Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Tamparan
Kemarahan yang membakar dada Galang tak berkurang sedikit pun. Kata-kata dingin ibunya dan senyum kemenangan Pak Sapta justru menjadi pemicu yang menyulut bara di dalam kepalanya.
Galang menyapu tumpukan uang kertas seratus ribuan di atas meja hingga melayang berserakan di udara, mendarat kasar di atas lantai yang berkilau.
"Cukup, Bu! Sadarlah!" jerit Galang, suaranya melengking memecah keheningan malam, bergema hingga ke sudut-sudut lorong rumah yang dingin. "Ibu mau mengusir Galang?! Galang ini anak yang dibesarkan Bapak Broto dan Ibu! Galang yang selalu ada saat rumah ini cuma punya satu kompor tua dan kuali berkarat! Sementara iblis di samping Ibu ini ... dia cuma orang asing yang datang membawa maut untuk anak-anak Ibu!"
Pak Sapta tidak bergeming. Pria itu berdiri kaku bagaikan patung batu, tangannya menggenggam erat kepala tongkat naga yang berkilat di bawah pendar lampu kristal.
Matanya menyipit tajam, menatap Galang bagaikan melihat seekor serangga pengganggu yang harus segera diinjak sampai lumat.
"Lihat kelakuan anak angkatmu ini," bisik Pak Sapta, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi getaran ghaib yang menusuk indera pendengaran. "Dia sudah kehilangan rasa hormat. Dia menghina rezeki keluarga ini, menghina ingatan almarhum suamimu, dan yang paling berbahaya ... dia menanamkan racun ketakutan di kepala Rian dan Gilang. Otak mereka dicuci oleh si anak pungut ini. Jika dia terus dibiarkan tinggal di rumah ini, berkah warung kita bisa runtuh seketika, Bu. Pikirkanlah!"
Kata-kata Pak Sapta bagaikan tiupan angin ghaib yang langsung menyerap sisa-sisa nurani Bu Retno. Mata wanita paruh baya itu yang semula redup mendadak membelalak lebar, dipenuhi pendar histeris yang liar dan membara.
PLAK!
Suara tamparan keras bergetar hebat di udara ruang tengah.
Kepala Galang terhentak kencang ke samping. Rasa panas yang menyengat langsung membakar pipi kirinya, menyisakan bekas telapak tangan yang memerah kencang.
Bau amis darah pun seketika menyembur samar di dalam mulutnya akibat bibir bagian dalam yang tersobek terhantam giginya sendiri.
Galang mematung kaku. Tangannya yang gemetar perlahan naik menyentuh pipinya yang berdenyut sakit.
Ia menoleh lambat-lambat, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tak percaya yang teramat hancur.
Selama ini, Bu Retno tidak pernah sekalipun melayangkan tangan atau mengasarinya. Wanita itu dahulu adalah tempatnya berteduh dari kerasnya dunia. Namun kini, tangan yang dulu mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang justru mendarat kasar menghancurkan hatinya.
"Jangan berani-berani kamu menghina Pak Sapta di depan mataku!" jerit Bu Retno dengan napas memburu hebat. Dadanya naik turun secara tidak teratur, matanya memerah penuh kebencian yang kental. "Kamu itu bukan siapa-siapa di rumah ini, Galang! Kamu cuma anak angkat yang kami beri makan karena rasa kasihan! Jangan berakting seolah-olah kamu punya hak atas darah dan harta keluarga ini!"
Air mata amarah dan keputusasaan akhirnya menembus pertahanan Galang, meleleh deras membasahi pipinya yang memar.
"Ibu ... ini Galang, Bu .... Galang anak Ibu ...."
"Kamu bukan anakku!" potong Bu Retno tanpa belas kasihan sedikit pun.
Setiap kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan belati yang ditancapkan berkali-kali ke dada Galang.
"Kamu tidak punya ikatan darah dengan kami! Kamu tidak tau rasanya mengisap darah dan keringat untuk membesarkan warung ini! Dan kalau kamu terus-menerus menuduh suamiku yang memberi kita kemewahan ini sebagai iblis ... keluar kamu dari rumah ini malam ini juga!"
Galang tertawa sumbang di tengah lelehan air matanya—sebuah tawa kaku yang penuh rasa sakit yang tak terbayangkan. Ia menatap Bu Retno, lalu beralih menatap Pak Sapta yang kini mengukir senyum puas di balik kacamata emasnya.
"Jadi Ibu lebih memilih menukar nyawa anak kandung Ibu sendiri demi tumpukan uang ini, di mana hati nurani Ibu?!" bisik Galang, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dan Ibu menampar Galang ... hanya karena Galang mencoba menyelamatkan Rian dan Gilang yang tersisa?"
"Tutup mulutmu!" bentak Bu Retno lagi, menunjuk pintu depan dengan jarinya yang gemetaran. "Masuk ke kamarmu! Kumpulkan barang-barangmu kalau kamu tidak bisa menghormati peraturan di rumah ini! Kalau besok kamu masih memberi pengaruh buruk sana Rian dan Gilang dengan cerita ngawurmu itu, Ibu sendiri yang akan menyerahkan kamu ke polisi atas tuduhan perusakan dan pencemaran nama baik!"
Dari lorong tengah yang gelap di belakang mereka, sebuah gesekan pintu terdengar pelan.
Kreeeeek ....
Rian berdiri di ambang pintu lorong, memeluk Gilang yang terbangun dan ketakutan dalam dekapannya. Kedua anak kecil itu menyaksikan seluruh pertengkaran hebat dan tamparan keras yang mendarat di wajah kakak mereka.
Gilang—si anak bontot—mulai terisak pelan, menyembunyikan wajahnya di perut Rian, sementara mata Rian membelalak lebar, dipenuhi keputusasaan melihat ibunya sendiri telah sepenuhnya berubah menjadi monster yang asing.
Galang melirik ke arah dua adiknya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tahu, jika ia pergi dari rumah ini sekarang, tidak akan ada lagi yang membersamai Rian dan Gilang.
Pak Sapta pun akan dengan sangat muda mencelakai Rian untuk dijadikan tumbal berikutnya tanpa ada halangan.
Pak Sapta melangkah maju satu langkah, merangkul bahu Bu Retno yang masih terengah-engah. Sentuhan tangan pria itu seolah memberi daya hipnotis baru yang mengunci emosi Bu Retno kembali menjadi dingin dan kaku.
"Sudah, Bu ... tidak usah mengotori tanganmu untuk anak yang tidak tahu balas budi ini," ucap Pak Sapta dengan nada tenang yang mematikan.
Pria tua itu memalingkan pandangannya ke arah Galang, menatapnya dengan tatapan tajam yang menyuarakan ancaman ghaib yang terselubung.
"Biarkan dia berpikir ke kamarnya malam ini. Tapi ingat, Galang ... kesabaran ibumu ada batasnya. Dan kesabaran rumah ini ... jauh lebih tipis dari itu."
Galang mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap dalam di telapak tangan, meninggalkan bekas luka kebiruan. Rasa sakit fisik di pipinya tak ada artinya dibandingkan dengan rasa hancur di dalam dadanya.
Ia tidak membalas ucapan Pak Sapta. Ia mengunci rapat bibirnya yang berdarah, menarik ransel kusamnya dari atas meja, lalu melangkah perlahan melewati Bu Retno dan Pak Sapta.
Saat melintasi Rian dan Gilang di lorong tengah, Galang berhenti sejenak. Ia merengkuh kepala Gilang, mengusap air mata adik bungsunya itu dengan jemarinya yang dingin, lalu menatap Rian dengan tatapan penuh isyarat rahasia.
"Mas tidak akan ke mana-mana, Rian," bisik Galang sangat pelan, hampir tak terdengar oleh siapapun kecuali Rian. "Kunci pintu kamar kalian dari dalam. Jangan pernah buka pintu malam ini ... apa pun yang kalian dengar di luar."
Rian mengangguk kaku, matanya berair.
Galang berbalik dan berjalan menuju kamarnya di ujung lorong. Setiap langkah kakinya terasa begitu berat, seolah-olah lantai rumah yang terbuat dari marble mahal itu dilapisi oleh lelehan darah kental korban-korban sebelumnya.
Di dalam kamar yang remang-remang, Galang menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia melempar ranselnya ke lantai, lalu terduduk lemas menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu.
Ruang kamarnya terasa begitu dingin, berbau minyak tanah dan sisa uap kluwek yang merembes masuk melalui celah ventilasi.
Ia mengusap darah kering di bibirnya, menatap bayangan dirinya di cermin lemari tua. Bekas tamparan ibunya membiru jelas di pipi kirinya.
Galang sadar, waktunya makin sempit. Kejadian malam ini telah merobek topeng perdamaian di rumah tersebut. Bu Retno telah sepenuhnya menjadi budak dari pesugihan ini, sementara Pak Sapta telah mendapatkan alibi sempurna untuk menyingkirkan atau mengisolasi dirinya.
Di luar kamar, keheningan malam kembali menyergap rumah itu. Namun di balik keheningan tersebut, pancaindera batin Galang sanggup merasakan gelombang daya ghaib yang makin pekat bergejolak di area dapur belakang.
Kenapa bisa Galang memiliki darah penawar?
Kan wadag pundennya udah hancur
Wadag punden hancur dan sampai juga di pelabuhan merak.
Tinggal tugas terakhir yang harus kau kerjakan, Galang.
Memutus dan benar benar menghancurkan Sengkolo dan pesugihannya
"Ko Pakk Janitra ko mau yaa menjadi supir ambulans yang jelas nanti diperjalanan akan mengalami banyak hal ghaib 🤔🤔
keluarga yang mana lagi?
bahkan hampir seluruh anaknya diambil tumbal pesugihan . bungsu dan anak angkatnya sedang perjalanan menyelamatkan diri lepas dari menjadi tumbal itu.
jadi keluarga Buu retno manalagi yang kau sebut itu, Pakk Sapta???
Itu mah Buu retno aja sendiri!
Takut Galang ketahuan pass mencari kayu Ulin
Takut Galang ga bisa keluar dari rumah itu
Seru dan menegangkan BAB ini kalau di filmkan
Selamatkan Gilang, Galang !
Seakan akan sebelum meninggal Pakk Broto tahu bahwa anak yang akan tersisa dari pesugihan itu adalah Gilang 🤔
Hhmmm.....
Kami harus kembali ke rumah Pakk Broto, otomatis Sengkolo tidak akan membiarkanmu mencapai tujuanmu dan merusak pesugihan ini.
Apa yang dimiliki Galang Sampai dia disebut pasak penawar ?