NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Weichen vs Surya

Lim Wei Chen datang ke Sentana pukul sepuluh pagi.

Tidak memakai rombongan besar. Tidak membawa pengawal yang mencolok. Hanya jas abu-abu, sepatu mengilap, dan satu map hitam tipis di tangan. Namun begitu ia melewati pintu kaca, ruang kerja Sentana langsung berubah sunyi.

Resepsionis berdiri lebih cepat daripada biasanya.

"Pak Weichen..."

"Saya ingin bertemu Surya Prasetyo."

Nama itu membuat beberapa kepala menoleh.

Surya sedang membaca draf restrukturisasi kontrak ketika pintu ruang kacanya diketuk sekali, lalu dibuka tanpa menunggu jawaban.

Weichen masuk.

Ia melihat papan nama Partner Muda non-ekuitas di meja Surya, lalu tersenyum tanpa hangat.

"Lumayan cepat naik."

Surya berdiri. "Mas Weichen. Silakan duduk."

"Saya tidak datang untuk duduk lama."

Ia melempar map hitam ke meja. Meski tidak keras, cukup untuk membuat staf di luar berpura-pura lebih sibuk.

"Tanda tangan ini."

Surya tidak menyentuh map itu. "Apa isinya?"

"Sederhana. Kamu tidak boleh mendekati adikku lagi."

Barulah Surya membuka map.

Dokumen itu disusun seperti perjanjian resmi: larangan komunikasi pribadi dengan Meilu, larangan berada dalam radius satu kilometer dari kediaman keluarga Lim, kantor Meilu, dan acara keluarga, larangan memakai nama Meilu atau Lintang Group untuk keuntungan pribadi, serta penalti Rp 50 miliar jika melanggar.

Surya membaca sampai selesai.

Weichen menunggu dengan dagu terangkat. "Kalau kamu tanda tangan, saya pastikan Sentana tetap mendapat pekerjaan dari beberapa anak perusahaan Lintang. Kamu juga bisa tetap membangun karier. Menjauh dari Meilu bukan akhir dunia."

"Bagi siapa?"

"Bagi kamu."

"Dan bagi Meilu?"

Weichen menegang sedikit. "Saya kakaknya."

"Saya tahu."

"Tugas saya memastikan dia tidak jatuh ke tangan pria yang membawa terlalu banyak masalah."

Surya menutup dokumen. "Masalah saya tidak saya sembunyikan. Justru itu yang membuat saya lebih mudah diperiksa."

"Jangan bermain kata dengan saya."

Surya mengambil dokumen itu, merapikan halamannya, lalu mulai merobek halaman pertama.

Suara kertas tersobek terdengar jelas.

Staf di luar berhenti mengetik.

Halaman kedua.

Ketiga.

Keempat.

Wajah Weichen berubah gelap.

"Kamu tahu apa yang kamu lakukan?"

Surya meletakkan sobekan kertas di meja.

"Ko Chen, saya menghormati Anda sebagai kakak Meilu. Tapi cinta bukan kontrak bisnis."

Weichen memukul meja dengan telapak tangan.

"Kamu tahu siapa aku? Lintang Group bisa menghancurkan firma hukum kecil ini dalam seminggu!"

Pintu ruang Diana terbuka di ujung koridor. Namun, ia tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri, mengamati apakah muridnya perlu diselamatkan.

Surya tidak menaikkan suara.

"Silakan."

Weichen terdiam.

Surya melanjutkan, "Tapi Meilu akan membenci Anda seumur hidup."

Kalimat itu lebih keras daripada ancaman balik mana pun.

Weichen menatap Surya lama. Di matanya ada marah, gengsi, dan sesuatu yang lebih rumit: ketakutan seorang kakak yang terlalu terbiasa memakai kekuasaan sebagai bentuk perlindungan.

"Kamu pikir kamu layak untuk dia?"

"Belum."

Jawaban itu membuat Weichen tidak siap.

"Kalau begitu mundur."

"Tidak. Saya akan menjadi layak sambil tetap mencintainya. Kalau suatu hari Meilu sendiri menyuruh saya pergi, saya pergi. Tapi saya tidak akan pergi karena kontrak yang dia tidak pernah minta."

Ruang kaca terasa sempit.

Weichen mengambil sisa mapnya. "Kamu akan menyesal."

"Saya sudah punya banyak pengalaman soal itu."

Weichen berbalik dan keluar. Di koridor, ia melewati Diana. Diana hanya berkata singkat.

"Pak Weichen, lain kali buat janji jika ingin membawa dokumen hukum ke kantor hukum."

Weichen berhenti setengah detik, lalu terus berjalan.

Begitu pintu lift menutup, ruang kerja Sentana meledak dalam bisik-bisik tertahan. Rina mengambil sobekan kertas dari dekat printer dan membaca angka penalti dengan mata membesar. Seorang associate muda langsung pura-pura batuk ketika Diana menoleh.

"Semua kembali bekerja," kata Diana.

Dalam tiga detik, keyboard kembali berbunyi.

Diana masuk ke ruang Surya tanpa mengetuk. Ia melihat sobekan kontrak, lalu Surya.

"Secara emosional, memuaskan," katanya. "Secara hukum, jangan biasakan merobek dokumen asli sebelum membuat salinan."

Surya menatap sobekan di meja.

"Saya akan ingat."

"Kamu sedang berhadapan dengan keluarga yang bisa membuat masalah pribadi terlihat seperti keputusan korporat. Jangan menang hanya di adegan. Menang juga di arsip."

Surya mengangguk. Diana mengambil satu sobekan kecil.

"Aku simpan ini. Bukan untuk menyerang Weichen. Untuk mengingatkan kamu bahwa cinta juga butuh manajemen risiko."

Setelah ia keluar, Surya duduk lagi. Tangannya baru terasa sedikit bergetar. Ia sadar satu kalimat yang ia ucapkan tadi benar: ia belum layak sepenuhnya.

Namun ia juga sadar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak menjadikan ketidaklayakan sebagai alasan mundur.

Ia memfoto sisa sobekan kontrak, menyimpannya di folder bukti pribadi yang terenkripsi, lalu baru membersihkan meja.

Di lift, sebelum pintu tertutup, wajahnya berubah. Marahnya belum hilang. Namun, di sudut bibirnya muncul garis tipis yang sulit dibaca. Surya tidak tunduk. Itu membuatnya kesal.

Dan sedikit mengganggu rasa ingin tahunya.

Satu jam kemudian, ponsel Surya berdering.

Meilu.

"Ko Chen datang ke kantormu?"

"Cepat sekali kabarnya."

"Dia kakakku. Kalau dia melakukan hal bodoh, biasanya dunia memberi tahu aku sebelum dia mengaku."

Surya duduk. "Aku merobek kontraknya."

Diam satu detik.

"Bagus."

"Aku kira kamu akan marah."

"Aku marah. Bukan kepadamu."

Di seberang, suara Meilu berubah tajam. Surya mendengar pintu mobil ditutup, lalu nada panggilan lain tersambung. Meilu tidak mematikan teleponnya. Ia menghubungkan panggilan tiga arah.

"Ko."

Weichen menjawab, "Meilu, ini bukan waktunya..."

"Kalau kamu berani ganggu Surya lagi, aku pindah keluar rumah."

Keheningan jatuh seperti palu.

"Kamu mengancam kakakmu sendiri?"

"Aku memberi konsekuensi."

Surya hampir tersenyum karena kalimat itu terdengar seperti Diana.

Meilu melanjutkan, "Aku bukan proyek Lintang Pictures. Aku bukan kontrak vendor. Aku memilih Surya dengan sadar. Kalau kamu tidak suka, bicara denganku. Jangan membawa kertas pengecut ke kantornya."

Weichen menarik napas keras.

"Dia akan menyakitimu."

"Mungkin. Tapi kalau itu terjadi, itu lukaku. Bukan hakmu untuk mencabut pilihanku sebelum aku hidup."

Panggilan terputus dari sisi Weichen.

Meilu kembali berbicara hanya kepada Surya.

"Kamu baik-baik saja?"

"Aku baru sadar keluarga Lim punya cara sangat formal untuk berkelahi."

"Tunggu sampai kamu lihat makan malam keluarga besar."

Surya tertawa pendek.

Di parkiran Sentana, Weichen masuk ke mobilnya. Ia duduk diam, menatap sobekan kontrak yang berhasil ia ambil sebagian dari meja Surya. Marah dan malu bercampur karena Meilu menyebutnya pengecut.

Ia membuka daftar kontak.

Keputusannya terasa buruk, namun ia tetap melangkah.

Jari telunjuknya berhenti pada satu nama.

Kevin Tanuwijaya.

Weichen menekan panggilan.

"Kevin," katanya begitu tersambung, "kita perlu bicara."

Panggilan itu menjadi kesalahan pertama Weichen dalam perang yang belum ia pahami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!