NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Don yang Menghilang

"Asap masih terlalu tebal!"

Teriakan Leo menggema di dalam Gudang Nomor 9 yang hampir runtuh akibat ledakan. Kobaran api melahap peti-peti kayu, sementara suara sirene pemadam mulai terdengar dari kejauhan.

"Ayo cari Tuan Raven!" perintah Leo.

Puluhan anak buah keluarga Alvaro berpencar, menyingkirkan puing-puing yang berserakan.

Aurora menerobos masuk meski beberapa penjaga berusaha menghentikannya.

"Nona, itu berbahaya!"

"Aku tidak peduli!"

Aurora menutupi hidungnya dengan kain lalu terus mencari di antara kepulan asap.

"Raven!"

Tidak ada jawaban.

Yang ia temukan hanya bercak-bercak darah di lantai dan jas hitam milik Raven yang hangus di beberapa bagian.

Jantung Aurora terasa diremas.

"Mustahil..."

Air matanya mulai menggenang.

Leo datang menghampirinya sambil membawa pistol Raven yang ditemukan di dekat pusat ledakan.

"Wahyu..." gumam Leo lirih. "Ini pistol Tuan."

Aurora mengambil pistol itu dengan tangan gemetar.

"Tidak..."

"Dia pasti masih hidup."

Leo ingin mempercayai hal yang sama, tetapi keadaan di lokasi membuat harapan itu semakin tipis.

Mereka mencari hingga fajar menyingsing.

Tidak ada jasad.

Tidak ada jejak.

Raven Alvaro benar-benar menghilang.

Keesokan harinya, kabar hilangnya Raven menyebar ke seluruh organisasi Alvaro.

Para anak buah mulai gelisah.

Beberapa wilayah bahkan mulai diserang kelompok mafia lain yang memanfaatkan situasi.

Di ruang rapat mansion, Leo berdiri di depan seluruh anggota inti.

"Sampai Tuan Raven kembali..."

"...aku akan memimpin organisasi sementara."

Semua mengangguk hormat.

Namun tidak semua orang tampak setuju.

Seorang pria bertubuh besar bernama Marco berdiri.

"Bagaimana kalau Don sudah mati?"

Ruangan langsung sunyi.

Leo menatap Marco tajam.

"Jaga ucapanmu."

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

Marco melanjutkan dengan nada dingin.

"Organisasi ini membutuhkan pemimpin baru."

Beberapa orang mulai saling berpandangan.

Aurora yang mendengar pembicaraan itu langsung berdiri.

"Raven belum mati."

Marco tertawa kecil.

"Dokter, dunia mafia tidak mengenal harapan."

Aurora membalas tatapannya tanpa gentar.

"Aku percaya dia akan kembali."

Marco mendengus lalu keluar dari ruangan.

Leo memperhatikan kepergiannya dengan wajah serius.

"Aku tidak menyukai pria itu."

Malam harinya...

Aurora duduk sendirian di balkon kamar Raven.

Semua barang milik pria itu masih berada di tempatnya.

Jas yang biasa dipakai.

Jam tangan.

Buku-buku.

Bahkan secangkir kopi yang belum sempat disentuh masih berada di meja.

Aurora menggenggam pistol Raven.

"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih..."

Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Ia baru menyadari satu hal.

Selama ini Raven bukan sekadar pria yang menyelamatkan hidupnya.

Tanpa disadari...

Ia telah memenuhi ruang di hatinya.

"Aku merindukanmu..."

Bisiknya lirih.

Di tempat yang tidak diketahui...

Raven perlahan membuka matanya.

Pandangannya masih kabur.

Kepalanya terasa sangat berat.

Saat mencoba bergerak, ia menyadari kedua tangannya dirantai pada kursi besi.

"Di mana aku?"

Suara langkah kaki terdengar mendekat.

Tok... Tok... Tok...

Seorang pria tua berambut putih memasuki ruangan.

Ia mengenakan setelan hitam elegan dengan tongkat perak di tangannya.

Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya memancarkan wibawa yang mengerikan.

"Akhirnya kau sadar."

Raven menatap pria itu tajam.

"Siapa kau?"

Pria tersebut tersenyum tipis.

"Sudah lama aku menunggumu."

"Aku bertanya, siapa kau?"

Pria itu berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Raven.

Dengan perlahan ia melepas sarung tangan kulit hitamnya.

Di jari manisnya terpasang cincin bergambar mahkota hitam.

Raven langsung mengenali simbol itu.

"Black King..."

Pria tua itu mengangguk.

"Benar."

"Aku adalah orang yang selama ini kau cari."

Tatapan Raven dipenuhi amarah.

"Aku akan membunuhmu."

Black King justru tertawa pelan.

"Tidak."

"Justru kau harus berterima kasih kepadaku."

"Apa maksudmu?"

Pria itu membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

Lalu, dengan suara pelan, ia mengucapkan kalimat yang membuat dunia Raven seolah berhenti berputar.

"Karena..."

"...akulah orang yang membesarkan ayah kandungmu."

Raven membelalakkan mata.

"Mustahil..."

Senyum Black King semakin lebar.

"Selamat datang di awal kebenaran yang sesungguhnya, Raven."

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!