NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Yang Membuat Dunia Diam

Yu memeluk bantal lebih erat.

Kalimat Zhen masih berada di antara mereka.

Sekarang jelaskan padaku tentang haus sentuhan-mu.

Untuk pertama kalinya, istilah itu terdengar tidak seperti rahasia di kepala Yu, melainkan sesuatu yang harus diletakkan di meja, di bawah lampu ruang tengah, di depan orang yang selama ini menjadi pusat dari semua kekacauan.

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," katanya.

"Mulai dari yang paling mudah."

"Tidak ada bagian yang mudah."

"Kalau begitu mulai dari yang paling tidak menyakitkan."

Yu menatap Zhen.

Ia duduk di sofa tunggal, punggung tegak, tangan di lutut. Jaraknya cukup jauh. Wajahnya tidak mendesak. Setelah semua yang baru terbongkar, Zhen tetap membuat ruang untuk Yu bernapas.

Itu membuatnya sedikit lebih berani.

"Tubuhku kadang... berisik," kata Yu pelan.

Zhen tidak memotong.

"Bukan berisik secara suara. Lebih seperti kulitku terlalu sadar. Baju terasa kasar. Udara terasa menusuk. Kalau ada orang asing menyentuhku, rasanya seperti sesuatu yang kotor menempel, walaupun aku tahu secara logika orang itu mungkin tidak salah."

Yu menelan ludah.

"Kalau sedang parah, aku tidak bisa tidur. Tidak bisa fokus. Kadang mual. Kadang ingin menggaruk kulit sendiri padahal tidak ada apa-apa."

Zhen mendengarkan tanpa bergerak.

"Sejak kapan?"

Pertanyaan itu pelan.

Yu menatap gelas air di meja. "Sejak SD."

"Karena sesuatu?"

Jari Yu mencengkeram ujung bantal.

Zhen langsung berkata, "Kamu tidak harus menjawab bagian itu sekarang."

Yu mengangkat mata.

"Aku tahu ada sesuatu," lanjutnya. "Tapi aku tidak perlu detail malam ini."

Kata tidak perlu membuat napas Yu goyah. Banyak orang meminta cerita karena penasaran, seolah luka orang lain adalah bukti yang harus diperlihatkan agar dipercaya. Zhen justru tidak meminta.

"Ada kejadian," kata Yu akhirnya, cukup untuk dirinya sendiri. "Aku belum bisa cerita lengkap."

"Baik."

Hanya itu.

Baik.

Tidak ada tekanan.

Yu melanjutkan sebelum keberaniannya habis. "Dulu, yang bisa menenangkanku cuma keluarga. Terutama Ko Darren. Kalau dia pegang kepalaku atau peluk sebentar, tubuhku berhenti panik. Mama juga bisa kadang. Tapi dengan orang lain, tidak."

"Kevin?"

Yu menggeleng.

"Tidak. Bahkan waktu kami masih pacaran. Aku bisa tahan kalau dia pegang tangan, karena aku percaya waktu itu. Tapi tidak pernah membuat... dunia diam."

Zhen mengulang pelan, "Dunia diam."

Yu menatap tangannya sendiri. "Itu cara paling dekat menjelaskannya. Seperti ada banyak suara di bawah kulit, lalu tiba-tiba ada yang mematikan semuanya."

Zhen tidak bertanya apakah itu masuk akal.

Ia hanya menyimpan kalimat itu.

"Pertama kali denganmu," kata Yu, suara makin kecil, "waktu kamu pulang jam dua pagi. Punggung tangan kita bersentuhan. Aku pikir karena takut, karena kaget, karena aku baru putus. Lalu di ruang tengah, waktu gelas air. Lalu kampus, waktu kamu pegang pergelangan tanganku."

"Dan setelah itu kamu mulai mengetes."

Yu menutup mata. "Jangan pakai nada seperti dosen."

"Aku tidak pakai nada dosen."

"Kamu selalu pakai nada dosen kalau sedang benar."

Zhen diam sebentar. "Baik. Aku ganti. Setelah itu kamu panik dan mulai melakukan eksperimen buruk."

Yu membuka mata untuk melotot. "Lebih buruk."

"Tapi akurat."

Rasa tegang di dada Yu berkurang sedikit. Ia bahkan hampir tersenyum, walau masih malu.

"Aku mencoba ke Lily. Tidak bisa. Tabrakan orang di kampus malah membuatku mual. Prof. Lim juga tidak. Situasinya sopan, tapi tetap tidak membuat tenang. Ko Darren bisa, tapi dia di Surabaya. Kamu..." Ia berhenti, telinganya panas. "Kamu bisa."

Zhen menunduk melihat tangannya sendiri.

Tangannya yang selama ini Yu kejar dengan alasan gelas, charger, piring, lantai licin, segala kebodohan lain.

"Kenapa aku?" tanyanya.

"Aku tidak tahu."

Jawaban itu keluar jujur.

Yu tertawa kecil tanpa bahagia. "Kalau aku tahu, mungkin aku tidak akan transfer lima puluh juta."

"Kamu tetap tidak boleh mengulang bagian itu."

"Aku tahu."

"Serius."

"Aku tahu, Zhen."

Nada Yu membuat mereka sama-sama diam.

Itu pertama kalinya malam itu ia menyebut namanya tanpa panik, tanpa bercanda, tanpa berusaha kabur.

Zhen mengangguk pelan.

"Apa sentuhanku selalu membantu?"

Yu memeluk bantal lagi. "Tidak selalu sama. Kalau cuma hampir bersentuhan, kadang cukup menurunkan sedikit. Kalau benar-benar kulit, lebih kuat. Kalau kamu pegang pergelangan tangan..." Ia berhenti, malu sendiri. "Lebih cepat."

"Apakah pernah membuatmu tidak nyaman?"

Yu langsung menggeleng. Lalu menyadari jawabannya terlalu cepat.

"Tidak," katanya lagi, lebih pelan. "Justru itu masalahnya."

"Kenapa masalah?"

"Karena kamu bukan keluargaku."

Kalimat itu jatuh di ruang tengah.

Yu menunduk. "Karena aku baru kenal kamu. Karena aku tidak tahu apakah ini adil untukmu. Karena kamu punya... batas. Kamu tidak suka disentuh. Kamu bersih sekali sampai coaster saja punya posisi. Aku tidak mau tubuhku membuatmu merasa terpaksa."

Zhen mendengarkan sampai selesai.

Lalu ia berkata, "Tubuhmu tidak membuatku terpaksa."

Yu mengangkat kepala.

"Aku tetap bisa berkata tidak," lanjut Zhen. "Dan kalau aku tidak nyaman, aku akan bilang."

"Kamu yakin?"

"Aku sangat pandai bilang tidak."

Itu benar.

Terlalu benar sampai Yu hampir tertawa.

"Tapi kamu tidak jijik?" tanyanya, suara hampir tidak terdengar.

Zhen menatapnya.

Ia tidak langsung menjawab, seolah tahu pertanyaan itu bukan sekadar soal dirinya. Itu pertanyaan yang mungkin sudah lama Yu simpan terhadap banyak orang, terhadap tubuhnya sendiri.

"Tidak," katanya akhirnya. "Aku tidak jijik."

Mata Yu panas lagi.

"Bahkan waktu aku tidur di bahumu?"

"Leherku sedikit kaku."

"Zhen."

"Tidak jijik," ulangnya, kali ini lebih jelas. "Tidak kotor. Tidak merepotkan seperti yang kamu pikir."

Yu menunduk cepat, tapi air mata tetap jatuh satu.

Ia membenci air mata itu. Terlalu mudah. Terlalu jelas.

Zhen tidak mendekat. Ia hanya mengambil kotak tisu di meja dan mendorongnya ke arah Yu. Bukan dengan bolpoin. Dengan tangan.

Kotak tisu berhenti di dekat lutut Yu.

Gerakan itu kecil, tapi Yu melihatnya. Dulu Zhen akan menghindari menyentuh barang bersama. Sekarang ia melakukannya tanpa komentar.

Yu mengambil tisu.

"Maaf," katanya otomatis.

"Untuk apa?"

"Menangis."

"Itu bukan pelanggaran aturan rumah."

Yu tertawa basah.

Zhen menunggu sampai ia menghapus wajahnya. Lalu ia bertanya, "Apa yang biasanya kamu lakukan kalau kambuh dan Ko Darren tidak ada?"

"Tahan."

"Selain tahan."

"Menulis. Mandi air hangat. Peluk bantal. Kadang menelepon Ko Darren tapi tidak bilang kenapa. Kalau parah, aku tidak tidur."

"Itu bukan solusi."

"Aku tahu."

"Kamu pernah konsultasi?"

Yu ragu. "Waktu kecil pernah. Mama membawaku ke psikolog anak setelah kejadian itu. Tapi setelah kuliah, aku pikir sudah membaik. Aku bisa hidup normal. Sampai Kevin, pindah apartemen, semua ini..."

"Stres berat."

"Iya."

Zhen mengangguk. "Kamu tidak harus menyelesaikannya sendirian."

"Kalimatmu terdengar mudah."

"Tidak mudah. Tapi tidak harus sendiri."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Dan aku bukan pengganti psikolog."

Yu mengangkat kepala.

"Aku bisa membantu kalau sentuhanku membuatmu lebih tenang," kata Zhen. "Tapi kalau suatu hari kambuhnya makin berat, atau kamu mulai tidak bisa tidur berhari-hari, kamu tetap perlu bantuan profesional. Aku bisa antar kalau kamu mau. Atau menunggu di luar ruangan. Tapi aku tidak akan pura-pura ini cukup hanya karena aku kebetulan efektif."

Yu menatapnya lama.

Ini bagian yang tidak pernah ia bayangkan dari fantasi memalukan bernilai lima puluh juta. Ia mengira jika rahasianya terbongkar, Zhen akan jijik, atau tertawa, atau menjauh. Ia tidak mengira laki-laki itu akan duduk di depannya pukul lewat tengah malam dan membicarakan psikolog dengan nada seserius membicarakan bug program.

"Aku takut kalau harus cerita dari awal," katanya.

"Kalau belum siap, tidak sekarang."

"Kamu akan menunggu?"

"Aku baru saja menunggu kamu menyembunyikan folder Kalkulator selama beberapa hari. Standarku soal menunggu sudah rusak."

Yu tertawa kecil di tengah sisa air mata.

Dadanya terasa sedikit lebih lapang malam itu.

Yu memegang tisu di tangan, menatapnya sampai serat putih itu kabur.

Ruang tengah sangat sunyi. Tidak tegang seperti sebelum-sebelumnya. Sunyi yang memberi tempat bagi hal-hal memalukan untuk duduk tanpa langsung diusir.

Zhen kemudian meletakkan tangan kanannya di atas meja.

Telapak menghadap bawah.

Jaraknya masih jauh dari Yu.

"Malam ini," katanya, "kamu butuh?"

Yu menatap tangan itu.

Pertanyaan tersebut membuat jantungnya berdebar, tapi bukan karena takut. Karena Zhen bertanya. Bukan mengambil keputusan untuknya. Bukan menyuruhnya kuat. Bukan menyentuh tanpa izin.

Ia bisa berkata tidak.

Ia bisa berkata iya.

Hak memilih itu sendiri sudah terasa seperti bentuk ketenangan baru.

"Aku..." Yu menelan ludah. "Aku sudah lebih tenang."

Zhen tidak menarik tangannya. Tidak memaksa. Hanya menunggu.

Kulit Yu memang lebih tenang daripada saat pertama kali duduk di sofa. Tapi setelah semua yang terbuka, tubuhnya lelah. Seperti habis berlari jauh. Ia ingin memastikan dunia masih tidak runtuh setelah Zhen tahu.

Pelan-pelan, Yu mengulurkan tangan.

Jarinya berhenti beberapa sentimeter dari tangan Zhen.

"Boleh?"

Zhen menatap matanya.

"Boleh."

Yu menyentuh punggung tangannya.

Tidak menggenggam. Hanya menaruh ujung jari di sana.

Efeknya datang seperti hujan yang jatuh di tanah kering. Tidak heboh. Tidak memalukan. Hanya lega yang turun perlahan, mengisi retakan-retakan kecil di dalam tubuhnya.

Yu menutup mata.

Di seberang meja, Zhen tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya, sentuhan itu tidak dicuri, tidak dibeli, tidak disembunyikan.

Itu diberikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!