Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Masalah Lain Masih Menunggu
"Aku yang tanggung risikonya, Jono!" bentak Kardi dengan suara serak, menahan nyeri.
Kardi menepis tangan Jono. Ia merebut cangkir seng dari tangan Seroja, lalu meneguk habis isinya dalam beberapa tegukan cepat. Rasa pahit dan langu langsung memenuhi mulutnya hingga membuatnya hampir tersedak, tetapi ia memaksa menelannya.
Beberapa saat kemudian, napas Kardi yang semula pendek mulai teratur. Rasa panas yang membakar dada dan perutnya perlahan mereda. Cengkeramannya pada perut mengendur, lalu terlepas sama sekali. Ia menarik napas panjang dan untuk pertama kalinya sejak semalam, rasa nyeri itu tidak lagi mencengkeramnya. Wajahnya pun mulai kembali berwarna.
Jono menatapnya dengan mata membelalak. "Kau gila, Di? Kang Supri menyuruh kita merobohkan gubuk ini sekarang!"
Kardi menegakkan badan. Ia mengusap sisa air di bibirnya, lalu mengembalikan cangkir seng itu kepada Seroja. Setelah itu, ia menoleh ke arah Jono dengan tatapan tajam.
"Bocah ini baru saja menyelamatkan nyawaku, Jono," kata Kardi tegas. "Aku tidak akan merusak rumah orang yang sudah menolongku. Pergi dari sini."
"Kang Supri bisa mengamuk kalau kita pulang dengan tangan kosong!"
"Biar aku yang menghadapi Kang Supri. Tapi kalau kau berani menyentuh sehelai rumbia dari gubuk ini, kau berurusan denganku."
Kardi berbalik meninggalkan pekarangan berbatu kapur itu. Langkahnya masih berat, tetapi bukan lagi karena rasa sakit.
Jono hanya bisa menggeram kesal. Tatapannya berpindah dari Danu yang masih menggenggam cangkul dengan siap, lalu ke Seroja yang berdiri tenang tanpa sedikit pun gentar.
Pria bercodet itu meludah ke tanah berdebu, kemudian berbalik menyusul Kardi dengan langkah menghentak.
Dari balik pohon jati besar yang berdiri puluhan meter dari pekarangan, seorang pria paruh baya mengamati semuanya. Supri mengatupkan rahangnya, menahan amarah.
Rencananya untuk mengusir Siti dari tanah pinggiran desa gagal hanya karena seorang gadis kemarin sore. Ia membuang puntung rokok lintingannya, menginjaknya hingga padam, lalu menghilang di balik semak.
Pekarangan kembali sunyi.
Siti langsung kehilangan tenaga dan terduduk di tanah kapur. Danu menurunkan cangkulnya, lalu mengembuskan napas panjang setelah ketegangan yang sejak tadi ditahannya.
Seroja segera menghampiri ibunya. Ia memegang bahu Siti dan membantu perempuan itu berdiri perlahan.
"Ibu tidak apa-apa?"
Siti mengangguk pelan. Jemarinya masih menggenggam lengan Seroja, terasa dingin seperti es.
"Mereka pasti akan kembali, Nduk. Cepat atau lambat, mereka akan mencari cara lain untuk mengusir kita."
"Kita akan siap saat mereka datang lagi, Bu," jawab Seroja tenang.
Seroja menuntun ibunya masuk ke dalam gubuk. Ia duduk di tepi amben bambu, membiarkan pikirannya menyusun langkah selanjutnya.
Ancaman pagi ini memang sudah lewat, tetapi masalah yang lebih mendesak masih menunggu.
Mereka tidak punya uang.
Dua lembar uang lima rupiah yang dilempar Carik desa kemarin sore masih tergeletak di atas meja bambu. Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli beras.
Persediaan tiwul pemberian Nenek Warni semalam hanya mampu mengganjal perut mereka sampai siang.
Tiba-tiba, suara batuk keras memecah kesunyian gubuk.
Di sudut ruangan, Nenek Warni terbangun sambil memegangi dada kurusnya. Batuk perempuan enam puluh dua tahun itu terdengar berat dan serak, dengan napas yang tersengal di sela-selanya.
Udara malam yang dingin di pinggir hutan, ditambah debu kapur dari keributan tadi, membuat penyakit sesaknya kembali kambuh.
Siti langsung panik. Ia menuangkan sisa air matang ke dalam cangkir, lalu membantu ibunya minum perlahan.
"Asma Nenekmu kambuh lagi, Nduk. Ibu harus mencari obat dari mantri desa pagi ini."
"Kalau ke mantri desa, harus bayar, Ti. Kita tidak punya uang untuk itu," ujar Nenek Warni pelan di sela batuknya.
Perempuan tua itu berusaha tersenyum, seolah ingin menenangkan kegelisahan anaknya. "Sudah, tidak apa-apa, aku cuma butuh wedang jahe hangat dan istirahat. Nanti juga membaik."
Namun, suara serak dan napas berat Nenek Warni justru membuat Siti semakin cemas.
Seroja mengatupkan rahang. Dadanya terasa sesak.
Di kehidupan sebelumnya, obat asma bisa ia dapatkan hanya dengan beberapa ketukan di ponsel. Kini, ia harus melihat orang yang menyayanginya menahan sakit hanya karena tidak punya uang.
Mereka membutuhkan penghasilan secepatnya. Bukan hanya untuk membeli beras, tetapi juga untuk mendapatkan obat bagi Nenek Warni.
Seroja bangkit, menyibakkan kain pintu dapur, lalu melangkah keluar ke pekarangan. Matahari pagi mulai muncul dari ufuk timur, mengusir sisa dingin malam.
Ia menghampiri Danu yang duduk bersandar di batang pohon jati besar.
Pemuda itu sedang membersihkan tanah merah yang menempel di mata cangkul tuanya dengan rumput kering. Wajahnya tertunduk, seperti menyimpan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Seroja duduk di sampingnya.
"Terima kasih sudah membela kami tadi, Mas Danu."
Danu menghentikan tangannya. Tatapannya turun pada telapak tangannya yang kasar, penuh kapalan dan debu.
"Mas cuma punya tenaga, Seroja. Tadi kalau Kardi tidak minum obatmu, mungkin Mas sudah melukai Jono. Kalau sampai Mas masuk penjara, siapa yang bantu kalian?"
Pemuda itu tersenyum pahit sambil menatap jalan setapak di depannya.
"Mas sering minder kalau lihat orang lain yang sekolah sampai kota. Bajunya bagus, rapi, pandai bicara di depan orang desa. Sedangkan Mas? Sekolah dasar saja cuma sampai kelas tiga. Mas ini cuma buruh cangkul yang tidak tahu apa-apa. Kalau berhadapan dengan orang seperti Jono, Mas cuma bisa pakai tenaga."
Seroja diam mendengarkan.
Ia bisa merasakan rasa rendah diri yang selama ini dipendam Danu. Bagi banyak orang desa saat itu, pendidikan bukan sesuatu yang mudah didapat. Anak yang bisa bersekolah sampai tinggi sering dianggap memiliki masa depan lebih baik dibanding mereka yang harus bekerja sejak kecil.
"Mas Danu."
Seroja mengambil ranting kering, lalu menggores tanah kapur di dekat kaki mereka.
"Orang yang sekolah tinggi memang bisa punya banyak ilmu. Tapi ilmu tidak selalu membuat seseorang jadi manusia baik. Ada orang yang pintar bicara, tapi memakai kepandaiannya untuk menipu dan mengambil hak orang lain."
Ia menatap garis di tanah yang baru dibuatnya.
"Hardiman sekolah tinggi sampai kota provinsi. Tapi kalau kepandaiannya dipakai untuk menyakiti keluarga sendiri, apa gunanya?"
Danu terdiam. Ia menyerap setiap kata yang keluar dari mulut Seroja.
"Tanah dan keringat petani tidak pernah berbohong, Mas," lanjut Seroja.
Ia menatap mata Danu dengan penuh keyakinan.
"Orang yang sekolah tinggi memang punya ilmu. Tapi ilmu saja tidak cukup untuk membuat benih tumbuh. Seroja butuh orang yang tahu bagaimana membaca tanah, kapan tanaman butuh air, kapan hama datang, dan bagaimana merawatnya sampai panen."
Seroja menggenggam ranting kecil di tangannya.
"Orang pintar yang tidak mau turun tangan juga tidak akan bisa membangun apa-apa."
Danu perlahan mengangkat wajah. Tatapan yang sebelumnya penuh keraguan mulai berubah. Ia tidak menyangka Seroja melihat dirinya dengan cara seperti itu.
"Keluarga kita akan bangkit dengan usaha sendiri, Mas," kata Seroja tegas. "Tapi Seroja tidak bisa melakukannya sendirian. Seroja butuh Mas Danu."
Ia tersenyum kecil.
"Mas Danu bukan buruh cangkul bodoh. Bagi Seroja, Mas adalah orang yang akan membantu keluarga ini berdiri."
Dada Danu terasa lebih lapang. Rasa minder yang selama ini membebani dirinya perlahan menghilang. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang melihat dirinya bukan sebagai buruh cangkul, melainkan orang yang punya arti bagi keluarga.
Ia menggenggam gagang cangkulnya erat-erat, lalu mengangguk mantap.
"Mas akan menggarap tanah ini sampai tangan Mas tidak kuat lagi, Seroja. Mas janji."
Sebelum Seroja sempat menjawab, suara logam berderit memecah percakapan mereka.
Dari arah jalan menanjak, sebuah sepeda ontel hitam yang sudah berkarat melaju oleng. Rantainya terlepas dari gir, menjuntai sambil menyapu tanah.
Di atas sadel kulit yang sobek, Bagas masih berusaha mengayuh pedal kosong dengan napas tersengal.
Bagas mengerem sepeda ontelnya dengan tergesa. Karena rantainya sudah lepas, ia terpaksa menghentikan laju sepeda dengan menggesekkan sandal jepit ke ban depan. Setelah sampai di pekarangan, ia langsung menjatuhkan sepeda itu ke rumput.
Rambut ikal Bagas basah oleh keringat. Wajahnya yang biasanya ceria kini menegang menahan marah.
"Ada apa, Gas? Sepedamu rusak lagi?" tanya Danu sambil bangkit.
"Pasar kecamatan kacau, Mas!" Bagas terengah-engah, tangannya masih menekan dada.
"Tengkulak suruhan Paman Supri menutup jalan masuk pasar. Mereka memaksa petani menjual hasil panen dengan harga separuh. Tidak ada yang berani melawan centeng-centeng mereka."
Bagas menarik napas berat.
"Mereka juga yang mengatur jalur jualan ke pedagang kota. Petani tidak punya pilihan."
Danu mengatupkan rahang. "Supri lagi."
Bagas menoleh kepada Seroja dengan wajah putus asa.
"Aku tadi mau pinjam uang kas kelompok tani, tapi ketuanya juga takut berurusan dengan Supri. Sayuran dari desa sebelah sampai dibuang ke selokan karena tengkulak menawar semaunya. Hari ini tidak ada petani yang berani membawa panen ke pasar kecamatan."
Seroja berdiri perlahan. Ia menepuk ujung kain luriknya yang kotor, lalu menatap ke arah pekarangan.
Alih-alih panik, gadis itu justru terdiam sejenak. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
"Kalau mereka menutup pintu depan, kita cari jalan lain."
Seroja berjalan pelan mengelilingi pekarangan, matanya mengamati tanah kering di sekitarnya.
Bagas mengernyit bingung, tapi Memilih mengikuti langkah sepupunya.
Namun, ia tiba-tiba berhenti. Matanya terpaku pada sebidang tanah kecil di sudut pekarangan.
Di sana tumbuh beberapa tanaman dengan daun hijau segar yang tampak jauh berbeda dari tanah kering berbatu di sekitarnya. Warna hijaunya terlihat mencolok di antara hamparan kapur putih.
"Itu sawi?" Bagas menatap tanah di depannya dengan wajah bingung. "Bagaimana bisa tumbuh di sini?"