NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: tamat
Genre:Horor / Hantu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34_Kampung ghaib part3

Makhluk bertanduk itu mengangkat kedua tangannya perlahan.

"Upacara... dimulai..." ucap makhluk itu berat. Suaranya bergema seperti petir dari dalam perut bumi, sementara kedua mata merahnya menyala semakin terang.

Seluruh penghuni Kampung Ghaib langsung berlutut.

"Selamat datang... pengantin baru..." ucap mereka bersamaan. Wajah-wajah mereka dipenuhi senyum mengerikan, sementara suara mereka bergema dari segala penjuru hutan.

Raka meronta sekuat tenaga.

"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Raka histeris. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara urat-urat di lehernya menegang.

Puluhan tangan dari dalam tanah justru mencengkeram semakin kuat.

Krek...

Krek...

Suara tulang pergelangan kaki Raka mulai berbunyi.

"Aaaah!" jerit Raka kesakitan. Air matanya mengalir deras, sementara tubuhnya terus berusaha melepaskan diri.

Nenek tua itu tertawa panjang.

"Hihihihihi... sia-sia saja..." ucapnya serak. Senyumnya semakin melebar, sementara belatung terus berjatuhan dari rongga matanya.

"Aku tidak mau tinggal di sini!" bentak Raka putus asa. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara napasnya tersengal-sengal.

"Kamu tidak punya pilihan..." jawab nenek itu dingin. Kepalanya berputar perlahan hingga terdengar suara tulang yang patah berkali-kali.

Krek...

Krek...

Krek...

Raka memejamkan mata sejenak.

"Tuhan... tolong keluargaku..." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, sementara bibirnya gemetar hebat.

Tiba-tiba...

Dari balik kabut terdengar suara jeritan yang sangat menyayat hati.

"Raka!!"

Suara Pak Hendra.

"Ayah!" teriak Raka spontan. Matanya langsung membelalak penuh harapan.

Kabut di depannya perlahan terbelah.

Di kejauhan...

Pak Hendra terlihat sedang berlutut. Namun tubuh pria itu dililit akar-akar hitam yang bergerak seperti ular.

Semakin lama...Akar itu semakin membelit leher, dada, dan kedua tangannya.

"Ayah!" teriak Raka panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Pak Hendra berusaha meronta.

"Raka... jangan datang ke sini!" teriak Pak Hendra keras. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara napasnya mulai tersengal.

"Tapi Ayah terjebak!" balas Raka histeris. Tubuhnya terus meronta ingin menghampiri.

Pak Hendra menggeleng kuat.

"Itu bukan jalan keluar! Jangan dekati mereka!" bentaknya. Tatapannya dipenuhi rasa cemas.

Belum sempat Raka menjawab...

Bruk!

Seseorang tiba-tiba jatuh di samping Pak Hendra.

"Ibu!" jerit Raka.

Bu Ratna menangis histeris.

"Raka! Tolong Ibu!" teriak Bu Ratna. Wajahnya dipenuhi air mata, sementara kedua tangannya terus memukul akar-akar hitam yang membelit tubuhnya.

"Aku di sini, Bu!" balas Raka panik.

Namun setiap kali Bu Ratna berteriak...Akar hitam itu justru masuk ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit.

"Hmm... hmmm..." suara Bu Ratna berubah menjadi erangan penuh kesakitan. Matanya membelalak, sementara wajahnya mulai membiru.

"Ibu!" teriak Raka putus asa.

Di sisi lain...Tangisan kecil kembali terdengar.

"Kak..."

Raka langsung menoleh.

"Siska!" serunya.

Adiknya berdiri sendirian di tengah kabut. Seragam sekolah yang dikenakannya dipenuhi bercak darah. Boneka kesayangannya tergantung terbalik di tangan kanan.

"Kak... aku takut..." ucap Siska lirih. Wajahnya dipenuhi tangisan, sementara tubuh kecilnya terus gemetar.

"Siska! Jangan bergerak! Kakak datang!" balas Raka penuh harap.

Namun baru satu langkah...

Brak!

Tanah di depan Siska mendadak retak. Puluhan tangan hitam keluar dari dalam tanah.

"Tidak!" teriak Raka.

Tangan-tangan itu mencengkeram kaki Siska.

"Kak! Tolong aku!" jerit Siska. Air matanya bercucuran, sementara kedua tangannya terulur ke arah kakaknya.

Raka berteriak sekuat tenaga.

"Lepaskan adikku!" bentaknya marah. Wajahnya dipenuhi amarah bercampur putus asa.

Seluruh anak kecil penghuni kampung justru tertawa semakin keras.

"Hehehehehe..."

"Kakaknya menangis..."

"Asyik..."

"Seru sekali..."

Mereka bertepuk tangan sambil melompat-lompat.

Nenek tua kembali tertawa.

"Hari ini pesta akan sangat meriah..." ucapnya senang. Senyumnya semakin mengembang hingga mulutnya robek lebih lebar.

Makhluk bertanduk itu lalu mengangkat tongkat hitam sepanjang dua meter. Di ujung tongkat terdapat tengkorak manusia yang masih meneteskan darah segar.

"Darah keluarga..." ucap makhluk itu berat. Sorot matanya dipenuhi hawa kematian."...akan membuka gerbang selamanya."

Tiba-tiba...

Duar!

Petir merah menyambar langit. Seluruh hutan langsung berubah gelap gulita. Kabut yang semula putih kini berubah menjadi hitam pekat. Bau anyir darah memenuhi udara.

Raka mulai mendengar bisikan-bisikan di telinganya.

"Bunuh ayahmu..." bisik suara perempuan tua. Nadanya sangat lirih, sementara napas dinginnya terasa di tengkuk Raka.

"Jangan percaya ibumu..." bisik suara laki-laki tua. Tawanya terdengar serak dan panjang.

"Serahkan adikmu..." bisik suara anak kecil. Terdengar polos, tetapi membuat bulu kuduk berdiri.

"Diam!" bentak Raka keras. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara kedua telinganya ditutup rapat. Namun bisikan itu justru semakin banyak.

"Kami lapar..."

"Kami ingin tubuhmu..."

"Kami ingin jantungmu..."

"Kami ingin matamu..."

Suara-suara itu saling bertumpuk hingga terdengar seperti ribuan orang berbicara bersamaan.

Raka berteriak sekuat tenaga.

"Berhenti!!" jeritnya histeris. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, sementara air mata dan keringat bercampur membasahi wajahnya.

Makhluk bertanduk itu perlahan menundukkan kepala.

"Lihat ke belakangmu..." ucapnya dingin. Suaranya terdengar berat, sementara kedua matanya menyala semakin terang.

Raka menggeleng kuat.

"Tidak... aku tidak mau..." ucapnya gemetar. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.

"Lihat..." perintah makhluk itu tegas. Auranya

terasa begitu menekan hingga udara di sekitar Raka seolah membeku.

Dengan sangat perlahan...Raka menoleh ke belakang. Saat itulah napasnya seakan berhenti.

Di belakangnya...

Berdiri ratusan sosok manusia. Semuanya mengenakan pakaian lusuh yang telah membusuk. Kulit mereka mengelupas. Sebagian wajah mereka dipenuhi belatung.

Sebagian lagi tidak memiliki rahang.

Yang paling mengerikan...Seluruh mata mereka menatap lurus ke arah Raka tanpa berkedip sedikit pun. Lalu secara bersamaan mereka membuka mulut.

"Kami adalah keluarga-keluarga yang gagal keluar dari Kampung Ghaib..." ucap mereka serempak. Wajah-wajah mereka dipenuhi senyum yang mustahil dimiliki manusia hidup.

Salah satu sosok melangkah mendekat.

Tubuhnya tinggal setengah. Ususnya menyeret di atas tanah.

"Giliran keluargamu..." bisiknya pelan. Senyumnya semakin melebar, sementara aroma busuk dari tubuhnya membuat Raka hampir muntah.

Tiba-tiba...

Dari balik kerumunan mayat hidup itu terdengar bunyi genderang tua.

Dung...

Dung...

Dung...

Setiap dentumannya membuat tanah bergetar. Makhluk bertanduk itu mengangkat kedua tangannya ke langit.

"Persembahan pertama..." ucapnya lantang. Suaranya menggema memenuhi seluruh Kampung Ghaib.

Seluruh penghuni kampung menjawab serempak.

"Darah...Persembahan kedua..." lanjut makhluk itu. Wajahnya tetap tersembunyi di balik tudung hitam.

"Nyawa..." jawab seluruh makhluk dengan suara menggelegar.

"Persembahan terakhir..." ucap makhluk itu perlahan.

Semua makhluk tersenyum lebar.

"Jiwa... untuk selamanya!" teriak mereka bersamaan. Mata mereka dipenuhi kegilaan, sementara tawa mengerikan kembali mengguncang seluruh hutan.

"Hehehehehe...!"

Tawa itu terus bergema tanpa henti, sementara tanah di bawah tubuh Raka perlahan mulai terbuka, seolah sebuah mulut raksasa sedang bersiap menelannya hidup-hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!