Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Asistenmu !
Pukul 06.00 pagi, sinar matahari baru saja mengintip di balik gedung-gedung tinggi Jakarta. Namun, jagat maya sudah dihebohkan oleh unggahan selfie Laura dari malam tadi. Foto tersebut mendapatkan puluhan ribu likes dan ratusan komentar pujian. Banyak figur publik dan netizen yang terpukau dan blak-blakan bertanya siapa MUA yang meriasnya karena ingin memesan jasa yang sama.
Sayangnya, kehebohan itu berujung petaka. Di kolom komentar, dengan angkuhnya Laura membalas beberapa pertanyaan netizen:
"Ini dirias oleh asisten pribadiku yang baru, kebetulan dia lagi bantu-bantu aku selama di Jakarta."
Di unit 10A, Max yang sedang bersiap untuk syuting pertamanya membaca balasan-balasan tersebut. Seketika, rahangnya mengeras dan tatapan matanya menajam, sarat akan amarah yang meluap. Laura tidak hanya memanfaatkan bakat Yeza, tetapi juga merendahkan posisi gadis itu dan berbohong demi menjaga gengsi sosialnya.
Tanpa membuang waktu, Max melangkah lebar keluar dari unitnya. Langkah kakinya yang berat menggema di koridor sunyi sebelum ia menekan bel unit apartemen Yeza berkali-kali dengan tidak sabar.
Ting tong! Ting tong!
Yeza yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya baru saja selesai menyiapkan koper makeup. Ia terkejut mendengar bel yang ditekan bertubi-tubi. Begitu pintu dibuka, ia langsung dihadapkan pada sosok Max yang berdiri dengan aura mengintimidasi yang sangat pekat.
"M-Max? Ada apa pagi-pagi—"
Sebelum Yeza menyelesaikan kalimatnya, Max melangkah masuk begitu saja ke dalam ruang tengah. Di saat yang sama, Laura baru saja keluar dari area sofa bed sambil mengucek matanya, masih mengenakan jubah tidur sutranya.
"Max? Ada apa berisik sekali, ini masih pag—"
"Apa-apaan ini, Laura?!" potong Max dengan suara baritonnya yang menggelegar rendah, menahan amarah agar tidak terdengar sampai ke luar unit. Ia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Laura yang seketika memucat.
"Max, aku hanya membalas komentar penggemar—"
"Asisten?" desis Max, suaranya terdengar sangat berbahaya. "Sejak kapan Yeza menjadi asistenmu?! Dia adalah seorang Key Makeup Artist profesional, dia MUA pribadiku yang kubayar mahal dengan kontrak eksklusif! Berani-beraninya kamu merendahkan profesinya dan berbohong di media sosial demi ego konyolmu itu!"
Yeza tertegun di dekat pintu. Ia baru menyadari apa yang terjadi setelah melirik sekilas ke arah layar ponsel Max. Namun, yang membuat jantungnya berdegup kencang bukan lagi kebohongan Laura, melainkan bagaimana cara Max berdiri di sana—menjadi tameng yang dengan begitu tegas membela harga diri dan profesionalitasnya di depan wanita dari masa lalunya.
Kemarahan Max sudah tidak bisa dibendung lagi. Ruang tengah apartemen Yeza yang sempit terasa semakin mencekam akibat aura dingin yang dipancarkan sang aktor. Kebohongan Laura di media sosial—yang merendahkan posisi Yeza menjadi sekadar 'asisten'—adalah tetes terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa kesabaran Max terhadap wanita dari masa lalunya itu.
Laura tersentak mundur, wajah cantiknya pucat pasi melihat tatapan mata Max yang begitu murka. Ia belum pernah melihat Max semarah ini sebelumnya, bahkan saat mereka putus dulu.
"M-Max, dengarkan aku dulu. Aku hanya tidak ingin orang-orang berpikir aku menggunakan MUA sembarangan, jadi aku—"
"Cukup, Laura!" bentak Max, suaranya menggelegar rendah, membuat Yeza yang berdiri di dekat dapur reflek berjengit kencang. "Aku tidak butuh alasan konyolmu. Penjelasanmu hanya membuatku semakin muak."
Max melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia menunjuk ke arah koper glamorous milik Laura yang masih tergeletak di dekat sofa bed.
"Sekarang, kemasi semua barang-barangmu. Semuanya. Jangan ada yang tertinggal sedikit pun," perintah Max, nada suaranya datar namun penuh penekanan yang mengerikan. "Dan dengarkan ini baik-baik, Laura. Mulai detik ini, jangan pernah berani menyangkutpautkan nama Yeza di dalam drama kehidupanmu yang menyedihkan itu. Dia tidak ada hubungannya denganmu, dan aku tidak akan membiarkanmu mengganggu atau merendahkannya lagi."
Laura berdiri mematung, air mata kemarahan dan rasa malu mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menatap Max dengan tatapan tidak percaya, lalu melirik Yeza dengan kebencian yang mendalam. Namun, melihat rahang Max yang mengeras sempurna, ia tahu berdebat hanya akan mempermalukan dirinya sendiri lebih jauh.
Dengan kasar, Laura menyambar kopernya, memasukkan barang-barangnya dengan sembarangan. Suara ritsleting koper yang ditarik dengan kencang terdengar nyaring di keheningan pagi itu. Setelah selesai, ia menyambar tas tangannya, berdiri tegak mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.
"Kamu akan menyesal melakukan ini padaku, Max. Hanya demi seorang MUA murahan seperti dia!" desis Laura tajam, melemparkan tatapan belati ke arah Yeza.
Tanpa membuang waktu untuk membalas ucapan rasis Laura, Max langsung mencengkeram lengan atas Laura dengan kuat, menarik wanita itu secara fisik menuju pintu keluar.
Brak!
Max membuka pintu apartemen Yeza dengan kasar, menyeret Laura keluar ke koridor, dan melepaskan cengkeramannya begitu mereka berada di luar.
"Pergi ke neraka dengan penyesalanmu, Laura. Jangan pernah menginjakkan kaki di lantai ini lagi," ucap Max dingin, tepat di depan wajah Laura, sebelum ia membanting pintu apartemen Yeza hingga tertutup rapat dan terkunci otomatis.
Di dalam unit 10B, Yeza berdiri terpaku di posisinya, tangannya gemetar memegangi tali tas kerjanya. Napasnya memburu akibat ketegangan yang baru saja lewat. Ia menatap Max yang kini berdiri bersandarkan pintu yang baru saja ditutupnya, mencoba mengatur napasnya yang memburu akibat amarah. Di bawah temaram lampu pagi, Yeza tahu, pahlawan pelindungnya malam itu telah benar-benar menunjukkan taringnya demi dirinya.