NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Pria bertopeng putih mendarat dengan ringan.

Busur hitam masih berada di tangannya. Namun kini, jarak antara dirinya dan Arga hanya sekitar sepuluh langkah.

"Ternyata... kau memang layak dihargai."

Arga tidak menjawab. Ia mengangkat Pedang Penjaga Langit.

Di belakangnya, Nara telah menarik tali busur. Mereka tidak perlu saling memberi aba-aba karena sudah memahami posisi masing-masing.

Guru Tian mengangguk puas. "Jangan biarkan dia kembali mengambil jarak. Pemanah seperti dia paling berbahaya jika dibiarkan bertarung dari kejauhan."

Arga langsung bergerak.

Clang!

Pedangnya beradu dengan belati pendek yang tiba-tiba muncul di tangan lawan. Arga sedikit terkejut. "Kau juga ahli bertarung jarak dekat?"

Pria bertopeng putih tersenyum. "Kalau hanya mengandalkan busur, aku sudah mati sejak lama."

Di sisi lain medan pertempuran, Rivan dan peserta lain mulai mendesak para pemburu Serigala Kelabu. Tanpa pemimpin yang mengatur formasi, barisan mereka mulai kacau.

Sora berlari dari satu orang ke orang lain untuk mengobati yang terluka. Meskipun bukan petarung terkuat, kehadirannya membuat semangat kelompok tetap terjaga.

Clang! Clang! Clang!

Arga terus menyerang. Namun, lawannya selalu mampu mundur setengah langkah, lalu membalas dengan belati. Gerakannya efisien; tidak ada satu ayunan pun yang sia-sia.

Guru Tian mengamati dengan saksama. "Dia pembunuh terlatih. Setiap gerakannya dibuat untuk menghabisi lawan secepat mungkin."

Arga mulai merasakan tekanan. Lawan ini tidak sekuat pengendali mayat di Alam Fondasi, tetapi teknik bertarungnya jauh lebih berbahaya.

Di atas batu besar, Nara memejamkan mata. Ia tidak langsung melepaskan panah. Arga dan lawannya bergerak terlalu cepat. Sedikit kesalahan saja, panahnya justru bisa melukai Arga.

Ia menarik napas perlahan.

"Jangan lihat dengan mata... lihat dengan hati..."

Suara ayahnya kembali terngiang. Perlahan, gerakan keduanya seolah menjadi lebih jelas. Ia tidak lagi mengikuti tubuh mereka, tetapi mengikuti ritmenya.

"Arga..." bisiknya pelan.

Saat itu juga, Arga seakan merasakan sesuatu. Tanpa menoleh, ia langsung merunduk.

Wus!

Panah Nara melintas tepat di atas kepalanya. Pria bertopeng putih terkejut. Ia memiringkan tubuh untuk menghindar.

Namun, itulah tujuan sebenarnya. Begitu keseimbangannya berubah, Arga melangkah masuk.

Sret!

Pedang Penjaga Langit menggores dadanya. Jubah hitamnya robek, dan darah segar menetes ke tanah.

Pria bertopeng putih mundur beberapa langkah. Untuk pertama kalinya, ia terluka. Ia menyentuh dadanya, lalu tertawa pelan.

"Lumayan juga buat kultivator pemula."

Tatapannya bergantian melihat Arga dan Nara. "Kalian bahkan belum menjadi murid sekte. Tetapi kerja sama kalian jauh lebih baik daripada banyak murid inti."

Ia perlahan menyarungkan belatinya, lalu meniup peluit kecil dari tulang putih.

Fiiit...

Para pemburu Serigala Kelabu yang masih bertarung segera mundur. Mereka bergerak cepat memasuki kegelapan hutan.

Rivan mengangkat pedangnya. "Mereka kabur!"

Arga tidak mengejar.

Pria bertopeng putih menatapnya untuk terakhir kali. "Kita akan bertemu lagi. Lain kali, aku tidak datang sebagai pemburu, tetapi sebagai peserta Ujian Tujuh Sekte."

Ucapan itu membuat seluruh calon peserta terdiam. Peserta? Berarti pria itu juga akan mengikuti ujian.

Ia tersenyum tipis di balik topeng. "Namaku... Kairo. Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Sesaat kemudian, ia menghilang di antara pepohonan. Hutan kembali sunyi. Napas para peserta masih memburu.

Rivan berjalan menghampiri Arga. "Kita selamat berkat kalian."

Arga menggeleng. "Berkat kita semua."

Rivan tersenyum. "Kalau begitu, izinkan aku mengubah penilaianku." Ia menoleh kepada Nara. "Dan kau... aku menarik ucapanku. Jalan seorang pemanah ternyata tidak selemah yang kukira."

Nara tersenyum sopan. "Terima kasih."

Di dalam hati, ia justru merasa lebih bahagia karena satu hal. Selama pertarungan, Arga mempercayakan punggungnya sepenuhnya kepadanya. Baginya, kepercayaan itu jauh lebih berharga daripada pujian siapa pun.

Sementara itu, jauh di balik Hutan Seribu Cemara, sebuah kota raksasa mulai tampak di kaki langit. Temboknya menjulang tinggi dan menara-menara batu berdiri megah. Di atas gerbang utama berkibar tujuh bendera dengan lambang yang berbeda.

Guru Tian tersenyum tipis. "Arga... Kota Bintang telah menunggu kedatanganmu."

Fajar menyingsing ketika rombongan keluar dari Hutan Seribu Cemara. Kabut pagi perlahan tersapu sinar matahari.

Di hadapan mereka berdiri sebuah kota yang begitu megah hingga semua orang terdiam.

Kota Bintang.

Tembok batunya menjulang puluhan meter. Di atasnya berdiri menara-menara pengawas yang dipenuhi para kultivator bersenjata.

Tujuh panji berkibar diterpa angin. Masing-masing memiliki lambang berbeda:

Pedang

Teratai

Api

Petir

Gunung

Burung bangau

Bulan sabit

"Itulah Tujuh Sekte Besar..." gumam salah seorang peserta.

Arga ikut mendongak. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa kecil dirinya.

Guru Tian berbicara pelan. "Jangan kagum pada kemegahan. Yang membuat sekte besar disegani bukan bangunannya, tetapi orang-orang yang menghidupkannya."

Arga mengangguk dalam diam.

Gerbang Kota Bintang terbuka lebar. Ribuan orang keluar masuk: pedagang, kultivator, bangsawan, petualang, dan para calon peserta Ujian Tujuh Sekte dari berbagai penjuru Benua Timur. Suasana jauh lebih ramai dibanding Kota Sungai Giok.

Di tengah alun-alun berdiri sebuah prasasti batu hitam setinggi lima meter. Di atasnya terukir tulisan emas:

"Mereka yang mencari kekuatan demi keserakahan akan tersesat. Mereka yang mencari kekuatan demi melindungi akan menemukan jalannya."

Arga berhenti sejenak membaca tulisan itu. Entah mengapa, kata-kata itu terasa sangat dekat dengan isi hatinya.

Guru Tian hanya tersenyum.

Rivan bersiul kagum. "Kalau lolos ujian, aku akan tinggal di kota sebesar ini."

Sora tertawa kecil. "Belum tentu kita semua lolos."

Beberapa peserta langsung berubah gugup. Benar juga; mereka baru sampai dan ujian bahkan belum dimulai.

Di depan gerbang dalam kota, puluhan meja panjang telah disiapkan. Para tetua dari berbagai sekte duduk mencatat nama peserta.

Seorang pria berjubah biru memanggil dengan suara lantang, "Semua peserta ujian! Silakan mendaftar! Setelah mendaftar, kalian akan menerima tanda peserta. Ujian dimulai tiga hari lagi."

Semua orang segera mengantre.

Ketika giliran Arga tiba, pria berjubah biru menulis namanya di sebuah gulungan.

"Nama."

"Arga."

"Asal."

Arga terdiam sesaat. "...Kota Awan Biru."

Pria itu sempat mengangkat alis, tetapi tetap menulis tanpa komentar. Kemudian ia menyerahkan sebuah lempeng kayu kecil yang terukir angka 317.

"Jangan hilangkan tanda ini. Tanpa tanda peserta, kau tidak boleh mengikuti ujian."

Arga menerimanya dengan hormat. "Terima kasih."

Di belakangnya, Nara juga selesai mendaftar. Nomornya adalah 318.

Nara tersenyum sambil memperlihatkan lempeng kayunya. "Sepertinya kita memang ditakdirkan berjalan berdampingan."

Arga tertawa kecil. "Mungkin hanya kebetulan."

Nara menggeleng pelan sambil tersenyum. "Kalau hanya kebetulan, semoga kebetulan ini berlangsung lebih lama."

Setelah semua urusan pendaftaran selesai, Guru Tian kembali berbicara. "Masih ada tiga hari. Gunakan waktumu sebaik mungkin. Jangan hanya berlatih, amati juga para peserta lain. Dalam ujian nanti, musuh terbesarmu mungkin bukan yang paling kuat, tetapi yang paling pandai menyembunyikan kemampuannya."

Arga mengangguk. Tatapannya menyapu alun-alun. Ribuan peserta berlalu-lalang. Ada yang memancarkan aura kuat, ada pula yang tampak biasa saja. Namun nalurinya mengatakan, di antara lautan manusia ini, tersembunyi banyak jenius yang belum menunjukkan taringnya.

Tanpa disadari siapa pun, dari lantai tertinggi sebuah paviliun yang menghadap alun-alun, sepasang mata bening sedang memperhatikan Arga.

Seorang gadis berjubah putih berdiri di sana. Rambut hitamnya berkibar tertiup angin. Tatapannya berhenti pada Pedang Penjaga Langit yang terselip di pinggang Arga.

Ia berbisik pelan, "Jadi... kau benar-benar datang."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!