah kaki yang terseret pelan menandakan kehadiran Bu Ratna masuk ke area dapur. Rindu langsung menoleh dan menyapa mertuanya dengan memasang senyum ramah yang biasa.

"Selamat pagi, Mah. Ini Rindu sedang buat sup ayam sayur. Mama mau kopi atau teh hangat pagi ini? Biar sekalian Rindu buatkan."

"Teh hangat saja, gulanya sedikit. Oya, supnya jangan terlalu asin, Papa semalam tensinya agak tinggi."

"Iya, Ma. Supnya Rindu buat agak hambar nanti," jawab Rindu lembut, tangannya kembali cekatan mengiris wortel, sebelum meninggalkannya sebentar untuk membuat teh.

Bu Ratna tidak langsung pergi. Beliau bersandar di dekat konter dapur, sambil memperhatikan gerak-gerik menantunya.

Ada keheningan yang sempat menggantung sebelum Bu Ratna kembali berdeham, memecah kesunyian dengan nada suara yang, meski tidak setajam semalam, tetap terasa menuntut.

"Rindu, soal ucapan Mama semalam, kamu jangan lebay sampai sampai merengek pada Arsen, ya. Mama bicara begitu kan karena peduli. Umur kalian itu sudah tidak muda lagi untuk ukuran rumah tangga."

Gerakan Rindu menuang air panas ke gelas sempat tertahan. Detak jantungnya serasa melompat, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia menarik napas dalam-dalam melalu hidung, lalu mengembuskannya perlahan sebelum berbalik menghadap mertuanya sembari mengulas senyum tipis.

"Tidak kok, Ma. Rindu tidak merengek ke Mas Arsen. Mama tenang saja," ucapnya tenang.

"Rindu tahu Mama hanya ingin yang terbaik untuk kami."

Bu Ratna tampak sedikit terkejut dengan reaksi Rindu yang begitu tenang, seolah semua sindiran pedas semalam menguap begitu saja tanpa bekas. Sebelum Bu Ratna sempat menanggapi lagi, langkah kaki Arsen yang terdengar mendekati dapur.

"Pagi, Ma. Pagi, Sayang," sapa Arsen, langsung mengecup pelipis Rindu sekilas sebelum mengambil posisi duduk di meja makan.

Matanya sempat melirik bergantian antara ibu dan istrinya, mencari-cari tanda ketegangan. Namun, melihat Rindu yang sedang menuangkan teh hangat ke cangkir Bu Ratna dengan tangan yang stabil, Arsen bisa sedikit bernapas lega.

"Ini tehnya, Ma," Rindu meletakkan cangkir itu di hadapan Bu Ratna, lalu beralih mengambilkan segelas air putih untuk suaminya.

"Terima kasih, Sayang," ujar Arsen hangat, menggenggam jemari Rindu sekilas di bawah meja, menyalurkan rasa terima kasih yang mendalam atas ketegaran istrinya pagi ini.

Rindu hanya membalasnya dengan kerlingan mata jenaka, seolah ingin meyakinkan suaminya bahwa badai semalam benar-benar telah berlalu, atau setidaknya, telah ia kunci rapat-rapat di dalam hatinya demi kedamaian rumah ini.

Bu Ratna menyesap tehnya sedikit, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya dengan denting halus yang memutus keheningan.

"Ya sudah, Mama mau bangunkan Papa dulu. Jangan lupa supnya segera dihidangkan kalau sudah Mateng, Arsen harus berangkat kerja, kan?"

"Iya, Ma. Sebentar lagi matang kok," jawab Rindu sopan.

Begitu sosok Bu Ratna menghilang di balik lorong menuju kamar utama, ketegangan yang sempat menyelimuti dapur itu perlahan mencair.

Arsen segera berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Rindu yang kembali sibuk mengaduk sup di atas kompor. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Rindu dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.

"Kamu hebat banget pagi ini. Terima kasih ya, Sayang," bisik Arsen lembut, menyapukan kecupan singkat di pipi Rindu.

Rindu terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu dramatis.

"Hebat kenapa? Cuma masak sup sama buat teh saja dibilang hebat. Sudah, Mas, lepas dulu, aku susah gerak ini."

Arsen melonggarkan pelukannya tetapi tidak benar-benar menjauh. Ia membalikkan tubuh Rindu agar menghadapnya.

"Bukan soal supnya. Soal Mama. Aku tahu tidak mudah bagi kamu untuk bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa."

Rindu menatap mata suaminya yang penuh dengan binar kecemasan sekaligus rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang. Ia meraih kedua tangan Arsen, menggenggamnya erat sembari memberikan senyuman terbaiknya.

"Mas, kita sudah bahas ini semalam, kan? Aku tidak apa-apa. Lagipula, apa yang dibilang Mama tadi ada benarnya, beliau hanya khawatir. Dan aku tidak mau memulai hari dengan menyimpan dendam atau cemberut. Itu cuma bakal merusak suasana rumah, dan aku tidak mau kamu berangkat kerja dengan pikiran yang terbebani. Lagipula, pernikahan kita ini bukan baru berjalan tiga bulan, mas. Kita sudah menikah tiga tahun, masa aku masih seperti menantu baru."

Arsen terdiam, menatap lekat-lekat wanita di depannya. Ada rasa kagum yang membuncah di dadanya melihat kedewasaan Rindu, namun di sisi lain, ada secercah rasa perih karena ia tahu, istrinya sedang melapisi hatinya dengan tameng yang sangat tebal demi menjaga perasaan semua orang.

"Aku beruntung banget punya kamu, Rindu," ujar Arsen tulus, lalu mengecup kening istrinya lama.

"Iya, aku tahu aku memang berharga," gurau Rindu sambil mengedipkan sebelah matanya, berusaha memecah keharuan yang mulai merayap.

"Sekarang, bantu aku bawa mangkuk sup ini ke meja makan sebelum Papa dan Mama keluar. Oke?"

Arsen tertawa kecil, rasa hangat menjalar di hatinya.

"Siap, Nyonya Arsen."

1
Shinta Teja
Thor plis Thor, plisss!!!!!
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
Sanda Rindani
jangan bodo rindu
Shinta Teja
jangan lupa minta no unitnya mbak Fina,rindu. jadi kamu bisa sementara sembunyi di apartemen nya....🥺
Sanda Rindani
jangan lembek dong rindu
Ben Aben
Udah mulai seru ya thor
stela aza
sakarepmu sing nulis Thor endinge arep kaya apa Yo ngono ,,, wis bebeh drama rumah tangga yg ngono kui wis biasa Karo wis akeh di setiap novel hampir sama rata 🙏 nek ora selingkuh Karo konco Yo Karo Adine trs sepupu Yo muter2 Ning Kono kui tok 🙏
Maple latte: saya gk tau ya kak kalau novel lain juga sama, saya cuman nulis apa yang terlintas di pikiran aja.
kayak, bikin cerita ini kayaknya seru, selingkuhannya si ini. terus nanti pertengahannya akan jadi seperti ini, dan endingnya akan seperti ini.
jadi semua sudah saya pikirkan, dan semua sudah ada di otak di penulis. gambarannya seperti apa. dan, juga pasti mencari ini akan seru nih cerita seperti ini. jadi, kita itu gk tau ceritanya sama atau tidak dengan yang lain, kalau kakak merasa ceritanya sama dengan yang lain ya, mungkin pemikiran saya dan penulis yang lain sama.
total 1 replies
stela aza
ujung2 nya Nnti setelah cerai baru ketahuan kalau Nia hamil bukan anaknya Arsen ,,, wisss mambu lagu ngono kui ,,, 🤣
Cha Libra
jngan biarkan Rindu lluh thour ma s Arsen .biar rindu kluar gugat cerai suami kga tau diri
Delisa
novelnya good thor
Yantie Narnoe
😭😭😭 sedih x....up lg othor...💪
stela aza
balas rindu jangan diem Bae ,,, balesnya dg cara yg cantik dan apik ,,, hancurkan sampai tak bersisa 2 penghianat itu 🤭
Shinta Teja
terimakasih ya otor,dah dikabulkan permintaan ku...🫰
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰
Shinta Teja
up nya yang banyak dong Thor. masa cuma 1 . mana makin bikin penasaran lagi🫰
Anonim
Wah wah si nia ini pelakor nya ternyata y thor🤭
Shinta Teja
tolong dong,kak. jangan lama² bongkar kebohongan nya Arsen. sebab aku mau si RINDU itu bisa bersikap tegas & keluar dari keluarga toxic itu
Anonim
Rindu jangan lemah dong thor buat jadi cewe badas,gemes ih sama mertua modelan kek gitu pengen kasih rawit sekilo
stela aza
kok rindu diem j di hina di injak-injak harga dirinya,, meneng Bae ,,, lawan donk , jgn jdi perempuan bodoh ,,
Shinta Teja
jangan sampai itu si Nia,sahabat nya rindu🥺🥹
Anonim
Masih muter aja thor kapan nih rindu tau kalau suaminya selingkuhh🤭
Anonim
Jijik bener deh sama yg namanya pelakor,malah jadi ngerasa dia yg korban padahal istri sah yg korban
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!